
💖
💖
"Kamu jemput aku?" Nania berlari menghampiri mobil di mana Daryl berada.
Pria itu berdiri sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana, dan sebuah senyuman tersungging di bibirnya.
"Katanya lagi kerja?" Nania dengan riang dan dia berhenti tepat di depannya.
"Yeah, aku rasa hari pertama akan sulit untukmu? Jadi aku putuskan untuk menjemputmu saja?"
"Uuhhh … so sweet!!" Perempuan itu lantas memeluknya, membuat Daryl terkekeh karena senang.
"Kita ke kedainya Ara untuk makan siang? Setelah itu aku antar kamu pulang." Daryl mundur kemudian membukakan pintu untuknya.
"Oke." Dan Nania pun segera masuk.
"Bye Nania?" Dua orang siswa perempuan berlalu dengan motor matic mereka.
"Bye, sampai besok?" Nania melambaikan tangan.
"Wow, kamu sudah punya teman di hari pertama?" Daryl memasangkan sabuk pengaman untuk Nania.
"Iya. Kelasnya seru." Dia menjawab.
"Seru?"
Nania nengangguk sambil tersenyum.
"You happy?"
"Ya, mereka asik! Dan baik juga."
"Benarkah?"
"Hu'um."
"That's good. Hanya saja tetap untuk berhati-hati oke?" Mobil mulai melaju keluar dari area sekolah.
"Ini sekolah, bukan medan perang. Jangan lebay deh?" Nania menjawab sambil menatap layar ponselnya.
"Bahaya bisa datang dari mana saja, termasuk sekolah. Bahkan kekerasan sering terjadi di lingkungan yang dianggap orang sebagai tempat paling aman. Hanya saja kita tidak tahu."
Nania menatap suaminya sebentar.Â
"What? I'm just telling you the truth. Di dalam sana ada bermacam-macam orang dengan latar belakang berbeda, jadi kita harus tetap waspada. Kita tidak tahu dibalik wajah ramah dan sikap yang baik bersembunyi jiwa yang jahat. This is 21'st century."
"Baik Pak." Nania tersenyum. Dia faham kekhawatiran suaminya yang tahu bagaimana dirinya.
"Aku serius."
"Oke Daddy!! Terimakasih!!" Nania merangkul lengan pria itu kemudian merapatkan wajahnya di sana. Lagi-lagi membuat Daryl tertawa.
"Aku sampai tidak fokus kerja karena takut kamu tidak bisa melewati hari pertama ini."
"Jangan terlalu khawatir, aku bisa mengatasi itu. Lagian aku mulai terbiasa setelah kerja di kedai. Di sana kan aku ketemu banyak orang? Aku bayangin aja kayak lagi kerja jadinya nggak terlalu gugup."
"Benarkah?"
"Ya. Aku gugup kalau masuk ke tempat baru sama orang yang belum aku kenal. Tapi kalau udah terbiasa ya nggak apa-apa."
"Like in the class room?"
"Ya. Tadi aku agak gugup, tapi lama-lama berkurang juga. Apalagi kalau udah kenal sama beberapa orang."
"They nice to you?"
"Iya."
"Baguslah. Seandainya ada yang macam-macam akan aku suruh Regan berjaga di sana."
"Nggak usah!!" Nania tertawa.
"Ini kelas isinya orang dewasa semuanya, bukan anak-anak baru puber. Jadi nggak mungkin ada yang bully-bullyan, percaya deh."
"Aku harap begitu."
"Ada beberapa yang seumuran aku, juga ada ibu-ibu sama bapak-bapak. Makanya seru. Gurunya juga asik."
"Yeah?"
"Iya. Aku seneng masuk sekolah."
"Syukurlah kalau begitu."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Eh, Ara udah nggak ke sini ya?" Nania bertanya kepada Nindy yang mengantar pesanan mereka.
"Seminggu ini udah nggak. Lagi menghitung hari." jawab rekanya saat bekerja itu.
