
💖
💖
"Mima di mana?" Mereka turun ke lantai bawah, dan langsung menuju ruang makan di mana semua anggota keluarga kecuali Darren dan Kirana sudah bersiap untuk makan bersama.
"Sedang menyiapkan makan, ada apa?" Sofia menjawab.
"Mau minta tolong nanti gantikan bedcover. Sudah seminggu belum diganti kan? Biasanya tiga hari sekali." ucap Daryl yang membiarkan Nania duduk di kursi.
Perempuan itu sedikit meringis saat merasakan sakit di pangkal pahanya.
"Mima kan sibuk. Kenapa tidak meminta Leni, atau yang lainnya?" Sofia melirik ketika para asisten rumah tangganya muncul untuk menyiapkan makan siang mereka.
"Hanya dia yang mengerti bagaimana harus membereskan kamarku." jawab Daryl lagi. "Ya Mima?" ucapnya ketika orang yang dimaksud pun muncul.
"Baik, Pak. Setelah ini."
"It's oke."
"Yang namanya beres-beres ya gitu-gitu aja kayaknya? Bedanya apa?" Rania ikut berbicara.
"Ah, kamu tidak akan mengerti." Daryl menjawab.
"Tukuh!" ucap sang kakak ipar.
"Tukuh apa?" Daryl sedikit menjengit.
"Kalau apa-apa harus sama orang tertentu atau hal-hal tertentu. Nggak boleh diganti sama yang lain." Rania menjelaskan.
"Aneh sekali bahasamu itu? Dari mana asalnya?"
"Bahasa Sunda!! Gitu aja masa nggak tahu? Mama kan orang Bandung?"
"Kan aku nggak tinggal di Bandung, mana tahu bahasa seperti itu?" protes Daryl.
"Eh, lupa. Kamu kan gede di Moscow ya? Hahaha." Perempuan itu tertawa.
Sementara Daryl mencebik.
"Oh ya, kamu sakit apa Nna?" Dygta menyela percakapan.
"Hah? Sakit?" Nania beralih pada kakak iparnya.
"Iya, barusan Daryl bilangnya kamu sakit?" Mereka memperhatikan cara duduknya yang seperti kurang nyaman.
Nania bahkan beberapa kali terlihat merubah posisi sambil mengatupkan mulutnya seperti menahan sesuatu.
"Umm …." Perempuan itu mendongak kepada suaminya yang duduk di di sampingnya.
"Hanya sedikit tidak enak badan, istirahat sebentar juga baikan." Daryl menjawab.
"Oh, aku kira udah ngidam?" Sambung Rania yang tertawa sambil menutup mulut dengan tangannya.
"Sembarangan!!" tukas Daryl sambil memutar bola matanya.
"Mommy, ngidam itu apa?" Anya tak kalah ingin ikut berbicara setelah menyimak percakapan para orang dewasa.
"Mulai." Daryl bergumam.
"Ngidam itu kalau orang lagi hamil." Rania menjawab.
"Kenapa ngidam?"
"Ya karena mau sesuatu."
"Kenapa lagi hamil mau sesuatu?"
__ADS_1
"Ya … maunya begitu."
"Maunya apa?"
"Apa aja."
"Es krim boleh?"
"Boleh."
"Nggak harus hari Minggu?"
"Nggak, kapan aja boleh."
"Masa?" Kedua bola mata Anya berbinar mendengar jawaban ibunya.
"Iya dong, kan orang hamil itu bebas kalau mau apa aja, pasti diturutin." Rania tertawa.
"Ah, aku mau hamil, terus nanti ngidam. Biar kalau minta es krim bukan di hari Minggu dibolehin." celetuk anak itu dengan lugunya, membuat sang ibu tersedak saat mulai mengunyah makanannya.
"Apa maksudmu itu?" Dimitri menyentuh pundak putrinya, sementara yang lain tertawa.
Satria dan Sofia bahkan sampai terbahak-bahak dibuatnya.
"Iya, kan kata Mommy yang hamil itu kalau minta apa-apa pasti dibolehin." Anya menjawab.
"Nggak gitu juga Anya!" Rania bereaksi.
"But you told me …."
"Itu hanya untuk orang dewasa, yang sudah menikah. Anak kecil tidak boleh." Dimitri menjelaskan.
"Tapi aku udah gede, kan sebentar lagi masuk SD."
"It doesn't mean you can do something you've been think about. ( bukan berarti kamu bisa melakukan apa yang kamu pikirkan)."
"Yang boleh begitu hanya orang dewasa dan sudah menikah, Sayang." Sofia pun menimpali.
"Oh, jadi aku belum boleh ya?" ucap Anya yang mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Belum, kan sekolahnya belum selesai. Terus nanti lanjut kuliah, kerja. Baru menikah ya?" Rania tidak kalah ingin juga berbicara.
