
π
π
"Bye β¦ sampai ketemu besok di sini lagi ya? Jangan lupa kasih tahu temen-temenya. Hati-hati juga kalian, oke?" Nania melambaikan tangan sebelum Regan menutup kaca mobil.
"Dah Kak, besok bawa lebih banyak lagi ya?" Lalu anak-anak itu setengah berlari mengikuti mobilnya yang kembali melaju.
"Langsung pulang?" Rega melihat pantulan di kaca spion.
"Ya." jawab Nania sambil menyesap jus kemasan yang dibelinya tadi bersamaan dengan dua kresek coklat untuk anak-anak yang ditemuinya sepanjang perjalanan pulang.
"Baik." Lalu Regan pun menambah kecepatan pada mobil yang dikendarainya.
Dan Nania tengah menikmati perjalanan pulang ketika pandangannya tersita saat dia melihat sosok yang seperti dikenalinya berada di pinggir jalan.
Perempuan itu mendekatkan wajahnya ke kaca, dan benar saja itu adalah orang yang dia kenal.Β
Adalah Mirna yang tengah duduk termenung sendirian di halte bus dengan sebuah tas besar di sampingnya.
"Ada masalah?" Regan bertanya. Melihat sikap Nania membuatnya merasa harus bertanya.
"Mm β¦ nggak. Cuma lihat orang." Perempuan itu kembali ke posisinya seperti semula.
Ah, mungkin ibu cuma lagi cari kerja. Batinnya.
Tapi kenapa bawa tas besar? Pikirannya bertanya-tanya.
Mungkin dapat kerjaan yang jauh dari rumah?
Lalu dia menengok lagi pada halte yang kian menjauh.
Nania menatap jam di layar ponselnya yang sudah menunjukkan hampir pukul 12 lewat, dan ini sudah terlalu siang. Dia ingin menemui ibunya terlebih dahulu tapi ingat jika suaminya mungkin saat ini sedang menunggu di rumah. Yang akhirnya membuatnya mengurungkan niat dan membiarkan sopir di depannya tetap membawanya pulang.
...β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦...
"Daddy?" Nania langsung melesat ke lantai atas ketika dia tak menemukan suaminya di bawah.
Nania mendorong pintu di sebelah kamar utama yang terbuka sedikit. Dia tahu mungkin saja suaminya ada di sana, hal itu terdengar dari suaranya yang seperti tengah berbicara dengan seseorang.
Dia menyembulkan kepalanya dan pria itu memang tengah melakukan zoom meeting dengan stafnya.
"Baik, jika memang sudah selesai semuanya berarti hanya tinggal persiapan kita saja ya? Terima kasih, semoga besok semuanya lancar dan kita diberi kesehatan." Lalu dia mematikan sambungan video dari laptopnya.
Daryl memutar kursi dan menyambut istrinya yang berjalan mendekat. Yang segera duduk dipangkuan dan menyurukkan kepalanya.
"Capek?" Pria itu melepaskan airpods dari telinganya.
"Hu'um." Nania menganggukkan kepala.
"Bagi-bagi coklatnya sudah?" Pria itu mengusap-usap pahanya.
"Udah. Tadi aku belinya dua kresek. Kayaknya besok harus ditambah deh?"
"Begitu?"
"Iya. Anak-anaknya tambah banyak."
"You happy?"
"Happy banget." Nania memeluk tubuh suaminya.
"It's good. Sudah minum milk tea?"
"Nggak. Hari ini aku belinya jus kotak."
"Jus kotak?"
"Iya, jus yang kayak susu kotak."
"Oh β¦ tumben sekali?"
"Kan kalau siang-siang itu bagusnya yang seger-seger."
Daryl terkekeh, lalu dia meraih bibir Nania untuk dikecup. Tapi bukan kecupan biasa yang terjadi melainkan pagutan dalam yang cukup memabukkan. Tangannya bahkan sudah menyelinap dibalik rok dan meremat paha mulus perempuan itu.
Namun kegiatan yang segera memanas itu terganggu ketika ponsel milik Daryl berdering.
"Haih!" Pria itu mengeluh karena kesenangannya terganggu. Lalu dia memeriksa ponselnya yang masih berbunyi dan kontak sang ibulah yang menelfon.
"Yes Mom?" Daryl segera menjawab.
