
π
π
"Kenapa ibu nggak bilang kalau udah nggak tinggal di rumah?" Mereka duduk di kursi yang letaknya masih satu ruangan dengan dapur dan tempat tidur.
"Kenapa juga rumah sampai pindah tangan kayak gitu? Ibu nggak sayang? Itu rumahnya Nenek tapi dengan gampangnya jadi milik orang karena hutang?" Nania mencerca sang ibu.
"Ibu tidak punya pilihan lain, Nania. Setiap hari didatangi penagih hutang kamu pikir ibu bisa sabar?" Mirna menjawab.
"Ya terus kenapa bisa punya hutang? Uangnya bekas apa? Anak sekolah nggak punya, biaya untuk yang lain juga nggak ada. Cuma ada ibu doang."
Mirna terdiam.
"Udah rumah ayah ibu jual yang uangnya nggak tahu dipakai untuk apa, dan sekarang rumahnya nenek, satu-satunya yang ibu punya juga direlain ke orang lain. Gimana sih ibu mikirnya aku nggak ngerti?"
"Bisa nggak sih jangan mentingin hal-hal nggak berguna kayak gitu? Minimal pikirnya untuk ibu sendiri deh, nggak usah mikirin aku. Udah biasa nggak ibu pikirin akutuh. Kalau punya rumah, biar kita nggak punya yang lainnya juga kayaknya hidup bakal aman. Nggak usah mikirin biaya sewa yang nggak tau apa bisa kita penuhi setiap bulannya atau nggak? Kalau gini kan ibu yang pusing sendiri?"
"Coba aku tanya, berapa biaya sewa rusunnya per bulan? Ini pasti nggak mungkin gratis, kan? Mending kalau Om Hendrik ikut mikirin, tapi nyatanya mana? Cuma bisa numpang hidup doang." Nania terus saja berbicara, dan tanpa basa basi dia mengutarakan segala yang ada di kepalanya.
Apa yang selama ini dia simpan akhirnya diungkapkan juga di hadapan ibunya.
"Coba deh Bu, tinggalin Om Hendriknya. Hidup sama dia tuh nggak bikin ibu lebih baik, tapi malah tambah parah. Apa sih yang ibu harapkan dari laki-laki kayak dia? Bertahun-tahun kita kayak gini. Udah kekurangan, hubungan nggak baik, hidup kita juga jadinya berantakan. Cuma karena satu orang itu."
Lalu perhatian mereka teralihkan ketika seseorang masuk. Yakni Hendrik yang baru saja tiba dari kegiatan sehari-harinya di rumah judi. Dan dia hampir saja kabur keluar begitu menemukan beberapa orang di dalam tempat tinggalnya. Namun Regan dengan sigap menangkap dan menyeretnya hingga dia duduk di samping Mirna di hadapan Nania.
"Om keterlaluan!" Perempuan itu bersedekap.
Dia menatap hendrik dengan tajam dan kemarahan yang tentu saja begitu besar mengingat apa saja yang telah pria itu lakukan kepada keluarganya, terutama sang ibu.
"Om nggak puas udah merusak keluarga aku? Nggak puas udah ngambil ibu dari ayah sehingga keluarga kami jadi berantakan? Terus sekarang Om ambil satu-satunya harta yang ibu punya untuk memenuhi keinginan Om yang nggak logis itu? Kalau mau gila, gila aja sendiri. Nggak usah bawa-bawa ibu!"
Hendrik menggebrak meja sambil bangkit, merasa tidak terima dengan apa yang Nania katakan. Namun Regan kembali maju dan memberi peringatan. Sementara Daryl di samping perempuan itu duduk tenang memperhatikan dengan tatapan tak kalah tajamnya.
"Om, kalau udah nggak bisa bikin keadaan membaik kayaknya udahan aja. Dari pada terus berlarut-larut kayak gini. Kasihan ibu aku yang nggak tahu apa-apa harus nanggung kesusahan yang Om timbulkan. Mau judi, mabuk atau apa juga terserah Om, aku nggak akan ikut campur. Tapi jangan libatkan ibu sampai sejauh ini, aku nggak rela. Biar nggak pernah merasa disayang karena udah keburu sama Om, tapi dia tetap ibu aku, dan aku nggak akan membiarkan Om untuk lebih merusak ibu lagi."
Hendrik tampak mendengus keras. Dia ingin menjawab tapi keberadaan empat orang pria di dekat Nania membuat nyalinya ciut. Jika tidak, dirinya pasti sudah memukuli anak tirinya itu habis-habisan.
"Semua keputusan ada di tangan ibu. Kalau ibu mau, aku akan bawa ibu pergi dari sini dan melakukan semua yang diperlukan. Tapi satu syaratnya." Nania manatap wajah ibunya.
"Ibu pisah sama Om Hendrik." lanjutnya dengan suara datar namun tegas, membuat Hendrik terperangah.
"Aku yakin sebenarnya ibu nggak kayak gini. Tapi karena hidup sama Om Hendrik ibu jadi berbeda. Jadi aku mohon, ibu ikut aku sekarang juga. Kita mulai lagi semuanya dari awal dan memperbaiki segalanya. Aku yakin kita bisa jadi kayak orang tua dan anak yang lain, yang hubungannya normal dan penuh kasih sayang."
__ADS_1
Daryl tampak menghela napas berat seolah dia tengah menyaksikan adegan menguras emosi. Yang nyatanya memang begitu.Β
"Bu?" Nania ingin meyakinkan ibunya.
