The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Bisnis Dan Tumah Tangga


__ADS_3

💖


💖


"Jadi menurut kalian bagus kalau launching dua-duanya bersamaan?" Daryl menarik kesimpulan setelah perundingan dia dan keluarganya.


"Bagus, menurutku memang lebih baik begitu. Selain menghemat anggaran promosi juga pekerjaanmu tidak akan terlalu banyak." Darren menyahut.


Daryl mengangguk-anggukkan kepala.


"Karena nanti setelah ini kami akan mengadakan pembukaan klinik kecantikan punya Kirana." Darren melanjutkan.


"Apa? Kirana mau buka klinik kecantikan?" Sofia beralih kepada menantunya.


"Iya, mungkin bulan depan. Proyeknya sempat mangkrak, tapi bisa dilanjut lagi." Kirana menjawab.


"Aduh … jadi kita ini komplit sebenarnya ya? Uh … asik sekali!"


"Apanya yang asik? Maksudnya Nama bisa sering-sering perawatan?" Daryl mencibir.


"Ya setidaknya kalau ada anggota keluarga yang punya klinik kecantikan, semuanya lebih gampang kan?"


"Ya benar, sementara para suami kerja banting tulang, para istri perawatan di klinik kecantikan." Daryl berbicara lagi.


"Hey, perawatan itu penting. Kamu tidak tahu saja selain istrimu akan ada perempuan seksi, cantik dan penuh pesona lain sedang mengincarmu. Lalu apa yang harus kami, para istri lakukan? Ya mempercantik diri lah kalau mampu." jawab sang ibu yang membuat mereka yang berada di ruangan itu tertawa.


"Ini serius, karena mereka akan siap melakukan apa saja untuk mendapatkan laki-laki mapan seperti kalian. Jadi siapa pun harus waspada, baik itu para suami yang harus selalu menjaga hati dan pandangan, juga para istri yang harus bisa mempertahankan perhatian suaminya." Perempuan itu memperingatkan.


"Yeah right." Daryl kembali bergumam.


"Baiklah jangan khawatir, Mom. Kliniknya Kirana tidak jauh dari Fia's Secret Hous kok, jadi kalian bisa sering datang sambil berkunjung ke sana kan. Tidak usah khawatir bagi keluarga akan mendapatkan bonus member. Apalagi kalau bersedia berinvestasi, sudah aku pastikan mendapat perawatan gratis setiap satu bulan sekali." Darren menerangkan.


"Mengapa aku merasa bahwa kau ini sebenarnya sedang mengajak kami berinvestasi ya?" Daryl menyahut ucapan adiknya.


"Ah, tidak juga. Tapi kalau ada yang mau menanamkan modalnya di klinik ya boleh juga, aku akan sangat gembira. Hahaha." Pria itu tertawa.


"Duh? Sudah buka invest saja? Padahal baru mau mulai?"


"Ya kalau ada kesempatan kan sebaiknya digunakan? Bukankah kau juga begitu?"


"Aku cuma join dengan Mama dan Papi saja lho untuk buka Fia's Secret House, sedangkan kau …."


"Apa pun boleh diusahakan asal fair." Darren menjawab.


"Ya sudah, Papi ikut investasi di sana. Mau mulai kapan?" Satria akhirnya buka suara.


"Wah? Langsung?" Darren tampak kegirangan.


"Eh, aku juga mau ikut kalau begitu. Beritahu saja mau dibuka di kisaran berapa?" sambung Daryl yang kemudian diikuti oleh Dimitri dan Arfan.


"Itu semuanya kamu bikin di satu tempat?" Nania yang sejak tadi menyimak percakapan tersebut pun ikut bicara.


"Apanya?"


"Pusat fashion Fia's Secret House?"


"Ya. Pakaian, kosmetik, dan semua yang berhubungan dengan gaya hidup ada di sana. Mungkin termasuk kliniknya Kirana juga kan?"


"Fia's Secretnya pindah juga dong ke sana?"


"Tidak juga. Fia's Secret kan kantor majalah. Itu ada untuk pemberitaan dan sarana promosi. Jadi pasti tetap di tempat semula. Tapi kalau FSH mencakup home living dan life style. Sebut saja toko pakaian dewasa dan anak, kosmetik, aksesoris dan mungkin juga food court kalau bisa. Dan sekarang ditambah klinik kecantikan kalau mau dihubungkan juga."


"Oh, beda ya?"


"Jelas beda."


"Hmm …."

__ADS_1


"Kamu juga kalau punya rancangan baju bisa dikirim ke sana. Siapa tahu aku tertarik dan nanti kita buatkan sampelnya untuk butik. Jadi penjualan pakaian tidak hanya di outlet-outlet mall dan toko online." Pria itu berujar.


"Apaan? hahaha … nggak ada. Waktu itu kan cuma …."


"Rancangan baju apanya?" Sofia tertarik dengan ucapan putranya.


"Mama belum tahu ya kalau Nania juga bisa  membuat rancangan pakaian seperti yang mama buat untuk model itu? Dan asal Mama tahu, kalau desain baru dari botol parfum kita itu Nania yang buat." Daryl menerangkan.


"Oh ya?"


"Ah, nggak. Kemarin tuh aku cuma iseng, kayaknya kalau bikin ini bagus. Terus aku gambarkan, eh tahunya dipakai juga kan?" Perempuan itu tertawa.


"Bagus. Kenapa tidak dilanjutkan saja? Siapa tahu banyak yang tertarik kan?"


"Belum berani, kan akunya masih belajar. Harus dimantapin lagi." Kemudian Nania menjawab


"Ya jalan sambil belajar. Belum lagi nanti setelah selesai persamaan kan bisa lanjut sekolah desain? Dan selama itu juga kamu bisa memperlancar kemampuan." Sofia seolah memberi semangat.


