The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Nania


__ADS_3

💖


💖


"Sudah Pak, silahkan." Nania selesai menyiapkan makan siang untuk Daryl. Termasuk mengambilkan air minumnya dari dispenser yang tersedia di ujung ruangan.


"Hmm …." Pria itu hanya menggumam. Dia memilih untuk menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu.


"Saya udah boleh pergi kan Pak?" ucap Nania yang telah yakin pekerjaannya selesai.


"Tunggu sebentar." Daryl mematikan laptop setelah menyimpan beberapa file yang sudah dia lihat.


Pria itu kemudian bangkit dan berpindah ke sofa tempatnya makan seperti biasa seraya menyerahkan ponselnya kepada Nania.


"Maaf Pak?" Gadis itu tentu saja merasa heran.


"Masukkan nomor hapemu di sana." ucap Daryl, dan dia memulai kegiatan makannya.


"Maksud Bapak?"


"Nomor hapemu, aku membutuhkanya." Daryl menjawab.


"Untuk apa Pak?"


"Ya untuk menghubungimu kalau ada sesuatu lah, untuk apa lagi."


"Masalahnya itu …."


"Cepat masukkan nomor hapemu ke sana. Agar aku bisa meghubungimu jika sewaktu-waktu membutuhkamu!" Pria itu menaikkan nada suaranya, membuat Nania terkejut sehingga dia dengan refleks mengetikkan nomor ponsel di sana. Lengkap dengan nama dan emot senyum seperti yang dia buat di ponsel miliknya.


"Sudah Pak." Lalu Nania mengembalikan benda pipih itu kepadanya.


"Begitu kan manis? Dari tadi kenapa?" Daryl menerima kembali ponselnya sambil menggumam.


"Udah semuanya kan? Saya udah boleh pulang?" Nania bertanya lagi.


"Hmm … pulanglah." jawab Daryl yang kembali menikmati makanan siangnya.


Namun Nania malah tertegun. Biasanya pria ini membuat berbagai alasan untuk membuat dirinya tinggal lebih lama, tapi mengapa kali ini lain?


"Kamu bilang mau pulang?" Daryl bereaksi.


"Umm … ya. Saya … pamit." Nania tersadar dari lamunannya.


Dia kemudian mundur ke arah pintu dan berbalik. Lalu pergi setelah yakin tak ada lagi yang harus dia lakukan di sana.


***


"Kak Nania!!!" Anya dan Zenya berlari menghampirinya begitu dia tiba di lantai satu.


"Hey, kalian ada di sini?" Nania segera menyambut dua anak itu.


"Sama siapa?"


"Sama Mommy dan Oma." Zenya menunjuk ke belakang di mana ibu dan neneknya juga dua pengasuh berjalan mengikuti mereka.


"Oh, …."


"Hai Nania? Habis antar makan siang?" Rania segera menyapa.


"Iya Bu."


"Sudah?" Sofia pun bertanya.


"Sudah Bu."


"Baiklah."


"Bu Rania belum pergi untuk balapan?" Nania berbasa-basi karena tiba-tiba saja Anya dan Zenya menempel kepadanya.


"Besok. Dekat kok cuma ke Australia. Jadi agak santai." Rania menjawab.


"Begitu ya?"


"Hmm …."


"Aku juga besok ikut Mommy lho, kan deket. Kata Papi kalau deket boleh ikut." Anya menyahut.

__ADS_1


"Oh ya? Asik ya kayaknya?" Nania menanggapi.


"Iya dong. Naik pesawatnya Papi loh, terus nanti di sana lihat banyak motor kayak punya Mommy. Seruuu …." Nania tertawa.


"Kak Nania habis ini mau ke mana?" Zenya bertanya.


"Langsung pulang ke kedainya kak Ara dong. Kan mau kerja lagi."


"Oh, aku kirain nungguin Om Der kerja?" celetuk Anya.


"Hah?"


"Sama kayak Om Der yang sering ngintip kalau Kakak lagi kerja." sambung Anya yang membuat tiga perempuan itu saling pandang.


"Umm … kayaknya Kakak harus pulang sekarang deh, hehe …." Nania dengan perasaan canggung.


Dan dia hampir berpamitan ketika Daryl muncul.


"Kalian sudah sampai rupanya?" Pria itu mendekat.


"Baru." jawab Sofia.


"Maaf pak?" Dinna pun datang menghampiri.


"Set nya sudah selesai. Bapak dan Ibu bisa mulai kapan saja, kami sudah siap." katanya.


"Bagaimana dengan pakaian untuk Anya dan Zenya?" Daryl bertanya.


"Semuanya sudah disiapkan sejak pagi Pak." jawab Dinna yang menunjuk satu ruangan tempat biasa diadakan pemotretan.


"Baik, apa kalian mau mulai sekarang?" Daryl beralih kepada Rania.


"Boleh, biar lebih cepat selesai kan?"


Orang-orang di depannya menganggukkan kepala.


"Ayo Anya, Zenya. Kita mulai sekarang!" Rania memanggil kedua anaknya.


"Ayo Kak ikut, aku mau jadi model!" Dan Anya segera menarik Nania yang tangannya dia genggam sejak tadi.


