
💖
💖
"Nggak apa-apa, Pak. Nggak usah ke sini. Udah seminggu masa nginep terus?" Nania membalas pesan yang dia terima dari Daryl.
"Sure, keluargaku berkumpul malam ini. Mungkin untuk membahas tentang pernikahannya Darren dua minggu lagi." Pria itu balas membalas.
"Iya Pak."
"Aku nggak tahu apa fungsinya wedding organizer kalau keluarga tetap harus berunding?"
"Mungkin biar kompak aja?"
"Kalau soal pesta nggak ada yang namanya kompak. Orang banyak dipertemukan di satu tempat ya kacau."
"Minimal keluarga, Pak."
Lalu Daryl melakukan panggilan telfon.
"Emang nggak cukup ya kalau chat an aja?"
"Could you please don't call me Pak?" protes Daryl.
"Umm …."
"Aku seperti sedang berbalas pesan atau mengobrol dengan pegawaiku kalau begini. Kita ini pacaran!" Pria itu berujar.
"Sa-sayakan belum terbiasa, Pak. Eh … maksudnya … mm … saya bingung." Nania menjawab.
"Bingung soal apa?"
"Manggilnya, masa manggil Nama?"
"Memangnya kenapa? Mau panggil sayang juga boleh."Â
Nania terbatuk mendengar ucapan pria itu.
"Kalau sedang makan diam dulu, kenapa?" Daryl memelankan suaranya.
"Umm … ini susah. Pokoknya saya belum terbiasa. Baru juga tiga hari, masa udah sayang-sayangan?" Gadis itu masih sedikit terbatuk.
"Ish! Kenapa punya hubungan serumit ini?" Daryl terdengar menggerutu, dan sebagian ucapannya tak Nania mengerti karena menggunakan bahasa lain yang tak dia ketahui.
"Pelan-pelan, Pak. Saya kan baru pertama kali pacaran. Banyak yang harus disesuaikan. Dan nggak semudah itu."
"Hah … whatever!" Pria itu terdengar menggumam.
"Lagian kalau tiba-tiba manggil sayang nanti bakalan aneh banget deh?" Nania menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Anehnya di mana?
"Orang-orang bakal heboh."
"Kenapa heboh?"
"Tahu kita pacaran."
"Memangnya salah?"
"Ya nggak."
"Terus?"
Nania meniupkan napasnya di udara.
Bagaimana ya cara menjelaskannya?
"Intinya orang-orang akan heboh kalau tahu kita pacaran, dan saya nggak nyaman."
"Maksudmu, kamu tidak mau kalau orang-orang tahu kita pacaran?"Â
"Nah, itu Bapak ngerti!"
"Kenapa?"
"Ish! Udah dijelasin dari tadi juga!
"Jadi maunya bagaimana?"
"Ya jangan terlalu mencolok!"
Daryl terdiam.
"Pak?"
"Kamu nggak nyaman berhubungan denganku?" Pria itu dengan pikirannya.
"Bukan hubungannya yang bikin nggak nyaman."
"Terus apanya?"
"Reaksi orang-orangnya."
Daryl terdiam lagi.
"Pak?"
"Hmm?"
"Bisa nggak kalau jangan terlalu mencolok kalau di depan orang-orang?"
"Well … i don't know, but …."
"Saya nyamannya kayak biasa aja. Bisa nggak?"
"Hmm …." Daryl kembali menggumam. "Kamu nyaman denganku yang biasa saja?" tanyanya kemudian.
"Iya."
"Kamu nyaman denganku yang begitu?"
"Umm …."
"Biasa saja, heh?"
"Ya."
"But you still mine?"
"Soal itu terserah Bapak deh."
"Really?" Pria itu terkekeh.
"Eh, sebentar. Maksudnya apa sih yang barusan itu?"
"Deal." ucap Daryl kemudian.
"Apaan?"
"Oke, aku setuju."
"Entar dulu, maksudnya apaan Bapak bilang deal-deal begitu?"
"Sudah, pokoknya aku setuju."
__ADS_1
"Iya, setuju soal apaan?"
"Yang kamu katakan tadi."
"Yang mana?"
"Yang tidak boleh terlalu mencolok dan jangan sampai orang lain tahu kalau kita pacaran."
Nania mengingat-ingat lagi ucapannya.
"Malyshka?"
"Beneran deh Pak, bukan itu kayaknya."
"Terus?"
"Duh, perasaan aku nggak enak nih."
"Nggak enak soal apa?
"Soal Bapak yang bilang deal-deal itu."
Daryl tertawa lagi.
"Pak?"
"Apa sih, Nna?"
"Eh, nggak jadi deh. Nanti aja."
"Kamu mau mengatakan sesuatu?"
"Nggak, nanti aja kalau kita ketemu."
"Katakanlah, sekarang juga tidak apa-apa."
"Katanya mau ada perundingan keluarga?" Nania mengingatkan.
"Hmm … benar juga. Mungkin besok kalau kamu mengantar makanan untukku ya?"
