The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Sabun Bayi


__ADS_3

💖


💖


"Aarrgghh! Kamu kenapa sih? Kan aku mau seperti Azura dan Angkasa yang kamu manja-manja juga?" protes Daryl saat Nania mendorongnya begitu dia merebahkan kepala di pangkuannya.


"Aku sudah mandi, tidak memakai parfum atau yang lainnya! Tidak lihat rambutku basah begini?"


"Tetep aja kamu bau!" Perempuan itu beranjak lalu muntah-muntah di kamar mandi.


"Ish! Ini benar-benar menyebalkan!" Dan Daryl mengikutinya hingga di ambang pintu.


"Kamu pikir aku seneng kayak gini? Capek iya." jawab Nania yang kemudian muntah-muntah lagi.


"Lalu aku harus bagaimana? Dekat-dekat kamu merasa aku bau padahal aku sudah membersihkan diri?" Pria itu yang bersandar pada bingkai pintu.


"Nggak tahu. Mungkin saran netizen bisa kamu coba?" Nania memastikan kalau rasa mualnya sudah sedikit berkurang.


"Apa?"


"Pakai produk perawatan bayi?" Perempuan itu tertawa.


"Tidak mungkin!"


"Ya udah." Nania kemudian melenggang keluar meski dia bergidik ketika melewati suaminya.


"Terus aku harus tidur di sofa lagi seperti semalam?" Lalu Daryl mengikutinya ke arah tempat tidur.


"Nggak usah." jawab Nania.


"Benarkah?" Binar di matanya muncul setelah mendengar kalimat tersebut.


"Ya. Biar aku aja yang tidur di sofa." katanya lagi yang menarik bantal dan selimut, kemudian dia segera merebahkan tubuhnya di sana.


"Kok begitu?"


"Gantian." ucap Nania yang segera meggulung tubuh mungilnya di dalam selimut tersebut.


"Tidak tidak! Masa aku membiarkan anak dan istriku tidur di sofa? Suami macam apa aku ini? Sebaiknya kamu di sini, dan aku yang tidur di sofa!" Pria itu menarik selimut.


"Mana bisa? Badan kamu tinggi begitu? Nanti harus meringkuk di sini. Sofanya kan kecil? Kalau aku sih muat." Nania ingat ketika semalam suaminya yang memiliki tinggi 190 cm itu tidur menekuk kakinya di sofa.


"Tidak apa-apa, hanya tidur di sofa, bukan di atas batu. Masih nyaman."


Nania terdiam.


"Come on! Ibu hamil itu harus merasa nyaman, bukan?"


"Beneran?" Perempuan itu hampir tersenyum.


"Ya."


"Kata Kak Rania aku ngidamnya sampai tiga bulan lho." Nania pindah ke tempat tidur.


"Ngidam?"


"Ya."


"Apa itu ngidam?"


"Begini."


"Begini apanya?"


"Merasa bau sama sesuatu yang nggak lazim atau mau sesuatu yang nggak normal."


"What?"


"Jadi ada kemungkinan kalau …."


"Aku harus tidur di sini selama itu? Are you kidding?" Pria itu meninggikan suaranya.


"Katanya sih gitu. Emang kamu mau lihat aku tersiksa? Tega apa kalau aku muntah-muntah terus setiap kali kamu deketin?"


Pria itu terdiam dengan raut wajah yang tidak bisa diartikan.


"Cuma tiga atau empat bulan, Dadd. Setelah itu aku normal lagi."


"Ridiculous!" Daryl menjatuhkan tubuhnya di atas sofa.


"Sabar ya? Jangan marah. Ini kan karena anak kamu, dan bukan aku lho." Nania kembali membenamkan tubuh kecilnya di bawah selimut.


"Kenapa orang hamil harus seperti itu?" pria itu bergumam.


"Kata Kak Kirana juga sebagian orang memang begitu."


"Ada yang tidak?"


"Ada."


"Lalu kenapa kamu tidak termasuk orang yang tidak mengalami hal aneh ini?" Daryl menoleh ke belakang di mana istrinya sudah bersiap untuk tidur.


"Yeee … emangnya kita yang atur? Orang badannya yang mau begitu. Kan aku juga maunya peluk-pelukan kayak biasa. Tapi akunya tersiksa kalau sekarang gitu."

__ADS_1


"Haahhh!" Daryl menjatuhkan kepalanya pada pegangan sofa. "Kenapa sih, baru muncul tapi sudah merepotkan? Awas saja kalau merepotkannya sampai besar?" gumamnya lagi dengan hati kesal.


"Eh, jangan gitu! Ini kan anak kamu tahu? Aku hamil juga gara-gara kamu. Mau enaknya aja?"


"Bukan begitu … maksudku …."


