The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Emosi


__ADS_3

💖


💖


Pagi-pagi sekali Nania sudah bangun. Sengaja, dia memutuskan untuk pulih dengan harapan jika suaminya akan pulang di hari ketujuh setelah peristiwa yang merenggut kehidupan calon anak mereka.


Meski sepertinya pria itu masih tetap tak menampakkan batang hidungnya, atau setidaknya mengirimkan pesan lewat ponsel yang memudahkan mereka untuk berkomunikasi.


Hanya Regan yang datang setiap hari untuk memberikan kabar dan mengambil juga menyerahkan tugas dari sekolah untuk dirinya.


"Gimana rumah baca?" Nania masuk ke area masak untuk pertama kalinya dalam kurun waktu satu minggu itu.


"Baik." Regan berdiri di dekat pintu. Seperti biasa dia tak berani masuk lebih dalam karena tak ada siapa pun lagi selain mereka di tempat itu.


"Mungkin beberapa minggu aku nggak bisa sediakan makanan untuk anak-anak. Kamu tolong aturin ya? Aku juga udah ngasih tahu Lisa biar dia yang handle."


"Tidak usah khawatir, mereka sudah mengerti harus bagaimana." 


"Nanti aku transfer uangnya ke kamu ya?"


Regan menganggukkan kepala.


"Ya udah, kalau mau pergi silahkan. Terima kasih."


Regan mengangguk lagi, dan dia hampir pergi ketika Nania memanggilnya lagi.


"Regan?"


"Ya?" Dia mengurungkan niatnya.


"Maaf udah nyusahin kamu." 


"Tidak apa-apa, sudah resiko pekerjaan. Tapi lain kali tolong jangan hanya mengikuti emosimu saja agar tidak begini akibatnya." Pria itu berujar.


Kini Nania yang menganggukkan kepala.


"Ada lagi?" Regan menunggu.


"Apa kamu kena pukulan?" Ragu-ragu, tapi Nania ingin menanyakan soal ini sejak hari pertama dia tersadar, bahwa ada beberapa orang yang mungkin keberadaannya terancam di Nikolai grup karena kecerobohannya.


"Tidak." jawab Regan.


"Temen-temen kamu?"


"Tidak juga, jangan khawatir."


Nania terdiam lagi.


"Tapi ini yang lebih kami takutkan." Pria itu melanjutkan kalimatnya.


"Kenapa?"


"Karena Pak Daryl mendiamkan banyak orang. Biasanya suamimu akan bereaksi keras jika sesuatu terjadi, tapi sikap diamnya ini membuat kami khawatir."


Nania tampak mengatupkan mulutnya rapat-rapat.


"Dan bagi saya lebih baik diomel atau dipukul sekalian dari pada didiamkan seperti ini." Regan terkekeh.


"Tapi mungkin itu caranya untuk mengatasi masalah sekarang. Dari pada banyak bicara dan bertindak, lebih baik diam untuk meredam kekacauan, bukan?"


Nania masih terdiam.


"Baiklah, kalau tidak ada lagi saya pamit?" ujar Regan yang kembali bersiap untuk pergi.


"Oke." Nania mengangguk dan dia memilih untuk melanjutkan niatnya membuat makanan.


"Tante Nna!" Namun suara Anandita menginterupsi pagi yang hening, terutama setelah terdengar suara kegaduhan di teras rumahnya.


Nania segera berlari untuk melihat dan dia mendapati keponakan dan bawahan suaminya yang sama-sama terjatuh di lantai.


"Kalian kenapa?" Dia hanya berdiri di ambang pintu tanpa berani melangkahkan kakinya keluar.


Ucapan Daryl tempo hari masih terngiang-ngiang di telinganya, dan itu terdengar cukup menakutkan.


"Om Regan ih, nggak lihat-lihat kalau jalan?" Anandita bangkit seraya mengusap-usap bokongnya yang terasa sakit akibat benturan dengan lantai teras ketika Regan tak berhasil meraihnya setelah mereka bertabrakan.


"Kamu membuat saya terkejut!" Pria itu pun melakukan hal yang sama. Dia bahkan meringis karena terjerembab dengan keras di tangga teras untuk menghindari tabrakan dengan Anandita.


"Makanya jangan melamun terus! Kan jadinya nggak lihat aku yang segede gini!" Gadis itu lagi-lagi menjawab.


Tapi Regan memutuskan untuk membiarkannya saja mengoceh dari pada harus berdebat.


