The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Dua Kehidupan


__ADS_3

💖


💖


"Apa sudah selesai?" Daryl tiba bersamaan dengan Nania yang baru saja masuk ke dalam rumah.


"Kenapa kamu tidak memberitahuku kalau hari ini ada jadwal cek up?" Pria itu menghampirinya.


"Aku baru ingat." Nania menjawab lalu duduk di sofa.


"Lalu kenapa tidak menungguku? Bukankah sudah aku katakan jika aku akan menemanimu ke rumah sakit? Jangan pergi sendiri!" Pria itu misuh-misuh.


"Aku nggak sendiri, kan ada Regan? Lagia kamu kan lagi kerja? Masa aku gangguin terus?"


"Aku bisa meluangkan waktu sebentar untuk hal penting. Dan kandunganmu memang sangat penting!"


Nania tak menjawab.


"Why you do this to me? Kamu membuatku menjadi suami yang buruk dengan membiarkanmu pergi ke rumah sakit sendirian!"


Nania menghela napas lalu meraih tangan suaminya. "Duduk dulu, Dadd." katanya.


"No! Aku marah kepadamu." Daryl menepis tangan istrinya.


Namun perempuan itu tertawa pelan.


"Jangan tertawa! Aku sedang marah kepadamu!!" Dia berteriak.


"Iya, aku tahu. Maaf." Nania memiringkan kepalanya. "Mau dengar detak jantung anak kita?" tawarnya seraya mengeluarkan ponsel dari tasnya.


"Aku kira janin umur dua bulan itu belum ada detak jantungnya. Tapi ternyata udah ada lho. Dan kedengarannya lucu banget." Dia memutar rekaman suara detak jantung yang dikirimkan oleh dokter obgynnya.


Dan hal itu membuat Daryl terdiam menajamkan pendengaran.


Suara itu terdengar tidak asing, namun terasa menggetarkan hatinya. Dan napasnya yang semula memburu perlahan menjadi tenang.


"Kata dokter dia sehat. Pertumbuhannya bagus dan keadaannya baik." Nania memutarnya berulang kali, yang akhirnya membuat pria itu duduk juga di sofa.


Dia lantas menyerahkan foto hasil USGnya kepada Daryl hingga pria itu bisa melihatnya.


Makhluk yang mulai berbentuk itu terlihat menakjubkan dalam gambar empat dimensi. Kepalanya hampir sempurna, namun tangan dan kakinya masih kecil. Dan posisinya terlihat cukup nyaman di dalam rahim Nania.


"Kata dokter besarnya kira-kira se kepalan tangan aku." Nania menunjukkan kepalan tagannya yang kecil.


"Tapi jenis kel*minnya belum kelihatan, mungkin masih disembunyiin." Perempuan itu tertawa sambil menunjuk bagian tengah foto.


"Lucu ya? Aku beneran bakal jadi ibu sebentar lagi."


Daryl menatapnya dalam diam. Kelopak matanya terasa memanas dan hidungnya memerah. Sepertinya dia hampir menangis?


"Nggak tahu apa aku bisa, tapi aku janji akan jadi ibu yang baik buat dia. Kamu juga kan?" Lalu Nania mendongak kepada suaminya.


"Jangan marah-marah, kan aku ngiranya kamu nggak bisa nganter makanya aku pergi sendiri aja. Lagian sekalian lewat biar nggak bolak-balik lagi."


"Hah!!" Pria itu tak menanggapi ucapannya, namun dia langsung saja merangkul pundak Nania.


"Kamu ibu hamil yang aneh!" katanya seraya menarik perempuan itu ke pelukannya.

__ADS_1


"Mana manja dan cengengmu? Karena waktu Kak Dygta hamil tidak semandiri ini! Rasanya menyebalkan karena aku seperti tidak dibutuhkan!"


"Bukan begitu, kan kamunya banyak kerjaan."


"Tapi ini anakku!"


Nania tertawa lagi.


"Diam! Kamu ibu yang nakal?" Lalu Daryl membingkai wajahnya. Dan sejurus kemudian dia mengecup bibir perempuan itu beberapa kali.


