The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Rumah Besar


__ADS_3

💖


💖


"Tunggu sebentar." Nania menarik lengan Daryl untuk menghentikan langkahnya.


"Kenapa? Tidak jadi ikut?" Dan pria itu pun berhenti tepat di teras belakang rumah orang tuanya dan menatap pintu yang terbuka ketika telinganya menangkap suasana yang ramai pada sore itu.


Ini pertama kalinya Nania menginjakkan kaki di rumah besar setelah dua minggu lamanya dia mengurung diri di dalam rumahnya sendiri.


"Bukan." jawab perempuan itu.


"Lalu?"


Nania menatap pergelangan tangan suaminya, di mana sebuah benda yang diingatnya dia lilitkan sebelum tragedi keguguran itu terjadi berada.


Yakni seutas tali dari paka*an dal*mnya sendiri yang tidak pria itu lepaskan sejak kepulangannya. Entah karena lupa atau mungkin tidak bisa.


"Aku belum lepasin ini." Nania bermaksud melepaskan tali tersebut dari tangan suaminya.


Tapi pria itu segera menarik tangannya. "No!!" dan dia membenahi benda tersebut.


"Kenapa dilepas? Biarkan saja." Daryl memeriksanya, memastikan jika Nania belum sempat melepaskannya.


"Kan kamunya udah dirumah, jadi nggak usah dipakai lagi." ujar Nania.


"It's okay, tidak ada masalah dengan itu." 


"Tapi ini kelihatannya jelek. Nanti kamu diledekin sama keluarga kamu lagi?"


"Tidak, siapa bilang." Daryl menatap tali di pergelangan tangannya. "Memangnya siapa yang berani meledekku? Selama ini tidak ada yang berani begitu kepadaku." katanya, lalu dia menatap wajah Nania.


"Tapi …."


"Sudah, biarkan saja. Lagipula, memangnya kenapa kalau aku memakai pemberian istriku?" katanya lagi yang bersikukuh untuk tetap mengenakan gelang tali tersebut.


"Sekarang ayo kita makan? Semua orang pasti sudah menunggu." Lalu Daryl kembali menggandeng tangan Nania dan segera menariknya ke dalam rumah.


***


"Sudah lebih baik, Nna?" Dygta yang memastikan anak-anaknya mendapat makanan mereka pun beralih.


"Iya Kak." Nania menjawab sambil mengangguk. Meski selera makannya masih belum pulih sepenuhnya, namun dia paksakan untuk tetap bergabung.


"Syukurlah. Harus mulai beraktifitas lagi ya, agar tidak sedih terus. Agar kamu juga semakin sehat."


Nania mengangguk lagi.


"Tidak apa, semua ada masanya. Nanti kita akan terbiasa." ucap Dygta lagi.


"Lalu kliniknya Kirana bagaimana? Kita tidak ke sana lagi setelah pembukaan ya? Ramai?" Perempuan itu kemudian beralih kepada adik iparnya yang lain.


"Lancar, Kak. Semakin hari semakin ramai saja. Apalagi berada di FSH. Semua orang sibuk setiap hari." Kirana menjawab.


"Oh, bagus sekali. Itu artinya para konsumen memang membutuhkan perawatan ya?"


Kirana mengangguk sambil tersenyum.


"Mudah-mudahan kedepannya tetap seperti itu ya?" ujar Dygta lagi yang sedang mencari cara untuk berbicara lebih serius.


"Kerjaan aku nggak Kakak tanyain?" Kemudian Rania menyela saat kakak iparnya itu terdiam sejenak.


"Kamu ada di sini, dan itu artinya kamu sedang tidak bekerja." Dygta sedikit tertawa.

__ADS_1


"Tapi kan aku juga ada kegiatan."


"Ya ya ya. Bagaimana balapanmu? Kapan kamu akan pensiun?" Perempuan itu berkelakar dan membuat seluruh anggota keluarganya tertawa.


"Ah, soal itu …." Dan Rania tampak menggaruk tengkuknya sambil berpikir. "Mungkin tahun ini di GP Spanyol pas akhir musim." 


"Wah, serius?" Arkhan, yang tidak biasanya malam itu justru ikut hadir.


"Iya."


"Udah deal?" Nania ikut bertanya.


"Udah. Kalau nggak sekarang terus maunya kapan? Anak-anak makin gede dan mereka semakin butuh perhatian. Nggak mungkin dong aku nyerahin semua sama baby sitter? Sementara Papinya juga sibuk?"


"Betul."


"Bagus Ran. Kalau memang pikiranmu seperti itu Mama juga dukung." Sofia mengamini ucapan menantunya.


"Ngomong-ngomong, Ann belum pulang ya? Ini kan udah sore?" Lalu pembicaraan pun beralih topik saat Nania baru menyadari salah satu keponakannya tidak ada.


"Iya, tadi ada kegiatan setelah mengajar. Apa kamu tahu kalau rumah baca sudah punya banyak program sosial? Dan Ann sangat bersemangat untuk mengikutinya."


"Soal itu … ya, memang." Pembahasan di whatsapp grup rumah baca memang ramai tentang kegiatan itu, namun Nania tidak ikut serius menyimaknya. Dan sepenuhnya dia serahkan kepada Anandita dan Regan. Mengingat kondisinya yang belum sebaik biasanya.


"Ya, Rumah Baca Nania banyak kegiatan sosial sekarang ini. Dan program kalian memang bagus." Kirana memuji.


"Temen-temen di sana yang kerjanya bagus. Mereka bukan cuma bantu tapi juga benar-benar kerja."


