
💖
💖
Ini sudah ke empat kalinya Nania memeriksa ponsel, namun tak ada pesan atau pun panggilan dari suaminya. Padahal biasanya pria itu akan menghubungi setidaknya dua jam sekali sekedar untuk berbasa-basi atau membahas hal-hal konyol.
Dia melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul dua siang dan ini sudah lewat dari jam makannya.
"Kak Daryl nggak ke sini?" Amara bertanya. Pasalnya, gadis itu tak bicara sama sekali sejak pagi.
"Kayaknya nggak. Aku telfon nggak diangkat, di chat apalagi. Dari pagi kayaknya sibuk?"
"Banyak event ya?"
"Mungkin. Soalnya hari ini ada seleksi model baru di Fia's Secret."
"Oh, nambah model lagi?"
"Kayaknya."
Amara memegangi perutnya sambil menarik dan menghembuskan napasnya pelan-pelan.
"Kenapa?" Nania memiringkan kepala.
"Nggak apa-apa, cuma babynya lagi semangat hari ini."Â
"Masa?"
"Nih?" Amara menunjuk perutnya yang terlihat bergerak-gerak.
"Emang gitu ya kalau udah mau lahiran?"
"Sebagian ada yang begini, sebagian juga nggak. Nggak semua kehamilan sama."
"Gitu ya?"
"Ya."
Nania terdiam sebentar kemudian melihat ke sekeliling kedai yang tidak seramai tadi.
"Aku mau antar makan siang dulu lah." Dia bangkit dan bergegas masuk ke pantry.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dia tiba di gedung Fia's Secret setelah kurang lebih setengah jam mengendarai motor maticnya. Melepaskan helm dan hoodie, kemudian merapikan pakaiannya yang sebelumnya sudah dia ganti di kedai tadi dengan kemeja polos agar tak terlalu memperlihatkan pekerjaannya sebagai kurir pengantar makanan.
Nania kemudian masuk ke dalam yang keadaannya cukup ramai. Dan segera saja, orang-orang yang mengenali menyambutnya dengan anggukkan sopan.
"Hei? Kamu ke sini?" Dinna menyapanya saat Nania hampir memasuki lift.
"Iya Kak. Mau antar makan. Kayaknya lagi sibuk ya?" Dia menunjukkan tote bag yang dibawanya.
"Iya, ini baru mulai sesi kedua. Model yang datang hari ini cukup banyak. Mungkin karena hari pertama."
"Hmm … pantesan nggak datang ke kedai? Ditelfon juga nggak jawab."
"Iya, Pak Daryl kalau soal seleksi-seleksian sangat serius, nggak bisa diganggu."
"Hu'um, makanya aku antar makanannya ke sini."
"Duh, nggak ngasih tahu juga kalau udah makan ya tadi? Kebetulan aku sama temen-temen order jadi Pak Daryl juga ikut order sekalian. Aku kira kamu nggak akan antar?"
"Gitu ya?" Nania dengan raut kecewa.
"Eh tapi, antar aja. Siapa tahu nanti dimakan, soalnya tadi Pak Daryl kayak kurang sreg sama makanannya. Kan biasa kamu yang bawain?"
"Masa?"
"Iya. Sana ke studio aja biar sekalian ketemu."
"Kan lagi sibuk?"
"Nggak apa-apa kalau dua menit kayaknya bisa. Studionya di sana." Dinna menunjuk tempat di sisi lain gedung yang Nania ingat pernah dimasukinya saat pemotretan Anya dan Zenya.
"Oke." Dia pun bergegas menuju ke sana.
Dan memang keadaannya cukup ramai saat itu. Beberapa orang keluar masuk studio termasuk beberapa perempuan cantik dengan dandanan mempesona.
Pakaian-pakaian indah dan menarik mereka kenakan untuk mengesankan penyeleksi.
Nania melongok ke dalam dan dia melihat suaminya yang berada di balik meja bersama beberapa staf dan mereka tampak serius berdiskusi sementara seorang perempuan cantik dengan pakaian aduhai di depan set tengah berlenggak-lenggok atas arahan fotografer.
Dia menatap ke sekeliling lalu pada dirinya sendiri yang hanya mengenakan skinny jeans, kemeja polos dan sepatu kets sehari-hari.
Lalu suara-suara dikepalanya berdengung seperti sekumpulan lebah yang tengah mencari tempat berkoloni.
Lihat dirimu?Â
Kau akan membuatnya malu!Â
Kau tak lebih dari seorang kurir dan pelayan kedai!Â
Sekali upik abu tetaplah upik abu!