"Waktunya udah deket?"
"Kayaknya sih, makanya memilih untuk tetep di rumah kan?"
"Hmm …." Nania mengangguk-anggukkan kepala.
"Aku kerja lagi ya? Selamat menikmati?" Gadis itu kemudian melanjutkan pekerjaannya.
"Sebentar lagi kita jadi kakek dan nenek?" Daryl menyuapkan makanannya.
"Iya. Lucu ya?" Nania terkekeh.
"Hmm …."
"Anak belum punya tapi cucu udah?"
"Kenapa? Mau punya anak sekarang?" tawar Daryl kemudian tertawa.
"Kalau bisa jangan dulu, kan aku baru mulai sekolah. Tapi kalau misal udah dikasih ya nggak apa-apa sih. Paling aku sekolahnya jadi online kan?"
"Mau pakai kb dulu? Tidak apa, kita tunda dulu punya anak."Â
"Nggak usah lah, biarin aja."
"Yakin? Nanti kamu hamil lagi?"
"Ya kalau udah dikasih nggak apa-apa, masa nolak?"
Daryl tersenyum. Lalu suara ponsel menginterupsi acara makan siang mereka.
__ADS_1
"Ya?" Daryl menjawab panggilan ibunya.
"...."
"Benarkah? Oke, setelah makan aku akan segera ke sana. Apa Mama sudah pergi?"
"...."
"Baik, kami sebentar lagi pergi." Lalu dia menyudahi percakapan.
"Siapa?" Nania bertanya.
"Mama."
"Ada apa?"
"Ara sudah melahirkan."
"Masa?"
"Ya, barusan. Mama dan Papi akan ke rumah sakit, dan sepertinya kita harus menyusul."
"Oh, … oke." Mereka segera menghabiskan makanan.
Keduanya tiba di rumah sakit setelah sekitar satu jam. Hampir semua anggota keluarga sudah berkumpul di depan ruang rawat dengan wajah penuh kegembiraan meski belum bisa menemui Amara dan bayinya.
"How is it?" Daryl dan Nania menghampiri mereka yang berada di ruang tunggu.
"Lancar, bayinya laki-laki dan perempuan." Sofia menjawab.
"Dan Ara?"
"Dia baik-baik saja, sekarang sedang ditangani." Dygta menyahut.
Lalu dua orang pria keluar dari ruang persalinan, siapa lagi kalau bukan Galang dan Arfan? Pria-pria yang selalu menjadi yang paling depan menghadapi hal-hal besar dalam hidup Amara.
"Ahahaha, selamat. Kamu sudah jadi Papa, Galang!" Satria menepuk pundak staf utama di perusahaan miliknya itu.
"Terima kasih, Pak."
"Selamat juga, sekarang Om sudah resmi jadi kakek, dan kami juga." Dimitri pun tidak lupa menyelamati Arfan, lalu mereka tertawa.
"Ara bagaimana?" Mytha menyela percakapan.
"Dia harus istirahat, melahirnkan dua bayi berurutan sangat melelahkan." Arfan menjawab.
"Jadi kita belum bisa menemuinya?" Sofia pun ikut berbicara.
"Sayangnya belum. Dokter menyarankan kita harus membiarkannya istirahat terlebih dahulu."
"Oh, baiklah."
"Tapi bayinya udah bisa dilihat?" Ada Rania yang ikut bersemangat.
"Bisa, tapi dari luar ruang bayi tidak boleh masuk, apalagi pegang-pegang." Galang menjawab pertanyaan sahabatnya tersebut.
"Emang cuma mau lihat? Ya kali bayi baru lahir udah bisa dipegang-pegang?"
"Bisa saja kan?"
"Uh, sombongnya yang udah jadi Bapak?" Rania mendelik.
"Ayo Nna, kita lihat bayinya?" Lalu dia mengajak Nania pergi dari sana.
