
💖
💖
Nania memutar bola mata ketika Daryl menepuk pantatnya saat dia tengah berdiri di depan kompor, seperti biasa. Rupanya, celana pendek yang dia kenakan mengundang pria itu untuk berbuat jahil seperti yang memang selalu dilakukannya setiap kali ada kesempatan.
Kemudian satu tepukan lagi Daryl lakukan saat dia bermaksud kembali ke ruang tengah setelah selesai dengan kopinya.
"Ugh, Daryl!" Nania berteriak, sementara pria itu hanya tergelak.
Namun Nania segera menerjangnya kemudian melompat ke punggung dan melilitkan tangan dan kakinya.
"Makin sini kamu makin rese!" Lalu dia menggigit telinga suaminya.
"Aaaaa! Jangan digigit!" Membuat pria itu memekik kesakitan karena gigitan Nania cukup keras di telinganya. Tapi wajahnya memerah karena dia merasa sedikit kegelian.
"Stop, Nna! Itu sakit!" protesnya, seraya menghindarkan kepalanya.
"Nggak akan, kalau kamu juga nggak berhenti mukulin aku!" Namun Nania belum melepaskan gigitannya dari telinga pria itu.
"Itu bukan pukulan, tapi hanya ... Ah .... Nania, stopp!" Daryl berusaha menghindar dan dia masih tertawa. "Kamu akan membuatku tidak tahan kalau begini terus!"
"Alah, nggak aku giniin juga kamu selalu nggak tahan apalagi aku giniin? Eragon kan baperan!"
"Yeah, it's because of you!" Daryl tergelak.
Namun hal itu terhenti ketika satu sosok muncul dan berhenti di ambang pintu. Adalah Anandita yang baru saja tiba. Dia tertegun menatap interaksi paman dan tantenya di dalam rumah, bahkan sampai membuat ponsel dalam genggamannya jatuh ke lantai.
"Umm … waktunya nggak tepat ya? Hehe." Dia tertawa canggung, lalu memungut benda pipih di dekat kakinya.
Wajah dua orang itu tampak memerah karena malu. Dan Nania kemudian turun dari punggung Daryl.
"Mau apa kamu pagi-pagi sudah ke sini?" Dan Daryl segera mengambil alih situasi.
"Kan mau ke rumah baca?"
Nania melirik jam dinding di atas lemari yang sudah menunjukkan pukul delapan lebih.
"Astaga! Aku lupa ngasih tahu." Nania menepuk keningnya sendiri.
"Kenapa?"
"Hari ini aku nggak ke rumah baca dulu."
"Lah, kenapa?"
Nania kembali ke area masak di mana beberapa wadah sudah dia isi dengan makanan yang dimasaknya sejak subuh.
"Mau pergi."
"Terus?" Anandita mengikutinya, sementara Daryl kembali pada aktivitasnya semula di depan televisi.
"Nggak apa-apa, nanti bareng aja sama Regan." ujar Nania yang memindahkan masakan terakhir yang dia buat semuanya ke dalam wadah kosong.
"Emang Om Regan mau ke sini?"
"Iya, kan harus bawa makanan-makanan ini."
"Oh, iya juga ya."
"Hmm …."Â
Lalu secara kebetulan ketukan pintu menginterupsi kegiatan pagi itu.
"Masuk, Regan." Daryl menjawab ketukan ketika menemukan bawahannya sudah tiba.
"Selamat pagi, Pak?" Pria itu berdiri di ambang pintu.
"Ya, masuklah." Sang atasan menjawab.
"Baik, Pak." Dan Regan pun memasuki rumah lalu mengangguk ketika dia mendapati dua perempuan menatapnya di area masak.
"Sudah siap? Kalau sudah mau saya bawa." tanya nya kepada Nania.
__ADS_1
"Udah, bawa aja." jawab perempuan itu yang menutup wadah satu-persatu.
"Mau sarapan dulu?" Lalu Nania menawarkan.
"Tidak usah, terima kasih." Regan menolak.
"Atau kopi?" tawarnya lagi.
"Sudah tadi di rumah." Pria itu tetap menolak.
"Hmm … jadi, mau langsung kerja?" Namun Nania tetap mengajaknya bicara.
"Ya, begitulah."
"Okelah kalau begitu." Dia menepukkan tangannya setelah menyelesaikan pekerjaannya.
"Awas Ann, jangan diam di sana!" Nania menginterupsi lamunan keponakannya yang berada di dekat meja.
"Eee …."
"Maaf." Dan Regan mendekati meja di mana gadis itu berada.
Pria itu segera membereskan kotak-kotak makanan tersebut ke dalam keranjang besar seperti biasanya, lalu membawanya ke mobil yang terparkir tak jauh dari rumah itu.
"Malah diem aja, bantuin kek. Ini sebagian masih ada." Lagi, Nania berbicara yang ditujukan untuk keponakannya yang tiba-tiba saja terdiam di tempatnya.
"Ee …." Dan Anandita pun melakukan apa yang perempuan itu katakan meski akhirnya terhenti karena Regan cepat kembali untuk mengambil yang terakhir itu.
***
"Jadi aku pergi sendiri, nih?" Anandita bersiap setelah semuanya selesai.