"Lain kali harus denganku, tidak peduli pekerjaanku banyak atau aku sedang sibuk." Katanya yang menyentuh perut Nania dan mengusap-usapnya dengan lembut.


"Gimana kalau kamu lagi diluar kota atau luar negri?"


"Itu lain lagi." Lalu pria itu menciumi wajahnya hingga tak ada sesenti pun yang terlewat. Membuat Nania terus tertawa karenanya.


"Oh astaga! Seharusnya aku langsung pulang kan?" Sementara Regan segera membalikkan tubuh saat dia tiba di ambang pintu dan melihat interaksi tersebut. Membuatnya mengurungkan niat untuk melapor kepada atasannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kau benar-benar akan meninggalkanku, Mirna?" Hendrik menemukan perempuan itu yang telah mengemasi pakaiannya.


"Aku rasa semuanya sudah jelas. Tidak ada alasan kuat yang bisa membuatku tetap tinggal di sini atau di manapun denganmu." Mirna menghentikan kegiatannya lalu berbalik.


Hendrik masih tampak berantakan sama seperti semalam. Namun pria itu tak pergi setelah percakapan dengan Daryl dan Nania yang berlanjut empat mata dengannya. Meski mereka hampir kembali bertengkar karena dirinya yang meminta bercerai.


"Rasa bersalahku kepada Nania akan berkurang dan tidak ada seorangpun di antara kita yang merasa tersiksa lagi." lanjutnya, dan dia menatap wajah suaminya yang tak karuan.


"Dia benar-benar merubah pikiranmu, heh?" Hendrik bangkit dari sofa, dan Mirna mundur beberapa langkah untuk mengantisipasi.


"Perempuan! Sedikit saja diberi keleluasaan akan selalu berbuat sok mampu!"


"Apa?"


"Aku kira dengan begitu kau akan berubah. Kau tahu aku sudah mengorbankan semuanya demi bersamamu, tapi lihat apa yang terjadi? Bahkan setelah semuanya habis kau tetap seperti ini. Jadi …." Mirna menarik tas berisi pakaian miliknya.


"Menjatuhkan talak atau tidak, aku akan tetap pergi." Dia berjalan cepat ke arah pintu.


"Kau yakin?" geram Hendrik.


"Tentu saja yakin, karena hidup dengan Nania akan lebih baik. Dari dulu hanya dia yang mengusahakan segalanya bahkan saat aku tak pernah menghargai apa yang dia lakukan." Perempuan itu menyeka buliran bening yang meleleh di pipinya.


"Dan aku baru menyadari itu setelah semua yang aku punya habis tak bersisa. Dan itu karena kau!" Dia menekan handle pintu dan menariknya hingga benda itu terbuka.


"Sekali lagi aku tanya. Apa kau yakin akan mengikuti anak itu dan meninggalkanku? Kau tak malu? Setelah semua perlakuanmu kepadanya, dan kau masih mau menampakkan wajahmu di hadapannya?"


Mirna terdiam sebentar dan mengingat apa saja yang telah dia lakukan kepada putrinya. 


Bahasanya, tariakannya, tuntutannya dan segala yang dia ucapkan, bahkan pukulan yang dia layangkan kepada anak perempuannya itu lebih dari yang bisa dibayangkan.


"Kau kira dia akan benar-benar menerimamu lagi? Kau pikir dia sebaik itu?" ucap Hendrik lagi yang perlahan mendekat.


"Kau tak lihat pandangan suaminya? Dia sangat membencimu." Pria itu setengah berbisik.


"Sangat-sangat membencimu."


Lalu Mirna mengingat raut wajah Daryl. Dia tahu pria itu tidak suka kepadanya, bahkan sekilas saja siapa pun akan tahu bahwa menantunya itu membencinya. Dan apakah itu akan menjadi penghalang bagi Nania untuk merawatnya?

__ADS_1


"Kau tahu, tidak ada yang membencimu seperti mereka. Nania bahkan melakukannya hanya sekedar untuk melihat, apakah kau masih membutuhkannya atau tidak?"


"Kau salah! Nania tidak seperti itu!" Mirna berbalik.


