
💖
💖
Daryl berkali-kali menatap jam tangannya. Pertemuan terakhir sore itu terasa lebih lama dari perkiraan, padahal dia berencana pulang lebih awal.
Orang dari agensi di depannya masih berbasa-basi sementara dirinya merass sudah kehabisan waktu.
Dia menghembuskan napas pelan sebagai isyarat kepada Dinna, dan perempuan itu sudah mengerti, lalu memgambil alih situasi begitu percakapan terhenti.
"Baik Bu, ini surat kontrak dan salinannya mohon ditandatangani." Dia menyerahkan lembaran masing-masing dokumen kepada Daryl dan pihak agensi.
Mereka membubuhkan tanda tangan masing-masing, dan pertemuan itu pun berakhir.
"Aku tidak suka dengan perempuan itu. Dia terlalu banyak bicara." Mereka dalam perjalanan kembali ke Fia's Secret.
"Dia sedang membangun koneksi, Pak. Maklum, agensinya baru berdiri dua tahun belakangan." Dinna memasukkan data ke tabletnya.
"Koneksi? Dengan basa-basi tidak berfaedah seperti itu? Dia jelas tidak berpengalaman."
"Ya. Dari data yang kita punya, dia merupakan anak dari pemilik butik terkenal di Jakarta."
"Butik yang mana?"
Dinna menunjukkan layar tabletnya.
"Luminous? Baru tahu ada butik dengan nama itu? Bukankah agensinya juga bernama Liminous?"
"Itu cukup terkenal, Pak. Sedang trend sekarang ini. Koleksi pakaiannya bagus-bagus dan mereka terkenal di kalangan artis."
"Kau ini bicara apa? Aku tidak tahu dengan butik itu. Kalau benar sudah terkenal aku pasti sudah tahu." Daryl dengan sombongnya, membuat sekretarisnya itu memutar bola mata.
"Aku hanya akan mengantarmu sampai depan saja, harus cepat pulang sebentar lagi." ucap Daryl setelah mereka hampir tiba di gedung majalah terkenal itu.
"Tidak apa, Pak."
Lalu Rubicon hitam itu berhenti tepat di depan gerbang. Belum Dinna berterima kasih, mobil itu segera pergi begitu dia turun.
"Ugh! Dasar pria aneh!" Permpuan itu menggerutu, kemudian dia masuk ke dalam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Tante, aku belum nemuin yang kayak Heimlich." Zenya malah kembali ke semak-semak, padahal hari hampir petang.
"Udah sore, Zen. Kamu kan udah mandi, kenapa malah ke sana lagi?" protes Nania yang sedang mengikat rambut Anya di kursi taman.
"Aku kan mau cari ulat lagi? Biar ada yang gantiin Heimlich." jawab anak itu yang belum puas dengan apa yang dilakukannya.
"Nggak akan ada, Zen." Nania berkali-kali mengatakannya.
"Masa? Kan di sini juga sama kayak di resortnya Papa Arfan? Banyak pohon sama bunga?"
"Mungkin lingkungannya beda."
"Kenapa beda?"
"Ya nggak tahu."
"Eh, ini ada." Zenya berteriak kegirangan.
"Hah? Masa?"
"Hu'um. Tapi ada bulunya. Mana warna merah lagi?"
"Apa?"
"But it's cute!" Zenya dengan suara yang riang.
"Jangan Zen!!" Nania berteriak kemudian bangkit dan berlari menghampiri anak itu.
"Nanti kamu gatal-gatal!" Namun terlambat, karena Zenya sudah memetik daun yang diatasnya terdapat ulat besar dengan bulu coklat kehitaman.
Nania bergidik.
"Look Tante Nna, isn't it cute?" Zenya dengan riangnya.
"Nanti kamu gatal-gatal, Zen!" ucap Nania lagi, lalu mundur.
__ADS_1
"No. Aku kan nggak pegang dia. Lihat?" Dia menyodorkannya kepada Nania.
Perempuan itu terus mundur.
"Sedang apa kalian ini?" Daryl tiba-tiba saja muncul di belakang, dan Nania segera menyelinap untuk meyembunyikan dirinya.
"Eh, ada Om Der? Look Om, aku nemuin temenya Heimlich. Dia lebih lucu." Zenya malah menyodorkannya kepada Daryl, dan segera saja kedua bola mata pria itu membulat seketika.
Ulat itu bergerak-gerak diatas daun anturium besar yang Zenya petik dari tangkainya.
"Buang Zen! Ulatnya berbahaya." Pria itu bergidik ngeri.
"No! It's cute!" Anya ikut melihat.
"Cute apanya? Dia akan mebuatmu gatal-gatal parah!!" Daryl berteriak.
"Yeah, if you touch it. But i'm not." Zenya dengan keusilannya tetap mendekati sang paman.
"Jangan bawa ke sini, Zen!"
"Om masih takut? Ini kan nggak bahaya."
"Nggak bahaya kepalamu!!" Daryl pun mundur seraya meraih tangan Nania dan menggenggamnya dengan kencang.