"Ya memang. Kalau banyak yang sepemikiran dan berkumpul di satu tempat, maka itulah yang terjadi. Ide-ide cemerlang akan muncul dan realisasinya bisa cepat terwujud. Apalagi jika banyak yang tertarik untuk ikut berpasrtisipasi. Dan untuk Rumah Baca Nania, aku rasa mudah saja." Ujar Kirana dan hal tersebut mendapat tanggapan dari semua orang.


***


Kirana menyandarkan punggungnya pada sofa. Sementara Darren mengusap-usap perutnya yang sudah semakin besar di usia kandungannya yang memasuki sembilan bulan.


Mereka bahkan sesekali tertawa ketika janin di dalam perut buncitnya tampak aktif. Dan itu terlihat dengan jelas dari gerakan-gerakan yang cukup intens.


"Mirip siapa ya?" Sofia juga menatap gambar empat dimensi tersebut seperti yang lainnya.


"Sepertinya hidungnya mirip Papi, dan bibirnya mirip Mama."


"Hey, kenapa dia lebih mirip Oma dan Opanya dari pada kalian?" Daryl berujar.


"Sembarangan kau ini!" Namun Darren merebut foto tersebut dari tangan sang kakak. "Ya jelas mirip aku dan Kirana juga lah, kami kan orang tuanya."


Lalu mereka semua tertawa.


"Perkiraan lahirannya kapan, Kak?" Nania menatap interaksi tersebut sambil membayangkan jika yang ada di posisi itu adalah dirinya.


"Dua atau tiga minggu ke depan." Kirana sedikit menjengit ketika pergerakan bayi di dalam perut kembali terasa.


"Sebelah sini, Sayang. Sepertinya dia sedang bergulat?" Lalu dia memindahkan tangan Darren ke sisi lain perutnya ketika aktifitas bayi berpindah.


"Hmm … jenis kelaminnya udah tahu?" tanya Nania lagi.


"Ya, USG terakhir laki-laki. Tapi tidak tahu bagaimana."


"Hmm …." 


"Begitu masuk usia sembilan bulan seharusnya tidak terlalu aktif seperti ini, tapi entahlah. Rasanya mungkin masih lama."


Nania mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Mungkin kamu nanti akan dapat kembar? Dicoba lagi, Nna." Kirana dengan penghiburannya, membuat semua orang tertawa.

__ADS_1


Namun entah mengapa Nania merasa hatinya berdenyut nyeri. Rasa-rasanya dalam waktu dekat ini dirinya tidak akan berencana punya anak dulu? Tapi entahlah.


Dan membicarakan masalah ini membuatnya merasa tidak nyaman. Meskipun dia tahu, bahwa apa yang Kirana katakan bukan bermaksud begitu, tapi tetap saja dia merasakan hal yang lain.


"Kamu lelah?" Daryl mengusap lengannya, membuat Nania menoleh.


Sepertinya pria itu mengerti dengan apa yang sedang dia rasakan, dan Nania lega karena tak harus mencari-cari alasan untuk pulang ke rumahnya sendiri.


Pulang. Seolah-olah dirinya berada jauh dari rumah dan sudah tidak tahan untuk kembali.


"Iya, sedikit." Nania menjawab.


"Mau pulang?" tanya nya.


"Apa boleh?" Nania pun balik bertanya.


"Boleh. Apa mau aku antar?" tawar Daryl kepadanya.


"Nggak usah. Kalau masih mau di sini ya di sini aja dulu. Mungkin nanti juga aku balik lagi."


"Baiklah."


Nania pun bangkit dari duduknya.


"Mau ikut Tante Nna, boleh?" Seperti biasa, Anya dan Zenya menghampirinya.


Namun Rania segera memberi isyarat kepada dua anaknya. "Tante Nna nya mau istirahat, Anya." katanya.


"Tapi mau ikut." Dan Zenya selalu punya cara untuk mendekat. Yakni dengan meraih tangan perempuan itu dan menatapnya dengan manik kelamnya yang lembut.


"Tapi Zen?"


"Nggak apa-apa, ayo ikut?" Namun Nania segera menjawab. Dan tanpa menunggu lagi dia segera menuntun dua keponakannya beralih ke rumah di belakang setelah berpamitan kepada semua orang.


"Nah, ngomong-ngomong soal Nania, sepertinya Kakak harus membicarakan sesuatu kepadamu, Der." Dygta kembali memulai percakapan, yang kali ini ditujukan pada adik keduanya.


"Aku?" Daryl menunjuk wajahnya sendiri.


"Ya."


"Soal apa?"


"Hal penting. Kalau tidak kita bicarakan, Kakak merasa tidak tenang." Perempuan itu berujar.


"Sayang?" Arfan berniat menghentikannya. Dan sepertinya ini merupakan hal serius, karena tidak biasanya Dygta berbicara secara langsung seperti itu.


"Tidak. Aku memang harus membicarakan masalah ini agar jika ada masalah tidak berlarut-larut. Ini juga masih keluargaku dan aku tidak ingin ada apa pun yang dapat merusaknya. Tidak mungkin." Dygta menjawab.


Dan seperti halnya Daryl, semua orang pun menyimak dengan raut serius karena pikiran mereka juga menerka-nerka apa yang akan dikatakan oleh anak tertua di keluarga itu.


Bahkan Arfan pun tampak tak berdaya untuk menghentikannya setelah semalaman mereka berbicara mengenai masalah ini.


💖


💖


💖


Bersambung ....


Ada yang kangen sama mereka?


Mommy dan Daddy 😚

__ADS_1




__ADS_2