The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Terapi Sesi Pertama


__ADS_3

💖


💖


"Tadi ada ibu datang." Mereka dalam perjalanan ke rumah sakit untuk memenuhi jadwal terapi pertama.


"Benarkah?" Daryl fokus pada lalu lintas di sekitarnya.


"Ya."


"Mau apa?"


"Cuma mau ketemu."


"Tidak mengatakan apa-apa?"


"Nggak."


"Atau melakukan sesuatu?"


Nania menoleh ke arah suaminya.


"Biasanya dia kan begitu?" ucap Daryl dan dia ingat apa yang sudah dilakukan oleh mertuanya.


"Nggak."


"Syukurlah, aku kira ada sesuatu."


Nania mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Dia tahu ketidak sukaan suaminya terhadap sang ibu, dan dia mengerti. Dan tak ada yang bisa diubah soal itu karena Daryl memang begitu.


Kemudian Pria itu membelokkan mobilnya ke arah Nikolai Medical Center, dan mereka segera menuju ke ruangan Dokter Citra.


"Saya asumsikan bahwa yang Anda alami adalah dispraksia ideomotor. Hal inilah yang menyebabkan Anda tidak mampu melakukan hal-hal sederhana seperti berpakaian, mengikat tali sepatu, dan hal-hal ringan lainnya." Dokter Citra memberikan keterangan.


"Jadi beda-beda ya?" Nania merespon.


"Jelas beda. Ada Dispraksia ideational yang contoh gejalanya berupa tidak mampu menyikat gigi atau membereskan tempat tidur. Ada juga Dispraksia Oramotor yang menyebabkan anak sulit berbicara, atau ada Dispraksia Constructional yang membuat pasien sulit memahami bangun ruang. Dan berdasarkan yang saya lihat pada keadaan Pak Daryl yang mampu melakukan banyak hal selain mengancingkan kemeja dan mengikat tali sepatu, maka bisa kita simpulkan jika suami Anda termasuk pengidap Dispraksia Ideomotor."


"Apa penanganannya mudah?" Nania menoleh ke arah pria itu yang sibuk dengan ponselnya di sisi lain ruangan.


"Tidak mudah juga karena usianya yang sudah dewasa, tapi ada banyak upaya yang bisa kita lakukan untuk menangani kesulitan itu. Setidaknya agar menjadi lebih ringan."


Nania terdiam sebentar.


"Yang harus kita atur terlebih dahulu adalah emosinya. Bukankah suami Anda memiliki emosi yang tidak stabil?"


"Ya. Apa itu pengaruh dari dispraksianya?"


"Sebenarnya tidak ada hubunganya, tapi itu memang menjadi efek paling besar karena sebagian pengidap dispraksia akan mengalami luapan emosi yang tidak normal karena frustasi. Dan ada beberapa pasien yang mengalami keminderan karena hal tersebut, yang membuat mereka memilih menarik diri dari lingkungan. Apa Pak Daryl begitu?"


"Seingat saya nggak." Dia menoleh lagi kepada suaminya.


"Dia bahkan sangat percaya diri. Malah, saking percaya dirinya orang-orang kadang menyangka dia sombong. Tapi kadang emang sombong juga sih. Hahaha."


"Ah, mungkin ini akan lebih mudah karena kita tidak harus membangun kepercayaan dirinya terlebih dahulu."


"Dia cuma takut orang tuanya tahu, dan membuat mereka sedih. Suami saya merasa kalau dia bodoh karena hal ini."


"Apa Anda tahu bagaimana prestasinya semasa sekolah?" Dokter terus mengorek keterangan.


"Dari yang saya lihat dia juara di sekolah. Matematika, sains, bela diri. Dia pemegang sabuk hitam taekwondo juga, lho. Dan soal kemampuannya saya rasa nggak ada yang nggak bisa dia lakukan kecuali pakai kemeja sama ikat tali sepatu kan?"


"Ini yang membuat kasus suami Anda menjadi sangat unik. Hal yang untuk orang lain mungkin sulit, malah bisa dia lakukan dengan mudah. Tapi apa yang untuk orang lain mudah, menjadi sulit untuknya. Dan soal orang tua, saya rasa dia hanya takut membuat kecewa. Karena merasa apa yang diidapnya adalah hal memalukan." 


"Nah, iya Dokter."


"Mungkin pola pikir seperti ini harus kita ubah dulu agar kedepannya mudah."

__ADS_1


"Caranya?"


"Sounding."


"Sounding?"


"Yakinkan jika apa yang diidapnya bukanlah aib. Ini biasa karena tidak semua orang mampu melakukan segala hal. Dan ini tidak memalukan juga."


"Itu yang susah."


"Mudah. Asal sabar. Menghadapi pengidap dispraksia harus punya kesabaran yang lebih."


"Dokter nggak tahu sesabar apa saya menghadapi dia."


"Maka teruskanlah."


Nania menganggukkan kepala.


"Nah kita akan mulai dengan terapi okupasi terlebih dahulu untuk mengubah sudut pandangnya. Perasaan minder, rendah diri dan rasa malu karena mengira bahwa apa yang diidapnya adalah aib harus dihilangkan."