"Duh, lucunya??" Rania menatap dua bayi yang diketahuinya merupakan milik Galang dan Amara, yang sengaja diletakan di dekat kaca sehingga mereka bisa melihatnya dengan jelas.
Mereka baru dilahirkan dua jam yang lalu setelah proses persalinan yang cukup melelahkan. Dan keduanya terlihat sangat sehat.
"Kalau lihat bayi jadi pengen punya lagi deh?" katanya lagi dengan nada gemas.
"Hamil lagi aja, Kak. Anya sama Zen kam udah gede? Kayaknya cukup kalau punya adik?" Nania menyahut.
"Apaan? Bercanda ya? Ngurus mereka berdua aja udah pusing apalagi nambah? Takut nggak ke handle." Rania menjawab.
"Kan ada pengasuh? Lagian nggak zaman sekarang nggak perlu ngerjain kerjaan rumah sendiri kan? Jadi kayaknya kalau punya anak lebih dari dua nggak akan repot deh?"
"Sok tahu kamu?"
"Emangnya gimana?"
"Kalau yang anaknya kayak orang lain sih mungkin nggak repot? Tapi kan ini Anya sama Zenya. Tahu sendiri mereka gimana?"
Nania tertawa.
"Mungkin untuk masalah lain kita mampu, tapi untuk mendidik mental sama emosional mereka kayaknya butuh waktu sama kesadaran ekstra. Ini juga rasanya au keteteran deh. Mana masih balapan lagi?" Mereka duduk tak jauh dari ruang bayi.
"Kenapa Kakak nggak berhenti?" Nania merasa penasaran.
"Belum ada niat."
"Belum boleh?"
"Sebenarnya sih bebas, apalagi sponsor utamanya papinya anak-anak. Tapi aku kayak punya tanggung jawab lebih untuk bertahan sampai pensiun."
"Pak Dim … eh, Kak Dim nggak minta Kakak berhenti emang?" Nania bertanya lagi.
"Dulu sering pas awal-awal nikah, apalagi aku langsung hamil padahal masih balapan. Tapi setelah beberapa tahun kayaknya dia udah bosen ngomong terus." Rania tertawa.
"Kakak waktu hamil masih balapan?"
"Iya, dua atau tiga bulan gitu. Curiga itu yang bikin anak-anak aktifnya nggak ketulungan?"
"Bisa jadi." Nania ikut tertawa.
"Iya, aneh sih. Tapi ya, gitu deh."
"Bisa gitu ya?"
"Hmm …"
"Emang ke pensiun berapa tahun lagi? Masih lama?"Â
"Paling nggak lima tahunan lagi lah. Kalau mampu bisa aja sampai umur 40 tahun aku balapan, tapi gimana anak-anak? Masa iya aku ninggalin mereka selama itu?"
"Lama juga ya?"
"Lumayan. Tapi ini kan yang aku mau dari kecil. Semacam cita-cita yang berhasil digapai dan harus tetap kerja keras untuk mempertahankannya. Dan semua hal ada resikonya kan?"
"Gimana rasanya jadi juara dunia?" Nania tak ingin berhenti bertanya.
"Rasanya? Luar biasa. Itu kayak semua kerja keras dan pengorbanan kamu selama ini terbayarkan, dan nggak ada yang sebanding dengan itu."
__ADS_1
Mereka berdua terdiam.
"Oh iya, kamu habis dari mana pakai baju begini? Melamar kerja?" Perempuan itu baru menyadari keadaan Nania yang mengenakan pakaian hitam putih tersebut.
"Bukan. Aku habis sekolah." Nanja menjawab.
"Sekolah?"
"Iya. Aku ikut persamaan SMA, Kak."
"Wahh, keren!! Dulu aku hampir nggak lulus SMA gara-gara bolos terus. Hahaha."
"Bolos kenapa?"
"Balapan terus. Ikut touring sama turnamen bareng si Dudul."
"Sampai segitunya?"
"Ya. Aku malah bener-bener DO pas kuliah saking nggak mau pusing mikirin pelajaran. Otakku nggak nyampe."