"Iya, kan udah aku bilang tadi." Nania memastikan semuanya sudah masuk ke dalam mobil milik Regan.
"Nanti pulangnya gimana?" Dan Anandita melirik ke arah bawahan pamannya itu yang sudah membukakan pintu mobil untuknya.
"Ya sama Regan lagi lah, dia nunggu kamu sampai selesai kok, kayak biasa."
"Umm … oke." Lalu gadis itu pun masuk dan duduk di kursi penumpang.
"Ugh, abege!!" katanya, yang menatap bagian belakang kendaraan roda empat tersebut hingga menghilang dibalik rumah besar mertuanya, kemudian dia kembali ke rumahnya sendiri.
"Setelah ini langsung pergi?" Daryl bertanya saat Nania melintas di depannya.
"Iya, tapi aku mau mandi dulu sebentar ya?" Perempuan itu menjawab seraya melenggang ke arah tangga menuju kamar mereka di lantai dua.
"Baiklah." Dan Daryl segera bangkit untuk mengikutinya.
"Kamu mau ke mana?" Nania menoleh.
"Mandi juga."
"Emang tadi belum?"
"Belum." Daryl mengekorinya dari belakang.
"Dih, kirain bolak-balik dari tadi itu udah?"
"Kan menunggu kamu?"
"Curiga bukan cuma mandi." Nania menggumam.
"Itu kamu mengerti." Daryl tertawa sambil menepuk-nepuk pantat Nania, sementara perempuan itu memutar bola matanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kok rumahnya sepi ya?" Dua orang itu berdiri di depan rumah sederhana Mirna yang seperti tak berpenghuni.
"Mungkin ibumu bekerja?" Daryl memeriksa lewat jendela dan dia tak melihat siapa pun ada di dalam sana.
"Apa ibu masuk kerjanya pagi ya?" Sementara Nania melihat jam di layar ponselnya.
Waktu sudah menunjukkan hampir jam dua belas siang dan mereka tak menemukan keberadaan siapapun di tempat itu.
__ADS_1
"Akhir pekan seperti ini ibumu bekerja?" Daryl kemudian kembali ke sisi Nania setelah memeriksa area samping yang tak kalah lengangnya.
"Kayaknya iya. Waktu itu juga kan ketemu di rumah baca pas waktu hari Sabtu?"
"Hmm … bukankah bekerjanya di sekitar rumah baca?" Daryl mengingat percakapan yang didengarnya saat pertemuan Nania dan ibunya.
"Iya, di ujung blok."
"Tempat apa?"
"Nggak tahu, tapi katanya ibu jadi tukang cuci."
"Kosan? Atau binatu?"
"Mungkin."
"Mau coba cari ke sana?" tawar Daryl.
"Kamu mau?"
"Ya hanya kalau kamu yang mau." jawab pria itu, dan mereka pun memutuskan untuk keluar dari pekarangan rumah.
"Nania?" Seseorang dari arah samping memanggil, membuat dua orang itu menoleh bersamaan.
Seorang perempuan paruh baya yang Nania kenali merupakan tetangga samping rumah ibunya.
"Ya Bu? Tadinya mau lihat ibu, tapi nggak ada. Apa pergi kerja ya?" Dan Nania segera bertanya.
"Ibu kamu?" Perempuan itu balik bertanya.
"Iya."
"Setahu saya, Ibu kamu sudah tidak tinggal di sini." Jawabnya yang menoleh ke arah rumah.
"Apa?"
"Kalau tidak salah sudah mau sebulan. Mereka kan diusir." katanya, yang membuat Nania mengerutkan dahi.
"Diusir?"
"Iya."
"Kenapa siusir?" Lalu Nania bertanya lagi.
"Katanya rumah digadaikan dan tidak bisa membayar?"
"Apa?"
"Setahu saya begitu. Waktu itu ada yang datang, laki-laki lima orang. Barang-barang dikeluarkan sambil marah-marah. Nggak lama kemudian ibu kamu pergi tapi sendiri. Kabarnya Pak Hendrik kabur nggak tahu ke mana."
Nania membeku.
"Denger-denger Pak Hendrik menggadaikan rumah kepada rentenir, jadinya mereka diusir karena nggak bisa bayar bunganya yang nggak tahu sebesar apa."
"Astaga, ibu!!" Nania mengusap kepalanya ketika dia tiba-tiba saja merasa pusing. Dan Daryl segera merangkul pundaknya yang hampir limbung karena terkejut.
"Sekarang tidak tahu ibumu tinggal di mana, tapi terakhir ada yang lihat kalau dia dengan Pak Hendrik lagi."
"I-iya, Bu. Makasih udah ngasih tahu."
"Maaf ya, Nania. Tapi sepertinya ibumu sedang kesulitan. Kita tidak tahu ada apa karena dia memang tertutup kepada siapa pun, makanya mau menolong juga bingung. Dan lagi Bu Mirna suka salah tanggap, jadinya kami tidak berani kalau ada apa-apa."
"Iya Bu, nggak apa-apa. Sekali lagi terima kasih." ujar Nania, kemudian dia memutuskan untuk pergi.
💖
💖
💖
Bersambung ...
hari ini nano-nano yah😂😂
__ADS_1
Jan lupa like komen sama hadiahnya😘😘