
π
π
Nania terbangun dalam suasana hening yang tak biasa. Rasa dingin menelusup hingga ke tulang, dan sepertinya itu berasal dari AC yang menempel di dekat langit-langit kamar.
Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam dan keadaan memang benar-benar sepi. Di ruangan itu bahkan tak ada siapa pun yang berjaga untuknya.
Ah, Nania. Betapa kesalahanmu sangat fatal! Batinnya bergumam saat dia mengingat peristiwa yang terjadi.Β
Rasa sakit di perutnya bekas penanganan keguguran bahkan masih belum hilang, dan dirinya saat ini sendirian.
Dia ingin menangis sejadi-jadinya untuk meluapkan penyesalan tapi semuanya sudah terlanjur terjadi. Bahkan meratap pun tidak ada gunanya. Janinnya telah tiada dan dirinya hanya bisa merasakan kehilangan.
Lalu bagaimana dengan Daryl? Pria itu bahkan tak ada di sini untuk mendampinginya. Atau mungkin dia marah?
Ah, wajar saja dia marah. Anaknya telah menjadi korban atas kenekatannya hari itu.
Nania mengusap air mata yang meleleh di pipinya lalu dia bangkit. Dan lagi-lagi, rasa nyeri di perut muncul menyiksanya.
"Kamu mau ke mana?" Sofia muncul dan segera menyongsong menantunya.
"Mama?"
"Berbaringlah lagi. Istirahat. Tidur!" Perempuan itu mendorong bahunya agar segera kembali berbaring.
"Aku mau ke air." Nania memberanikan diri menatap wajah mertuanya. Meski dia tahu mungkin sikap perempuan itu akan berbeda kepadanya karena kesalahan yang telah dia perbuat. Dan tidak mungkin dia tak tahu karena peristiwa apa pun akan sampai ke telinga seluruh anggota keluarga.
"Disini saja. Dokter memakaikan diapers jadi kamu tidak usah turun dari tempat tidur." ucap Sofia yang berusaha untuk tidak menampakkan kekesalan. Meski di dalam hati dia tetap merutuki menantunya.
"Tapi aku nggak β¦."
"Tolong menurutlah, sekali saja!" Sofia sedikit mengeraskan suaranya.
"Jangan membuat orang susah karena keras kepalamu. Sudah cukup!" Suara perempuan itu terdengar bergetar.
Dalam hal ini dia sangat ingin berhati-hati, tapi nyatanya sulit. Mengingat apa yang telah putranya lakukan dan apa yang kini tengah mereka alami.
Nania menggigit bibirnya untuk menahan tangis, namun tidak berhasil. Air matanya kembali meluncur tidak mampu dia tahan.
"Oh Ya Tuhan!!" Sofia segera merangkulnya.
"Kamu tahu saat ini Mama ingin sekali memarahimu karena kamu sudah berbuat salah. Keegoisanmu sudah menyebabkan banyak orang hampir kehilangan pekerjaan, dan terlebih suamimu kehilangan anaknya." Dia mengeratkan rangkulan sementara tangis Nania kembali pecah.
__ADS_1
"Semuanya terjadi karena ketidak sabaranmu dan apa yang kamu lakukan ini telah menghancurkan harapan Daryl."
Nania sesenggukkan.
"Jika kamu tidak ingin menurut untuknya, apa salahnya pikirkan dirimu sendiri? Karena bagi Daryl, keselamatanmu dan anak dalam kandunganmu lebih berharga dari apa pun yang dia punya, kamu tahu?"
Sofia melepaskan rangkulan tangannya lalu mendorong tubuh Nania agar dia bisa melihatnya.
"Sudah tiga puluh tahun Mama hidup dengan Nikolai. Dan tak ada satupun dari apa yang mereka lakukan tanpa perhitungan. Termasuk untuk masalah keselamatan. Dan apa yang Daryl lakukan untukmu semata-mata hanya untuk melindungimu dari hal seperti ini." Dia memegangi bahu Nania.
"Karena apa? Karena Daryl tahu bahaya akan menimpamu jika dia tidak begini." Lalu Sofia mengguncangkan tubuh menantunya.
"Kamu selalu memikirkan orang lain. Mementingkan hidup orang-orang disekitarmu dan mendahulukan kepentingan mereka. Tapi ucapan suamimu kamu abaikan."
Tangisan Nania kembali mengudara saat dia mengingat segala hal dan baru menyadari kekeliruannya kini.
"Adalah baik untuk punya kepedulian terhadap siapa pun, tapi ada masanya kita harus mengesampingkan itu demi orang yang telah mendampingimu. Karena pada akhirnya nanti, tidak akan yang menemanimu kecuali pasanganmu. Mau seberapa banyak pun orang yang kamu tolong, tapi suamimu akan menjadi yang paling pertama membelamu!"
