
💖
💖
"Bisa nggak sih emosinya diturunin dikit?" Mereka duduk di ruang tengah begitu tiba. Masih di rumah yang sama karena Sofia dan Satria belum juga kembali dari liburan mereka di Belanda.
"Emosi apa?" Daryl menyalakan tivi dan menekan tombol-tombol pada remot untuk mencari program yang menarik. Meski akhirnya dia memilih channel kartun juga karena tak menemukan apa yang dicarinya.
"Emosi kalau lagi ngomong sama orang."
"Kapan?"
"Ck! Nggak nyadar apa tadi bentak-bentak orang di rumah sakit? Mana dokter pula, duh. Bikin malu!"
Daryl malah tertawa.
"Bukan ketawa! Tapi mikir gimana caranya untuk bisa nahan emosi. Apalagi teriak-teriak di tempat umum. Kebiasaan!" Nania menepuk lengan suaminya agak keras sehingga pria itu mengaduh kesakitan.
"Sakit, Nna! Jangan pakai pukul begitu lah!" protes Daryl kepadanya.
"Habisnya kamu nyebelin!"
"Bukan aku, tapi dokternya." ucap Daryl yang mengusap-usap lengannya.
"Apaan? Orang dokternya lagi mau ngobatin kamu."
"Caranya itu bertele-tele, membuatku kesal saja."
"Emang gitu caranya. Ya masa tiba-tiba aja ngelakuin apa gitu? Segala hal itu ada permulaannya. Harus disesuaikan, nggak bisa langsung ke titik permasalahan."
"Ah, aku biasanya langsung ke titik permasalahan biar semuanya cepat selesai. Untuk apa banyak basa-basi tapi ujungnya tidak ada solusi?"
"Beda masalah beda penanganan, Pak. Apalagi ini masalah kesehatan. Mana bisa disamain kayak nangkep penjahat?"
Pria itu tertawa lagi.
"Kenapa sih kalau ketemu orang baru kamu selalu bersikap nggak baik? Emang rugi ya kalau sekali aja nggak marah-marah gitu?"
"Hey, siapa bilang aku begitu?"
"Beneran. Kayaknya sama semua orang kamu begitu?"
"Tidak juga."
"Iya, sama aku gitu."
"Tapi sekarang tidak kan?" Pria itu merebahkan punggungnya pada sandaran sofa, kemudian bergeser sehingga jarak mereka berdekatan.
"Kalau masih ya aku tinggal pergi." Nania tertawa.
"Coba saja kalau berani, maka akan aku ratakan tempatmu bersembunyi."
"Hadeh, serem amat Pak?"
Daryl lagi-lagi tertawa, lalu dia memeluk Nania begitu erat.
"Kamu lapar nggak? Aku sih lapar." Nania menatap jam dinding di atas lemari tivi.
"Coba telepon Mima, apa malam ini dia masak?"
"Nggak usah lah, aku bikin aja." Nania menyingkirkan tangan Daryl dari tubuhnya kemudian dia melenggang ke area masak.
Dia mengeluarkan bahan-bahan dari lemari pendinginnya. Beberapa macam sayuran, daging ayam, telur, sosi, bakso dan bahan bumbu. Ditambah satu bungkus mie berukuran besar, dan tidak lupa dengan beberapa buah cabainya yang berwarna merah.
Bahan-bahan Nania potong dan bersihkan, lalu dia menyiapkan penggorengan di atas kompor yang sudah menyala. Selanjutnya proses memasak pun berlangsung beberapa saat.
"Apa yang kamu masak?" Daryl datang menghampirinya.
"Mie." Nania menjawab.
"Mie goreng?"
"Bukan. Mie tek-tek."
"Mie tek-tek?"
Perempuan itu menganggukkan kepala.
__ADS_1
"Seperti yang dijual di tenda-tenda itu?"
"Ya."
"Bagiku terlihat seperti mie goreng?"
"Beda tahu."
"Beda apanya? Sama saja. Ada mie dan sayuran, telur, sosis dan bakso." Daryl menunjuk isi wajan yang mengepulkan uap panas.
"Beda." Nania mengambil sendok dari penyimpanan lalu mengambil kuah yang mengental dari masakannya.
"Apa karena ada kuahnya?"
"Kira-kira begitu." Lalu Nania menyodorkan sendok tersebut ke dekat mulut suaminya. "Mau coba?" tawarnya.
Kemudian pria itu menyuapkan isi sendok dan merasainya pelan-pelan. Tentu saja rasanya enak, perpaduan gurih dan manis dari kecap dan bumbu, juga rasa pedas segar dari cabai dan tambahan tomat. Jangan lupakan juga dengan aromanya yang memang menggugah selera.
"Kamu pasti belum pernah makan makanan kayak gini kan?" Nania berujar.
"Aku lupa, pernah atau tidak ya?"
"Kayaknya belum pernah deh?"
"Hmm …." Daryl menjawab dengan gumaman.
"Enak nggak?" Nania mematikan kompor saat dirasa masakannya sudah matang.
"Tentu saja enak, seperti biasa." Daryl menjawab, lalu dia duduk di kursi makannya yang terletak tak jauh dari mereka.
"Berarti kamu cocok sama makanan kayak gini?" Nania menyiapkan peralatan makan untuk mereka.
"Sudah aku katakan kalau aku cocok dengan makanan apa pun. Asal rasanya enak dan bisa di makan oke-oke saja. Aku kan …."
"Omnivora." Mereka berucap bersamaan kemudian tertawa.
"Pedesnya pas?" Keduanya memulai acara makan mereka.
