
💖
💖
Nania menghentikan langkahnya di tengah-tengah track lari yang biasa dilalui oleh anggota keluarga Nikolai setiap kali berolah raga. Lalu dia menatap ke arah hutan buatan yang terletak belasan meter di depan sana.
Hari ini dia merasa memiliki keberanian untuk melangkahkan kakinya keluar dari area rumah, dan lebih jauh lagi ke belakang setelah mendapatkan izin dari suaminya.
Perempuan itu kemudian menoleh ke arah rumahnya, yang jaraknya juga belasan meter dari tempatnya berdiri. Dan dia terus seperti itu.
"It's oke. Daddy udah ngizinin keluar." Nania bergumam.Â
"Apa aman?" Lalu dia melanjutkan langkah.
"Bahaya nggak?" Langkahnya semakin cepat.
"Ada orang lain?" Dia menatap sekeliling lalu berhenti.
Napasnya menderu-deru dan matanya memindai keadaan di sekitar. Tempat itu seperti biasa, selalu sepi karena memang tak ada orang lain, dan tak ada yang dengan sengaja berjalan-jalan di hampir tengah hari seperti itu. Sementara dirinya hanya sendirian.
Nania kemudian mundur lalu berbalik saat dia merasa keadaan tidak terlalu baik. Dan dengan tergesa kembali ke arah rumah ketika di saat yang bersamaan Daryl berlari menyongsongnya.
"Nggak!! Aku nggak ke mana-mana. Serius, cuma ke sini aja." Nania tiba-tiba saja berjongkok sambil menutup telinganya, ketika mengira Daryl akan marah karena dia berada di luar rumah.
"Astaga, tidak!" Pria itu pun berjongkok untuk mensejajarkan tinggi mereka begitu jatak mereka sudah sangat dekat.
"Nggak,aku nggak jadi. Seharusnya aku nggak keluar dari rumah. Ini rasanya nggak baik." Nania menggeleng-gelengkan kepala dan dia nyaris hiateris.
Daryl lupa dengan reaksinya yang seperti itu dapat membuat istrinya diserang panik yang berlebihan.
"No no no! Aku hanya ingin menyusulmu. It's oke, it's oke." Akhirnya membuat Daryl menariknya ke pelukan.
"It's oke. Aku hanya menyusulmu." ulangnya, dan dia mengusap-usap punggung perempuan itu.
"Aku mau menemanimu ke sana. Aku juga ingin melihat anak kita, tahu?" katanya lagi dan dia mencoba menenangkan Nania.
"It's oke. Aku tidak marah kepadamu." Dan kalimat itu nyatanya membuat Nania berangsur tenang.
"Aku hanya khawatir karena tidak menemukanmu di rumah saat pulang. Dan aku ingat pagi tadi kamu meminta izin, jadi …."
"Kamu nggak marah?" Nania menarik diri lalu menatap wajah suaminya.
Daryl menggelengkan kepala dan dia balas menatap wajah polosnya.
"Kalau aku keluar rumah nggak marah?" tanya Nania lagi.
"Tidak, hanya ke belakang bukan?" jawab pria itu dan dia mengusap wajah Nania dengan punggung tangannya.
__ADS_1
"Jadi, ayo kita ke sana." Daryl bangkit dan menarik Nania. Lalu dia menuntunnya berjalan ke arah hutan buatan.
***
Nania menempelkan wajah diatas pusara janinnya yang telah bersemayam di tempat itu selama hampir dua minggu.
Tanah itu berupa gundukkan dengan satu pot bonsai sebagai tanda, yang dikenali sebagai milik Satria, dan permukaannya sudah ditumbuhi rumput liar.
Tampaknya, fokus seluruh anggota terhadap dirinya membuat mereka melupakan soal keberadaan makam ini.
"Maafkan Mommy, sayang. Maaf nggak bisa jaga kamu, Mommy ceroboh." Nania mengusap-usap tanah dengan kedua tangannya.
Air matanya kembali berderai tapi dia tak meraung-raung seperti sebelumnya. Sementara Daryl duduk di belakang.
Dia memilih untuk membiarkannya melampiaskan rasa sedih dan kecewa. Mungkin itu akan bagus untuk pemulihan emosi dan mentalnya, seperti yang diucapkan dokter Syahril beberapa saat yang lalu.
"Maafkan Mommy ya? Kamu ngerti kan? Mommy harap kamu nggak marah." katanya lagi, dan posisinya masih seperti itu.
Dia seperti sedang memeluk makhluk yang bernyawa, bahkan menciumi tanah berumput itu.
"Daddy, kenapa dikuburnya jauh banget? kan kasihan dia sendirian." Nania kemudian bangkit dan duduk di depan Daryl yang terdiam.
"Kata Papi tidak baik kalau dia dikubur di dekat kita." Pria itu menjawab.
"Tapi kasihan."
Nania kini yang terdiam.
"Bukankah itu lebih baik? Jadi tidak perlu khawatir lagi." Lalu Daryl merangsek kemudian kembali memeluk Nania, dan mereka dalam posisi itu untuk beberapa saat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Nania menatap keluar ketika mobil yang mereka tumpangi melaju kencang membelah jalanan ibu kota.