"Begitu ya?"


"Ya, tidak ada salahnya untuk dicoba kan?" ucap Sofia lagi.


"See? Aku bilang juga apa?" Dan Daryl pun mengamini.


"Nggak taulah, mungkin nanti aku coba gambar lagi."


"Dih? Orang-orang pada punya bisnis sedangkan aku nggak?" Rania juga ikut berbicara. 


"Kamu kan sudah balapan, jadi sebaiknya tidak usah. Pendapatanmu dari jadi juara balap dan sponsor sepertinya sudah cukup." Daryl yang menjawab ucapan kakak iparnya.


"Itu beda tahu, berapa tahun lagi juga udahan. Tapi kalau bisnis bisa seumur hidup." Perempuan itu berujar.


"Kan kak Dim sudah."


"Itu kan kakak kamu." Rania melirik kepada suaminya. "Aku juga mau ah … gimana kalau buka bengkel?" Dia dengan ide cemerlangnya.


"Yeee, biarin. Kan kalau punya kerjaan itu harus sesuai passion biar senang ngejalaninnya."


Daryl tertawa. "Lagi pula kita kan sudah punya Nikolai otomotif, mau kamu tambah lagi?"


"Ahh … itu kan masih dibawah Nikolai Grup. Aku mau pakai nama sendiri."


"Apa? Anya otomotif, atau Zenya otomotif? Kedengarannya tidak enak." sang adik ipar tertawa lagi.


"Terserah aku lah, yang penting bengkel aku sendiri."


"Ya ya ya, terserah kamu." Daryl terus tertawa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Udah selesai?" Nania sudah berada di bawah selimut ketika Daryl mengakhiri percakapan teleponnya entah dengan siapa.


"Sudah." Dan pria itu pun meletakkan ponselnya kemudian merebahkan tubuh.


"Mungkin dua minggu ke depan persiapannya sudah dimulai dan kita akan mengadakan peluncuran parfum sekaligus pembukaan Fia's Secret House."


"Kamu sibuk ya?"


"Lumayan. Tapi tidak akan sesibuk jika aku bekerja di Nikolai Grup. Hahaha."


"Tapi kan masih terhubung ke sana?"


"Secara tidak langsung. Tapi ini kan bisnisnya Mama, dan satu-satunya yang harus aku hadapi adalah mama."


"Bener juga ya."


"Ya." Pria itu menguap sambil menggeliat.

__ADS_1


"Tapi besok sepertinya aku harus ke pabrik parfum. Mereka menawarkan wangi baru yang mungkin cocok dengan produk kita." Dia mematikan lampu tidur di sampingnya dan mulai membenahi bantal dan selimut.


"Iya?"


"Hmm … mau ikut bersamaku?" tawarnya sambil terkantuk-kantuk.


"Emang boleh?" Namun Nania merasa antusias.


"Boleh, kenapa tidak boleh? Keponakanmu dan orang tuanya sudah pulang semua tadi, jadi tidak ada lagi yang harus kamu layani kan?"


"Kenapa ih kamu bilangnya gitu?" Perempuan itu tertawa.


"Ya, habisnya dua hari ini kamu sibuk melayani saudara-saudaraku dan sedikit mengabaikan aku."


"Ih, nggak gitu kan?"


"Serius. Kamu membuat makanan sepanjang hari, atau memasak untuk makan, padahal ada yang bisa mengerjakannya." Pria itu kemudian mengeluh.


"Kan kebetulan ada banyak bahan makanan di kita, sayang kalau nggak diolah, semetara kita selalu makan di rumah besar."


"Iya aku tahu."


"Terus kenapa malah ngeluh?"


"Kamu asyik mengobrol dan membicarakan banyak hal dengan Rania, Kirana … dan para keponakan."


"Kan itu keluarga kamu, tahu?"


"Tetap saja."


"Lagian kamu juga kan ngobrol sama Darren, Kak Dim dan Om Arfan?"


Daryl tertawa.


"Dih, licik. Giliran aku yang ada kegiatan kamunya protes? Kan sama aja?"


Pria itu tersenyum namun mulai memejamkan matanya.


"Udah ngantuk ya?"


"Hu'um. Sebelum semuanya selesai sampai pembukaan sepertinya aku akan sesibuk ini."


"Ya udah, sekarang tidur aja." Nania mengusap pipinya yang mulai ditumbuhi bulu-bulu halus.


"Iya, ini juga mau. Tapi kamu mengajak bicara terus."


"Hehehe, ya udah." Lalu perempuan itu mengecup bibirnya sekilas yang ternyata membuat Daryl membuka mata lebar-lebar.


"Kenapa? Katanya mau tidur?"


Pria itu menatapnya tanpa bersuara.


"Oh, mau sekali lagi ya?" Kemudian Nania kembali mengecupnya dan kali ini lebih lama.


"Bobok, Daddy!" katanya sambil menahan senyum dan dia kembali merebahkan kepalanya seperti semula.


"Bobok apanya? Kalau sudah begini rasa ngantukku jadi hilang!" ucap Daryl yang kemudian beranjak untuk mengungkung perempuan itu. 


Dan tanpa menunggu lagi dia segera menciumnya secara bertubi-tubi sambil melucuti pakaian mereka berdua. Sementara Nania hanya tertawa dan membiarkannya saja melakukan apa yang ingin dia lakukan hingga des*han dan erangan kembali mengudara pada malam itu.


💖


💖


💖


Bersambung ...

__ADS_1


Anu🙈🙈


__ADS_2