"Cukup, tapi kalau bisa dikurangi sedikit." Daryl makan dengan lahap, sepertinya dia memang menyukai makanan seperti ini juga. Dan ya, lidah dan perutnya memang cocok dengan makanan apa pun sehingga tidak mungkin akan timbul masalah setelahnya.
"Kalau begitu kenapa bertanya?" Daryl meneguk air minumnya hingga tandas ketika dia merasa lidah dan tenggorokan seperti terbakar.
"Ya siapa tahu kamu nggak suka?"
"Suka, hanya kurangi pedasnya sedikit. Karena terlalu banyak makan pedas tidak baik juga kan?"
"Ini nggak seberapa ah, cabenya cuma lima biji."
"Astaga!! Mana merah-merah lagi?" Pria itu menyingkirkan potongan cabe dari mie nya yang hampir habis.
"Mau ditambah nasi nggak?" tawar Nania lagi seraya menyendokkan nasi untuk suaminya.
"Tidak usah, aku sudah habis banyak." Namun Daryl menolak kemudian menunjukkan mangkok miliknya sambil tertawa.
"Duh, lapar Pak? Aku aja baru mau mulai?" Perempuan itu menarik tisu lalu menyerahkannya kepada Daryl untuk mengeringkan keringat di wajahnya yang memerah.
"Kamu bicara terus sih?"
Nania tertawa. "Mau lagi?" Dia kembali menawarkan.
"Mmm … Sepertinya tidak, itu milikmu."
"Bisa kita bagi dua kalau kamu masih mau." Nania hampir memindahkan setengah mie nya pada piting Daryl.
"Tidak usah, makanlah saja. Aku sudah cukup." Pria itu tetap menolak.
"Serius?"
"Yeah." Lalu dia bangkit dan mendekati lemari pendingin di belakang untuk mengambil minuman kaleng dari dalam sana.
"Kalau makan di rumah besar kayaknya nggak gini deh?" Perempuan itu memulai kegiatan makannya.
"Memangnya bagaimana?" Daryl kembali ke kursinya.
"Semuanya sehat. Hahaha." Nania tergelak.
"Ya memang harus begitu, agar efeknya juga bagus untuk tubuh kita. Tapi sesekali makan makanan begini juga tidak apa-apa." Daryl jugs tertawa.
__ADS_1
"Kamu suka makanannya?"
"Suka. Apa pun yang kamu masak pasti aku suka."
"Masa?" Nania merasa jika ucapan suaminya adalah sebuah pujian sehingga hatinya senang.
"Yeah."
"Kalau seblak suka nggak?" tanya Nania lagi.
"Seblak? Apa itu? Masih makanan?"
"Iya. Kamu nggak tahu seblak ya? Ahahaha … mana mungkin juga tahu ya? Di Rusia kan nggak ada makanan kayak gitu?"
"Seblak itu makanan jenis apa? Sepertinya populer, aku sering melihatnya di media sosial. Terus kadang lihat juga di jalan, apalagi kalau ke Bandung. Rania juga sering memposting makanan itu di storynya. Aku tahu dari caption yang dia buat."
"Enak tahu, kayak bakso gitulah terkenalnya."
"Masa?"
"Iya."
"Pasti pedas?"
"Umm … rata-rata."
"Sudah kuduga."
"Ada juga yang nggak pedes, tapi menurut aku nggak enak."
"Jelas tidak enak. Membuat mie ini saja segini pedasnya."
Nania tertawa lagi.
"Kamu senang ya kalau sudah membicarakan makanan?" Pria itu meneguk minuman dinginnya.
"Iyalah, mood aku jadi balik lagi kalau udah makan."
"Hmm … Mudah sekali membuatmu bahagia. Aku bawa jajan ke mini market, beli milk tea, atau membiarkanmu memasak makanan yang kamu suka."
Nania menganggukkan kepala. "Nggak usah susah-susah. Penuhin aja kulkas sama lemari penyimpanannya, jadi kalau aku gabut langsung bikin makanan." Nania berbicara dengan mulutnya yang penuh sehingga pipinya tampak menggembung.
"Baik, tapi makannya pelan-pelan, Malyshka!" Membuat Daryl ngeri sendiri, mengingat rasa pedas pada makanan tersebut dan dia takut membuat Nania tersedak.
"Hmm … mau cobain seblak? Besok aku mau bikin ah. Kamu libur kan?" katanya setelah meneguk air minumnya.
"Boleh …."
"Keponakan-keponakan pada kesini nggak ya? Kayaknya seru kalau makannya banyakan."
"Hah, semoga tidak. Kan Oma Opanya juga tidak ada?"
"Ya nggak apa-apa, kan ada kita?"
"Bercanda ya?"
"Seru tahu kalau banyak orang? Kan rumah jadi rame."
"Berisik."
"Ah, nggak banyak orang juga rumah tetep berisik. Kamu kan suka teriak-teriak?"
"Itu beda lagi."
"Sama aja." Lalu Nania tertawa lagi, sementara Daryl hanya mencebikkan mulutnya.
💖
💖
💖
Bersambung ....
Cerita ini alurnya lambat gaess, jadi mungkin kalian akan dibawa muter-muter dulu nyeritain banyak hal. Muncul masalah kecil yang akan jadi bumbu kehidupan untuk tokoh-tokohnya, atau nggak terlalu mengandung banyak konflik kayak biasanya. Jadi ... Enjoy aja, seenjoy aku nulisnya 😂😂
Bosen? Skip aja. Segampang itu kok. 😁
__ADS_1