"Drop it, Zen! And kill it!" Daryl berteriak lagi.
"Nggak! Aku mau masukin lagi ke toples." Anak itu segera berlari ke arah rumah bermain diikuti oleh Anya.
"No, Zen!! Astaga, ada apa dengan anak itu?" Namun Daryl hanya menatap di tempatnya.
"Keponakan kamu luar biasa." Nania keluar dari persembunyiannya di belakang punggung suaminya.
"Luar biasa apanya? Mereka aneh! Besok aku harus menyuruh orang untuk menebang pohon-pohon di sekitar sini. Bahaya!" Daryl menjawab.
Nania memiringkan kepala untuk melihat pria itu lebih jelas. Napasnya tampak berhembus cepat dan wajahnya memucat.
"Kamu takut?" Lalu dia bertanya.
"Hum? Apa?"
"Sembarangan kamu! Tentu saja tidak. Kenapa aku harus takut pada makhluk kecil seperti itu?" Daryl bereaksi.
"Masa? Hahaha. Tapi tadi kayaknya kamu mau lari deh?" Nania membayangkan, dengan tubuh tinggi menjulang, dengan kesombongan dan keberaniannya yang diatas rata-rata, pria yang merupakan suaminya itu ternyata takut pada hewan yang dia sebut kecil.
"Mana ada aku lari kerena takut oleh seekor ulat? Kamu ngarang ya? Aku hanya jijik." Daryl berujar.
"Masa?" Nania tertawa lagi.
"Hah! Kamu juga tadi ketakutan sampai bersembunyi di belakangku."
"Ya emang aku takut. Ulat bulu itu menyeramkan." jawab Nania.
"Oh ya?"
"Ya. Belum lagi nanti kamu gatal-gatal? Hiii … nggak kebayang!"
"Kalau ulat yang lain kamu tidak takut?"
"Heilmich? Nggak lah, dia lucu."
"Umm … maksudku … yang lain." Daryl tersenyum geli.
"Apaan?"
"Eh, itu bukan ulat sih. Kan naga?" Lalu pria itu tertawa.
"Hah?"
"Iya, nagaku. Eragon." katanya, yang meraih tangan Nania kemudian menariknya ke dalam rumah.
"Eeee …."
"Ayo, kita mandi? Aku mau mengajakmu pergi malam ini."
"Nggak! Aku udah mandi tadi." Nania menolak.
"Mandi lagi saja denganku."
__ADS_1
"Udah ah, tadi mandinya lama sama Anya sama juga Zenya."
"Apa?" Daryl berhenti di teras.
"Iya, tadi mandiin merekanya lama." Nania mengulang kata-katanya.
"Anya da Zenya tidak pernah dimandikan bahka oleh pengasuhnya. Mereka sudah bisa mandi sendiri!" ucap Daryl yang memutar tubuhnya.
"Aku yang sengaja mandiin mereka. Habisnya tadi pada kotor karena masin di taman cari serangga."
Daryl mengerutkan dahi.
"Kamu mandi dengan Zenya?"
"Cuma mandiin doang."
"Tapi kamu melihat dia?"
"Ya, sama Anya juga."
"Aaaa, kamu memandikan Zenya!"
"Memangnya kenapa?"
"Dia laki-laki!"
"Dia masih anak-anak!"
"Tapi dia anak laki-laki!"
"Astaga! Apa itu maksudnya!" Nania menepuk kepalanya, frustasi.
"Kamu memandikan laki-laki lain selain aku!" Daryl menjelaskan maksud perkataannya.
"Ya tuhan!! Itu cuma Zenya!"
"Tetap saja!"
"Hah!" Nania menggeram.
"Sudah cepat ke atas!" Lalu dia mendorong Daryl ke dalam rumah.
"Kamu ini keterlaluan!!" Pria itu masih mengoceh.
"Diam!"
"Kalau ada Zenya pasti lupa kepadaku!" merek naik ke lantai atas di mana kamar berada.
Nania memutar bola mata. Lalu dia menarik jas dari tubuh suaminya.
"Bisa-bisanya mandi dengan Zenya?"
"Cuma mandiin dia, dan ada Anya juga! Mereka kan anak-anak."
"Dan aku suamimu." Daryl mendorong pintu dengan kesal.
"Ya, terus?" Dia melepaskan kancing kemejanya.
"Seharusnya kan …."
"Sana masuk ke kamar mandi!" Lalu Nania mendorongnya ke tempat berbilas setelah dirinya pun melepaskan pakaian.
"Kamu juga mau mandi? Katanya tadi sudah?"
"Untuk menggantikan waktu karena aku memandikan Zenya." ujar Nania dengan nada kesal yang kemudian menyalakan shower di atas kepala suaminya.
Sedangkan pria itu hanya menyeringai seperti biasa. Dia merasa senang karena selalu berhasil memancing istrinya.
💖
💖
💖
Bersambung ...
Vote dulu gaess😁😁
__ADS_1