The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Kesedihan Nania


__ADS_3

💖


💖


"Non jangan kayak gini terus dong?" Mima duduk tepekur si lantai sementara Nania tertelungkup di tempat tidurnya.


Sudah tiga hari sejak kepulangannya dari rumah sakit dan perempuan itu tak mau turun dari kamarnya.


Dia hanya bangun untuk mandi lalu kembali ke tempat tidur, tanpa menghiraukan hal lainnya.


"Suami aku belum pulang ya?" Nania dengan suaranya yang pelan.


"Belum."


"Ya udah, aku mau tidur lagi, Mbak." katanya yang membuat Mima menepuk-nepuk wajahnya.


"Jangan Non! Makan dulu. Dari kemarin masa nggak makan-makan? Nggak lapar apa?"


"Nggak, Mbak. Aku males. Kan udah aku bilangin jangan bawa makanan lagi. Nanti aja aku bikin sendiri kalau laper." Nania menjawab.


"Tapi dari kemarin Non nggak bikin-bikin?"


"Ya karena nggak lapar."


"Dipaksa, Non."


"Nggak bisa, nanti akunya malah muntah. Capek , Mbak."


"Itu asam lambungnya pasti kumat soalnya Non nggak makan-makan?"


"Orang aku nggak lapar."


Mima tampak menghela napas berat.


"Udah, sana kalau mau kerja. Aku nggak apa-apa." Nania menekuk tubuhnya seperti bayi, dan dia bahkan memeluk kedua kakinya dengan erat seolah tengah berlindung dari apa pun yang saat ini sedang di rasakan.


***


"Daryl masih tidak pulang?" Mereka sudah berkumpul di ruang makan. 


Darren dan Kirana memutuskan untuk tetap tinggal agar bisa memantau perkembangan masalah sang kakak yang tak bisa mereka abaikan begitu saja.


"Dia masih di Nikolai Tower." Darren selalu menjadi yang pertama kali mendapatkan kabar tentang saudaranya. Dari siapa lagi kalau bukan Regan? Yang dia utus untuk menjaga Daryl dan menghindarkannya dari kemungkinan untuk berbuat hal buruk.


"Hanya dengan Regan?" Sofia segera bertanya.


"Ya siapa lagi?" 


"Syukurlah." Semua orang merasa lega. 


"Mima sudah panggil Nania?" Lalu dia kembali bertanya ketika asisten rumah tangganya kembali dari belakang.

__ADS_1


"Non Nania belum bisa turun, Bu. Katanya duluan aja." Perempuan itu menjawab.


"Oh, astaga! Ya sudah kita makan saja dulu. Nanti kamu antar lagi makanan untuk Nania ya? Yang semalam tidak dimakan kan? Mungkin hari ini dia mau makan." Sofia memulai kegiatan sarapannya.


"Kata Non Nania nggak usah antar makanan. Nanti kalau lapar mau bikin sendiri, Bu." jawab Mima lagi yang sempat membuat majikan serta anak menantunya terdiam sebentar.


"Oh, ya. Tidak apa-apa, mungkin maunya begitu. Sediakan saja apa yang dia butuhkan, Mima."


"Baik, Bu."


"Ayolah, kita tidak boleh terganggu dengan hal seperti itu kan? Tidak mungkin juga semua orang ikut terpuruk." ujar Sofia yang meneruskan kegiatan sarapan mereka hari itu, meski pikirannya tak bisa mengabaikan Nania.


"Nanti lihatlah dia lagi, Sayang." Satria mulai bersuara. Setelah belakangan ini sempat hanya jadi penyimak saja dalam setiap percakapan keluarganya.


"Iya, tapi Nania selalu menolak kan? Dia selalu bilang baik-baik saja." Sofia menjawab.


"Kita tahu keadaannya tidak baik-baik saja."


"Ya tapi mau bagaimana lagi? Dia yang menginginkan begitu?" Perempuan itu melepaskan sendok makannya di piring yang isinya baru dia lahap sebagian. Selera makannya tiba-tiba saja menghilang.


"Nanti aku yang coba, Pih."


"Jangan, Kirana. Kamu sedang hamil, jadi tidak usah ikut dalam hal ini." Sofia menolak.


"Tidak apa-apa Ma, siapa tahu akan sedikit membuat Nania pulih. Dan yang harus kita usahakan adalah mentalnya dulu. Dia merasa bersalah apalagi Daryl tidak kunjung pulang kan?" Kirana menjawab.


"Hah … jadinya kita serba salah kan?" Sofia memijit pelipisnya ketika rasa sakit menyerang kepalanya.


"Ya baiklah, terserah kamu saja." Sofia akhirnya menyerah.