Nania memejamkan mata, lalu sejurus kemudian dia berbalik dan berniat untuk keluar saja. Hingga tanpa diduga dia menabrak seseorang di belakang, membuat totebag yang dibawanya terjatuh ke lantai dan isinya berhamburan.
__ADS_1
"Hey!! Kau tak punya mata ya?" Seorang perempuan dengan penampilan anggun berteriak kepadanya. Membuat perhatian beberapa orang teralihkan termasuk Daryl dan stafnya.
"Lihat!! Kau mengotori sepatuku!" Dia menunjuk pada makanan yang berserakan di antara kakinya.
"Ma-maaf." Nania tergagap, dan dengan refleks dia berjongkok lalu membersihkan benda tersebut dengan tangannya.
"Singkirkan tangan kotormu dari sepatuku! Kurir rendahan!" Perempuan cantik itu mundur ke belakang.
"Maaf." ucap Nania lagi.
"Enak saja minta maaf, bahkan gajimu sebulan tidak akan cukup untuk membeli gantinya!" bentaknya lagi membuat Nania mengkeret di tempatnya.
"Berapa harga sepatumu?" Suara Daryl menginterupsi, dan suasana seketika menjadi hening ketika pria itu datang menghampiri.
"Umm …." Perempuan yang diperkirakan sebagai model itu beralih kepadanya.
"Jawab pertanyaanku! Berapa harga sepatumu?" Daryl berhenti ketika jarak mereka sudah dekat.
"Maaf, Pak. Ini hanya …."
"Jawab kataku!!" Pria itu berteriak.
"Lima juta? Sepuluh juta? Lima puluh juta? Sampai-sampai kau merendahkan orang seperti itu?" Suaranya tentu saja menggelegar ke seluruh ruangan dan membuat semua orang terdiam.
"Dia sudah minta maaf, apa kau tuli?" Bentaknya, dan hal tersebut membuat Nania bergeser ke belakang.
"Sa-saya …."
"Kau pikir sikapmu ini bagus? Dengan pakaian dan penampilan seperti itu kau kira berhak merendahkan orang?" Daryl tidak menurunkan volume suaranya sehingga Nania mendekat kemudian meremat lenganya.
"Kau tidak tahu siapa yang kau bentak ini?" katanya lagi, dan pandangan semua orang tentu saja tertuju kepada Nania.
"Berani-beraninya kau membentak istriku ya?" jelasnya, kemudian dia menarik nania ke dekatnya.
"Istri?" Semua orang kecuali staff Fia's Secret tampak terkejut.
"Agensi mana yang mengirimmu, heh?" tanya nya, masih dengan nada kerasnya.
Perempuan di depannya tak langsung menjawab karena masih terkejut dengan hal itu.
"Aku tanya, dari mana?" Daryl membentak lagi, dan Nania kembali meremat tangannya. Kali ini lebih keras.
"Glows Up Models Pak." Dinna mendekat.
"Oh, … Pantas. Model-model dari sana memang sombong sepertimu ya?" ujar pria itu.
"Aku baru lihat ada model seperti ini, padahal yang hari ini datang sudah ratusan. Tapi mereka bersikap biasa saja?"
"Umm … Maaf, Pak." Perempuan itu menyadari kelakuannya.
"Ya Pak?"
"Aku tidak mau menerima model dari Glows Up untuk audisi apa pun. Apalagi untuk jadi model utamanya Fia's Secret."
"Maaf Pak?"
"Model Glows Up dilarang memasuki Fia's Secret! Catat itu di bukumu!" Daryl memperjelas ucapannya.
"Ba-baik Pak." Dinna melakukan apa yang atasannya perintahkan.
"Hh … seseorang gantikan aku sebentar, aku lelah." Pria itu menarik Nania keluar dari studio.
"Dan bayarkan uang untuk menggantikan sepatunya yang kotor karena istriku!!" Dia berteriak lagi.
***
"Kenapa malah ke sini?" Mereka duduk di sofa ruang kerjanya.
"Antar makan."
"Aku tidak minta."
"Habisnya kamu bikin aku khawatir. Aku telfon nggak diangkat, di chat juga nggak dibaca. Boro-boro dibalas." Nania memainkan ujung kemejanya.
"Aku sibuk, Sayang!" Daryl mencondongkan tubuhnya ke arah gadis itu.
"Aku tahu."
"Terus kenapa kamu malah memaksa datang ke sini?"
"Karena jam makanmu sudah lewat."
Daryl terkekeh.
"Ini Jakarta, aku bisa menemukan makanan di mana saja. Lagi pula Dinna sudah memesankannya untukku. Aku sudah makan tadi."
