
💖
💖
"Kak Kirana udah hamil." Nania memulai percakapan ketika Daryl naik ke tempat tidur.
Lagi-lagi pria itu pulang larut padahal dia sudah berusaha menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu.
"Iya aku tahu." Daryl mengusak rambut kecoklatannya yang basah.
"Kamu udah tahu?"
"Ya. Tadi pagi Darren menelfon dan menunjukkan hasil test Kirana kepadaku."
"Jadi sebelum ngasih tahu orang-orang, Darren ngasih tahu kamu duluan gitu?" Nania meletakkan ponselnya di atas nakas.
"Hmm …." Dan pria itu menjawab dengan gumaman.
"Kalian emang suka gitu ya? Selalu ngasih tahu berita penting sebelum bilang ke anggota keluarga yang lain?"
"Seringnya begitu."
"Semua hal penting?"
"Ya, hanya yang paling penting."
"Hmm … kalau kembar emang gitu ya?"
"Kadang-kadang tergantung kedekatan masing-masing saja. Aku pernah melihat saudara kembar malah bermusuhan."
"Kenapa bisa gitu? Kan mereka sama-sama dari kecil? Apa-apa sama?"
"Tidak tahu, mungkin pola asuh yang salah? Entahlah, anak kembar juga manusia kan? Butuh kesabaran lebih untuk bisa menerapkan beberapa hal."
"Hmm … jadi nggak sama ya?"
"Tidak."
"Kalau kita kira-kira nanti bakal punya anak kembar nggak sih?" Nania dengan bayangannya.
"Tidak tahu. Bisa ya bisa tidak."
"Tapi kalau kembar kayaknya lucu ya? Lihat Anya sama Zen?"
"Kembar memang lucu, tapi tidak seperti Anya dan Zen juga kan?"
Nania tertawa.
"Kamu kayaknya alergi banget sama mereka?" Nania berujar.
"Alergi? Memangnya virus? Aku tidak alergi."
"Terus kenapa kok gitu amat kalau mereka dateng?"
"I don't know, i'm just … entahlah, mereka mengesalkan."
"Ngeselin-ngeselin gitu juga keponakan kamu tahu?"
"Yeah, i know. Hanya saja … kok ada ya anak seperti mereka di dunia ini? Heran."
"Dih? Ya ada lah, itu buktinya?'
"Ya, memang." Lalu Daryl tertawa. "Kenapa kamu bicara soal anak? Dengar Kirana hamil jadi mau ya?" katanya kemudian.
"Nggak juga, biasa aja. Lagian akunya kan masih datang bulan." Nania menjawab.
"Oh iya ya?" Pria itu tertawa lagi. "Lalu bagaimana sekarang? Perutmu masih mulas dan sakit?"
"Udah nggak. Darahnya juga nggak sebanyak kemarin."
"Oh ya? Sebentar lagi selesai?"
"Nggak tahu."
"Bulan kemarin bukannya hanya empat hari ya?" Daryl sedikit ingat.
"Nggak tentu juga kan. Ada yang tiga hari, lima hari, tujuh hari."
"Bisa begitu ya?"
"Hu'um, katanya tergantung horm*n."
"Oh … jadi perempuan itu memang rumit kan?"
"Gitu deh."
"Ya sudah, cepat tidur. Besok aku harus berangkat pagi. Kamu tidak sekolah kan?" Daryl merebahkan kepalanya pada bantal.
"Nggak. Kan cuma empat hari seminggu." Nania juga melakukan hal yang sama.
"Iya, aku ingat. Kamu masih perlu pemanas untuk perutmu? Kalau perlu akan aku ambilkan." tawar Daryl sebelum memejamkan mata.
"Nggak, udah baikan kok."
"Baiklah kalau begitu." Daryl membenahi selimutnya.
__ADS_1
"Kamu nggak mau makan dulu?" Namun Nania kembali berbicara.
"Tidak. Kebetulan tadi jatah makan lembur staff kelebihan. Aku makan saja dari pada dibuang."
"Emang enak makanannya?"
"Lumayan. Tapi tidak seenak masakanmu."
"Hmm … besok mau aku bikinin bekal?" tawar Nania.
"Nggak usah. Nanti kan ada Raka atau Nindy yang antar. Kasihan kalau aku batalkan. Orderan mereka berkurang satu hari."
