
💖
💖
Daryl menatap benda yang tampak seperti sebuah buku di depannya. Namun dengan bahan kain berwarna-warni sehingga terlihat mencolok. Sesi terapi mingguannya di rumah sakit hari itu dimulai seperti biasa. Dan kali ini dia mencobanya dengan serius.
"Kita menggunakan metode yang lebih mudah ya? Mungkin seharusnya tahapannya seperti ini." Dokter Citra membuka replika buku tersebut sehingga nampaklah apa yang ada di dalamnya.
Sebuah kancing dengan ukuran yang cukup besar yang kemudian dia pasangkan pada lubangnya.
"Are you serious?" Daryl beralih menatapnya.
"Metode ini biasanya digunakan kepada pasien anak-anak yang baru pertama menjalani terapi. Dan berhubung Anda menjalani terapinya di usia yang sudah dewasa, sepertinya ini juga bisa digunakan."
"Yang benar saja, memangnya aku anak TK?" protes pria itu.
Nania menyentuh lengan suaminya.
"Baiklah, baiklah. Lalu apa yang harus aku lakukan?" ucap Daryl sambil memutar bola mata setelah melihat reaksi istrinya.
"Memasangkannya seperti yang Anda lakukan pada kemeja." Dokter Citra menjawab.
Pria itu meniupkan napasnya di udara.
"Semangatlah, Dadd!" Nania menepuk lengan Daryl untuk menyemangatinya.
"Okay, let see." Dan Daryl berniat untuk segera memulai terapinya.
Tangan kanan meraih kain berkancing semetara tanga kiri meraih kain yang berlubang. Lalu dia mendekatkan keduanya seperti yang dilakukan pada kemeja dan berusaha mengaitkannya.
Tapi seperti biasa, pria itu merasa pikirannya tiba-tiba saja kosong dan kedua tangannya membeku.
Dia menggeleng pelan, kemudian berusaha menautkannya lagi meski tetap saja tidak berhasil.
"****!!" Daryl bergumam, dan kesabarannya perlahan memudar.
Dia menggenggam benda itu dengan sangat erat seolah akan terjatuh jika tak melakukannya.
"Come on! Ini bahkan bukan kemeja!" gumamnya lagi, dan dia terus berusaha menautkan benda tersebut.
"Nggak apa-apa, pelan-pelan aja." Nania mengingatkan.
"No! Aku bisa. Bukankah setiap hari aku melakukannya? Masa tidak ada hasilnya? Aku pasti bisa!" Daryl setengah membentak.
"Kamu akan melihatnya, aku pastikan itu! Tunggu saja!" katanya, yang membungkuk agar penglihatannya lebih jelas.
Dan Daryl melakukannya dengan sungguh-sungguh. Dia menatap kain dan kancing itu lekat-lekat, lalu mengulang apa yang sudah beberapa kali dia lakukan. Meski lagi-lagi hasilnya tidak seperti yang diharapkan.
"Arrggghh! Benda sialan tidak berguna!" erangnya, dan dia hampir saja merobek benda itu jika saja Nania tak menahannya.
"Eee … ini bukan kemeja. Ini alat terapinya Dokter Citra!!" Perempuan itu menariknya untuk melindungi benda tersebut.
"Ck!" Daryl berdecak kesal.
"Jangan main robek!"
"Tidak, aku hanya kesal saja!" Lalu dia berusaha merebutnya.
"Cobalah tenang sedikit. Masa nanti waktu kamu pakaikan baju sama anak kita bakal langsung disobek karena susah?" Namun Nania tak memberikannya.
"Tidak akan, memangnya aku ini apa?" Daryl menjawabnya.
"Tapi ini? Padahal punya orang lain, tapi kamu main robek aja. Apalagi punya kita?"
"Tidak akan, Malyshka!"
"Pasti gitu."
"Tidak akan!" Lalu dengan cepat Daryl merebutnya lagi sehingga replika kancing itu kembali ada dalam genggamannya.
"Aku hanya akan measangnya kan? Bukankah seharusnya begini? Aku kan sedang terapi? Kamu mengerti tidak sih?" Dan tanpa disadarinya dia menautkan kancing tersebut pada lubangnya, kemudian mendorongnya hingga ke tengah meja.
"Begini kan? See? Aku bisa!" katanya yang telah berhasil melakukannya.
Namun hal tersebut membuat Nania terdiam dengan mulut menganga. Dan begitupun dengan Daryl.
"Aku bisa?" Dia menatap benda itu seakan tak percaya.
"Aku bisa!" katanya, dan Daryl terlonjak kegirangan, sementara Nania bertepuk tangan karena merasa senang.
"Benar kan kalau aku bisa? Can you believe it? Dokter lihat itu?" Daryl menunjuk replika tersebut.
