The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Permintaan Nania


__ADS_3

💖


💖


"Mama lihat Daryl?" Nania turun setelah membersihkan diri. Mencari keberadaan suaminya yang tak dia temukan saat bangun tidur.


"Mungkin di gym. Biasanya kalau hari Minggu dia di sana." jawab Sofia yang tengah menikmati teh bersama suaminya.


"Oke." Nania pun melenggang ke belakang di mana ruang olah raga berada.


Dan benar saja, pria itu ada di sana tengah melatih tubuhnya dengan gerakan-gerakan memukul dan menendang seperti bela diri.


"What are you doing?" Pria itu menoleh ketika menyadari keberadaannya.


"Aku kira kamu pergi kerja lagi?" Nania mendekat.


"No! Masa hari Minggu aku bekerja? Yang benar saja."


"Aku ngiranya begitu. Emang audisinya udah beres?"


"Sudah." Pria itu menghentikan latihannya lalu mengambil air minum dari dispenser yang terletak di sisi lain ruangan.


"Memangnya kenapa?" Lalu dia bertanya.


"Nggak, tadinya aku mau minta izin." jawab Nania.


"Izin ke mana?"


"Mau lihat rumah lama."


"Mau apa?"


"Mau lihat aja. Siapa tahu ada yang harus dibenerin kan?"


"Hmm …." Daryl mengeringkan keringat di wajah dan tubuh bagian atasnya dengan handuk.


"Boleh?"


"Mau pergi sendiri?"


"Kalau kamu nggak bisa antar ya aku pergi sendiri."


"Bisa. Tunggu sebentar lagi, oke?"


"Bisa?"


"Ya."


"Oke." Nania dengan sumringah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Setelah dari rumah lama kita ke kedainya Kak Ara ya?" Nania memilihkan pakaian untuk suaminya. Sehelai kemeja berwarna tosca dengan celana panjang hitam beserta boxernya.


"Hmm …." Daryl yang baru keluar dari kamar mandi berdiri di depan cermin menatap dirinya sendiri.


Lalu mengenakan krim wajah, lotion dan deodoran seperti biasa. Dia juga tidak lupa menyemprotkan parfum ke seluruh tubuh hingga membuat wanginya memenuhi seluruh ruangan.


Kemudian dia menyentuh ceruk lehernya yang terdapat memar bekas gigitan Nania pada dua malam sebelumnya, kemudian tertawa.


"Baru sadar ada ini?" katanya, lalu melirik kepada Nania.


"Pasti kelihatan sama orang-orang, kamu kan suka jalan-jalan di rumah nggak pakai baju?"


"Kenapa malu?"


"Diketawain, sama di ghibahin."


"Siapa yang berani menertawakan aku?"


"Kalau di depan nggak akan, tapi di belakang kita."


"Memangnya kenapa? Biarkan saja kenapa harus kamu pikirkan? Selama tidak kita dengar tidak usah dipermasalahkan." Daryl melepaskan handuk kemudian mengenakan boxernya.


"Gimana kamu bisa santai menanggapi hal semacam itu? Kalau aku suka overthinking. Takut orang-orang mikir begini, mikir begitu. Atau mereka ngomong macam-macam. Otakku berisik kalau ada sesuatu yang menurut aku agak bermasalah."


"Berhenti memikirkan apa pun, dan berhenti peduli pada hal tidak penting."


"Itu yang nggak aku bisa. Semuanya kayak teriak-teriak di sini." Nania mengetuk kepala dengan ujung telunjuknya.


"Hmm … that's difficult. Mungkin aku memang tidak pernah mempermasalahkan hal-hal seperti itu. Lagi pula memangnya kenapa kalau punya tanda seperti ini? Kita sudah menikah dan semuanya boleh dilakukan." Pria itu meraup tubuh Nania kemudian memeluknya dengan erat.


"Tapi kalau kelihatan malu, tahu?" Perempuan itu terkekeh sambil menghindar ketika Daryl mengangkat dan berusaha menciumnya.


"Aku tidak malu." Daryl mengangkatnya dengan mudah, lalu mendudukkan dia di meja yang terdapat di tengah ruangan.


"Aku yang malu." Nania menyerahkan celana dan kemeja kepadanya.


"Ck! Kenapa harus kemeja? Ada banyak pakaian lain di lemari tapi kamu selalu memberiku kemeja?"


"Kamu bagus kalau pakai kemeja."


"Tapi aku nggak suka." Daryl mengenakan celana panjangnya.


"Karena banyak kancingnya?"


"Kamu tahu."


"Kan setiap hari aku yang kancingin?" Nania merentangkan kemeja tersebut.


Daryl mengerucutkan mulutnya.


"Nggak usah kayak gitu, kamu jadi jelek." Nania tertawa.