"Aku kan nggak tahu, kamu nggak ngasih tahu aku." Nania menundukkan wajahnya.
"Ck! Astaga! Aku lupa kalau sudah punya istri!" Pria itu merebahkan tubuhnya pada sandaran kursi.
"Maaf." ucap Nania kemudian.
"Kenapa minta maaf?"
"Aku bikin kacau audisinya?"
__ADS_1
"Tidak, siapa bilang?"
"Tapi tadi …."
"Hanya berhenti sebentar, sekarang pasti dimulai lagi." Pria itu bangkit kemudian menari Nania sehingga mereka berdekatan.
"Tapi aku udah bikin kamu malu."
"Malu kenapa?"
"Kejadian tadi?"
Daryl tertawa pelan.
"Tidak. Istriku datang dan membawa makanan kenapa membuatku malu? Justru aku senang."
"Masa?" Nania mengangkat wajahnya.
"Tentu saja, kamu memperhatikan suamimu?" Pria itu tersenyum gemas.
"Tapi sayang sekali makanannya tumpah ya? Padahal aku masih lapar. Makanan yang Dinna belikan tidak seenak masakanmu."
Nania menatap wajah suaminya.
"Kamu malah mikirin makanannya?" katanya, sedikit heran.
"Memang itu yang penting kan?"
"Modelnya gimana? udah kamu marah-marahin? Kamu tolak juga?"
"Ah, model masih banyak bukan hanya dia. Lagi pula aku tidak suka kalau ada yang lebih sombong dariku."
"Apa?"
"Iya, dia sombong sekali. Perkara sepatu yang diinjak dibawah kaki saja membuatnya sombong seperti itu, dan aku tidak suka."
Nania terdiam.
"Sudah, jangan sedih. Aku kan sudah mengganti sepatunya untukmu?"
"Itu … Berlebihan." Nania bergumam.
"Tidak ada yang berlebihan. Bagi seorang suami, membela harga diri istrinya adalah suatu keharusan. Dia merendahkanmu di depan mataku, mana bisa aku diam? Laki-laki macam apa aku ini?"
Nania merasakan kedua matanya mulai memanas, dan sesuatu seperti mengganjal di tenggorokkannya.
"Sudah, sudah jangan menangis." Pria itu mengusap-usap punggungnya, lalu tertawa.
"Aaaaa … Kamu bikin aku sedih!!" Nania menghambur ke dalam pelukannya lalu menangis.
"Lho, kenapa sedih?"
"Selain ayah nggak ada yang belain aku kayak gitu. Huhuuuuu …."
"Astaga!!" Daryl tertawa lagi.
Gadis itu memeluknya begitu erat.
"Makanya, menurutlah kepadaku, karena tidak akan ada yang membelamu selain aku!!" Dia balik memeluknya tak kalah erat. Sementara Nania terus Menangis.
"Sudah, jangan menangis! Nanti orang-orang mengira aku melakukan sesuatu kepadamu!!" Daryl menepuk-nepuk punggungnya, namun gadis itu masih terisak.
"Kenapa sih kamu cengeng begini? Karena masih datang bulan ya?" katanya lagi.
Seketika hal itu membuat Nania menghentikan tangisnya. Dia baru ingat telah membohongi suaminya soal masa periodnya tersebut, dan itu membuatnya merasa bersalah.
"Umm …." Gadis itu menarik diri sambil mengusap air matanya.
"Stop!!" Sedangkan Daryl merapikan rambutnya.
"Apa mau tetap di sini? Karena aku harus kembali ke bawah. Audisinya penting untuk aku hadiri." ucap Daryl kemudian.
"Ng … Nggak deh, kayaknya aku harus pulang ke kedai." Nania menjawab.
"Oke. Kamu bawa motor?"
Dia menganggukkan kepala.
"Ya sudah, ayo aku antar ke bawah?" Pria itu bangkit seraya meraih tangannya, dan mereka pun melenggang keluar.
"Nanti juga sepertinya kamu pulang sendiri ya, karena aku di sini sampai malam. Pulanglah dulu, nggak usah menungguku."
Daryl memastikannya mengenakan hoodie dan helmnya dengan benar.
"Jangan ngebut oke? Jaga dirimu untukku?" ucap pria itu yang semakin membuat Nania merasa bersalah.
Gadis itu mengaggukkan kepala, kemudian pergi setelah Daryl mengecup bibirnya sekilas.
💖
💖
💖
Bersambung ...
__ADS_1
Ayo like vote hadiahnya kirim terus😂😂