Mereka mengangguk-anggukkan kepala, lalu Nania memeluknya saking merasa bahagianya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Itu hanya sebuah kancing. Tapi mengapa aku merasa sangat bahagia?" Mereka sudah kembali ke rumah dan kini berada di hutan buatan di belakang rumah. Sengaja, ingin menikmati sore dalam kebersamaan tanpa gangguan.
Akhir pekan memang waktunya seluruh anggota keluarga berkumpul, dan sepertinya sebentar lagi mereka akan datang.
__ADS_1
"Mungkin bukan hanya sebuah kancing. Tapi aku melihatnya lebih besar dari itu." Nania menyesap jus kemasan yang dibawanya dari rumah, lalu dia menyodorkannya kepada Daryl.
"Yeah, aku rasa begitu. Senang juga rasanya bisa melakukan apa yang biasa orang lain lakukan." Pria itu pun menyesapnya hingga hampir habis, kemudian dia menerima makanan lainnya.
Nania memang sengaja membawa beberapa jenis makanan dan camilan untuk mereka berdua. Dan menggelar semacam kain sebagai alas untuk duduk. Jadilah seperti sebuah piknik kecil-kecilan di hutan belakang kediaman Satria.
"Udah aku bilang kan, kalau tekun kamu pasti bisa." Nania sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Daryl.
Sementara pria itu terkekeh.
"Tapi sabar juga. Jangan dikit-dikit marah, dikit-dikit emosi. Teriak-teriak terus. Belajar tenang juga kenapa sih?"
"Hmm …." Pria itu sedikit mencebik.
"Masa nanti pas punya bayi di rumah kamu teriak-teriak? Bisa sawan dong anak kita?"
Daryl menatap wajah istrinya.
"You want me to be a normal person?" Lalu dia bertanya.
"Emangnya kamu merasa nggak normal ya? Karena aku rasa kamu normal-normal aja. Cuma sedikit lebih berisik dan emosian." Nania tertawa.
"Sepertinya itu sulit. Kamu tahu, sejak kecil aku begitu, jadinya …." Daryl pun mencondongkan tubuhnya ke samping.
"Sama aja. Bukankah dispraksia juga kamu idap dari kecil? Tapi kamu bisa mengatasinya tadi. Berarti bisa juga mengendalikan emosi. Masalahnya cuma mau atau nggak." Dan perempuan itu segera merangkulnya.
"Kamu tidak suka aku yang seperti itu?" Pria itu bertanya lagi.
"Kalau nggak suka, aku nggak akan tahan sampai nikah sama kamu dan bertahan sejauh ini. Aku pasti udah kabur kali." Dan Nania menjawab seraya menempelkan keningnya pada pipi pria itu.
"Realy?" Daryl tertawa pelan.
"Hu'um. Mana sampai mau punya anak lagi? Kan aneh."
"So why are you still here?"
"Karena aku sayang sama kamu." Nania juga tertawa, seperti halnya Daryl dengan pipinya yang merona.
"Cuma, marah-marahnya sedikit dikendalikan, Dadd. Kasihan anak kita kalau denger daddynya sering bentak-bentak. Aku takut dia trauma, sama kayak aku."
Lalu Daryl menoleh untuk menatap wajahnya.
"Karena dengar orang bentak-bentak itu rasanya nggak enak, menakutkan, dan bikin energi kita terkuras habis. Percaya deh, selama hampir dua puluh tahun aku merasa gitu kok."
Daryl mengulurkan tangannya untuk meraih pinggang Nania, lalu menariknya sehingga perempuan itu duduk di pangkuannya.
Sementara Nania tertawa sambil memeluk erat pundak suaminya.
"Baru kamu yang berani berkata begitu kepadaku. Memerintah dan meminta banyak hal seperti seorang bos kepada bawahannya." ujar Daryl yang mendongak menatap wajahnya.
"Iyalah, kamu suami aku. Kalau sama suami orang nggak akan berani. Dan nggak mungkin juga kan?" Perempuan itu menjawab.
"Selalu saja ada jawabanmu!" Daryl mendekatkan wajahnya.
"Iyalah, kalau nggak mau aku jawab ya jangan bilang apa-apa."
"Haih!!" Lalu keduanya tertawa.
Sejurus kemudian bibir mereka bertabrakan dan segera saling memagut. Dan dua dada dengan degupan jantung yang hampir seirama itu saling menempel sehingga bisa saling merasakan.
"Om Deeeeeerrr … Tante Nnaaaaaa …." Panggilan itu membuyarkan cumbuan yang baru saja berlangsung.
Daryl menoleh ketika suara teriakan itu terdengar mendekat.
"Hah, mereka sudah datang rupanya?" katanya, seraya mendorong Nania perlahan.
"Om Deeeeerrr, Tante Nnaaa?" Bayangan anak kecil tampak berlari dibalik pohon di belakang mereka.
"Sepertinya kita harus sembunyi." Lalu Daryl menarik Nania bangkit dan menuntunnya ke sisi lain hutan yag pohonnya lebih rapat.