"Kalau memang aku membutuhkannya, lantas kenapa? Dia anakku. Satu-satunya orang yang akan merawatku jika sudah tak mampu melakukan apa-apa. Aku juga membenci ibuku karena kami tetap miskin, tapi aku merawatnya sampai dia tua. Aku tidak membiarkannya terlunta-lunta di jalan apalagi mengemis kepada orang-orang. Begitupun Nania. Dia pasti akan tetap merawatku meski kebenciannya kepadaku cukup besar. Tapi itu lebih baik dari pada sengsara bersamamu." Perempuan itu kembali berbalik dan dia hampir saja melangkahkan kakinya melewati pintu dan menyongsong kebebasan. 


Baik atau tidak, dirinya akan mendatangi Nania dan meminta kehidupan kepadanya. Meski rasa malunya sangat besar dan dia segan kepada Daryl, tapi dirinya tak punya pilihan lain. Dan putrinya adalah hal paling logis untuk saat ini.


"Kau yang memilih, Mirna. Sejak awal kau yang memilih untuk bersamaku." Hendrik masih berusaha mencari akal agar perempuan itu tak meninggalkanya. Bisa gila dirinya jika itu terjadi.


Mirna berhenti lagi, lalu dia menoleh. "Ya, dan aku salah sudah meninggalkan suamiku. Padahal dia bersedia terus berusaha untuk kami meski tidak seperti yang aku mau." Tiba-tiba saja wajah Arsyad yang kecewa saat dirinya memutuskan untuk berpisah melintas di pelupuk mata. Lagi-lagi membuatnya merasa menyesal.


"Padahal itu lebih baik dari pada hidup bersamamu." katanya lagi, dan dia hampir saja keluar.


"Kalau begitu aku akan menghabisi Nania. Maka tak ada lagi siapa pun yang akan menjadi alasanmu untuk pergi karena kau tak punya siapa pun lagi selain aku."


Langkah Mirna terhenti.


"Pergilah, tapi aku akan mendapatkan Nania dan menghabisinya. Atau harus aku sebut 'mereka'? Dia sedang mengandung, bukan?"


"Kau tidak akan bisa melakukannya!" Perempuan itu terpaksa berbalik lagi.


"Tentu saja bisa."


"Tidak mungkin! Dia dijaga ketat, bahkan akupun tidak bisa mendekat."


"Karena kau bodoh!"


Mirna menelan ludahnya dengan susah payah.


"Pergilah, maka aku akan menghabisi kalian berdua dengan mudah. Bagiku, memb*nuh perempuan sepertimu bukan hal sulit. Bahkan jika aku mau, aku bisa melakukannya sekarang juga, tapi aku akan memberimu kesempatan menemui putrimu untuk terakhir kali sebelum aku …."


"Jangan lakukan!" Mirna akhirnya kembali.


"Bu*uh saja aku, tapi jangan Nania.  Biarkan saja dia!"


Hendrik malah terkekeh dan dia kembali menjatuhkan tubuhnya di sofa.


"Hendrik!! Jangan ganggu Nania!" Perempuan itu masuk perangkap dan kembali ke dalam.


"Coba saja kau pergi, maka siapa pun yang berhubungan dengan mu tidak akan mungkin aku lepaskan."


"Tidak!! Biarkan Nania, jangan pernah mengganggunya. Aku tidak akan membiarkanmu melakukannya!"


"Maka tetaplah di sini dan jangan pernah mencoba menghubunginya jika aku tak memintamu untuk melakukannya." Dan pria itu mendapatkan kekuasaannya lagi. Jika sudah begini, maka sudah bisa dipastikan Mirna tak akan meninggalkannya.


"Ayo, kembalilah dan tutup pintunya." katanya dengan tenang namun kalimatnya penuh intimidasi.


Dan tak ada yang mampu Mirna lakukan selain mengikuti ucapannya. Karena hal itu sudah seperti perintah baginya.


"Kunci pintunya, dan tetaplah bersamaku jika kau ingin putrimu tetap hidup." Pria itu memenangkan hari.


💖


💖


💖

__ADS_1


Bersambung ....


Kok begitu?


__ADS_2