***


Mereka akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam rumah di mana Nania tinggal. Tak ada yang berubah, seperti biasa. Karena segala hal memang tampak selalu rapi. Barang-barang berada ditempatnya dan perabotan selalu tertata dengan baik.


Apalagi tanaman-tanaman yang mengisi setiap sudut ruangan yang menambah kesan tenang pada tempat itu


"Nania terus di kamar ya?" Sofia juga muncul setelahnya. 


"Mama kenapa ikut?" Darren bereaksi.


"Mama tidak bisa diam saja, bagaimana kalau terjadi sesuatu kepada Nania?" Sofia berjalan mendahului mereka.


Lalu ketiganya segera menuju ke lantai atas di mana kamar berada.


"Kok tidak ada? Apa Nania pergi?" Sofia mendorong pintu kamar yang sedikit terbuka dan menemukan ruangan itu tak berpenghuni.


"Tidak mungkin. Penjaga di depan pasti menghalanginya, bukankah Daryl sudah melarangnya pergi? Bahkan teman sekolahnya yang mau menjengukpun tak dia izinkan untuk datang, kan?" Sementara Darren memeriksa ruangan lainnya.


"Ya, tapi …."


"Sssttt!" Kirana mengisyaratkan suami dan mertuanya untuk diam lalu dia menajamkan pendengaran.

__ADS_1


Dia memberanikan diri untuk masuk ketika telinganya mendengar suara air mengalir dari kamar mandi yang pintunya terbuka.


"Nania sedang mandi?" Sofia melirik jam digital di atas nakas yang menunjukkan pukul sebelas siang.


Lalu kirana mendekati ruang untuk membersihkan diri itu dan menatap ke dalamnya. Tak ada siapa pun tapi shower menyala mengarah ke dalam bathtub.


Perempuan yang kandungannya sudah besar itu lebih mendekat lalu masuk untuk memeriksa sehingga dia bisa melihat sesuatu yang ada di dalam bak mandi tersebut.


Dan matanya membulat seketika saat dia mendapati Nania yang tengah berbaring di dalam sana. Meringkuk menghadap samping dengan air mengalir mengenai tubuhnya.


Segera saja dia mematikan shower dan memeriksa penyumbat saluran di dekat kaki Nania yang ternyata terbuka.


"Nania?" Kemudian Kirana menyentuh bahunya. Tapi yang terjadi adalah dia malah tertegun ketika mendengar Nania bicara sendirian dan tak menyadari keberadaan mereka.


"Ayah tahu nggak, aku udah berbuat salah." Perempuan itu menyentuh dinding bathtub di depan wajahnya.


"Aku udah bikin semua orang kecewa apalagi suami aku. Dia marah, Yah." kstanya dengan suara parau.


Dan Kirana menghalangi Sofia untuk menyadarkannya, lalu memilih membiarkannya terus mengoceh dalam keadaan seperti itu.


"Niat aku mau nyelamatin ibu dari Om Hendrik tapi malah kehilangan anakku. Aku salah ya Yah?" katanya, dan dia belum menyadari keberadaan mertua dan iparnya di ruangan itu.


"Kok aku salah terus ya?" Perempuan itu terdiam sebentar.


"Daryl benar, dan aku salah terus. Makanya dia marah. Semua orang juga pasti marah karena nggak bisa jaga kandungan aku. Sekarang aku sendirian, Yah." Dia mulai sesenggukkan.


"Ayah, akutuh sendirian. Bisa jemput aku sekarang nggak? Aku udah nggak kuat."


"Nania!!! Apa yang kamu katakan, Nak!" Sofia bereaksi dengan ikut masuk ke dalam bathtub. Dia segera menarik Nania lalu memeluknya.


"Jangan bicara begitu!!" Perempuan itu pun menangis sembari memeriksa keadaannya.


"Nania!!" Dia kemudian mengguncangkan tubuhnya dan Nania tetap menangis.


"Oh, ya Tuhan!!" Sofia kembali mendekapnya dan mengusap usap punggungnya.


"Kamu tidak pernah sendirian, kamu tahu? Kami selalu ada di rumah ini dan tidak pernah meninggalkanmu. Sudah!!"


Lihat, setelah yang aku lakukan mereka masih sudi menemuiku. Batin Nania, dan itu malah semakin membuatnya merasa bersalah.


Dia tak berani menatap wajah mertuanya atau dua orang di belakang.


"Bagaimana bersalahnya kamu, kami akan tetap disini. Kami akan tetap bersamamu asal kamu mau berubah. Jadi, bangkitlah Nania! Tidak boleh seperti ini terus!"


Nania tertunduk semakin dalam dan suara tangisannya semakin menyayat hati.


💖


💖


💖

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2