"Kamunya juga harus hati-hati, Ann." Nania menginterupsi perdebatan tersebut.


"Ah, Om Regannya aja yang kebanyakan melamun. Coba kalau nggak, ya nggak akan kena?" Anandita masuk ke dalam rumah, sementara Regan bergegas pergi.


"Kamu mau ke rumah baca?" Nania lantas bertanya.


"Ya. Tante Nna mau pergi?" Gadis itu balik bertanya.


"Kayaknya nggak dulu. Om kamu masih belum pulang."


"Hmm … masih marah ya?" Anandita menatap istri pamannya yang kini tampak lebih tirus dari sebelumnya. Tentu saja, dia tahu apa yang terjadi di dalam keluarga mereka.


"Mungkin."


"Kayak bocah aja ngambek terus? Bukannya kalau marah lebih dari tiga hari itu dosa ya? Lah ini udah seminggu. Dosanya berkali-kali lipat."


Nania sedikit terkekeh.


"Serius, kata guru agama aku gitu."


"Ini masalahnya beda, kamu nggak akan ngerti. Mungkin bukan masalah marahnya, tapi hal lain yang menyebabkan marah itu sendiri."


"Kan nggak sengaja, masa gitu aja nggak ngerti?"

__ADS_1


"Nggak sesimpel itu, Ann. Bagi sebagian orang ketidaksengajaan berarti kesalahan fatal. Apalagi untuk Om kamu."


"Hah, nggak ngerti deh urusan orang dewasa. Selalu ribet dan bikin pusing." ucap Anandita.


"Terus aku perginya sama siapa kalau gitu?" Lalu gadis itu melangkah lagi keluar.


"Kamu barusan ke sini sama siapa?"


"Sama Papa, tapi langsung pergi ngecek hotel dulu soalnya nanti siang mau ke opening kliniknya Tante Kirana."


"Oh ya?"


"Hu'um."


"Sopirnya Opa?"


"Nggak mau ah, suka nggak mau diajak ngobrol kalau di jalan."


"Arkhan ke mana?"


"Nggak tahu, katanya ada turnamen."


"Turnamen apa?"


"Motor cross di Bogor."


"Kalau gitu ikut Regan aja."


"Emang Om Regan mau ke rumah baca?"


"Ya, kan kalau Sabtu Minggu tugasnya di sana."


"Sekarang Om Regannya ke mana?"


"Mungkin mau pergi. Barusan kan …."


"Om Regaaannn! Tunggu akuuu!!" Dan segera saja gadis itu berlari kencang keluar dari rumah sambil berteriak.


Untuk beberapa saat Nania tertegun di ambang pintu. Tatapannya tertuju ke rumah mertuanya yang terdengar ramai. Orang-orang sudah datang seperti biasa, dan bukankah mereka ada rencana untuk menghadiri acara pembukaan klinik kecantikannya Kirana hari ini?


Dan istri dari adik iparnya itu bahkan sudah mengundangnya secara khusus pada video call semalam saat dirinya tengah menunggu kepulangan suaminya. 


Meski dia menjawab mungkin tidak akan bisa ikut karena keadaannya dan Daryl yang tak kunjung pulang, Kirana tetap mengharapkan kedatangannya.


Nania perlahan mengulurkan kakinya ke teras, tapi seakan suara Daryl menggelegar di telinganya melontarkan ancaman. Sehingga dia mengurungkan niatnya untuk keluar dari rumah.


Dadanya berdebar begitu kencang dan dia merasa sangat ketakutan sehingga bergegas kembali ke kamarnya di lantai dua.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Nania?" Panggilan Sofia membuyarkan lamunannya, dan Nania segera menoleh ke arah pintu kamar yang terbuka. Sementara dirinya berada di balkon kamar seperti hari-hari sebelumnya saat menunggu kepulangan suaminya.


"Ayolah kita pergi ke pembukaan kliniknya Kirana? Rania juga sudah ada di sana." ajak sang mertua yang diikuti oleh Dygta, kakak iparnya.


"Kalau aku nggak pergi nggak apa-apa kan? Semalam udah video call an sama Kak Kirana kok." Perempuan itu menjawab.


"Tidak apa-apa kalau kami tinggal sebentar?" Lalu dia masuk ke dalam kamar putranya.


"Nggak apa-apa, Ma. Pergi aja." Nania menjawab.


"Kalau butuh apa-apa panggil Mima, Nur atau Santi ya? Jangan sendiri." Perempuan itu berpesan.


"Iya Ma."


"Kalau begitu Mama pergi?" Sofia pun berpamitan.