"Baik."


"Hey!! Apa sih yang sedang kalian bicarakan ini? Terapinya kapan dimulai? Mau sampai kapan mengobrol terus?" Daryl buka suara setelah menunggu beberapa lama.


"Bukan ngobrol, tapi lagi konsultasi." Nania menjawab.


"Kan yang mau terapi aku, tapi kenapa kamu yang konsultasi? Apa tidak keliru?"


"Kan aku yang mengurus kamu?"


"Hubungannya apa? Bukankah aku yang harus disembuhkan? Kenapa urusannya malah denganmu?"


"Dengar kan Dokter?" Nania beralih kepada dokter.


"Bukan kah sudah biasa?" Perempuan dengan jas putih itu tersenyum, lalu dia bangkit dan menghampiri pasiennya yang berada di bangsal pemeriksaan.


"Santai apanya? Memangnya ini hotel?" Daryl menjawab asal. Dia menatap langit-langit ruangan untuk membuatnya merasa tenang, karena berada di tempat seperti ini terkadang rasanya tidak nyaman.


"Bisakah Anda mengatakan banyak hal kepada saya?" Dokter Citra memulai sesi terapinya.


"Bicara soal apa?"


"Apa saja."


"Dokter ini tidak jelas. Bisa tidak kalau bicaranya jangan seperti itu? Dan lagi, kapan kita mulai terapinya? Dari tadi dokter bicara terus." 


"Ini kita akan mulai terapinya, Pak."


"Terapi apa? Masa terapinya hanya bicara?"


"Bapak mau terapinya seperti apa?"


"Ya tidak tahu, kan dokternya Anda, masa bertanya kepada saya? Bagaimana ini? Lalu apa gunanya saya datang ke sini?"


Nania hampir membuka mulutnya untuk berbicara, namun Citra memberikan isyarat.


"Bisakah Anda menceritakan kepada saya kesulitan apa yang anda alami sejak menyadari bahwa Anda mengidap dispraksia?"


"Kan sudah saya ceritakan kalau saya tidak bisa mengancingkan kemeja dan mengikat tali sepatu. Berapa kali lagi harus saya jelaskan?"


Dokter Citra menghela napas pelan.


"Apa itu mengganggu?"


"Sebenarnya tidak. Saya bisa menggunakan pakaian lain yang tak berkancing atau sepatu yang tak bertali. Dan itu mudah, hanya saja …." Pria itu menoleh ke arah Nania. "Saya malu." katanya, yang membuat perempuan di dekatnya tertegun.


"Malu?" Dokter Citra membuat catatan.

__ADS_1


"Dokter tahu, semua orang akan kecewa dan setelahnya keadaan berubah. Apalagi mereka akan mengasihani saya."


"Hmm … Menarik." Perempuan itu menulis lagi.


"Anda tahu, Pak? Dispraksia itu bukan soal bagaimana orang memandang kita tapi tentang penerimaan kita sendiri terhadap masalah ini. Dan rasa takut Anda tidak akan membantu."


"Saya tidak takut. Hanya tidak ingin membuat orang lain kecewa."


"Tidak ada prestasi yang bisa dikalahkan oleh dispraksia. Contohnya Anda. Bukankah banyak hal yang bisa Anda lakukan, yang mungkin orang lain tidak mampu? Jadi saya rasa itu bukan masalah besar. Kekurangan bisa tergantikan oleh apa yang sudah Bapak lakukan."


Daryl terdiam.


"Apa Anda mengerti, Pak?"


"Kenapa sih Anda malah membuat saya bicara berputar-putar? Bukankah seharusnya terapi?" Pria itu kemudian bangkit.


"Ini bagian dari terapi, Pak."


"Terapi apanya? Hanya bicara. Kalau begini di rumah juga bisa, kenapa saya harus repot-repot mendatangi Anda?" Dia menurunkan kakinya dari bangsal pemeriksaan.


"Memang prosedurnya seperti ini."


"Hah, prosedur apanya? Buang-buang waktu saja!"


"Tapi memang semuanya ada tahapannya, Pak."


"Ah, aku malas kalau sudah begini!" Daryl bangkit.


"It's enough. Aku mau pulang!" katanya, yang merapikan pakaiannya.


"Tapi Pak?"


"Aku tidak peduli, tidak mau lagi sepertu ini!" Daryl melenggang ke arah pintu.


"Hey, terapinya belum selesai kan?" Nania pun bangkit dari tempat duduknya.


"Aku tidak mau!" Pria itu keluar.


"Ee … Dokter?"


Dokter Citra tampak menghela napasnya.


"Maaf, dokter." Nania sedikit merasa malu.


"Tidak apa. Sesi pertama memang biasanya paling sulit."


"Malyshka!!!" Daryl berteriak dari kuar ruang pemeriksaan.


"I-iya!"


"Ikuti saja dulu, nanti bisa datang lagi setelah dia mengerti."


"Baiklah. Sekali lagi maaf, Dokter."


"Ya."


Lalu Nania berlari keluar setelah mendengar teriakan pria itu lagi.


💖


💖


💖


Bersambung ....


Mulai marah-marah lagi?😂😂

__ADS_1



__ADS_2