The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Soal Makanan #2


__ADS_3

💖


💖


"Malyshkaaa!!!!"


"Astaga!! Masih pagi udah teriak-teriak!" Nania menghentikan kegiatannya membereskan kamar mereka, lalu bergegas turun ke lantai bawah.


"Malysh …."


"Apa??" Lalu dia menemukan Daryl berada di belakang sofa dengan sapu di tangan.


"Ada apa? Kamu mau beres-beres? Tumben banget?" Nania menghampirinya.


"Ada temannya Zen."


"Hah?"


"Ada temannya Zen merayap di sofa." ulang pria itu.


"Apaan?"


"Ituu … temannya Zen." Daryl menunjuk pegangan sofa dengan ujung sapu di mana seekor ulat kecil berwarna hijau sedang merayap.


"Astaga." Nania segera mengambil secarik kertas di meja kerja lalu membiarkan ulat itu merayap untuk kemudian dia bawa keluar dari rumah.


"Bunuh saja sekalian, agar dia tidak masuk lagi ke sini!" Daryl berteriak lagi sambil mengikuti Nania hingga ke teras.


"Sudah kamu bunuh? Dibuang di mana? Jauhkan dia dari rumah!!" racaunya di belakang perempuan itu.


"Kamu berlebihan deh, itu kan cuma ulat kecil nggak akan gigit kamu!" Nania bereaksi.


"Tetap saja ulat. Hiii … menjijikan sekali, kenapa hewan itu ada di dalam rumah? Ini pasti gara-gara tanamannya. Sudah aku bilang kan jangan memasukkan tanaman ke dalam rumah? Begini kan jadinya?" Pria itu terus saja menggerutu, masih dengan menggenggam sapu di tangannya.


"Nggak ada hubungannya!" Nania kembali ke dalam rumah.


"Serius, kita kan sudah punya green house. Lalu kenapa tanaman-tanaman ini malah ditaruh di dalam rumah? Kan jadinya banyak serangga?" Dia menatap sekeliling rumah yang di setiap sudutnya memang terdapat berbagai macam tanaman.


"Biar adem." Nania bermaksud kembali ke kamar untuk meneruskan pekerjaan.


"Ada AC."


"Biar asri."


"Diluar juga sudah kelihatan asri. Lihat? Rumah kita dikelilingi pohon dan tanaman, jadi kurang asri apanya?"


Nania berhenti di tangga, kemudian berbalik.


"Aku suka aja lihat banyak tanaman di dalam rumah. Rasanya enak aja, adem gitu. Apalagi tanaman-tanaman ini juga berguna untuk nambah oksigen di rumah kita jadi nggak harus selalu nyalain AC. Lagian yang barusan itu cuma ulat kecil yang nggak bakalan bikin kamu sakit, jadi nggak perlu se sewot itu!"


"Kamu tahu, selain ulat juga ada laba-laba dan semut. And i hate them!"


"Ya bersihin! Jangan cuma ngomong aja. Kan setiap hari juga aku bersihin tapi yang namanya serangga ya pasti ada aja."


"But i …."


"Stop! Aku mau beresin kamar dulu, protesnya nanti aja."


Daryl segera menutup mulutnya rapat-rapat.


...****************...


"Tante Nnaaaaa!!!" Dua anak kecil berlarian masuk ke dalam rumah diikuti yang lainnya. Siapa lagi kalau bukan keponakan-keponakan mereka yang memang selalu datang di setiap akhir pekan.


"Aduuuhhh … udah ditungguin dari kemarin baru pada datang?" Nania menyambut kedatangan mereka, begitu juga para iparnya.


"Habis Oma sama Opanya juga belum pulang kan?" Asha yang segera menyalakan televisi sementara saudara-saudaranya yang lain duduk di sofa dan lantai.


"Kan ada tante sama Om Der?" jawab Nania.


Anak-anak itu menatap ke belakang Nania di mana Daryl yang tampak acuh di meja kerjanya.


"Om Dernya lagi sibuk, jangan diganggu." ucapnya yang segera mengeluarkan beberapa camila dari lemari penyimpanan.