"Iya. Sampaikan salam sama Kak Kirana ya? Aku juga minta maaf nggak bisa dateng."


"Ya, baik." Ibu dan anak itu segera pergi.


Berselang beberapa saat lamunan Nania buyar ketika dia mendengar suara mesin mobil dari pekarangan rumahnya. 


Wajahnya sumringah begitu melihat Rubicon yang dia kenali sebagai milik suaminya yang berhenti tepat di depan teras. 


Perempuan itu segera berlari ke bawah untuk menyambut kedatangan suaminya dengan perasaan senang luar biasa. Meski dirinya merasa takut juga.


Nania berhenti tepat di ambang pintu ketika di saat yang bersamaan Daryl juga tiba. Dan mereka sama-sama tertegun saling berhadapan.


Nania menarik napas sebanyak yang dia bisa untuk menyapa suaminya, dan dia bersiap untuk mengatakan sesuatu.


"Dadd …."


"Kamu tidak pergi ke pembukaan klinik?" Daryl segera masuk ke dalam rumah. Tanpa sapaan, tanpa basa basi. Lalu dia duduk di sofa depan televisi.


"Ng … nggak."


"Kenapa? Mereka tidak mengajakmu? Atau Kirana tidak mengundangmu?" Suaranya terdengar dingin dan datar, namun terasa sedikit menakutkan.


"Tadi Mama ngajak … Kak Kirana juga ngundang semalam." Nania berdiri dalam jarak satu meter dari sofa.


"Terus kenapa tidak pergi?"


Perempuan itu tertegun sebentar. Dia lagi-lagi mengingat kata-kata Daryl sebelum pergi, yang mengancam jika dirinya melangkah keluar maka dia tidak akan bisa kembali.


Meski itu berlaku untuk masalah dengan Mirna, namun Nania merasa perkataan suaminya mencakup segala hal.


"Kenapa tidak pergi?" Daryl mengulang pertanyaan yang membuat Nania merasa terkejut.


"Nggak apa-apa, aku cuma nggak mau." Nania menjawab secara spontan.


Daryl menatap televisi dengan perasaan yang tak menentu. Di sisi lain dirinya merasa ingin memeluk Nania untuk melampiaskan rasa rindu yang sepanjang minggu ini menyiksanya. Tapi di sisi lain dia masih belum puas untuk menghukum perempuan itu karena kecerobohannya.


"Aku lapar." Katanya setelah beberapa saat.


"La-lapar?"

__ADS_1


"Hmm …."


"Tu-tunggu sebentar." Nania bergegas ke dekat meja makan. 


Dia lantas membuka tudung saji di mana beberapa macam makanan yang dimasaknya beberapa saat yang lalu diletakkan. 


Beruntung hari itu dia masak sehingga kedatangan suaminya yang pulang dengan perut lapar tidak sia-sia.


"Makanannya udah siap." Nania kembali, dan hal itu membuat Daryl mendongak sambil mengerutkan dahi.


Kenapa cepat sekali? Batinnya.


Mereka kemudian pindah ke meja makan di mana segalanya sudah siap. Dan nasi di piring miliknya bahkan masih mengepulkan uap panas.


Sepiring ayam dengan potongan kecil berbumbu hitam dan bertabur wijen, semangkuk sayuran hijau dan lauk lainnya menjadi menu makannya hari itu. Yang tentunya sudah sangat dia rindukan juga.


Nikolai Tower menyajikan makanan yang lebih mewah dari ini tapi rasanya tak senikmat masakan istrinya. Dan kenyataan bahwa dirinya sudah terbiasa dengan itu membuat hatinya merasa begitu sedih.


"Duduk, temani aku makan." katanya setelah Nania selesai mengisi piringnya.


Perempuan itu segera menurut dan melakukan hal yang sama untuk dirinya sendiri.


Nania merasa matanya berkunang-kunang saat menatap makanan. Kepalanya pusing dan perutnya terasa seperti diaduk-aduk. Kesedihan dan rasa duka mendalam masih mendominasi sehingga menyebabkan pencernaannya terganggu. Namun dia paksakan untuk makan sedikit-sedikit saja demi suaminya.


Suasananya terasa sepi dan asing. Mereka sama-sama menunduk dan fokus pada makanan tanpa ada yang berniat memulai percakapan. Padahal awalnya kebersamaan ini selalu berlangsung dengan hangat dan menyenangkan.


