
💖
💖
"Pelan-pelan, Nna. Memangnya mau kemana? Kenapa buru-buru sekali?" Sofia mengingatkan ketika melihat cara makan Nania yang cepat dan sangat lahap.
"Mm …."
"Nanti kamu tersedak. Hati-hatilah." sambungnya, seraya menggeser piring berisi lauk ke dekat menantunya.
"Hehe …, habisnya aku lapar." Nania menjawab, namun kemudian dia mengurangi kecepatan makannya.
"Kamu bawa Nania ke mana seharian? Sampai-sampai kelaparan seperti ini?" Sofia beralih kepada putranya.
"Tidak ke mana-mana, hanya melihat rum …." Namun Daryl menggantung kata-katanya saat Nania menurunkan tangannya ke bawah meja kemudian meremat lututnya.
"Cuma jalan-jalan, Ma. Pertamanya aku ke Fia's Secret, nunggu sampai jam dua belas, terus habis itu keliling Jakarta. Terakhir tadi kita ke Dufan. Iya kan?" Perempuan itu menoleh ke arah suaminya.
"Nania tidak kamu belikan makan ya? Tega sekali membiarkannya lapar seharian? Memangnya di Dufan tidak ada tempat makan?" Sofia meletakkan sendok dan menghentikan kegiatan makannya.
"Makan kok. Aku tadi jajan apa aja ya, pokoknya banyak sampai kekenyangan. Tapi lupa nggak makan nasi, ingatnya pas udah sore. Tadinya mau mampir dulu ke tempat makan lagi tapi tanggung. Makanya langsung pulang." Nania menjawab lagi.
"Hmm …." Sofia menatap sang putra.
"Mom, Pih sepertinya aku sudah membuat keputusan untuk …." Daryl hampir saja mengutarakan niatnya untuk pindah, dan dia memang sudah membuat keputusan.
Namun lagi-lagi Nania menghentikan apa yang ingin diucapkan.
"Ya?"
Nania meremat lututnya lebih keras membuat Daryl menoleh ke arahnya. Dan perempuan itu menggeleng pelan untuk memberi isyarat agar dia tak dulu membicarakan hal ini.
"Apa? Kamu mau bilang sesuatu?" Sofia bertanya.
"Umm …." Dan pria itu hampir saja membuka mulutnya untuk kembali berbicara ketika Nania mendahuluinya.
"Menunda punya anak. Gimana menurut Mama?" katanya, dengan senyum khasnya.
"Menunda punya anak?" Sofia tampak menjengit.
"Iya, aku kan baru aja masuk sekolah. Dipikir-pikir kayaknya aku mau tunda dulu soal anak, tapi gimana ya bagusnya?"
Sofia dan Satria saling pandang.
"Kamu mau pakai kb? Atau sudah pakai kb?" Perempuan itu lantas bertanya.
"Kb?"
"Ya."
"Mmm … belum sih." Nania meneguk air minumnya cukup banyak.
"Setahu Mama kurang baik kalau di awal pernikahan menggunakan kb. Terkadang pengaruhnya tidak baik terhadap rahim. Ada beberapa perempuan yang justru akan mengalami masalah nantinya."
"Eee … begitu ya?"
"Ya. Tapi kamu bisa konsultasikan dulu ke dokter bagaimana baiknya. Kalau misal bisa pakai kb dulu, nanti dokter akan memilihkan kb apa yang cocok untukmu."
"Oh … oke oke." Nania mengangguk-anggukkan kepala.
"Kalau mau konsentrasi sekolah dulu ya tidak apa-apa. Santai saja kan?" Satria menyela percakapan.
"Iya Pih, gitu maksudnya." jawab Nania.
__ADS_1
"Setelah lulus persamaan mau kamu lanjutkan kuliah?" Kini Satria bertanya.
"Belum tahu, kan sekolahnya juga baru mulai. Nanti kalau udah lulus aku pikirin lagi."
"Sebenarnya perlu dipikirkan sejak sekarang. Mau kuliah atau tidak, lalu kuliah di mana dan mengambil jurusan apa. Biar semuanya bisa direncanakan dengan baik. Masalah anak itu prioritas lain." Sang ayah mertua menjelaskan.
"Iya."
"Sekarang makanlah yang banyak agar kamu tetap sehat. Tapi jangan terburu-buru, tidak akan ada yang menghabiskannya. Kita hanya berempat kan?" Pria itu tertawa pelan.
"Iya Pih." Lalu mereka melanjutkan kegiatan makan.
***
"Bukankah lebih cepat lebih baik? Apa yang kita tunggu." Mereka kembali ke kamar setelah beberapa saat berbincang di bawah.
Membicarakan banyak hal dan banyak rencana kecuali kepindahan ke rumah baru.
"Tunggu dulu lah. Jangan tiba-tiba begini. Nggak denger apa obrolan Mama sama Papi tadi sore?" Mereka duduk di sofa dengan televisi menyala.
"Aku kok berasa nggak enak ya? Kayak kita mau ninggalin orang tua gitu. Biar beneran juga sih."
