
Mohon untuk nggak promo novel di komen, kalau mau hubungi author aja biar di promoin di akhir episode. π
π
π
"Aku mau mampir ke makam dulu, boleh?" Nania mematikan ponsel setelah berbicara dengan Daryl sepanjang perjalanan dari kelas sampai ke luar gedung.
"Makam?"Jawab Regan.
"Iya. Pertama ke makam ayah, terus ke makam nenek. Tempatnya beda."
Regan terdiam sebentar lalu dia merogoh ponselnya di saku celana saat benda itu berbunyi nyaring.
"Aku udah bilang β¦."
"Baik, silahkan." Kemudian pria itu membuka pintu mobil setelah mendapatkan pesan dari Daryl.
"Tapi ke toko bunga dulu ya?"
"Baik."Β
Kemudian mobil tersebut segera melaju ke tempat yang sudah Nania sebutkan.
***
Keadaan pusaranya cukup baik. Rumput tumbuh dengan subur seolah ada yang merawat, membuat tempat itu terlihat asri. Dan hal tersebut membuat Nania merasa tenang.
Dia menancapkan setangkai bunga mawar kecil di dekat batu nisan kemudian menyiramnya dengan sebotol air. Berharap tanaman tersebut tumbuh dengan baik dan menaungi pusara sang ayah.
"Ayah tahu nggak, aku juga udah punya rumah sendiri. Tapi masih di dekat mertuaku." Dia berbicara setelah mendoakan pria itu.
"Succulentnya sekarang udah banyak, yang ayah beli waktu itu udah berkembang dan aku punya green house kayak yang ayah mau. Di sana banyak bunga yang aku tanam."
"Aku yakin ayah udah seneng sekarang, ayah juga bisa lihat aku kan? Aku baik-baik aja, nggak usah khawatir." Dia menatap batu nisan seperti tengah menatap wajah sang ayah.
Lalu Nania tersenyum sebentar sebelum akhirnya dia bangkit.
"Ke makam nenek." katanya kepada Regan yang menunggu dengan setia tak jauh darinya.
Pria itu mengangguk.
Tujuan berikutnya merupakan pemakaman umum yang berada di sisi lain kota. Terletak tak jauh dari pemukiman tempat Mirna tinggal dulu.
Regan bersikap siaga karena mengingat pemukiman ini dulunya pernah Nania tinggali dan di sanalah keluarganya berada. Menjaga perempuan itu dari kemungkinan dikenali oleh orang-orang.
"Nenek baik kan?" Dia mengusap rumput yang keadaannya juga serapi pusara sang ayah. Sepertinya makam mereka benar-benar dijaga dengan baik.Β
Hal itu terlihat dari keadaannya yang tak serapi makam lain. Batu nisannya bersih dan rumput yang bagus menumbuhi area itu dengan baik.
"Kadang-kadang aku berharap Nenek masih ada. Jadi mau aku bawa tinggal di rumah aku. Kayak yang aku janjiin waktu itu. Tapi sayangnya Nenek udah pergi." Seperti biasa, dia berbicara seperti kepada makhluk yang berwujud.
"Tapi aku yakin keadaan Nenek jauh lebih baik dari pada waktu masih ada. Dan aku harap Nenek lebih bahagia. Karena aku juga bahagia, Nek." Nania tersenyum lagi, dan setangkai bunga mawar yang sama dia tanamkan juga di dekat batu nisan.
"Aku juga udah dari tempat ayah, nanti aku akan sering-sering kunjungin kalian ya? Sekarang aku pulang dulu." Lalu dia bangkit dan segera keluar dari area tersebut.
"Nania?" Seorang perempuan menyapanya ketika mereka berjalan melewati pemukiman sekeluarnya dari area pemakaman.
"Ya?" Nania berhenti, begitu juga Regan yang berada di belakangnya.
"Kamu Nania anaknya Bu Mirna?" tanya perempuan itu lagi.
Nania menganggukkan kepala.
Perempuan itu menatapnya dari atas ke bawah yang penampilannya berbeda dari yang pernah dia lihat.
__ADS_1
Nania yang mengenakan pakaian hitam putih dan membawa tas, lalu di belakangnya diikuti seorang pria berstelan jas rapi.
"Saya pikir bukan kamu yang tadi lewat?" katanya.
"Iya Bu. Permisi." Lalu Nania segera berpamitan.
"Iya, tapi walaupun sudah menikah jangan lupakan ibu kamu, Nania. Kasihan. Mana Sandi di penjara, eh masih ada satu anaknya tapi nggak peduli. Sampai dia pinjam uang sana-sini untuk sehari-hari."
Nania menghentikan langkah.