"Eee … Anya, tapi Kakaknya harus pergi …." Namun anak itu berhasil menariknya ke dalam studio di mana beberapa hal sudah disiapkan dengan baik.


"Kakak tunggu aku ya? Nanti lihat dulu aku difoto." Anya berujar.


"Eee … sebenarnya …." Seperti biasa, gadis itu tak mampu menolak permintaan seseorang meski itu bertentangan dengan pikirannya. Jadilah dia tetap berada di sana untuk beberapa saat.


Mereka mendandani Anya dan Zenya. Memakaikan beberapa pakaian yang lucu penuh warna khas anak-anak dan seseorang mengarahkan keduanya untuk bergaya di depan kamera.


"Mereka itu … lucu kan?" Daryl mundur ke sisi di mana Nania berdiam diri dengan perasaan gelisah.


"Hmm …." Gadis itu hanya menggumam. Pikirannya ingat kepada neneknya yang mungkin sedang menunggunya mengantarkan makanan saat ini.


Sudah tiga hari sejak dia melarikan diri dari rumah, baru hari ini ada niat menemui neneknya.


Pasti uang nenek sudah habis. Itu kan hanya cukup untuk dua hari. Batinnya.


"Melihat mereka seperti ini, aku lupa kalau dua anak itu rusuhnya minta ampun." Daryl terkekeh.


"Hu'um." Nania menjawabnya dengan gumaman.


"Ada apa denganmu ini? Kenapa dari tadi hanya hmm hmmm saja? Tidak ada jawaban yang lain apa?" Daryl menoleh kepada gadis itu yang terdiam.


"Saya ini lagi kerja Pak. Pengunjung di kedai pasti udah banyak sekarang." Nania menjawab.


"Terus?"


"Tapi Anya malah minta saya ikut ke sini."


"Kenapa tidak menolak saja kalau begitu?"


"Nggak enak." Nania dengan wajah memelas.


"Terus maunya bagaimana?"


"Ya maunya saya kembali ke kedai. Teman-teman saya pasti lagi sibuk sekarang, sementara saya di sini …."


"Ya pergi saja, apa susahnya?"

__ADS_1


"Tapi Anya?"


"Nanti aku yang bilang."


"Nggak apa-apa?"


"Ya."


Nania menoleh kepada dua anak di depan sana.


"Sana, cepatlah pergi." Daryl dengan senyum manisnya membuat Nania terdiam untuk beberapa saat.


"Tidak jadi ya? Kamu mau tetap di sini?" ujar pria itu.


"Eee … jadi Pak, jadi. Saya pamit." jawab Nania yang kemudian mundur menjauh.


"Oke. Hati-hati." Pria itu melambaikan tangannya.


"Ee … baik." Lalu Nania segera berlari, sementara Daryl tergelak.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Gadis itu tiba di sebuah gang kecil setelah berpacu membelah jalanan kota. Dia memarkirkan motor matic milik Amara setelah menitipkannya kepada pemilik warung kecil yang tidak terlalu jauh dari rumah Mirna.


Nania memilih untuk berjalan ke arah rumah dan dia sedikit mengendap untuk mengantisipasi keberadaan penghuni rumah lainnya.


Dan di sanalah dia, melihat neneknya yang duduk di teras seolah menunggu sesuatu atau seseorang.


Nania memindai keadaan. Melihat apakah rumah itu dalam keadaan sepi ataukah yang lainnya ada di sana. Namun Nenek segera bereaksi ketika dia mengenali sosok yang muncul di balik pagar.


"Nduk?" Perempuan itu tergopoh-gopoh menghampirinya.


"Kenapa kamu ke sini? Ibumu ada di rumah." ucap Nenek yang mengawasi keadaan.


"Aku antar makan."


"Lain kali jangan kalau ada ibumu. Bahaya. Dari kemarin marah-marah terus karena kamu kabur."


"Terus gimana?"


"Neneh tidak apa-apa, sudah biasa mendengar ibumu mengoceh. Tapi Sandi sedang mencarimu. Kamu harus hati-hati."


Nania menatap ke arah rumah.


"Cepat pergi, nanti ibumu lihat!" ujar nenek setelah menerima bungkusan makanan.


"Nenek hati-hati ya?" Nania seraya memberinya selembar uang pecahan lima puluh ribu.


"Iya, sana cepat pergi. Nanti Sandi juga datang." 


"Iya Nek." Lalu Nania pun menjauh dan cepat bersembunyi ketika melihat pintu rumah terbuka.


"Ibu sedang apa?" Terdengar Mirna berteriak.


"Ee … ini ada yang ngasih makanan." jawab Nenek, agak terbata.


"Siapa?"


"Tetangga."


"Cepat masuk! Jangan menerima makanan dari sembarang orang! Dikiranya kita tidak mampu apa?"


"Iya Mir."


"Jangan dibiasakan minta-minta. Aku tidak suka!"


"Ibu tidak minta, hanya dikasih."


"Lain kali jangan!" Mirna menatap ke arah jalanan.


Sang nenek terlihat masuk ke dalam rumah meski omelan Mirna masih terdengar. Kemudian Nania memutuskan untuk segera pergi setelah memastikan keadaan di sekitarnya aman.


💖


💖


💖

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2