"Oke." Anak itu mengangguk lagi.
"Fiyuhhh … selamat, selamat." Perempuan itu kemudian mengusap keningnya yang terasa berkeringat kerena terkejut.
"Sudah aku bilang kan, kalau di dekat Anya harus hati-hati, jangan bicara sembarangan." Dimitri sedikit berbisik.
"Perasaan aku biasa aja nggak sembarangan? Anya nya aja yang terlalu kritis menaggapi segala hal." Rania menjawab.
"Maka dari itu harus tetap hati-hati!"
Rania mengangguk, lalu mereka melanjutkan kegiatan makannya.
"Mommy, aku makannya udah. Boleh keluar? Aku mau lihat Heimlich!" Zenya bersuara.
"Me too, me too!" Dan Anya segera menyuapkan makanan terakhir yang ada di piringnya, lalu mengunyahnya dengan cepat.
"Minum dulu!" jawab Rania, dan kedua anak itu segera melakukan apa yang diperintahkan.
"Done!"
"Oke. Tapi jangan lari-lari ya?"Â
Lalu kedua anak itu segera pergi ke belakang.
"Mommy, aku juga udah." Lalu hal tersebut diikuti Anandita, Aksa dan juga Asha.
__ADS_1
Dygta mengangguk tanda dia memperbolehkan ketiga anaknya untuk pergi seperti sepupu mereka.
"Dan, aku pun sama." Daryl meneguk habis air minumnya. "Sayangnya aku harus pergi untuk menyelesaikan pekerjaanku hari ini." Pria itu membersihkan mulutnya dengan tisu.
"Pulangnya malam?" Nania bertanya.
"Mungkin, karena harus selesai hari ini kan?" jawab Daryl, dan Nania pun mengerti.
"Oke, got to go now." Pria itu bangkit lalu mengecup puncak kepala Nania, dan membuat seisi ruangan tiba-tiba menjadi hening.
"See you." katanya, yang kemudian melenggang ke arah luar.
"Ehmm!" Sofia berdeham, membuat Nania menoleh.
Dia kemudian memberi isyarat kepada menantunya yang satu itu untuk mengikuti Daryl keluar. Dan setelah beberapa saat Nania pun mengerti, lalu bangkit. Namun dia lupa dengan apa yang telah dialaminya semalam.
"Ah!! Kenapa sakit sekali?" Dia bergumam sambil memegangi perutnya, kemudian berjalan mengikuti pria itu.
Hampir semua orang memperhatikan cara jalanya yang tak seperti biasanya.
"Kenapa dia itu ya?" Rania berujar, lalu mereka saling pandang.
"Tante Nna!!!"
"Non Anya!!! Awas!!!" Lalu terdengar teriakan dari arah tangga. Membuat semua orang berhamburan keluar dari ruang makan.
"Ups." Anya dan Zenya berdiri di dekat pintu, sementara Mima berada di tangga paling bawah dengan cucian kotor berserakan di lantai.
"Anya kenapa? Udah Mommy bilang jangan lari-lari kan?"
"I'm sorry! Cuma mau ke Tante Nna."
"Tante Nna nya ke depan antar Om Der!"
"Ada apa?" Dua orang yang dimaksud kembali melihat ke dalam setelah mendengar ribut-ribut.
"No, …." Anya mengerutkan dahi saat melihat hal aneh yang tengah Mima bereskan.
"Darah." katanya, sambil menunjuk noda bercak kemerahan pada kain putih yang Mima masukkan ke dalam keranjang.
"Spreinya Om Der berdarah." katanya lagi, dan dia hafal benda itu berasal dari mana.
"Hum?" Yang lagi-lagi membuat semua orang saling pandang.
"Tante Nna dipukulin lagi ya sama Om Der? Sampai berdarah-darah?"Â ucap Anya seraya melirik kepada pamannya.
"Eee …." Dua orang di ambang pintu tergagap.
"Iihhh, Om Dernya galak!"
"No!! It's just …."
"Anya? Ayo kita lihat Heimlich? Pasti sekarang sudah jadi kupu-kupu?" Nania segera mengalihkan perhatian.
"Beneran! Tadi aku mau bilang gitu." Zenya menyahut dari belakang.
"Right, me too! Ayo Tante, Heimlichnya udah jadi kupu-kupu!!" Anya segera berlari menarik Nania ke halaman belakang, sementara Daryl buru-buru menuju ke mobilnya.
"Hmmm … kayaknya ada yang baru bobol gawang, makanya ada yang sakit juga?" ucap Rania yang seketika membuat mertua dan kakak iparnya tertawa.
💖
💖
💖
Bersambung ...
__ADS_1
Duh, apaan itu ya?🙉🙉