__ADS_1
"Kamu sedang apa? Mama dan Papi sudah menunggumu untuk makan siang, tapi kenapa kamu tidak muncul? Nania juga malah langsung ke rumah padahal biasanya mampir dulu ke sini?"
"Umm β¦."
"Cepatlah, Mima sudah membuatkan makanan spesial untuk kita." Lalu panggilan berakhir.
"Siapa?" Nania yang masih bersandar pada dadanya.
"Mama memanggil untuk makan siang."
"Ooh β¦ kalau gitu ayo cepat? Aku udah lapar." Tiba-tiba saja Nania bangkit dan raut wajahnya tak selesu tadi.
"Aku juga sudah lapar."
"Ya makanya, ayo turun?" Dia menarik suaminya agar bangkit dari kursinya.
"Heran sekali. Baru mendengar kata makanan saja yang tadinya lesu jadi bersemangat?" Daryl bergumam.
***
"Bersemangat sekali kamu hari ini? Sedang senang ya?" Sofia memperhatikan menantunya yang terlihat riang.
"Umm β¦ biasa aja. Tapi emang lagi enak makan aja sih." Nania kembali mengambil sayuran hijau yang tampak menggiurkan lalu melahapnya dengan semangat.
"Tapi pelan-pelan, nanti kamu tersedak." ucap Satria yang juga melahap makan siangnya, sementara Nania hanya tertawa.
"Bagaimana FSH dan rencana launching parfumnya?" Sofia memulai percakapan.
"Lancar. Semua persiapan sudah selesai dan tim kita memang bekerja dengan baik." Daryl menerangkan.
"Tentu saja baik. Jika tidak, mana mungkin mereka masih bekerja dengan kita, bukan?" Satria menyahut.
"Papi benar."
"Nanti setelah launching aku boleh nggak mau buka taman bacaan kayak yang waktu itu kita obrolin?" Nania menyela percakapan.
"Taman bacaan?"
"Iya. Rumah ayah mau aku jadiin taman bacaan. Tadinya mau sekalian jadi tempat main anak-anak di sekitar rumah juga. Kasihan mereka lapangan bolanya dibikin mini market jadi nggak ada tempat main. Tapi tanah kosong di sebelah rumah nggak ada yang tau siapa yang punya nya, jadi β¦."
"Memangnya di sekitar rumah ayahmu tidak ada perpustakaan umum?" Satria tertarik dengan pembicaraan kali ini.
"Nggak ada. Namanya juga pemukiman pinggiran ya ke mana-mana susah. Selain sekolah negri yang udah tua." Nania memberi penggambaran lingkungan tempat tinggalnya dulu.
"Dan kamu mau menjadikan rumah ayahmu sebagai taman bacaan?" Satria bertanya lagi.
"Niatnya gitu. Kan bagus kalau misalnya minat baca mereka meningkat dan ada tempat yang bukan cuma berguna untuk main tapi juga bisa menambah pengetahuan mereka. Biarpun nggak bisa semuanya lanjutin sekolah lebih tunggi, tapi minimal pengetahuan mereka luas."
"Memangnya banyak anak yang tidak sekolah di sana?" Sofia ikut berbicara.
"Sekolah sih, Ma. Tapi rata-rata sampai SMP doang kayak aku. Yang lanjutin ke SMA nya jarang. Kalau pun ada ya harus bener-bener kerja keras karena sekolah SMA kan mahal banget?"
"Hmm β¦ "
"Sayang kan. Padahal mereka itu pinter-pinter. Tapi karena nggak punya biaya ya akhirnya berhenti."
"Terus kalau mereka tidak melanjutkan sekolah, apa yang dilakukan?" Daryl menambahi.
"Ya kerja."
"Kerja?"
"Ya."
"Memangnya ada tempat yang menerima pekerja anak di bawah umur? Tidak masuk akal." Pria itu berujar.
"Ada. Contohnya aku. Kamu tahu kerjaan pertama aku apa setelah lulus SMP? Kan jadi baby sitter." Nania mengingatkan.
"Zaman sekarang masih ada yang begitu ya?" Sofia menghentikan kegiatan makannya.
"Banyak Ma. Dan karena masih dibawah umur, kadang dibohongin sama penyalurnya."
"Dibohongi bagaimana?"
"Misal dapat gaji satu juta, cuma dibayar enam ratus ribu. Makin besar gaji makin besar juga potongannya."
"Masa?"