"Bisa.
"Ya sudah, aku tutup dulu telfonnya oke? Orang-orang sudah datang."
"Hmm … iya."
"Nanti aku telfon lagi."
"Oke." Gadis itu hampir saja menutup telfonnya ketika Daryl kembali memanggil.
"Malyshka?"
"Ya Pak?"
"Tidak ada, hanya ingin mendengar suaramu lagi."
"Ish!"
Lalu terdengar kekehan dari seberang sana.
"Udahan nggak nih? Saya mau clossing." ucap Nania, seraya melirik teman-temannya yang mulai membereskan beberapa hal.
"Baik, clossing lah dulu. Siapa tahu selesai clossing keluargaku juga selesai berunding. Jadi nanti aku bisa menelfonmu lagi."
"Hmm …."
"Tunggu aku nanti ya?"
"Iya."
"Malyshka?"
Pria itu hanya tertawa.
"Hadeh, … gaje."
"Hah, apa?"
"Nggak, nggak ada. Udahan ah, saya tutup nih."
"Baik, baik. Naniaku! Selesaikan sana pekerjaanmu! Aku juga akan menyelesaikan urusanku."
"Ya udah, makanya tutup telfonnya. Ngoceh terus ih dari tadi!" protes Nania dengan nada kesal.
"Oke, bye." Dan kali ini Daryl benar-benar mengakhiri percakapan.
"Huffftthhh! Jadi ini yang namanya pacaran? Orang lain gini juga nggak ya? Atau aku aja?" Nania melirik ke arah Nindy dan Raka yang beberapa minggu ini juga tampak dekat.
Mereka bahkan sering pulang dan pergi bekerja bersama-sama. Dan sikap keduanya juga terlihat sedikit berbeda.
"Hayooo, malah melamun!" Ardi mendekatinya.
"Ck!" Nania berdecak kesal.
"Duit udah aku hitung, pemasukan pengeluaran juga udah aku total, tinggal kamu periksa balancenya, abis itu closing." Pemuda itu menyerahkan catatannya.
"Oke, nanti aku kerjain."
"Jangan nanti, keburu pacaran kamunya!" Ardi meneguk minuman kaleng yang dia ambil dari showcase.
"Pacaran apaan?"
"Ya, keburu Pak Daryl datang untuk nginep sebentar lagi."
"Nggak akan." ucap Nania sambil menyeringai.
"Masa? Orang tiap malam dia nginep terus?"
"Sekarang nggak."
"Kenapa?"
"Ada urusan sama keluarganya."
"Iyakah? Emangnya dia ngasih tahu kamu?"
"Iyalah, dia bilang kalau malam ini nggak akan nginep. Ada urusan keluarga."
"Cieeeee … ada yang izin nggak nginep karena urusan keluarga. Hahaha. Kayak satpam izin absen jaga?" Ardi tertawa.
"Ish! Apaan sih Di?"
"Kalian kayak yang beneran pacaran sih, Pak Daryl pake ngasih tahu segala kalau dia nggak bisa nginep. Uuuhh … so sweet." Ardi mencubit hidung kecil Nania.
"Ardi!" Namun gadis itu segera menepisnya.
"Hahaha … emang cocoknya kalian pacaran deh. Yang satu cerewet, yang satu kang marah-marah. Pas bener."
"Jangan ngawur, Ardi! Ada hal lsin yang harus aku pikirin soal itu."
"Apaan?"
"Soal nenek."
"Kenapa lagi? Kan udah meninggal?"
__ADS_1
Nania terdiam sebentar.
"Aku baru kepikiran mau lapor polisi, tapi bisa nggak ya? Orangnya udah dikubur, apa nggak telat kalau lapor sekarang?"
"Lapor polisi? Memangnya kenapa?" Ardi sedikit menjengit.
"Waktu aku temuin nenek tuh posisinya udah telungkup di lantai. Keningnya benjol, memar. Mana berdarah lagi. Mungkin nggak sih kalau nenek kena kekerasan?"
"Buktinya apa?"
"Kamar nenek berantakan. Biasanya nenek kan orangnya rapi banget. Ada kain kecil aja dilipat sebelum disimpen."
"Bukti lain?"
"Kata tetangga paginya ada ribut-ribut sebelum kakak aku pergi. Habis itu nenek nggak keluar-keluar waktu dipangil mau dikasih makanan."
Kini Ardi yang terdiam.
"Aku mau lapor, tapi apa nggak telat?" ujar Nania.
"Apa ini sering terjadi di keluarga kamu? Kau tahu, kekerasan domestik kayak gini? Kamu pernah mendapat perlakukan kayak gitu dari kakak kamu?"
"Umm ...."
"Kamu udah bilang ke siapa aja soal ini?" Lalu Ardi bertanya.
"Belum. Tadinya mau bilang sama Pak Daryl, tapi dianya lagi sibuk sama keluarganya. Aku nggak enak. Masa harus aku bagi masalah ini sekarang, kan baru juga …."