"Dan sudah menjadi resiko bagimu ketika memutuskan untuk menerima pinangan Daryl, karena di saat yang bersamaan kamu juga akan kehilangan kebebasanmu akan beberapa hal. Seperti juga Mama ketika menikah dengan Papi. Kita sama dalam hal ini, tapi begitulah kenyataannya."
"Dan tak ada apa pun yang bisa kita lakukan selain menerimanya, jadi berhentilah berusaha untuk terlihat bisa melakukan segala hal sendiri karena sudah bukan waktunya lagi. Biarkan para pria melakukan tugasnya melindungi kita, mengupayakan kebahagiaan dan memperjuangkan apa yang harus mereka perjuangkan untuk keluarganya karena memang sudah kodratnya begitu. Stop, Nania! Sudah bukan saatnya bagi kamu untuk membuat keputusan sendiri." Akhirnya segala hal yang ada di hatinya dia ungkapkan juga.
"Sebagai seorang ibu, Mama tidak rela melihat anak-anak menderita, sakit hati atau hancur karena memperjuangkan sesuatu. Tapi Mama tidak bisa begitu kan? Mereka punya jalan hidup masing-masing dan harus dibiarkan menghadapinya agar paham bahwa apa pun yang dipilih memiliki konsekuensinya sendiri."
"Jadi mulai sekarang, Mama mohon untuk tidak lagi gegabah dengan membuat keputusan sepihak. Karena akibatnya sangat fatal seperti yang sudah kamu rasakan sendiri." Sofia kembali memeluk menantunya.
"Dan jangan khawatirkan Daryl. Dia hanya sedang di kantor polisi untuk memberikan keterangan."
Nania tampak terhenyak.
"Seseorang di rumah susun melaporkan penganiayaan β¦." Sofia terkekeh. "Lucu sekali. Pemukulan yang Daryl lakukan bisa dilaporkan tapi penganiayaan terhadap ibumu tak ada yang tahu. Bukankah itu aneh?"
"Tapi tidak usah khawatir karena Dimitri dan Galang akan mengurusnya."
"Umm β¦ ibu sama β¦."
"Ibumu hanya mengalami cedera di punggung. Dia juga mendapatkan perawatan di sini, tapi ayah tirimu di rumah sakit lain."
"Om Hendrik β¦."
"Sebagian organ dalamnya hancur. Ginjalnya pecah, paru-paru mengalami luka dalam, gegar otak dan entah apa lagi. Mama tidak bisa membayangkan sekeras apa Daryl memukulinya. Tapi setidaknya, untuk beberapa tahun mendatang ibumu pasti aman. Tidak akan ada yang mengganggunya lagi."
Nania terdiam.
__ADS_1
"Maka istirahatlah karena duniamu aman untuk sementara waktu. Meski itu harus dibayar mahal dengan satu kehilangan." Sofia membenahi selimutnya.
Tak berapa lama seseorang mendorong pintu dari luar yang ternyata adalah Daryl. Dia masuk dalam keadaan yang tampak kusut seperti baru saja menghadapi badai yang dahsyat. Tentu saja, bencana besar memporak-porandakan hidupnya dalam satu hari ini.
"Kamu sudah kembali, Nak?" Sofia segera menyambutnya.
"Ya." Tanpa banyak bicara Daryl segera menjatuhkan tubuh lelahnya di sofa.
Sofia menatap putranya, tapi dia tak ingin mengganggunya untuk sekarang ini.
"Papi di mana? Pulang?" Pria itu lantas bertanya.
"Tidak. Papi ada di kamar sebelah." Dan sang ibu menjawab.
"Hmm β¦ istirahatlah, Ma. Mama pasti lelah."
"Tidak apa-apa, Mama β¦."
"Istirahatlah. Aku sudah kembali." Suara Daryl pelan namun terdengar menekan sehingga Sofia tak berani untuk membantahnya. Dia sangat tahu watak putranya yang satu itu dan membuatnya memilih untuk menurut saja.
"Baiklah kalau begitu Mama tingga ya?" Dan perempuan itu menyelimuti tubuh putranya sebelum pergi.
"Ya." Sedangkan Daryl hanya terdiam menatap langit-langit kamar ketika ibunya pergi.
Suasana kembali hening di ruangan itu. Hanya dua manusia yang sibuk dengan pikirannya masing-masing dan mereka mencoba untuk tidur meski rasa kantuk tak kunjung datang.
"Daddy?" Lalu nania memulai percakapan pertama setelah peristiwa besar hari itu.
Daryl tak merespon.
"Daddy, gimana β¦."
"Diamlah, Nania. Aku lelah." Jawaban Daryl tak pelak membuat Nania bungkam.
Sesuatu seperti mengganjal di tenggorokkannya. Membuatnya merasa sakit dan sesak di saat yang bersamaan.
Lalu pria itu tampak menutup wajahnya dengan sebelah tangan dan dia memiringkan tubuhnya ke sisi lain. Sementara Nania berusaha mati-matian menahan tangis.
π
π
π
__ADS_1
Bersambung ...
Tapi masih untung mertuanya Mama Fiaπ