Ini kali pertama setelah hampir dua minggu lamanya dia mengurung diri di dalam rumah pasca keguguran, Daryl membawanya keluar. Dan rumah sakitlah yang menjadi tujuan.
"Daddy, aku kan nggak sakit." Nania meremat tangan Daryl yang tak melepaskannya sepanjang perjalanan.
"Memang. Tapi kamu harus diperiksa." Pria itu menyahut.
"Dari kemarin kan udah sembuh?"
"Tetap saja harus diperiksa, agar kita tahu keadaanmu ya?" jawab pria itu lagi.
"Tapi nanti kita pulang kan?" Perempuan itu melihat sekeliling area parkir begitu mereka tiba di tempat tersebut.
"Tentu saja."
__ADS_1
"Pulang ke rumah kan?" ujar Nania lagi, dan dia mulai terlihat gugup.
"Ya, ke rumah. Memangnya mau ke mana lagi?" Daryl mengulurkan tangannya kepada Nania, lalu dia segera menyambut meski pada awalnya sempat ragu.
Dan Regan menjadi pendamping setia yang mengikuti ke manapun mereka pergi sejak dari rumah. Dan menyimak begitu banyak drama yang terjadi saat keduanya telah tiba di ruang pemeriksaan.
Dokter obgyn memeriksa keadaan kandungan dan hal lainnya yang berhubungan dengan itu, namun mereka tak menemukan sesuatu yang janggal selain bekas penanganan kuretase dan lebam yang masih ada pada permukaan perut Nania yang diakibatkan oleh pukulan keras Hendrik.
Lalu setelah itu mereka beralih pada spesialis kejiwaan yang akan memeriksa kondisi psikis Nania.
"Peristiwa ini memang menjadi puncak dari guncangan yang Nania alami, Pak. Jiwanya yang memang sudah rapuh sejak awal memperparah keadaan. Jadi seperti luka yang ditambah-tambah." Dokter menuliskan sesuatu di catatannya.
"Dan saya bisa memastikan jika kita akan membutuhkan waktu lebih lama dari yang seharusnya untuk memulihkannya. Karena bukan hanya satu macam trauma saja yang Nania alami, melainkan banyak sekali trauma."
Daryl melirik ke meja di mana Nania sibuk dengan kertas dan alat tulisnya. Kini satu-satunya hal yang bisa membuatnya fokus dan terhindar dari kepanikan adalah menggambar. Seperti yang dilakukannya beberapa hari terakhir.
"Kekerasan fisik sudah pasti. Entah dengan kekerasan sek*ual, saya belum menemukan indikasi ke arah sana selain yang sudah Bapak ceritakan soal percobaan trafficking kepadanya. Kalau kekerasan verbal sepertinya menjadi yang paling sering dia terima." Dokter terus menjelaskan diagnosanya atas Nania.
"Ya. Umpatan, hinaan, mungkin ejekan. Selain itu teriakan atau bentakan adalah kekerasan verbal yang paling parah. Dan dia mengalaminya dalam waktu yang cukup lama."
Daryl memejamkan mata sejenak.
Bukankah termasuk bentakan dan teriakannya? Jadi selain Hendrik dan juga Mirna, dirinya juga memiliki andil pada apa yang perempuan itu alami. Dan yang paling parah adalah yang terakhir kali dia lakukan sebelum menyadari kondisinya tempo hari.
"Astaga!" Daryl mengusap wajahnya, kasar.Â
Dia sama sekali tak menyangka reaksinya akan berakhir seperti ini. Bahwa yang Nania alami memang lebih parah dari kelihatannya. Dan dia baru menyadarinya.
"Apa … Nania harus dirawat, Dokter?" Daryl merasakan sesuatu mengganjal di tenggorokannya. Membuatnya merasa ngilu dan sesak di saat yang bersamaan.
"Jika tidak membahayakn dirinya sendiri dan orang lain tidak perlu. Cukup terapi seminggu dua atau tiga kali saja mudah-mudahan bisa membantunya pulih."
Daryl menghela dan menghembuskan napas pelan-pelan.
"Tapi dia bisa sembuh kan?" tanya nya dengan suara tercekat.
"Bisa, tapi memang tidak mudah karena yang sakit adalah mentalnya. Anda tahu, jika tangan atau kaki yang terluka maka hanya dibutuhkan waktu setidaknya satu minggu saja untuk pulih dan setelah itu hilang. Tapi jika mental yang sakit maka dibutuhkan waktu dan penanganan yang khusus karena banyaknya faktor penyebab. Jadi, ya dibutuhkan kesabaran ekstra untuk hal ini." jelas sang dokter yang kali ini benar-benar meyakinkan Daryl atas apa yang seharusnya dia lakukan demi Nania.
💖
💖
💖
Bersambung ...
Ada apa lagi sih setelah ini? Sumpah udah sesek banget tapi kok masih gini aja😢
__ADS_1