Pemuda di depannya mengerutkan dahi.
"Umm … nggak enak aja. Hehe." Nania hampir saja kelepasan bicara.
"Kalau mau gitu, mending bilang sama Kak Ara atau Pak Galang. Mereka pasti tahu mesti gimana."
"Aku malu lah, nggak enak. Masa apa-apa bilang sama Kak Ara terus. Ini urusan aku."
"Lah, kenapa nggak enak? Kan minta pendapat doang. Mereka paling ngerti soal ini apalagi Pak Galang."
"Kak Ara nanti suka langsung bantu, kan aku jadinya nggak enak."
"Ada yang bantu malah ngerasa nggak enak? Dasar Nania!"
Gadis itu tertawa.
"Besok kita ngobrol sama Kak Ara. Sekarang mau pulang dulu, udah waktunya kuliah." Ardi bangkit seraya mengenakan jaketnya.
"Eh, beneran kamu jadi kuliahnya?" Nania merasa antusias.
"Jadi lah, masa nggak."
"Berapa bulan kamu ngumpulin uang buat bayar masuknya?"
"Nggak sampai setahun, asal konsisten. Jangan jajan, pokoknya duit gaji simpen aja."
"Aku bisa nggak ya kalau kejar paket C, terus abis itu lanjut kuliah kayak kamu?"
"Bisa lah, masa nggak bisa?"
"Eh, nggak usah kuliah deh. Cuma SMA juga nggak apa-apa."
"Kenapa? Punya cita-cita itu harus tinggi biar kamunya semangat."
"Se kekejar nya aja. Kalau terlalu tinggi aku takut nggak terjangkau. Nanti kecewa berat, depresi akunya."
"Hey, di dunia ini nggak ada yang nggak mungkin. Selama kita berusaha, pasti ada jalannya kok. Nggak usah takut, Tuhan itu Maha Luas rizkinya, jadi pasti ada untuk kita. Tinggal usahanya aja dikencengin."
Nania tersenyum.
"Malah senyum."
"Pak Ustad Ardi!" ucap gadis itu, kemudian tertawa.
"Apaan sih? Udah ah, pergi dulu." Pemuda itu pun kemudian pergi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Serius, cuma begini saja? Aku pikir ada obrolan apa gitu sampai-sampai kita harus berkumpul?" Dimitri merebahkan punggungnya pada sandaran sofa.
"Namanya juga mau ada nikahan, Kak. Ya keluarga ngumpul lah." sahut Amara yang duduk di seberangnya.
"Kan sudah ada yang mengatur, masa kita harus ikut repot juga?" Daryl menjawab.
"Minimal kita tahu harus ngapain aja Kak. Lagian cuma harus tetep ada di sana doang apa susahnya sih?" ucap Amara lagi.
"Kamu pikir kita akan pergi ke mana? Ya tetap di pesta lah."
"Ya siapa tahu nanti Kakak ngilang gitu?"
"Ngilang ke mana?"
"Ya nggak tahu, kan namanya juga keluarga besar pasti ada macam-macam kelakuan anggotanya. Jadi harus diatur-atur dulu kan?"
"Kita ini maksudnya sedang membicarakan apa sih? Kok aku nggak ngerti ya?" Daryl menegakkan tubuhnya.
"Nah kan, padahal udah dijelasin tapi masih nggak ngerti juga?"Â
"Serius, aku jadi nggak ngerti."
"Eh, kenapa sih kalian malah jadi ribut? Diskusinya sudah selesai!" Darren menyela percakapan dua orang ini.
"Cuma jelasin, tapi Kak Daryl nggak ngerti-ngerti." Amara menjawab.
"Yang aku nggak ngerti itu ucapan kamu, Ra."
"Ah, itu Kakaknya aja yang nggak ngerti. Orang aku ngomongnya jelas kok."
"Ish!" Daryl memutar bola matanya.
"Sudah, intinya keluarga harus tetap ada di pesta sampai selesai. Itu saja cukup." Galang menengahi percakapan mereka.
"Tapi Kak Darylnya nggak ngerti juga, Kak."
"Sstt! Nggak usah dibahas lagi." Galang yang menghentikan perdebatan.
"Oke, diskusinya sudah selesai kan?" Lalu Daryl bangkit dari duduknya.
"Udah Kak, kalau mau ke kedai aku lagi boleh, tapi mungkin udah Nania kunci karena udah kemalaman." Amara menjawab.
"Apa?" Pandangan semua orang tertuju kepadanya.
"Ee … bicara apa kamu ini? Aku mau istirahat."
Amara mencebikkan mulutnya.
"Sudahlah, i'm out of here." Pria itu melenggang ke arah tangga menuju kamarnya di lantai dua sambil menyalakan ponselnya.
"Oh, come on! Angkat telfonnya! Masa jam segini kamu sudah tidur?" Pria itu terdengar meracau.
💖
💖
💖
Bersambung ...
__ADS_1
Pada bisa jaga rahasia nggak ya?😜😜