"Mmmm … manis banget sih kamu. Segitu pedulinya sama usaha orang lain?" Nania memiringkan tubuh kemudian menyentuh pipi suaminya.
"Aku memang manis, kamu saja yang nggak tahu kan?" Daryl dengan pipinya yang sedikit merona.
Nania tertawa melihat pria itu yang sedikit salah tingkah. Lalu dia bergeser sehingga mereka semakin dekat dan mengulurkan tangan untuk memeluknya.
"Apalagi kalau nggak marah-marah. Pasti lebih manis." Perempuan itu berujar.
"Aku nggak marah-marah, hanya cara bicaraku saja yang begini. Sudah aku bilang kan?"
"Tapi nada tingginya dikurangin bisa? Kan kamu juga udah tahu kalau aku denger orang ngomong keras suka gugup."
"Memangnya aku kalau bicara selalu dengan nada tinggi ya? Perasaan kalau sedang marah saja."
"Berarti kalau pakai nada tinggi itu kamu lagi marah ya?"
"Umm … tidak juga sih sebenarnya, kan hanya kebiasaanku saja."
"Bisa dikurangin kebiasaannya?"
Daryl terdiam.
"Daddy?"
"Hmm …."
"Bisa dikurangin teriak-teriak dan nada tingginya? Aku takut kalau kamu lagi marah."
"Malyshka, sudah aku katakan …."
"Kurangin sedikit, Pak." Nania mengisyaratkan dengan ibu jari dan telunjuknya yang dia dekatkan sedikit.
"Mmm … aku tidak sedang marah, bukankah sudah aku katakan tadi?" Daryl hampir berbisik.
Nania tertawa lagi.
"Nah kan, kamu juga tertawa? Berarti tahu kalau aku tidak sedang marah?"
"Hmm … baiklah akan aku coba ya? Ingatkan kalau aku berteriak lagi."
Perempuan itu menganggukkan kepala.
"Sekarang tidurlah Malyshka, jangan menyiksaku terus." Daryl balas memeluknya.
"Emang aku ngapain? Kan nggak ngapa-ngapain?" Nania mengerutkan dahi.
"Justru karena tidak berbuat apa-apa, rasanya jadi menyiksa."
"Hum?"
"Eragon sulit ditidurkan kalau terbangun." ucap Daryl lagi yang menekan bagian bawah perutnya kepada Nania.
"Ish, kamu ini!!" Perempuan itu hampir mundur ketika dia merasakan sesuatu mengganjal di bawah sana, namun Daryl menahan pinggangnya.
"Makanya diam, dan tidurlah."
"Eee …."
"Diam, maka aku pun akan diam." Daryl memperingatkan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Hari ini kamu libur ya, Nna?" Sofia menuangkan teh panasnya seperti biasa.
"Iya Ma." Dan Nania mengambilkan Daryl sarapannya.
"Kita pergi ke suatu tempat mau?" Sang mertua menawarkan.
"Ke mana?"
"Ke pusat kain langganan Mama untuk cari bahan."
"Bahan buat apa?"
"Pakaian."
"Pakaian?"
"Ya. Mama ada ide untuk disain pakaian baru, gambar dan segala macamnya sudah ada. Tinggal pemakaian kainnya yang cocok seperti apa? Mau ya temani Mama?" ucap perempuan itu lagi.
"Mmm …." Lalu Nania menoleh ke arah Daryl untuk meminta persetujuan.
"Kenapa tidak Mama panggil saja penjual kainnya ke sini? Suruh dia bawa sampel kain dan segala macamnya. Kenapa sih harus susah-susah pergi?" Pria itu menyahut.
__ADS_1
"Biar bisa membandingkan mana yang paling sesuai. Lagi pula jenis kain kan banyak. Ada ratusan, mungkin ribuan. Mana bisa dibawa sampelnya ke sini?"
"Bisa lah. Bawa sedikit potongan dari tiap kain yang ada, lalu mama pilih."
"Sulit Der. Kalau datang ke sana kan kita bisa langsung beli dengan jumlah yang kita butuhkan."
"Dari rumah juga bisa, Mom."
"Akan beda feelnya."
"Ah, bilang saja Mama ingin pergi keluar. Tidak usah pakai alasan harus melihat kain."
