The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Kenangan


__ADS_3

πŸ’–


πŸ’–


~ Flashback On ~


"Grusha?" Daryl melambaikan tangannya pada seorang gadis berambut merah yang tampak celingukan.


Lalu dia berlari menembus kerumunan orang-orang yang mulai memenuhi Lapangan Merah. Itu adalah hari pertama festival musim dingin yang selalu dirayakan menjelang liburan.


"Kau sudah lama?" Senyum di bibir Grusha merekah kala pemuda yang dikenalnya saat masuk kuliah itu mendekat.


"Lumayan. Hanya saja belum membuatku membeku di sini." Keduanya tertawa.


"Maaf, membuatmu menunggu. Aku harus membantu ayahku mengatur beberapa hal." Gadis itu menyerahkan sebuah paper bag kecil kepada Daryl.


"Apa ini?"


"Kaktus dari kebun kami. Aku harap bisa mencerahkan hatimu ketika sedang merasa penat saat belajar."


Tumbuhan padang pasir itu terdapat di dalam sebuah pot mini dengan ukuran yang cukup kecil. Namun terlihat lucu dengan hiasan batu kerikil berwarna-warni diatasnya.


"Bagus sekali, Grusha. Jadi usaha orang tuamu ini?" Mereka berjalan bersama menikmati malam festival itu.


"Ya. Ini semacam usaha turun temurun hingga kami memiliki tempat penanamannya sendiri." Gadis itu bercerita.


"Well done, Grusha. Itu pasti jadi usaha yang bagus."


"Ya, kau benar."


"Tapi bagaimana bisa tanaman semacam itu tumbuh di tempat sedingin Moscow?"


"Mudah saja. Itu kan tanaman hias yang cara hidupnya bisa dimodifikasi. Jadi di mana saja bisa."


"Wow, amazing."


"Ya."


Mereka menyusuri sepanjang Red Square dengan terus berbincang mengenai banyak hal. Sesekali berhenti untuk membeli minuman panas dari sebuah outlet dan makan bersama di sebuah kafe terkenal di sekitar tempat itu.


Keduanya memang cukup akrab karena sama-sama menjalani saat awal di kampus.


"Di mana saudaramu? Biasanya kalian tidak terpisahkan?" Grusha menyesap minumannya setelah makan malam mereka habis.


"Sesekali pergi sendiri tidak apa kan?" Daryl pun melakukan hal yang sama.


"Ya, memang. Hanya saja ini sedikit aneh, karena biasanya Darren selalu ada di manapun kau berada." Gadis itu tertawa.


"Yeah, mungkin kami harus mulai mengurangi hal itu."


Lalu perhatian keduanya teralihkan ketika hingar bingar musik di tengah Red Square mulai menggema.


"Apa konsernya sudah mulai?" Grusha menoleh ke arah lapangan.


"Aku rasa begitu."Β 


"Lalu mengapa kita tidak ke sana? Sepertinya seru?" ujar gadis itu.


"Baiklah, mari?" Lalu mereka pun beranjak dari tempat tersebut.


Musik terus menggema memenuhi area. Beberapa band dan penyanyi yang cukup terkenal di Rusia mengisi acara tersebut hingga berlangsung meriah dalam beberapa jam. Membuat hari pertama festival tersebut menjadi hal yang paling menyenangkan.


"Oh, aku lupa harus memeriksa toko di sekitar sini." Grusha tiba-tiba saja teringat sesuatu.


"What?"


"Aku harus pergi. Ada sesuatu yang harus kuperiksa." Gadis itu berteriak di dekat telinga DarylΒ 


"Kau akan pergi?"


"Ya. Maaf. Terimakasih untuk malam ini, Daryl?" ucapnya, kemudian dia berusaha keluar dari kerumunan penonton yang memadati Red Square.


"Grusha, tunggu!!" Namun Daryl segera mengejarnya.


"Acaranya belum selesai, Daryl."


"I know."


"Lalu mengapa kau mengikutiku?"


"Aku tidak tahu akan pergi ke mana, aku tidak punya acara lagi setelah ini."


"Jadi kau akan mengikutiku?"


"Sepertinya begitu. Apa boleh?"


Grusha terkekeh.


"Baiklah, tapi kita hanya akan pergi memeriksa toko kecilku ya?" ujar gadis itu, dan Daryl pun mengangguk.


Mereka tiba di depan sebuah toko yang tidak terlalu besar. Berisi berbagai macam tanaman hias yang di antaranya adalah beberapa jenis kaktus dalam bentuk yang berbeda-beda.


"Hanya sebuah toko kecil." Grusha menyalakan lampu utama.

