The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Pengaduan


__ADS_3

💖


💖


Daryl menatap dari balik kaca di dalam ruang olah raga ketika Nania berdiri di ambang pintu rumah mereka. 


Perempuan itu seperti biasa mengulurkan kakinya keluar, namun kemudian mundur. Dan dia kembali setelah beberapa saat untuk melakukan hal yang sama.


Atau di menit berikutnya Nania sampai ke teras lalu ke taman, namun tetap dia kembali setelah berada di luar rumah selama beberapa saat.


Daryl meletakkan barbel di tempatnya lalu dia mendekati jendela sambil menyeka keringat di wajah. Dan pandangannya tetap dia tujukan ke arah rumah.


Pria itu hampir keluar ketika di saat yang bersamaan Anya dan Zenya berlari dari teras rumah kedua orang tuanya.


"Tante Nnaaaaa!!" 


"Anya, Zenya? Kok udah ke sini?" Terdengar sahutan dari ambang pintu dan Nania segera memeluk kedua anak itu.


"Kok pagi-pagi udah ke sini? Kan harusnya sekolah?"


"Mampir dulu, kata Mommy mau lihat Tante Nna." Anya menjawab.


"Tante sehat." 


"I know, tapi kata Mommy harus tetap lihat."


Nania terdengar tertawa, dan dia sangat berbeda dari pada ketika sedang bersamanya.


"Masuk Kak? Udah sarapan belum?" Lalu Nania beralih kepada Rania yang muncul kemudian.


"Belum, ini sengaja  mampir untuk sarapan bersama." Rania menjawab, dan mereka hanya berdiri di teras.


Perempuan itu tampak memeriksa keadaan Nania. Dan dia mencari tahu apa yang mungkin bisa dilakukan jika sesuatu terjadi.


"Ayo kita ke rumah besar?" ajak Rania.


Nania mencondongkan tubuhnya untuk mengintip ke arah ruang olah raga di samping rumah di mana dia ketahui suaminya berada.


Dan ya, Nania melihat jika pria itu sedang mengawasi dari dalam sana.


"Umm …."


"Kita udah lama nggak sarapan sama-sama, kan?" Sementara Rania menoleh ke arah rumah besar ketika mendengar panggilan Sofia.


"Ayo, sarapannya sudah siap." katanya.


"Ayo Nna."


"Ee … sebenarnya aku … udah bikin sarapan. Sayang kalau nggak dimakan, jadi …." 


"Mauuu!!" Lalu Anya dan Zenya menerobos masuk ke dalam rumah dan segera menuju meja makan di mana beberapa makanan untuk sarapan sudah tersedia.


Wafel, puding buah dan setup coklat bertabur kismis menjadi menu yang Nania sediakan pagi itu. Yang tentu saja membuat anak-anak ingin segera menyantapnya.


"Aku mau makannya di sini aja, Mommy. Tante Nna masaknya yang enak-enak." ujar Anya, dan diamini oleh Zenya.


"Ih, mungkin itu buat Om Der." Rania ikut masuk ke dalam dan menatap ruangan itu yang serapi biasanya. Bahkan terlalu rapi untuk ukuran pasangan muda yang meninggalinya.


"Om Der makannya di rumah Oma aja deh." celetuk Zenya, bersamaan dengan pria yang mereka maksud masuk ke dalam rumah.


"Ya, Om Der kan makannya di rumah Oma?" Anya menambahi.


Daryl tak menjawab, namun dia hanya melenggang melewati mereka menuju ke kamarnya di lantai dua.


"Nggak usah dipikirin. Anggap aja kopaja lewat." Rania menepuk pundak Nania, dan dia mengerti apa yang perempuan itu rasakan.


"Ya udah, anak-anak makan di sini aja. Nanti kalau udah selesai langsung ke rumah Oma ya?" ujar Rania kepada anak-anaknya.


"Oke, Mommy." Anya dan Zenya menjawab sambil mengacungkan kedua ibu jari mereka, sementara mulut sudah penuh dengan makanan.


***

__ADS_1


"Besok aku latihan di Sentul, jadi kayaknya anak-anak di sini ya? Hari Jum'at biasa, langsung pergi." Mereka sudah berkumpul di ruang makan dan bersiap untuk sarapan bersama.


"Biasanya kan begitu." Sofia mengisi piring Satria dengan roti isi lalu dia meletakkan su*su hangat di sampingnya. Begitu juga untuk dirinya.


"Iya, sekalian juga biar Nania ada temennya. Dia kayaknya masih belum mau keluar rumah." Rania mulai menikmati makanannya.


"Ngomong-ngomong soal itu, beberapa hari ini gerak-geriknya memang agak aneh. Dia seperti takut keluar rumah." Sofia seperti mendapatkan jalan untuk berbicara.