"Ya memang. Iyakan, Pih?" Sofia meminta pembelaan kepada suaminya.
"Ya." Satria menjawab setelah menyesap teh hangat miliknya.
"Papi juga pergi?" Daryl bertanya kepada sang ayah.
"Tidak, hari ini Papi ada janji main golf dengan Arfan." Satria menjawab.
"Dan Papi akan membiarkan Mama pergi sendirian?"
"Tidak. Kan ada Nania dan sopir juga."
"Maksudku, Papi mengizinkan Mama pergi tanpa Papi?" Daryl memperjelas ucapannya.
"Ya."
"Why?"
"Ya Mama mu memang perlu pergi. Lagi pula tidak selalu harus dengan Papi kan?"
"But you always be with her all the time!!"
"Tidak juga. Ada kalanya kamu harus membiarkan istrimu pergi sendiri." ucap sang ayah.
"Ah, tidak sendiri juga. Kan ada sopir. Dulu malah harus selalu dengan Arfan." Sofia menyanggah.
"Itu dulu, Sayang."
"Sekarang sama saja."
"Sstttt!" Daryl menjeda perdebatan kedua orang tuanya." Ajak Kak Dygta sajalah, Om Arfannya kan main golf dengan Papi." katanya lagi.
"Huh, dasar kamu tega! Kalau begini apa bedanya Nania dengan tahanan? Keluar sebentar saja tidak boleh padahal dengan Mama." Sofia mendelik, sementara putranya menghentikan acara makannya.
"Apa yang …." Lalu Daryl menoleh kepada Nania yang tampak terdiam. Dan perempuan itu kembali melahap makanannya ketika dia akhirnya membuat keputusan saat melihatnya tampak ingin pergi juga.
"Baiklah, pergi saja sana. Tapi jangan yang aneh-aneh." katanya kemudian.
"Aneh-aneh apanya? Memangnya kami ini abege apa?" Sofia menjawab.
"Hmm … iyalah iya. Tapi kalau Nania mau jajan, Mama yang traktir ya?" Daryl terkekeh.
"Gegabah sekali kamu ini, tuan muda! Memangnya kamu anggap ibumu ini siapa? Lagipula kalau Nania jajannya paling hanya milk tea, tidak seperti Rania yang sekalinya jajan dia beli motor."
"Hadeh …." Daryl memutar bola matanya.
"Baiklah aku harus pergi sekarang." Pria itu menyesap habis kopinya kemudian bangkit dan mencium tangan kedua orang tuanya.
"Pergi dulu ya?" Dia berpamitan kepada Nania yang mengikutinya sampai ke teras.
Perempuan itu menganggukkan kepala ketika Daryl mengecup pelipisnya.
"Jangan nakal, oke?" Daryl terkekeh kemudian dia melenggang ke arah Rubiconnya yang sudah mengkilat.
"Sayang, tunggu!" Namun Nania segera mengejarnya ketika dia melihat tali sepatu suaminya terlepas.
"Apa lagi? Mau aku bekali uang jajan?" Daryl berhenti di dekat mobilnya.
"Ini." Nania berjongkok kemudian membetulkan ikatan sepatunya.
"Ah, sudah aku bilang kan jangan memakai sepatu yang ini? Talinya sering lepas." Daryl menggerutu.
"Udah, sekarang nggak akan lepas." Nania bangkit sambil menepuk-nepukkan kedua tangannya.
"Yakin? Nanti kalau lepas saat aku bekerja bagaimana?" Pria itu menatap kedua kakinya.
"Nggak akan, ini udah kenceng ngikatnya kok." Nania memastikan talinya terikat dengan kuat.
"Baiklah. Aku pergi?" pamitnya lagi, kemudian dia masuk ke dalam mobil.
"Nanti jangan jajan kaktus ya, Malyshka? Atau lain kali tidak akan aku izinkan lagi kamu pergi tanpaku." Dia menjalankan mobilnya, kemudian melajukan kendaraan tersebut keluar dari pekarangan. Dan suara tawa terdengar keluar dari mulutnya.
"Lihatkan, Sayang? Dia melakukannya lagi!" Sementara Sofia dan Satria memperhatikan dari dalam rumah.
💖
💖
💖
Bersambung ....
Mama lihat apa nih?😁😁
__ADS_1