"Kak Arkhan kok nggak ada? Nggak ikut ya?" Nania menyadari ketidak beradaan salah satu keponakannya.


"Mungkin mampir ke rumah Kak Ara, sekarang Arkhan kan udah bisa bawa motor." Anandita menjawab.


"Wahh? Udah dibolehin?"

__ADS_1


"Udah. Kan udan 17 tahun."


"Ooo …." Nania mengangguk-anggukkan kepalanya. "Tapi Ann nggak dikasih motor?" Lalu dia bertanya.


"Papa bilang nggak usah. Kalau mau pergi bisa ikut Arkhan atau papa yang anter." Anandita menjawab.


"Gitu ya?"


"Ohh, tidak mungkin Om Arfan membiarkan anak perempuannya bebas membawa kendaraan. Ara saja bisa bawa mobil setelah lulus kuliah." Daryl menyahut dari belakang.


"Masa?" Dan Nania menoleh karenanya.


"Serius. Bisa dikurung kalau memaksa." Pria itu melirik saudara dan para iparnya yang masuk berurutan.


"Mama Papa kamu ko nggak ada Ann?" Lalu dia bertanya.


"Ke Bogor. Tadi aja kita dianterin sopir." Anandita menjawab.


"Kenapa tidak ikut? Kan enak jalan-jalan?"


"Ogah ah, lagi males. Maunya ke sini aja, eh Asha sama Aksa malah ikutan."


"Resiko punya adik ya?" Nania tertawa.


"Hu'um."


"Tante Nna!!" Zenya menepuk-nepuk lengan perempuan itu untuk mendapatkan perhatiannya.


"Iya, Zen?"


"Opa bilang udah naik pesawat, tapi kok belum sampai sih?"


"Oh ya? Tante nggak tahu soal itu. Kamu kok tahu?"


"Kata Papi."


"Memangnya kamu belum lihat chat grup ya? Tadi pagi kan Papi ngechat gitu?" Rania menyahut percakapan tersebut.


"Chat grup? Aku belum lihat hape, baru selesai beresin rumah." Nania menjawab.


"Dih … istrinya Nikolai beresin rumah sendiri. Apa kabar para asisten rumah tangga? Pada santai dong mereka?" Rania duduk di sofa bersama anak-anaknya, diikuti yang lain.


"Lah iya, masa ada asisten rumah tangga kita mau ngerjain beginian? Untuk apa bayar mereka?"


"Hey, sesekali tidak apa beres-beres rumah. Anggap saja olah raga!" Daryl menyahut dari belakang.


"Olah raga apaan? Kalau olah raga kan ada gym, juga track lari. Ngapain beresin rumah? Yang bener aja. Itumah nggak ada selesai-selesainya." jawab Rania.


"Hadeh … terserah kamu saja lah." Daryl memilih untuk mengalah.


"Kan, aku bilang juga apa?" Zenya kembali menyela.


"Ya kalau baru naik pesawat tadi kemungkinan sampainya sore atau malam, Zen." Daryl berbicara pada keponakannya.


"Lama amat?" Anya menggumam.


"Ya Lama. Belanda itu kan jauh, tidak seperti ke Bogor."


"Yang waktu itu Mommy balapan bukan sih?" Anya mengingat-ingat.


"Mungkin."


"Oh iya, Kak Rania nggak pergi balapan minggu ini?"


"Aku absen lah." 


"Emang bisa ya?" 


"Bisa sesekali."


"Hmm … oh tunggu, mumpung udah pada ke sini aku mau bikin sesuatu!" Nania meletakkan beberapa botol minuman di meja.


"Bikin apa?" Lalu Rania mengikutinya ke area masak.


"Kakak suka seblak? Udah lama aku nggak bikin ini, tapi kayaknya sekarang mau deh. Soalnya tadi pagi aku udah minta Mbak Mima beli bahan-bahannya."


"Seblak? wah … itumah makanan favorit aku. Sama kayak ayam geprek juga capucino cincau."