Sementara Mirna terdiam, dan dia memikirkan beberapa hal. Memang tak ada yang bisa diharapkan lagi dari suaminya selain kesusahan, dan putrinya menjanjikan hidup yang lebih baik.
Mungkin ini jalannya agar dia bisa lepas dari Hendrik dan segala macam kesulitan yang saat ini dihadapinya, termasuk siksaan yang mulai dilakukan oleh pria itu.
Namun rematan keras Hendrik di lututnya membuat Mirna tersadar dari lamunannya. Dia menoleh kepada pria itu dan menatap wajahnya yang memberi isyarat.
Mirna merasa takut, dan sesuatu mengembalikan ingatannya pada apa yang membuatnya memilih pria yang usianya beberapa tahun lebih muda darinya itu.Β
Dan dia pula lah yang membuatnya memilih meninggalkan suami dan anaknya. Jadi apakah harus berakhir seperti ini?
Apa yang dia korbankan dan apa yang dia dapatkan ternyata tidak sepadan. Dan semuanya terasa sia-sia.
"Maafkan aku β¦." Tiba-tiba saja Hendrik buka suara.
"Aku salah dan aku menyesal telah menyia-nyiakanmu. Ternyata semua yang aku lakukan tidak ada gunanya apalagi karena telah menyusahkanmu. Maafkan aku, Mirna." katanya, dan hal tersebut membuat semua orang keheranan.
"Aku baru saja memutuskan untuk tak lagi datang ke tempat itu, dan hari ini aku sudah mendapatkan pekerjaan pertamaku. Bukan hal luar biasa karena hanya jadi kuli bangunan, tapi untuk kita berdua aku rasa itu cukup." Pria itu berbicara.
"Dengan begitu, aku berharap bahwa kita juga bisa memulainya lagi dari awal, meski aku sadar mungkin kau tidak akan percaya lagi kepadaku." katanya dengan raut sendu.
"Maafkan aku, Mirna." Tiba-tiba saja Hendrik menjatuhkan dirinya hingga berlutut di kaki perempuan itu, lalu dia menangis sesenggukkan.
"Hendrik!!" Dan Mirna mencoba menjauhkannya, meski pria itu tetap bertahan untuk mendapatkan maaf.
"Maafkan aku, maaf. Aku telah bersalah kepadamu, ampuni aku!" Dia terus berusaha meraih simpati, terutama Mirna.
Dan pria itu mengerahkan seluruh kemampuan manipulasinya untuk kembali mendapatkan kepercayaan Mirna.
"Nania, Om minta maaf untuk apa yang terjadi selama ini. Tapi sumpah, Om tidak akan mengulanginya lagi." Lalu dia beralih kepada Nania.
Mereka semua terdiam kecuali Daryl yang lagi-lagi mendengus sambil memutar bola matanya.
"Sudahlah, jangan banyak bicara seperti ini. Lebih baik kalian β¦."
"Aku mohon!!" Namun Hendrik merangkak dan bersimpuh di kaki Daryl. Kali ini dia harus berbuat lebih agar terhindar dari masalah yang lebih serius. Dia harus hati-hati karena tahu siapa yang kini dihadapi.
"Aku tidak akan melakukannya lagi, aku janji." Dia bersikukuh dan bertahan meski Daryl menyentakkan kakinya.
"Aku mohon!!" Hendrik terus mengiba.
__ADS_1
"Bu?" Nania menanti keputusan ibunya yang malah terdiam menatap Hendrik.
Dan hal tersebut membuat pria itu beralih kepadanya, yang tentu saja segera Daryl halangi karena dia tidak mungkin membiarkan siapa pun menyentuh istrinya. Apalagi orang seperti Hendrik.
"Bu, ayo kita pergi? Ibu bisa tinggal dengan kami, dan aku janji semuanya akan baik-baik aja mulai sekarang." ucap Nania lagi yang ingin lebih meyakinkan ibunya.
Namun Mirna tak merespon dan dia malah menatap suaminya yang sedang mengemis maaf kepada mereka.
"Bu?" ucap Nania lagi dan Mirna beralih kepadanya.
"Ayo, ikut aku. Kita β¦."
"Boleh ibu minta waktu untuk berpikir?" Namun Mirna segera menjawab.
"Apa? Mau berpikir soal apa?"
"Hanya memikirkan sesuatu β¦."
"Nggak usah, ayo ikut aku aja. Cepet Bu." Nania bangkit dan hampir meraih tangan ibunya.
"Ibu hanya minta waktu saja, bisa? Nanti setelah yakin ibu akan menghubungimu."Β
"Tapi, Bu?"
Namun kemudian Daryl menyentuh lengannya untuk menghentikan dia.
"Hanya sebentar." ujar Mirna, dan dia menarik Hendrik kembali ke sisinya.
"Sekarang kalian pulang, dan tunggu ibu menghubungi." katanya kepada putrinya.
"Tapi β¦."
"Ibu serius. Kali ini ibu akan mendengarkanmu." ucap Mirna lagi dan dia tampak meyakinkan.
Dan tak ada pilihan lain bagi Nania untuk menyerahkan keputusan kepada ibunya meski dia tidak yakin.
π
π
π
Bersambung ....
__ADS_1
Dukung terus cerita ini oke gaess.
Alopyu sekebonππ