__ADS_1


Daryl menatap sekeliling tempat itu. Memang tak banyak teman yang dikenalnya secara dekat karena dia tak terlalu suka bergaul. Tapi gadis ini merupakan pengecualian.


Dia menyenangkan dan enak diajak bicara sehingga membuatnya betah berlama-lama bersamanya.Β 


"Keluargamu pasti sudah lama dalam usaha ini?" Dia mulai berbicara.


"Cukup lama hingga bisa membangun usaha yang cukup stabil. Dan mampu menghidupi kami sekeluarga." jawab Grusha.


"Itu hebat."


"Ya, dan ini toko pertama kakekku. Dulu mereka juga tinggal di sini karena tak punya rumah. See?" Grusha menunjukkan sebuah ruangan tersembunyi di sisi lain.


Daryl tersenyum.


"Perjuangan orang tua memang selalu menjadi yang paling berat kan?" ujarnya kemudian.


"Begitulah. Dan yang menuai hasilnya adalah kita."


"True."


"Sebentar, aku harus memeriksa beberapa hal. Kau bisa duduk di mana saja yang kau mau." Gadis itu beralih pada niatnya semula.


Daryl memperhatikan, semakin lama gadis itu terlihat semakin cantik. Apalagi ketika dia melepaskan mantelnya padahal diluar cuaca cukup dingin, tapi pemanas di ruangan ini memang ada pada suhu yang cukup.


Cerita yang indah bukan? Setelah memutuskan untuk tidak dulu terlibat urusan pribadi dengan lawan jenis karena ingin fokus pada pendidikan, tapi seseorang menarik perhatiannya di kampus.


Pada awalnya Daryl tetap menyangkal, namun pesona gadis yang cukup mencolok di kelas mereka ini memang membuatnya tak mampu berpaling.Β 


Bukan hanya parasnya saja yang cantik dan sikapnya yang ramah kepada semua orang, tapi kepandaiannya dalam hal akademik juga menjadi nilai plus. Dan itu jelas sangat bagus.


"Kau mau aku buatkan minuman?" Pertanyaannya membuyarkan lamunan Daryl.


"Eee … tidak usah. Kau masih lama?" Pria itu balik bertanya.


"Hanya tinggal mencatat untuk persediaan. Besok festival akan berlanjut dan biasanya penjualan akan meningkat. Orang-orang senang membeli suvenir." Dia duduk di tempat Daryl berada. Sementara pria itu terus memperhatikannya dalam jarak sedekat ini.


"I like you." ucap Daryl tiba-tiba yang membuat Grusha tertegun.


"I like you, Grusha." ulangnya, yang kali ini membuat gadis itu menoleh.


"Aku menyukaimu sejak pertama kali bertemu dan …."


Grusha menatap wajahnya lekat-lekat.


"I just like you."


Gadis itu tersenyum.


Grusha mengangguk tanpa banyak basa-basi.


"Really?" Sesuatu seperti meledak di dalam dadanya dan itu rasanya menyenangkan.


Mereka saling pandang untuk beberapa saat dan sesuatu segera terjadi setelahnya, hingga semuanya berjalan begitu lama. Berganti hari, minggu dan berlangsung beberapa bulan.


~Flashback Off ~


Daryl mengerjap ketika merasakan sesuatu yang hangat menyentuh wajahnya. Dan wajah Nania segera mendominasi pandangan saat dia membuka mata.


"Kamu kayak semalaman nggak tidur tahu nggak? Ceritanya mau bantuin aku beres-beres rumah ini, tapi malah tidur?" Nania duduk di pinggiran sofa di mana suaminya berbaring.


Dia baru saja membereskan setengah dari rumah bermain yang akan mereka pugar untuk dijadikan tempat tinggal.


"Aku lelah, Sayang."


"Lelah ngerjain apa? Dari tadi aku yang nurunin toples-toples ini."


Daryl tertawa.


"Ayo Daddy, bantuin aku beres-beres." Nani menariknya untuk bangkit.


"Lalu apa gunanya rumah ini punya banyak pegawai kalau hal begini saja harus kita yang mengerjakan?" Daryl terpaksa beranjak.


"Mereka yang angkat, kita yang mindahin."


"Hadeh …."


"Lagi pula begitu banyak barang di sini, masa mau kita yang mengerjakan?" ucap pria itu yang menurunkan beberapa kotak mainan dari rak.


"Sedikit-sedikit aja biar kita ada kegiatan." Nania menjawab.


"Hari libur aku maunya istirahat karena hari biasa aku bekerja, tahu?"