"Masa?"

__ADS_1


"Iya."


"Baru tahu soal itu, hahaha …." 


"Lain kali kita main ke Bandung. Di sana ada tempat jajanan yang aku suka, menunya enak banget."


"Oh ya?"


"Tapi kalau bisa jangan bawa para suami, suka rese banyak larangannya." Rania sedikit berbisik.


"Kalau itu nggak yakin deh, biasanya ke mana aja diikutin?" Nania melirik Daryl dan Dimitri yang tengah asyik berbincang


"Itu gampang. Kita tinggalin aja di tempat abah, pasti mereka anteng."


"Emang bisa ya?"


"Bisa. Biasanya mereka betah kalau di rumah Abah. Sama kayak anak-anak. Atau bisa tinggalin juga di rumah orang tua aku, pasti nggak akan banyak aksi."


Nania tertawa, kemudian dia mengeluarkan beberapa bahan dari lemarinya.


"Pedesnya segini, biar mantap!" Rania menambahkan dua genggam cabe rawit merah ke dalam food processor yang di dalamnya sudah diisi bawang dan kencur yang cukup banyak.


"Itu nggak kebanyakan?"


"Bercanda ya? Menurut aku itu masih kurang. Cuma karena ada anak-anak jadinya dikurangi. Siapa tahu mereka juga mau."


Nania tertawa lagi, dia merasa senang karena akhirnya menemukan orang yang kesenangannya sama soal makanan.


Wangi bumbu yang dimasak menguar ke seluruh ruangan, sehingga menarik orang-orang untuk mendekat. Terutama Daryl yang bersin-bersin karena menghirup aroma pedas di dapurnya.


"Apa yang sedang kalian buat ini? Baunya pedas …." protes pria itu.


"Makanan." jawab dua perempuan yang berdiri di depan kompor.


"Makanan apa?"


Nania memasukkan beberapa macam kerupuk mentah yang sudah direndam sebelumnya, mie dan beberapa bahan lainnya. Ditambah sayuran dan potongan bakso dan sosis untuk menambah isi pada apa yang mereka buat.


"Seblak." Tanpa menunggu lama makanan itu selesai dibuat, lalu dia memindahkannya ke dalam wadah besar dan meletakkannya di meja makan.


"Seblak?" Daryl menatap makanan itu dengan kening berkerut.


Penampilannya yang penuh warna dengan campuran banyak bahan seperti yang pernah dia lihat di iklan-iklan media sosial. Belum lagi biji cabai yang bertaburan diatasnya dan kuah merah yang masih mengepulkan uap panas membuatnya sedikit merinding.


"Pasti sangat pedas." gumamnya yang menerima mangkuk berisi makanan itu dari Nania.


"No, Zen! Itu berbahaya untukmu." Dimitri memperingatkan ketika putranya mendekati meja makan di mana orang-orang berkumpul.


"But i want it too!"


"Perutmu akan sakit."


"I'm not."


"Trust me!"


"Mommy!!" Zenya mengadu kepada ibunya.


"Kamu kan memang nggak boleh makan pedas, nanti kayak papi." Rania menjawab.


"Kalau aku boleh kan? Aku kuat pedes kok kayak Mommy. Aku nggak akan sakit perut, serius." Dan Anya menyela dari belakang.


"Kalau kalian gimana?" Nania bertanya kepada tiga keponakannya yang lain.


"Ohh … nggak ada masalah. Cuma Aksa yang nggak terlalu suka pedas." Anandita menjawab.


"Baik. Kalau untuk kalian ada ini." Nania kemudian mengeluarkan beberapa makanan dari lemari pendinginnya. Berupa puding, es krim dan cake buatannya yang cukup menggoda selera apalagi untuk anak-anak.


"Yeayyy!!! Puding sama es krim!!" Zenya bersorak gembira dan segera saja, acara makan itu dimulai dengan suka cita.


💖


💖


💖


Bersambung ....


Loh, ini isinya soal makanan? 😂😂😂

__ADS_1


__ADS_2