"Kamu kelihatan ganteng kalau pakai kemeja. Maksudnya pakai apa aja juga ganteng, tapi kalau pakai kemeja jadinya lebih ganteng."


"Masa?" Pipinya tampak sedikit merona.


"Iya, hahaha." Nania tergelak.


"Kamu sepertinya mulai genit ya?" Daryl mendekat, lalu kedua tangannya memegang pinggul Nania.


"Nggak. Kan katanya kalau sama suami harus gitu?"


"Hmm … kata siapa?"

__ADS_1


"Mama."


"Apa yang Mama ajarkan kepadamu?"


"Banyak. Suruh antar kalau berangkat kerja, walaupun seringnya aku bangun kesiangan pas kamu pergi." Nania tertawa lagi.


"Terus?"


"Harus pandai menyenangkan suami biar nggak lirik-lirik perempuan lain."


Dua sudut bibir Daryl tertarik membentuk sebuah senyuman.


"Caranya?"


"Bikin kenyang perutnya, bikin kenyang kem*luannya."


"Ish!! Masa Mama bilang begitu kepadamu?"


"Serius. Masalahnya gimana aku bikin perut kamu kenyang kalau masak aja sama orang lain? Di sini kan banyak pegawai, ya aku nggak bisa masak untuk kamu."


"Jadi harus mengenyangkan yang lainnya." Pria itu menyeringai.


"Apa?"


"Ini." Seperti biasa, Daryl mengarahkan pandangannya pada bagian bawah tubuhnya.


"Ish!! Kalau itu nggak usah dibahas. Tapi mau segimana juga kamu nggak akan kenyang."


"Itu tahu, hehe." Daryl mendekat kemudian meraih bibir ranum milik Nania.


"Ayo pakai kemejanya?" Perempuan itu mendorong dadanya, kemudian menyerahkan kemeja tersebut.


Daryl memutar bola mata, namun dia tetap menurut juga. Membiarkan Nania memakaikan kemeja, mengancingkan, dan merapikannya seperti yang biasa dilakukannya. Lalu dia mengenakan celananya.


"Nah kan, ganteng?" Perempuan itu mengusap-usap dada suaminya.


"Ayo, aku sisir rambutnya?" Dia kembali mendorong Daryl mundur kemudian turun dari meja.


"Tidak usah, kalau ini aku saja. Kamu akan membuatku terlihat seperti anak TK." ucap pria itu yang kembali ke depan cermin sementara Nania hanya tertawa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kira-kira mau dibikin gimana ya?" Mereka berdiri di depan rumah yang sudah kosong itu.


"Entahlah, kata pemiliknya yang kemarin gentengnya sudah dibetulkan dan semuanya sudah diperbaiki. Jadi apanya yang mau dirubah?"


"Nggak tahu, makanya aku lihat biar tahu kan?"


"Nania?" Seseorang memanggil dari luar pagar.


Nania dan Daryl pun menoleh.


"Bibi?"


"Kamu pindah lagi ke sini?" Perempuan yang dikenalnya sejak dia dan sang ayah tinggal di lingkungan itu pun masuk ke dalam pekarangan.


"Nggak, cuma lihat aja." Mereka berpelukan.


"Bibi dengar kamu sudah menikah?"


Pria itu hanya mengangguk.


"Oh, … Bibi pikir …." Dia menatap pria tinggi berambut coklat yang mengenakan kaca mata hitam itu.


Namun perhatian mereka beralih ketika terdengar ribut-ribut di jalan diikuti anak-anak yang berlarian.


Mereka memeriksa keadaan.


"Oh, … sudah dimulai ya?" Perempuan paruh baya itu bergumam.


"Ada apa?" Nania segera bertanya.


"Itu … lapangan mau dibangun swalayan." jawab Bibi yang belum mengalihkan pandangannya ke arah depan di mana beberapa orang pria tinggi besar berdatangan mengikuti alat berat yang masuk.


"Swalayan?"


"Iya. Di depannya kan sudah digusur, maun dibuat lahan untuk pejalan kaki begitu. Tapi lapangan juga malah digusur untuk swalayan."


"Itu tempat main bolanya anak-anak kan?" Nania juga melakukan hal yang sama.


"Ya, semua kegiatan di daerah ini dilakukan di sana." jawab Bibi, dan mereka kembali ke pekarangan rumah.


"Terus kenapa bisa digusur?"


"Karena dijual oleh pemiliknya."


"Kenapa nggak protes?"


"Itu milik pribadi, ya kita bisa apa? Sekarang hilang lahan untuk mainnya anak-anak dan untuk warga berkegiatan."


"Hmm … Di sini udah jarang ada lahan main ya Bi?"


"Sudah tidak ada, semuanya dibangun."


"Sayang ya, anak-anak nggak ada tempat main lagi?"


"Ya, mau bagaimana lagi? Kalau milik pribadi pasti akan dijual. Kalau milik pemerintah ya banyak larangan."