"Ya gimana nggak takut. Terakhir kali dia keluar, bayi dalam kandunganya meninggal." Dan Rania juga mendapatkan cara memberi tahu keadaan istri dari iparnya itu.


Sofia dan Satria saling pandang.


"Perlu nggak sih kita bawa dia ke psikiater? Mungkin ada sesuatu yang harus kita obati selain fisiknya?" ujar Rania ketika di saat yang bersamaan Daryl muncul.


"Mama kira kamu tidak makan di sini, Nak?" Lalu perhatian mereka teralihkan saat pria itu duduk di salah satu kursi yang kosong.


"Yeah, di sana sudah ada anak-anak kan?" Daryl menyesap kopi begitu cangkirnya sang ibu sodorkan.


"Menurut kamu, kalau Nania kita bawa ke psikiater gimana?" Segera saja Rania melontarkan pertanyaan kepada adik iparnya.


"Psikiater?" Daryl mendongak.


"Iya. Bukan apa-apa, aku khawatir kalau ingat riwayatnya traumanya dia. Takutnya berpengaruh sama mentalnya dia yang sekarang."


Daryl terdiam. Dia baru saja ingat soal itu.


"Kamu izinin nggak? Bukannya aku sok tahu, tapi keadaannya cukup mengkhawatirkan." ucap Rania lagi.


"Mama rasa memang perlu, bukankah seminggu setelah pulang dari rumah sakit seharusnya dia check up? Tapi ini sudah mau dua belas hari dia terus menolak. Alasannya merasa pusing dan tidak kuat." Sofia akhirnya punya keberanian untuk berbicara.


"Belum lagi kemarin-kemarin dia pendarahan lagi." Dan Rania semakin melihat jalan untuk berbicara lebih banyak.


"Pendarahan?" Semua orang secara serentak.


"Nggak ada yang tahu ya?" Dan Rania pura-pura terkejut meski sebenarnya dia sengaja.


"Eh lupa. Kan cuma Mima sama mbak-mbak lain yang tahu ya? Waktu itu kita lagi ke klinik kan?" sabungnya, dan dia dengan santainya melanjutkan makan.


"Ya pendarahan lah, nifasnya kan belum selesai tapi dia malah pendarahan lagi. Kayaknya karena stress." Lalu dia berhenti sebentar bicara saat melihat para asisten rumah tangga melintas.


"Mima?" Sofia memanggil salah satu di antara mereka.


"Nggak usah panggil, mereka cuma menjalankan tugas, Mah. Apalagi Nania yang sampai memohon-mohon untuk nggak ngasih tahu kita. Itu pasti ada alasannya."


"Kenapa begitu? Dia pikir keadaannya baik-baik saja ya? Dia tidak tahu kalau itu berbahaya? Atau tidak peduli? Kenapa?" Perempuan itu hampir saja bangkit namun Satria segera menahannya.


"Tenang dulu lah, Sayang." Pria itu menariknya untuk kembali duduk.


"Tapi kita tidak boleh diam saja. Aku mau membawanya ke rumah sakit. Bagaimana kalau terjadi apa-apa?" Sofia menolak untuk kembali.


"Sayang …."


"Ini mungkin maksudnya Nania, Mah." Dan ucapan Rania segera menghentikannya.


"Dia itu ketakutan, ngerti nggak sih?"


"Ketakutan apa?"


"Sama reaksi kita."


Sofia akhirnya duduk kembali.


"Kadang kita ini suka berlebihan kalau bereaksi, dan itu bikin orang kayak Nania ketakutan."


"Apa maksudmu dengan menyebut orang seperti Nania?" Daryl merasa tidak terima dengan ucapan kakak iparnya.


"Ya orang kayak Nania. Dia mungkin merasa tertekan karena banyak hal yang terjadi di hidupnya. Kamu lebih tahu lah dari aku, kamu kan suaminya? Masa harus aku jelaskan?"


Dan Daryl hampir kembali berbicara ketika perempuan itu mendahuluinya.


"Mungkin dia merasa terpojok karena apa yang udah terjadi, ditambah lagi rasa bersalah. Ya jadinya begitu. Kata Mima dia malu kalau orang-orang tahu soal pendarahannya kemarin. Padahal kenapa harus malu ya? Kan kalau ada yang tahu bakal ditolong." Dengam ringannya dia bicara.

__ADS_1


"Kamu tahu soal ini, Daryl?" Sofia beralih kepada putranya.


"Aku …."


"Eh, tangan kamu kenapa? Kok aku baru ngeuh ya? Kecelakaan di mana?" Sekalian saja dia membahas soal itu. Rasa-rasanya mulutnya sudah gatal karena dia mengetahui apa yang terjadi di rumah adik iparnya. Tidak peduli jika orang-oramg akan menyebutnya terlalu ikut campur, tapi Rania merasa ada sesuatu yang harus dia tangani dari sini.


Dan pandangan Sofia juga Satria beralih pada tangan kanan putranya yang masih berbalut perban. Mereka juga baru menyadari soal itu.