"Yang aku alamin sih dulu gitu." Nania berbicara seolah itu bukanlah apa-apa, sementara ketiga orang didekatnya terdiam.
"Tapi kan kalau pengetahuan mereka luas nggak akan ngalamin apa yang terjadi sama aku. Se nggaknya mereka bisa nyari kerjaan yang layak dan uangnya sepadan sama tenaga yang dikeluarin." Perempuan itu menyuapkan makanan terakhir di piringnya.
__ADS_1
"Udah kenyang β¦." Dia meneguk air minumnya kemudian menyandarkan punggung pada kepala kursi sambil mengusap-usap perutnya yang terasa penuh.
"Maaf Non?" Mima muncul dengan membawa sebuah bungkusan.
"Ya?"
"Orang dari butik mengantar ini." Lalu diserahkanya benda itu kepada Nania.
"Wah β¦ bajunya udah beres ya?" Dan perempuan itu menerimanya dengan riang.
"Orangnya udah pergi?" Lalu dia melihat ke belakang asisten rumah tangganya tersebit.
"Sudah, barusan langsung pergi."
"Oh β¦ ya udah." Nania pun bangkit.
"Aku duluan ya? Mau cobain bajunya dulu." katanya yang segera beranjak dari ruang makan.
***
"Kamu membuat rancangannya sendiri?" Daryl mengikutinya setelah menyelesaikan makan siang dan berbincang sebentar dengan kedua orang tuanya.
Mendapati Nania yang sedang berlenggak-lenggok di depan cermin mencoba gaun berwarna biru tua itu.
"Ya. Apa bagus?" Perempuan itu berputar sehingga kini mereka berhadapan.
"Tentu saja bagus." Daryl pun mendekat.
"Kamu jasnya yang se warna sama ini ada kan? Soalnya aku nggak pesan."
"Ada, tenang saja."
"Oke, paling nanti tinggal siapin aja ya?" Dia berputar lagi dan kembali menatap cermin.
"Hmm β¦." Dia lebih mendekat. "Sepertinya kamu mulai terbiasa dengan pakaian seperti ini ya?" Daryl menyentuh bahu Nania yang terbuka karena memang model pakaiannya yang seperti itu.
"Ya. Kamu bilang bagus?"
"Memang." Pria itu mengecup tengkuknya dengan penuh kelembutan, membuat Nania merasa tubuhnya meremang.
"Umm β¦ udah ah, bajunya mau aku cuci biar besok bisa dipake." Nania menghindar karena bisa dipastikan setelah ini akan ada hal lebih terjadi.
"Okay, but leave the rest with me." Namun Daryl meraih tangannya untuk menghentikan dia, dan menariknya sehingga perempuan itu kembali ke dekapannya.
Dan tanpa banyak bicara dia segera membingkai wajah Nania untuk kemudian dikecupnya bibir semerah cherry miliknya itu.
Namun sesuatu terjadi ketika Nania mencium aroma tak sedap, membuatnya merasakan mual yang sangat hebat dan perutnya seperti diaduk-aduk. Lalu sesuatu seperti mendorongnya dengan keras hingga dia hampir memuntahkan isi perutnya.
"Aaarrgghhh! Bau apa itu?" geramnya sambil menutupi mulut dan hidungnya seraya mendorong Daryl menjauh.
"What?"
Perempuan itu mengendus ke segala arah lalu berhenti di dekat Daryl, kemudian dia bereaksi dengan sangat keras ketika bau yang sangat mengganggu menguar dari tubuh suaminya.
"Kenapa?"
"Kamu nggak mandi dari pagi?" tanya Nania yang sedikit berteriak.
"Mandi tadi setelah selesai memindahkan meja dengan pegawai." Daryl pun mengendusi dirinya sendiri.
"Kok bau begini?"
"Bau apanya? Aku mandi dan memakai semua yang biasa aku pakai setiap hari. Tidak bisa mencium wangiku ya? Aku kan juga memakai parfum yang biasanya."
"Tapi kamu bau!! Sana jangan dekat-dekat!!" Nania menghambur ke dalam kamar mandi sementara Daryl tertegun di tengah ruangan.
"Padahal tadi tidak apa-apa?" gumamnya sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
π
π
π
Bersambung ...
kenapa tuh? Aneh banget deh?π€π€
Kuy like komen hadiahnya kirim lagi, siapa tahu up lagi nanti kan?
Alopyu sekebonππ
__ADS_1