"Iya juga." Lalu mereka membicarakan banyak hal.


Nania memeriksa beberapa barang yang berada di sudut teras, memastikan apakah semuanya masih bagus dan masih layak dipakai.


"Ayo mampir? Cucu Bibi pasti sudah pulang latihan bola." Perempuan itu hampir keluar dari rumah.


"Iya Bi, lain kali."


"Nanti kalau tinggal lagi di sini, jangan lupa main-main ke rumah ya? Sudah lama kan?"


"Iya, Bi."


Lalu perempuan itu benar-benar pergi.


"Sepertinya dia baik kepadamu?" Daryl merangkul pundak Nania yang masih menatap pagar selepas tetangganya itu pergi.


"Iya, orang-orang di sini baik. Mereka sering bantu aku sama ayah."

__ADS_1


"Hmm …"


Nania kemudian memutar tubuh. Dia menatap bangunan rumahnya lekat-lekat.


"Kalau aku gunakan rumah ini untuk hal lain boleh?" Lalu dia menoleh kepada suaminya.


"Hal lain apa?"


"Belum tahu, tapi misalnya nggak aku sewain ke orang gimana?"


"Terserah kamu, rumah ini kan milikmu."


"Kalau dibikin jadi tempat main anak-anak kayaknya ….." Nania menatap sekeliling rumah yang halamannya tidak terlalu besar itu. Dia tertegun sebentar kemudian melirik ke arah samping rumah. 


Nania ingat, di sana ada semacam lahan kosong yang sekelilingnya ditutupi seng. Dia lantas naik ke pagar dan mengintip ke dalam area yang ditumbuhi rumput dan tanaman liar yang sudah tinggi.


Tempatnya cukup luas untuk ukuran pemukiman itu, namun tidak terurus karena tidak ada seorangpun yang masuk ke sana. Bahkan pemiliknya tidak ada yang tahu.


"Apa yang kamu lakukan, Nna?" Daryl menariknya agar turun dari pagar.


"Lapangan di depan digusur." Nania menggumam.


"Kasihan juga anak-anak nggak ada tempat main."


"Apa sih kamu ini?"


Nania kemudian menatap wajah suaminya.


"What?"


"Uang kamu sebanyak apa?" Lalu dia bertanya.


"Kenapa bertanya soal itu?"


"Apa cukup banyak untuk menyewa sebuah lahan?"


"Apa maksudmu?"


"Dengar nggak, bibi yang tadi bilang apa? Soal lapangan yang dibikin swalayan?"


"Iya."


"Gimana kalau …."


"No way!!" Daryl tahu apa yang mungkin istrinya katakan.


"Aku belum selesai ngomong!"


"Aku tahu apa yang akan kamu katakan! Dan aku akan menjawab tidak!"


"Apaan? Kan belum aku bilang?"


"Ah, sudah pasti itu."


"Apaan ih?" Nania tertawa.


"Jangan harap aku akan membeli lahan itu ya? Nggak mungkin!"


"Nggak, bukan beli. Tapi sewa aja."


"Untuk apa?"


"Ya untuk tempat mainnya anak-anak. Kalau di rumah ini nggak mungkin, soalnya …." Nania berpikir lagi.


"What else?"


"Aku mau bikin taman bacaan!"


"Hah?"


"Kayaknya lebih berguna kalau rumah ini aku jadiin perpustakaan gitu. Kan lebih bagus?"


"Untuk yang ini aku setuju, tapi lahan itu … No!"


"Tapi aku maunya gitu …."


"No!"


"Please!! Cuma sewa aja, nggak beli." Nania memohon.


"Tidak mungkin!"


"Setahun aja."


"Apa sih kamu ini sudah minta yang aneh-aneh?"


"Kan kasihan anak-anak?"


"Tidak usah memikirkan orang lain!"


"Aku mikirin anak-anak."


"Ya sudah, kenapa kamu memikirkan mereka?"


"Aku cuma …."


"Bukankah dari sini kita mau ke kedainya Ara? Kamu sudah selesai belum? Kalau sudah, cepat kita ke sana."


"Tapi soal …."


"Nania!" Daryl sedikit menaikkan nada suaranya yang seketika membuat Nania bungkam.


"Cepat kunci pintunya, dan kita segera pergi?" Pria itu mengenakan kaca mata hitamnya kemudian keluar dari pekarangan sementara Nania masih tertegun di teras.


"Nania!!!" Panggilnya saat perempuan itu tidak mengikutinya.


"I-iya." Kemudian Nania melakukan apa yang diucapkannya. Mengunci pintu, mengunci pagar kemudian cepat-cepat mengikuti pria itu masuk ke dalam mobilnya.


💖


💖


💖


Bersambung ....

__ADS_1


Sekarang apa Nania???😂😂


__ADS_2