"Kamu sih enak punya suami kaya, tapi ibumu sengsara. Sampai banyak orang yang menagih ke rumah juga gara-gara suaminya." ucap perempuan itu lagi.
"Setelah menikah, anak perempuan memang milik suaminya. Tapi bukan berarti boleh melupakan orang tua begitu saja. Dosa kamu!" katanya lagi.
"Permisi Bu?" Regan merespon seraya menggiring Nania untuk segera meninggalkan tempat tersebut.
Nania melirik gang kecil yang dia hafal menuju ke rumah Mirna. Ada keinginan untuk berkunjung tapi itu tak ada dalam rencana. Belum lagi keberadaan Regan sebagai sopirnya sudah pasti tidak akan membiarkanmu melakukan hal tersebut., jadilah dia hanya melewatinya saja.
"Milk tea?" Mobil sudah kembali melaju membelah jalanan kota menuju arah pulang.
"Hum?" Dan Nania menjeda lamunannya.
"Ada pedagang milk tea di depan sana. Siapa tahu kamu mau membelinya?" Regan memelankan laju mobil dan dia menunjuk ke arah depan di mana pedagang minuman itu berada.
Nania terkekeh mendengar tawaran pria itu.
"Nggak ah, langsung pulang aja." jawabnya.
"Yakin?"
"Iya. Di rumah juga ada."
"Baiklah, tapi jangan menyesal ya? Padahal Pak Daryl sudah menyuruh saya untuk berhenti dulu kalau menemukan pedangan milk tea kalau-kalau kamu mau?"
"Ya."
"Nggak usah lah, pulang aja. Aku β¦ capek."
"Baiklah." Lalu Regan pun menambah kecepatan mobilnya.
"Regan?" Nania memulai percakapan setelah terdiam cukup lama.
"Ya?"
"Orang tua kamu masih ada?"
"Ada."
"Mereka di Jakarta?"
"Ya?"
"Apa mereka udah tua?"
"Tidak juga. Tapi keadaan mereka cukup baik." Regan melirik lewat kaca spion. "Kenapa?"
"Kalau orang tua dalam kesulitan, terus kita biarin karena sesuatu hal, kita dosa nggak sih?"
Pria itu menatap kaca spion lagi.
"Kesulitannya karena apa dulu? Kalau karena ulah mereka sendiri saya rasa tidak perlu di anggap."
"Aku yakin kamu dengar apa yang ibu itu bilang tadi?"
Regan mendengus pelan.
__ADS_1
"Ya."
"Tadinya aku mau minta dulu ketemu ibu, tapi β¦."
"Tidak mungkin. Pak Daryl tidak akan mengizinkanmu untuk pergi ke sana. Dan jangan sampai kamu nekat pergi tanpa izinnya juga. Atau nanti kita akan dapat kesulitan."
"Aku tahu, makanya aku nggak pergi kan?"
"Saya pikir mau kembali ke sana?"
"Tadinya."
"Jangan dipikirkan, mereka kan tidak tahu keadaan yang sebenarnya." ucap Regan seolah dia tahu sesuatu.
"Memangnya kamu tahu?"
"Tahu."
"Masa?"Β
"Ya."
"Terus, kenapa keadaan ibu aku bisa kayak gitu?" Nania mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Karena ulahnya sendiri, apa lagi?"
"Maksudnya ibu yang sengaja gitu?"
"Ya, ibumu membiarkan suaminya mengambil kendali atas hidup mereka padahal hanya menyebabkan kesusahan."
Perempuan itu mengerutkan dahi.Β
"Selalu melakukan apa yang dia minta padahal itu tidak ada manfaatnya. Hanya karena tidak ingin membuatnya pergi."
"Kalian mengawasi ibu ya?" Nania menyipitkan mata.
"Sesekali kalau ada perintah."
"Sekarang?"
"Kemarin rekan saya baru selesai. Begitu Bu Mirna menemui kamu di jalan tempo hari. Dan memang keadaannya begitu. Dia mengalami kesusahan karena mengusahakan suaminya."
"Duh?"
"Seharusnya ini menjadi rahasia saja, tapi karena kamu bertanya jadinya saya bilang kan?" Pria itu terkekeh.
"Nggak boleh dikasih tahu?"
"Seharusnya tidak boleh."
"Hmm β¦." Nania kembali menyandarkan punggungnya ke belakang.
"Jadi tidak usah dipikirkan. Ibumu seharusnya tidak kesusahan jika dia bisa tegas kepada suaminya, tapi dia memilih menjadi budaknya agar pria itu tidak pergi. Dia sendiri yang menginginkan hal seperti itu."
Nania terdiam.
π
π
π
Bersambung ....
Ayoooo like komen dan hadiahnya dikirim lagiππ
__ADS_1