Sesekali Nania melirik pada suaminya yang sibuk dengan makanannya, sementara dirinya hanya mengaduk-aduk isi piring tanpa berniat untuk menghabiskannya.


"Aku … udah memutuskan." Lalu dia melontarkan pernyataan yang membuat Daryl menghentikan kegiatan makannya sejenak.


Pria itu mendongak dan dengan tatapan was-was dia menunggu Nania melanjutkan perkataan.


"Aku mau sekolah online aja," lanjut Nania yang membuat Daryl mendengus pelan dengan perasaan lega.


Dia pikir perempuan itu akan mengatakan hal lain yang mungkin akan membuat dirinya kalang kabut.


"Kenapa?" Lalu Daryl melanjutkan kegiatan makannya.


"Nggak apa-apa. Cuma mau tetap di rumah aja." Nania menjawab


Daryl menghabiskan sisa makanannya lalu dia meneguk air minumnya hingga tandas.


"Gimana menurut kamu?" Nania mencoba meminta pendapat.


"Terserah. Lakukan saja apa yang kamu mau." jawab Daryl lalu dia beranjak.


Nania merasakan tenggorokannya seperti tercekat, dan dia tahu apa yang pria itu maksud.


***


Nania memberanikan diri masuk ke kamar mereka setelah beberapa saat. Dan dia menemukan Daryl sedang berpakaian di depan meja riasnya.


"Aku mau ke pembukaan klinik. Mungkin pulang malam." Pria itu meraih kemeja yang dipilihnya.


"Kamu … nanti pulang?" Dan Nania mendekat sehingga jarak mereka hanya setengah meter saja.


"Mungkin." jawab Daryl seraya mengenakan kemeja setelah menyemprotkan wewangian dan deodoran miliknya. 


Sekilas dia melirik produk perawatan bayi di meja rias yang sering Nania gunakan untuknya, dan itu mengembalikan ingatan buruk tentang kehamilan yang terpaksa harus direlakan.


Dia mendengus keras.


Pria itu mulai mencoba menautkan kancing pada lubangnya meski pada akhirnya dia kembali lupa bagaimana cara melakukannya. Lagi-lagi otaknya tak merespon saat Daryl mencoba untuk yang kedua kalinya.


"Kenapa ini? Kemarin-kemarin sudah bisa." Dia bergumam.


Nania semakin mendekat dan dia paham apa yang Daryl alami.


"Ah, sialan!" Pria itu berhasil menautkan salah satunya meski dalam waktu yang cukup lama. 


Lalu dia mencoba pada kancing berikutnya, dan hal yang sama pun Daryl alami. Hal ini menjadi sulit karena dia mulai merasa kesal dan dengan cepat emosinya naik menjadi dua kali lipat.


"Sialan ini!" Dia bergumam lagi.


"Aku bantu …." Nania kemudian maju dan tanpa banyak kata dia meriah kemeja yang menempel di tubuh suaminya.


"Tidak usah, aku bisa." Namun Daryl menolaknya.


Nania tetap melakukan apa yang biasa dia lakukan meski pria itu berkali-kali melayangkan penolakan.


"Berhenti, Nania. Aku bisa sendiri!" Daryl kembali menolaknya.


"Nggak apa-apa, biar aku …."


"Berhenti! Aku bisa melakukannya sendiri kataku! Ada apa denganmu? Kenapa selalu berpikir jika orang lain membutuhkan bantuanmu? Kau ingin menjadi pahlawan?" Pria itu berteriak sambil menghempaskan kedua tangan Nania yang tengah berusaha mengancingkan kemejanya. 


"Aku … cuma mau bantu …."


"Ada apa denganmu?" Dengan penuh emosi Daryl melampiaskan kemarahannya pada benda-benda di atas meja rias.


Barang-barang berjatuhan di lantai dan sebagian besarnya pecah karena botol-botol parfum itu berbahan kaca.  


Perempuan itu mengkeret di tempatnya berdiri apalagi ketika Daryl melayangkan tendangan pada apa yang ada di depannya. 


"Sialan kau Nania!!" Teriakannya kini lebih kencang dan tinjunya bahkan mendarat di cermin sehingga benda itu pecah seketika. Bersamaan dengan jeritan Nania yang menggema di udara.


"Puas kau mengujiku seperti ini, hah? Puas?!" Dia berteriak tepat di depan wajahnya sebelum akhirnya pergi.


Dan Nania bisa mendengar suaminya menendang beberapa barang diluar kamar mereka sebelum dia ambruk di lantai dengan tubuh gemetaran.


💖


💖


💖

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2