"Om Der? Tante Nna?" Dan di saat yang hampir bersamaan Anya dan Zenya pun tiba di area itu.
"Kok nggak ada?" ucap Zenya yang menatap gelaran kain tikar di mana makanan dan minuman berjajar rapi, namun tak ada siapa pun di sana.
"Om Der!! Tante Nna?" Anya berteriak lagi, namun tak ada seorangpun yang menyahut.
"Non Anya, Den Zenya. Hhhh …." Satpam berhasil mengejar mereka.
"Pak Nunu bilang Om Der sama Tante Nna ada di sini. Mana?" Anak itu menoleh kepada pria berseragam hitam-hitam tersebut.
"Ee … memang tadi ke sini, Non. Tapi …." Pria itu menatap ke sekeliling.
"Kok nggak ada? Cuma bekas makannya doang?" Zenya menunjuk makanan yang berada di tengah-tengah area.
"Bapak nggak tahu, tapi …." Lalu dia menangkap bayangan dibalik pohon kiara besar ketika Daryl menjulurkan kepalanya sedikit.
"I-itu Non, ada …." Hampir saja dia memberi tahu sebelum akhirnya mengerti isyarat dari anak majikannya tersebut.
Ketika Daryl menggelengkan kepala sambil menempelkan jari telunjuknya di bibir.
__ADS_1
"Umm …."
"Pak Nunu? Apaan?" Anya menarik-narik lengan pria itu.
"Itu Non, umm …."
Daryl menggeleng lagi sambil melebarkan tatapan matanya.
"Mungkin Om Dernya sudah kembali ke rumah? Jadi, ayo kita pulang?" ucap pria itu yang mencoba manarik Anya.
"Masa sih? Kok Tante Nna ninggalin makanannya di sini? Tante Nna kan nggak gitu biasanya? Nanti suka marah-marah kalau kita buang-buang makanan?" Zenya maju beberapa langkah kemudian memungut sepotong sandwich dan sebuah jeruk dari dalam keranjang.
"Iya, mungkin nanti diberesin sama Mbak Nur?" Lalu ditariknya juga Zenya.
"Hmm …."
"Ayo Non, Den?" Pria itu segera menggiring Anya dan Zenya untuk meninggalkan area tersebut.
"Nanti kalau nggak ada di rumah gimana?" Anya masih berceloteh.
"Ya nggak gimana-gimana."
"Pak Nunu cariin ya?"
"Iya." Pria itu menoleh ke belakang.
"Tapi kalau nggak ketemu gimana?" Zenya pun bertanya.
"Ya nggak usah dicari."
"Kenapa?"
"Mungkin Om Der sama Tantte Nna nya sudah pergi."
"Pergi ke mana?" Anya berhenti berjalan.
"Bapak nggak tahu." Dia kembali menuntun anak itu.
"Kok nggak tahu? Kan Pak Nunu seharian jaga di depan? Masa Om Der loncatin pagar biar bisa keluar? Lagian mobilnya masih ada di depan?"
"Ee … mungkin memakai mobilnya Tante Nna? Dan perginya waktu Bapak istirahat." jawab pria itu lagi.
"Iya gitu?"
"Sepertinya begitu, Non."
"Nggak kok, tadi aku lihat mobilnya Tante Nna ada di garasi?" sahut Zenya yang mengingat-ingat ketika mereka tiba.
"Eee … mungkin pakai mobilnya Oma, Den?"Â
"Umm … masa sih? Kan pada punya mobil, tapi kenapa pinjem-pinjem?"
Dan pria itu terus berusaha menjawab seraya membawa mereka berjalan menjauh.
"Kenapa sih kita sembunyi kayak gini? Konyol banget deh?" Nania hampir keluar dari persembunyian, namun Daryl tetap merangkul pundaknya.
"Stay! Nanti mereka tahu kita di sini dan malah kembali."
"Emangnya kenapa?"
"Aku masih ingin berduaan denganmu karena nanti malam sudah pasti mereka akan merebutmu dariku."
Nania tertawa sambil menepuk dada suaminya.
"Serius, dan itu membuatku sangat kesal."
"Mereka keponakan kamu tahu?"
"Memang, lalu siapa lagi yang punya kelakuan serandom itu selain anaknya Rania dan Kak Dim? Sungguh perpaduan yang sempurna, bukan?"
Nania tersenyum.
"Oke, Mommy? Nggak usah dulu pulang sampai petang nanti ya? Aku mau pacaran dulu.l"
Lalu perempuan itu tertawa, dan setelahnya mereka meneruskan cumbuan yang sempat terjeda.
💖
💖
💖
Bersambung ....
Dih, ngumpet? 🙄🙄
ayo like komen sama hadiahnya dikencengin lagi.
Alopyu sekebon😘😘
__ADS_1