"Tante Nnaaaaaaaaa!!" Lalu terdengar teriakan dari luar.


"Haih, siapa itu sudah malam begini?" Daryl menatap jam di layar ponselnya.


"Tante Nnaaaaaaaaa!" Panggilan itu terdengar lagi.


Pria itu beranjak kemudian membuka jendela.


"Hey, berisik! Jam berapa ini?" Dia berteriak.


Lalu muncul seseorang di bawah yang menuntun dua anak kecil. Siapa lagi kalau bukan Rania dengan dua anaknya.


"Hey, Anya sama Zenya mau menginap di sini!" Rania balas berteriak.


"Kenapa? Memangnya rumah besar kurang luas untuk kalian?" jawab Daryl ketika Nania juga melihat dari jendela.


"Tante Nna, aku mau bobok di sini!" rengek Zenya dengan suara manjanya.


"Oh … tunggu sebentar ya?" Nania segera turun ke bawah.


"Hey Nania!!" Daryl berniat melarangnya, tapi dia terlambat karena perempuan itu sudah keluar dari kamar mereka. Dan pada saat dia mengejarnya, pintu sudah terbuka dan dua anak itu sudah dibiarkannya masuk.


"What the …."


"Kakak juga mau tidur di sini?" tanya Nania.


"Nggak. Takut ganggu." Rania menjawab sambil tertawa.


"Cih! Takut mengganggu apanya? Anak-anakmu saja kamu antarkan ke sini." Daryl berdiri di tangga terakhir.


"Boleh nggak kalau anak-anak tidurnya di sini? Dari tadi mereka merengek terus. Kakak-kakaknya udah pada tidur?" Rania menjelaskan.


"Boleh, kenapa nggak boleh? Asal Anya sama Zen langsung bobok ya? Nggak boleh ngapa-ngapain lagi?"


Dua anak itu menganggukkan kepala.


"Kalau gitu ayo kita ke atas?" Nania segera menarik keponakannya tersebut ke lantai dua.


"Tolong kunci pintunya, Dadd." ucapnya setelah Rania pergi.


"Haih, …." Sementara Daryl mendengus dengan perasaan yang cukup kesal, namun tak urung dia melakukannya juga.


Nania bahkan memeluk Zenya dengan erat tanpa mengeluh seperti ketika berdekatan dengan dirinya.


"Huh, belum apa-apa posisiku sudah digantikan!" katanya, yang akhirnya memilih untuk kembali ke bawah dan tidur di depan televisi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"No! Aku bisa sendiri Tante!!" Terdengar perdebatan antara Nania dan dua anak kecil di kamar mereka ketika Daryl naik setelah menyelesaikan olah raga paginya.


Terlihat Anya dan Zenya yang sudah rapi dengan pakaian mereka dan wangi khas anak-anak memenuhi ruangan yang cukup besar itu.


"Kayaknya kamu harus potong rambut deh? Udah kepanjangan." Nania menyisir rambut Zenya yang memang sudah terlalu panjang untuk ukuran anak laki-laki.


"Nggak mau! Begini juga bagus."


"Memangnya pihak sekolah tidak menghukummu ya? Kalau Om, dulu begitu pasti sudah digunting terus disuruh mengelilingi lapangan." Daryl datang mendekat.


"Nggak. Guru aku baik kok. Katanya iya boleh, nanti dicukurnya sebentar lagi." Zenya menjawab.


"Masa?"


"Iya, waktu itu Mommy kan datang ke sekolah."


"Hmm … pantas." Daryl meraih handuknya yang tergantung di capstock.


"Are we done yet?" Lalu Anya menyela percakapan.


"Udah. Keculai kalau Anya mau Tante iket rambutnya?"


"Nggak mau ah, kepala aku sakit kalau diiket terus. Kata Mommy kalau sabtu minggu boleh nggak diiket juga asal udah keramas."


"Oh ya? Jadi selain jadwal makan es krim, ada jadwal bebas ikat rambut juga di hari sabtu?" Daryl tertawa.


"Gitu deh."


"Oke, hari ini kayaknya Tante mau bikin es krim deh. Kalian masih di sini kan?" Nania bangkit dan membereskan keperluan dua keponakannya yang masih lengkap seperti bayi yang baru saja lahir itu.


"Wow, asyik!! Iya dong, kan Mommynya udah berangkat ke Sepang tadi subuh?"


"Anya tahu?"


"Tahu dong, kan semalam Mommy udah bilang."


"Anya nggak sedih?"


"Nggak. Ka cuma mau balapan di Sepang. Besok juga udah pulang?"

__ADS_1


Nania tampak tersenyum.