"Kita pergi kan untuk membangun keluarga sendiri, bukan pergi tanpa sebab? Kenapa harus merasa tidak enak?"
Nania terdiam sebentar.
"Kamu orangnya tidak enakan, jelas merasa seperti itu. Merasa bertanggung jawab atas perasaan orang lain dan selalu berusaha membuat orang senang."
"Aku cuma berempati."
"Berempatilah pada hal-hal menyedihkan, dan atas kejadian buruk yang menimpa orang lain. Tapi tidak bertanggung jawab atas perasaan mereka. Orang tuaku tidak dalam keadaan yang buruk, tapi hanya merasa kehilangan karena anak-anaknya yang mulai mandiri. Sedangkan mereka terbiasa dengan banyak anak di rumah ini."
"Aku cuma merasa senang kalau melihat orang bahagia, terus sedih kalau denger keadaan mereka nggak baik-baik aja."
"Ih, kok gitu?"
"Kebanyakan people pleasure memang begitu kan? Yang penting orang senang, dan dia pun baru akan senang. Parahnya, jika bertemu dengan orang yang tidak tepat maka kamu akan dimanfaatkan. Seperti keluargamu."
Nania mengatupkan mulutnya rapat-rapat.
"Tapi bagaimana orang sepertimu bisa tumbuh di keluarga yang egois? Aku hanya tidak habis pikir." Daryl merebahkan kepalanya pada sandaran sofa.
"Kamu tahu, setiap keluarga punya senggaknya satu anak yang berbeda. Mungkin tujuannya biar bisa bikin keluarganya jadi lebih baik?"
"Ah, aku nggak percaya istilah seperti itu. Hanya tidak logis saja. Setiap orang dewasa bertanggung jawab atas hidupnya sendiri, kecuali pasangan suami istri yang harus saling membahahiakan. Atau antara anak dan orang tuanya jika mereka mampu." Pria itu memejamkan mata.
"Kamu mau tidur sekarang?"
"No, why?" Namun kemudian dia membuka matanya.
"Mau memberiku sesuatu ya?" Lalu Daryl menarik Nania sambil tertawa. Pikirannya segera saja tertuju pada hal-hal mes*m seperti biasanya.
"Nggak ih, cuma nanya. Kalau misal mau tidur ya jangan di sofa. Nanti badan kamu sakit."
Dia hanya tertawa dan mendekap Nania di pelukan dengan tangannya yang segera menyelinap dibalik pakaian tidurnya.
"Jangan ih, kan udah tadi siang? Masa mau lagi?"
"Mumpung bisa dan ada waktu."
"Memangnya mau ke mana?"
"Tidak ke mana-mana. Selagi sempat kenapa tidak kan?"
__ADS_1
Nania tertawa kemudian mereka saling mengecup.
"Eh sebentar. Aku mau pipis." Perempuan itu turun dari pangkuannya lalu bergegas ke kamar mandi.
Namun Nania tertegun ketika lagi-lagi terdapat noda merah di cel*na dal*mnya. Dan rasanya yang keluar bukan hanya air seni saja.
Memang benar ketika dia melihat ke dalam klosset, air di dalam sana berubah menjadi merah pekat.
"Duh?" gumamnya, siring darah tamu bulanannya yang terus keluar.
"Daddy?"
"Ya."
"Bisa ke sini dulu nggak?" Dia sedikit berteriak.
"Kenapa?"
"Aku haid." katanya.
"Apa?" Daryl mendorong pintu kamar mandi yang memang tidak terkunci.
"Aku datang bulan. Mana banyak lagi?" Nania menunjukan cel*na dal*mnya.
"What?" Dan Daryl tertegun di ambang pintu.
"Beneran nunda punya anak ini mah?" Dia tertawa.
"Tolong ambilin pembalut dong di lemari? Yang besar ya?" katanya, dengan senyum lebar namun dada berdebar ketika Daryl tampak memutar bola matanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Benar dia suamimu?" Zayn berdiri di samping Nania yang manatap kepergian mobil Daryl.
Pria itu seperti biasa mengantarnya ke sekolah terlebih dahulu sebelum pergi bekerja.
Nania menoleh dengan kening menjengit.
"Masa iya suami orang berani nganter-nganter? Ngaco apa?" Lalu dia memutar tubuh dan melenggang memasuki gedung.
"Serius, kelihatannya jauh banget." Pria itu mengejarnya.
"Apaan sih?" Nania mendelik.
"Kamu sugar baby ya?" Zian sedikit tertawa dan dia berjalan mensejajarinya.
Nania berhenti di ambang pintu dengan alis masih tampak saling bertautan.
"Nggak akan ada yang percaya dengan perbedaan yang mencolok begitu." ucap Zian lagi.
Perempuan itu kemudian menoleh lagi, dan menatap wajahnya dengan raut tidak suka.
"Iya, memangnya kenapa? Masalah?" katanya, yang kemudian masuk ke dalam kelas.
💖
💖
💖
Bersambung ....
like komen hadiah dulu gaess 😁😁
__ADS_1