"Tolong turunin aja dulu semuanya, besok kan aku bisa ngerjainnya sendiri kalau semua udah ada di bawah. Aku kan pendek jadi susah menjangkau yang tinggi-tinggi."


Daryl tertawa lagi sambil mengusak puncak kepala Nania yang sudah duduk di lantai.


"Ini mainan kamu semua?" Lalu dia melihat beberapa kotak berisi mainan warna-warni.


"Mungkin. Sebagian sudah rusak." Daryl menatap beberapa kotak yang sudah dia turunkan.


"Kalau rusak kenapa nggak dibuang?"


"Sringatku, Mama melarang siapapun mengganggu barang-barang ini. Katanya banyak kenang-kenangan."

__ADS_1


"Duh? Kalau mau aku beresin gimana? Kan emang udah pada rusak?" Nania memeriksa beberapa hal.


"Bilang saja kepada Mama, aku yakin untukmu dia punya pengecualian."


"Masa?"


"Ya. Selain cucunya, sekarang kamu juga jadi anak kesayangannya."


Nania tertawa. "Kamu ada-ada aja."


"Contohnya Mama menuruti kemauanmu?"


"Baru ini kan?"


"Serius. Dulu mana ada yang berani menyentuh barang-barang di sini untuk dipindahkan? Mama pasti mengomel kalau ada yang melakukan itu."


"Nanti tolong dipindah ke teras aja ya? Mau aku pilihin yang bagusnya dulu. Siapa tahu masih ada." ujar Nania kepada beberapa pegawai yang muncul.


Mereka mengangkat kotak itu satu persatu, memindahkannya dari rumah bermain ke teras belakang kediaman majikannya.


"Kenapa dipilih? Kalau Mama sudah mengizinkan ya langsung buang saja?" Daryl bertanya.


"Siapa tahu masih ada yang bagus dan bisa digunakan. Mungkin bisa dimanfaatkan untuk orang lain?"


"Mainan-mainan itu?"


"Iya. Terkadang yang menurut kita udah nggak berguna bisa sangat berharga untuk orang lain."


"Tapi kan hanya barang bekas?"


"Barang bekas juga berguna."


Daryl menatapnya lekat-lekat.


"Apa?" Nania balik menatap.


"Keputusanku benar memilih hidup denganmu." Pria itu segera merangkulnya dengan erat.


"Ish, Om Der sama Tante Nna pacaran terus?" Suara anak kecil menginterupsi interaksi mereka berdua.


Daryl menoleh dan dia mendapati dua keponakan kecilnya yang baru saja tiba sore itu.


"Peluk-peluk melulu?" Anya dan Zenya berjalan memasuki ruangan tersebut.


"Sedang apa kalian di sini? Bukannya ke Bandung ya?" Daryl bereaksi.


"Udah pulang dong, kan besok sekolah." Anya menjawab.


"Kenapa pulangnya ke sini?"


"Suka-suka aku lah, ini kan rumah Oma aku." jawab anak itu lagi.


"Astaga!"


"Tante, rumah mainnya mau diberesin karena mau dibikin rumah ya?" Zenya menghampiri Nania.


"Iya. Nggak apa-apa kan?" Perempuan itu menjawab.


"Nggak apa-apa, nanti aku pasti sering nginep di sini." ucap Zenya dengan lugu.


"Heh? Apa-apaan itu? Belum dibangun sudah ada rencana menginap? Enak saja!"


"Ya biarin lah." sang keponakan menjawab.


"Kalau mau menginap ya di rumah Oma saja, tidak usah di sini!"


"Om Der sombong! Baru mau punya rumah tapi udah larang-larang!" Anya menyahut.


"Kalian ini ya? …."


"Ssstt! Pasti berantem kalau ketemu?" Namun Nania menghentikan peedebatan tersebut.


"Habisnya mereka langsung punya rencana menginap begitu tahu kita mau bangun rumah?"Β 


"Ya biarin aja kenapa? Namanya juga anak kecil. Kenapa sih harus selalu kamu lawan?"


"Aku bukannya melawan."


"Udah, ayo turunin lagi barang-barangnya biar cepet dipindahin!" ujar Nania ketika para pegawai kembali mengangkat barang-barang.


"Ayo, kalian juga bantu. Jangan hanya mau menginapnya saja!!" ucap Daryl kepada kedua keponakannya, yang tentu saja membuat mereka kegirangan karena dilibatkan dalam kegiatan orang dewasa.


πŸ’–


πŸ’–


πŸ’–


Bersambung ...


Kenangannya manis ya?😜😜


Cus like komen hadiah sama vote nya kencengin.

__ADS_1


__ADS_2