"Tapi kalau Zen kayaknya sedih deh? Zen kan selalu gitu setiap Mommy pergi?" Lalu mereka beralih kepada Zenya yang tiba-tiba saja terdiam ketika membahas tentang ibunya.


"Nggak usah sedih, kan ada Tante." Nania menarik Zenya ke dekatnya.


"But i want my mom." Anak itu dengan matanya yang berkaca-kaca.


"Kan besok juga udah pulang lagi?"


"Sepang kan deket? Katanya kalau deket boleh ikut, tapi malah ditinggal?" ucap Zenya dengan air mata yang meluncur melewati pipinya.


"Mungkin Mommynya repot, makanya kalian nggak dibawa?"


Anak itu terisak.


"Udahan nangisnya. Kan Mommy lagi kerja. Kalau Zen kayak gini nanti mommy kerjanya nggak fokus karena ingat Zen terus." Nania duduk di sofa lalu menarik Zenya ke pangkuan.


"Masa lagi kerja ingat aku?"


"Ya iyalah. Mana ada ibu yang nggak ingat anaknya? Biar lagi kerja juga tetep ingat. Dan kalau kamunya sedih, nanti perasaan Mommy nggak enak lho. Bahaya."


"Masa?"


"Serius. Nanti kalau ada apa-apa gimana? Kan kasihan Mommy?"


Tangis Zenya seketika berhenti.


"Udah ya, sekarang main dulu sama Opa. Mungkin Opanya udah pulang joging?"


"Yeah, why don't we ask Opa untuk ngasih makan ikan koi? Last night he promised me to feed them." ucap Anya dengan riang gembira.


"Really?" Zenya mengusap kedua matanya yang basah.


"Yes. And Oma mau bikin makanan spesial. So, lets go!!" Anya menarik tangan saudara laki-lakinya tersebut sehingga dia turun dan mengikutinya keluar dari kamar itu.


Dan untuk sesaat ruangan tersebut terasa hening ketika Nania menatap kepergian dua keponakanya, sementara Daryl juga menatap istrinya dengan senyuman yang perlahan terbit di sudut bibirnya.


"Apaan?" ucap Nania yang menyadari jika pria itu sedang memperhatikan.


"Hum?"


"Diam terus, mandi sana!"


"Kamu memang sudah cocok untuk jadi ibu. Anak-anak sangat menyukaimu." Daryl berujar.


"Masa?"


"Ya. Aku suka caramu menjelaskan sesuatu sehingga mereka mengerti dan akhirnya menerima keadaannya. It's good, Mommy!"


Nania terkekeh dengan pipi merona.


"Jangan modus! Kamu tetap bau, tahu?" katanya yang benar-benar membereskan kekacauan bekas Anya dan Zenya.


"Hah, … kadang aku berpikir … masa iya aku harus mandi pakai sabun bayi, keramas pakai sampo bayi, dan menggunakan semua produk perawatan bayi agar kamu tidak terus menyebutku bau? Ini membuatku kesal, tahu? Padahal baru dua hari. Apalagi kalau tiga bulan? Bisa gila aku tidak berdekatan denganmu." Dia berdiam sebentar di dekat pintu kamar mandi.


"Ya pakai aja, ada tuh di dalam punya Anya sama Zenya. Mereka kan masih pakai sabun bayi biar udah segede gitu juga?"


"Masa?"


"Ya, kata Kak Rania itu kayak kebiasaan yang nggak boleh diubah kecuali kalau mereka udah bisa milih sendiri. Biarkan mereka tetap jadi bayi untuk hal-hal tertentu sampai nanti kalau udah punya kemauan sendiri."


"Begitu ya?"


"Ya, … jadi …." Nania menatap pouch berisi segala produk perawatan bayi milik Anya dan Zenya.


"Kamu tidak mual mencium bau sabun dan shampo bayi?"


"Nggak."


"Dan semua yang ada di dalam situ?" Daryl pun menatap apa yang ada di tangan perempuan itu.


"Lucunya nggak. Aku malah suka wanginya. Mungkin karena bayinya juga suka." Nania mengelus perutnya yang sudah dia sadari ada janin yang sedang tumbuh.


"Hmm …."


"Mau aku mandiin? Mumpung sabunnya belum aku balikin ke rumah mama?" Sebuah ide muncul di kepala Nania.


"Really?" Daryl tersenyum. Hanya mendengar begitu saja hatinya sudah bersorak kegirangan.


"Ya. Ayooo …." Lalu perempuan itu mendorongnya masuk ke dalam kamar mandi.


💖


💖


💖


Bersambung ...


Hadeh ... ada bayi besar ditawarin mandi. Ya auto nurut🙈🙈


Ayo like komen dan hadiahnya kirim lagi 😂😂😂

__ADS_1


__ADS_2