Nania tertawa.
"Sebenarnya karena males sih, dan nyeselnya sekarang."
"Kok nyesel?"
"Coba aku tetep kuliah, minimal sampai lulus aja. Kali nggak akan sepusing ini mengurus dua anak?"Â
"Apa hubungannya?"
"Se nggaknya kamu akan ngerti gimana caranya menangani masalah-masalah yang nggak bisa kamu dapatkan jawabannya kalau tanya ke orang tua. Apalagi punya anak seaktif Anya sama Zenya. Bisa kewalahan kalau kamu kurang ilmu. Dan nggak bisa kamu serahkan ke orang lain kalau soal pendisikannya kan? Untung ada papinya yang ngerti harus gimana, jadinya aku nggak bingung-bingung amat lah?"
"Nggak kuliah juga bisa belajar dari buku atau internet kan Kak?"
"Iya, ini juga lagi mulai belajar. Kemarin Papinya anak-anak beli buku banyak banget. Mentang-mentang aku minta dibeliin buku perenting, eh dibawain seabreg sama si dudul. Dan sekarang aku bingung mau mulai baca yang mana."
"Hahahah."
"Zai?" Dimitri muncul bersama Daryl.
"Ya?"
"Sebaiknya kita jemput dulu Anya dan Zen. Takutnya mereka menunggu." Pria itu melihat jam tangannya.
"Mau sama kamu? Tadinya mau aku aja yang pergi."
"Kebetulan aku sempat, jadi ayo?"
"Oke, nanti balik lagi ke sini kan? Kita belum ketemu Ara?"
"Iya. Anak-anak juga pasti senang kalau tahu Om Galangnya punya bayi kan?"
"Uuhh … pastinya, mereka dari kemarin ngomongin itu melulu kan?" Rania bangkit mengikuti suaminya.
"Hmm …."
"Agak lupa minta adik lah, hahaha." Mereka beriringan keluar dari rumah sakit.
"Belum bisa ketemu Ara ya?" Nania beralih kepada suaminya.
"Ara masih istirahat. Dokter memberinya obat tidur dan mungkin bangun nanti sore."
"Oh, … lama dong kita di sini?"
"Terserah kamu mau di sini atau pulang?" Kalau Mama dan Papi sudah lebih dulu setelah melihat Ara sebentar.
"Ya udah aku juga pulang deh, ada pr." Nania pun bangkit.
"Sekolah persamaan ada pr juga?"
"Iya dong, kan sama-sama sekolah."
"Aku kira tidak ada."
"Sama aja."
"Ah, payah." Mereka pun berjalan melewati lorong rumah sakit untuk keluar.
"Payah apanya? Kamu mau balik kerja kan?"
"Tadinya mau pulang saja, besok aku lanjutkan lagi pekerjaannya."
"Mana bisa begitu?"
"Bisa lah, aku kan pemiliknya."
"Kebiasaan jelek, Pak. Mentang-mentang yang punya nya."
"Terserah aku dong, ini kan demi keturunan juga."
"Justru demi keturunan seharusnya kamu lebih rajin bekerja biar anak-anak kita nanti nggak kesusahan."
"Keturunan yang mana? Ini sebabnya aku mau bolos."
"Maksudnya?"
"Ayo kita berusaha lagi agar cepat punya anak?" Daryl merangkul pundak Nania.
"Tadi katanya mau nunda dulu karena aku sekolah?"
"Tapi setelah aku pikir-pikir, punya anak sekarang juga bagus. Kan kamu jadinya sekolah online?"
"Ah, kamu nggak konsisten."
"Hehe, ayo Sayang kita cepat pulang? Aku juga ingin punya anak seperti Galang."
"Masih siang Pak."
"Usaha itu nggak kenal waktu kan?"
"Hmm …."
Lalu pria itu tertawa.
💖
💖
💖
Bersambung ....
__ADS_1
Hadeh, gasskeun lah 😂😂😂