"Umm …." Namun cepat-cepat Daryl menyembunyikannya meski sebenarnya mereka sudah melihat.


"Kenapa kamu, Daryl?" Sofia bertanya.


"Tidak, Mom. Hanya sedikit terluka."


"Apa yang terjadi kepadamu?"


"Tidak ada, hanya …."


"Apa ini ada hubungannya dengan meja rias yang hancur?" Lalu akhirnya Satria pun buka suara.


"Meja Rias?" Sofia kembali beralih.


"Meja rias Nania yang dibuang Pak Maman kemarin?" Sang ayah bersedekap di tempat duduknya. Dan tatapan semua orang kini tertuju kepadanya. 


Daryl terdiam.


"Kau pikir dengan melampiaskan amarahmu seperti itu akan membuat masalah selesai?" Dimitri pun ikut bersuara, meski dia sedikit berhati-hati.


"Aku paham sudah watakmu seperti itu, dan mungkin tak ada hal lain yang bisa kau lakukan. Tapi apa kau pikir ini tidak akan berdampak buruk bagi istrimu? Kau lupa bagaimana dia dulu, dan siapa yang membawanya ke sini?" Sang kakak akhirnya tak tahan untuk berbicara.


"Daryl!" Dan Sofia pun kembali bereaksi.


"Itu rumah tanggamu, dan Nania adalah istrimu. Maka semua urusan adalah hakmu untuk menyelesaikannya, tapi aku tidak bisa tinggal diam jika sesuatu yang salah terjadi. Dan menurutku kau salah."


Daryl mendongak ke arah kakaknya.


"Kau pikir hanya kau yang sakit hati karena kehilangan? Lalu bagaimana dengan Nania? Kau kira dia biasa saja sehingga menganggap jika dia pantas  mendapat perlakuan seperti itu darimu?" 


"Tahu apa kau dengan urusanku? Dia mengadu kepadamu?" Daryl menjawab.


"Kau pikir istrimu itu pengadu? Lalu bagaimana selama ini dia menjalani hidupnya bahkan sebelum bertemu denganmu? Aku rasa dia tidak akan mendapat kekerasan lebih lama jika suka mengadu. Nania akan selamat dari orang-orang seperti keluarganya dan seharusnya dia sudah hidup bahagia, entah itu sendiri ataupun bersama orang yang menemaninya. Bukannya malah menderita seperti ini."


Daryl bangkit sambil menggebrak meja.


"Nggak usah gebrak-gebrak meja, nggak sopan! Ada orang tua juga?" Rania menengahi perselisihan yang hampir terjadi di antara suami dan adik iparnya.


"Aku bilang soal ini bukanya mau berantem. Tapi cuma biar kita semua ngerti. Jangan cuma lihat dari luarnya doang, padahal di dalam Nania lagi down. Cuma karena dia selalu nolak dan bilang baik-baik aja bukan berarti nggak butuh kita. Dia begitu karena udah terbiasa dianiaya. Masa kita nggak ngerti? Kesalahannya cuma satu, yaitu nggak denger omongan kamu. Tapi apa selama ini dia nggak pernah berbuat baik? Jangan hanya karena satu kesalahan terus bikin kamu lupa sama apa yang udah dia lakukan?" Rania berbicara dengan tenang.


"Itupun kalau kamu mau ngerti, Der. Tapi kalau nggak ya kayaknya aku yang harus bawa dia ke dokter. Mungkin tinggal di NMC beberapa minggu lebih baik dari pada di sini." ujar Rania yang membuat kedua mata Daryl terbelalak.


"Nggak usah kayak gitu juga kali. Kan aku cuma nanya sama ngasih saran. Sebelum semuanya terlambat."


"Mommy, Mommy!!!" Anya dan Zenya memasuki ruang makan bersamaan.


"Apa? Jangan bikin ribut ah. Di sini udah ribut kan?"


"Kata Tante Nna sekolahnya nanti terlambat! Soalnya Tante Nna jiga mai sekolah." ucap Anya yang tergesa-gesa mengambil tasnya.


"Astaga! Sampai lupa kan?" Rania menepuk keningnya sendiri.


"Ya udah, buruan kita berangkat." Perempuan itu segera beranjak diikuti oleh Dimitri. Yang kemudian berpamitan kepada kedua orang tuanya. Namun sebelum pergi dia berhenti di dekat Daryl.


"Dengerin ya, adik ipar. Dunia itu nggak semuanya tentang kamu doang. Kadang ada waktunya kita juga harus meraba perasaan orang lain. Tapi itu cuma pendapat aku aja lho, terserah kamu mau denger atau nggak." Rania menepuk pundak adik iparnya kemudian segera pergi.


💖


💖


💖


Bersambung ....

__ADS_1


Mommy Oneng In action🤭🤭


__ADS_2