
💖
💖
"Kata Oma jangan berisik! Nanti Tante Nna nya bangun." Terdengar percakapan anak-anak diluar kamar saat Nania baru saja menyelesaikan urusannya.
Setelah membicarakan banyak hal semalam, Sofia melarangnya pulang sehingga membuat Nania memutuskan untuk menginap saja.Â
"No, aku cuma mau lihat."
"Kita nunggunya di bawah aja. Kata Oma jangan ganggu!"
"Aku nggak ganggu, aku cuma mau lihat Tante Nna!"
Lalu gadis itu memutuskan untuk membuka pintu.
"Eh, … udah bangun?" Wajah-wajah riang itu menyambut di depan pintu.
"Kalian ngapain di sini?" Nania bertanya.
"Nggak ngapa-ngapain, cuma nunggu aja. Hehe." jawab Anya sambil tertawa.
"Nunggu mau apa?" Mereka berjalan menuruni tangga ke lantai bawah.
"Nggak mau apa-apa."
"Oma sama Opa ke mana?" Nania melihat sekeliling rumah yang cukup sepi, seperti biasanya.
"Jogging." jawab Anya.
Lalu gadis itu menoleh ke lantai atas.
"Kalau Om Der di ruang olah raga." ucap Zenya yang mengerti sikap gadis itu, yang kemudian terkekeh sambil mengacak rambutnya.
"Terus kenapa kalian nggak ikut Oma?" Mereka berjalan ke ruang makan ketika Nania melihat Mima meletakan cangkir yang biasa dipakainya, yang berisi milktea untuknya.
"Ah, udah ngerti aja orang-orang ini?" gumamnya, setelah asisten rumah tangga itu pergi.
"Disuruh dirumah nemenin Tante Nna." Anya menjawab.
Nania memutar tubuh lalu menatap dua bocah itu secara bergantian.
"Kenapa nggak panggil Kakak?" Kemudian dia berjongkok.
"Kata Oma sekarang manggilnya Tante Nna, nggak boleh Kakak lagi." Anak itu kembali menjawab.
"Kenapa?"
"Kan Tante Nna mau nikah sama Om Der?"
"Hmm …." Dia baru ingat soal percakapan semalam.
Dia pasti nggak serius soal ini. Cuma gara-gara ada yang promosi status jadinya dia bilang gitu kan? Tapi masa orang-orang ngganggapnya serius amat? Batinnya.
"Hey, Nna? Hari ini kamu tidak bekerja?" Sosok lain muncul di ruangan yang sama.
Nania menatap pria yang tinggi menjulang di hadapannya. Dia mengira-ngira, apakah ini Daryl atau Darren. Tapi dari penampilannya yang terlampau rapi, bisa dipastikan itu adalah Darren.
Ditambah dia tidak pecicilan seperti Daryl yang setiap bertemu pasti melontarkan ucapan menyebalkan.
"Kalau hari Sabtu masuk siang, Pak." Nania menjawab.
"Ohh …."
"Om Darren mau pergi ya? Pagi-pagi udah rapi?" Anya bertanya kepada pamannya yang satu itu.
"Iya."
"Mau kerja? Kan hari Sabtu biasanya libur?"
"Bukan kerja."
"Atau pergi sama Tante Kirana ya?"
Pria itu tertawa.
"Tahu saja kamu!" Lalu dia mengusap puncak kepala keponakannya.
"Tahu dong. Kan Tante Kirana nggak nginep di sini."
Darren tertawa lagi.
"Sudah ah." Lalu pria itu meneguk kopi yang disediakan asisten rumah tangga untuknya.
"Om pergi dulu ya? Jangan nakal!" katanya, kemudian melenggang ke arah luar.
"Nggak, kan aku good girl." ucap Anya yang menatap kepergian pamannya hingga pria itu menghilang dibalik pintu.
"Kalian bisa bedain mana Om Darren, mana Om Daryl dengan gampang. Itu gimana sih?" Nania duduk di kursi yang terletak tak jauh darinya.
"Hum? Yang barusan kan Om Darren, bukan Om Daryl?" jawab Anya yang menunjuk ke arah pintu.
"Iya tahu. Tapi bedanya apa?"
"Nggak beda, sama aja kok."
"Tapi kamu tahu itu Om Darren."
"Karena ngerasanya itu Om Darren."
"Haih, lupa. Kalian kan kenal sejak lahir, jadi nggak perlu pembeda untuk mengenali mereka. Cuma lihat sekilas doang udah tahu itu siapa." Dia meneguk habis milkteanya.
"Tante, ayo kita lihat Heimlich? Udah jadi kupu-kupu atau belum ya?" Zenya menarik Nania ke belakang rumah.
"Mungkin belum, Zen. Kan baru dilihat semalam?"
"Emang kalau mau jadi kupu-kupu, Heimlich harus berapa hari bobok nya?" Anak itu bertanya dengan polosnya.
"Nggak tahu."
"Kenapa Tante nggak tahu?"
"Ya … mungkin satu atau dua minggu?"
"Lama amat ya Zen?" Anya menyahut.
"Hu'um."
Mereka tiba di rumah bermain di mana segala bentuk mainan berada. Juga benda-benda yang dikumpulkan oleh anak-anak setiap kali mereka datang berkunjung.
"Look! Heimlich beneran masih jadi kepompong!" Anya mendekati meja di mana beberapa toples berada.
"Bener kan?" Nania membungkuk untuk melihat benda itu.
"Apa Joe juga bakal jadi kupu-kupu?" Anak perempuan berkuncir dua itu menatap binatang peliharaannya.
"Ya nggak, masa kaki seribu jadi kupu-kupu?" Nania tertawa.
"Kirain sama?"
"Mereka spesies yang berbeda, Anya."
__ADS_1
"Oh, …."
"Tapi kasihan Joe. You should find another one. He look sad?" Zenya pun menatap isi di dalam toples tersebut.
"Ya, seharusnya mereka dibebaskan. Jangan dikurung kayak gini." ucap Nania.
"Kamu tahu, kalau dikurung apalagi sendirian kayak gini mungkin mereka akan sedih?"
"Karena nggak ada temennya ya?"
"Iya."
"Oke." Anya kemudian meraih toples itu untuk dia bawa.
"Mau dilepasin?"
"Nggak, aku mau cari temennya Joe." Anak itu berjalan keluar.
"Dih, kirain mau dilepas." Nania dan Zenya mengikutinya keluar.
***
Anak-anak itu mencari-cari di setiap sudut halaman belakang. Dibawah batu, di antara pot-pot bunga, di dekat pohon atau apa pun yang ada di area luas itu.
"Aku nggak nemuin kaki seribu di sini, Anya!" Zenya menepuk-nepuk tangannya yang kotor.
"Me too. Apa di sini nggak ada ya?"
"Maybe."
"Mungkin kita harus ke resortnya Papa Arfan lagi biar ketemu temennya Joe."
"Hu'um."
"Nanti bilang ke Oma ya?"
"Eh, jangan ke Oma, ke Opa aja."
"Kenapa?"
"Kalau Oma nanti bilangnya jangan. Tapi kalau Opa kan pasti nurut."
"Iya gitu?"
"Hu'um."
"Oke." Kemudian mereka masuk lagi di antara bunga-bunga yang berjajar rapi, sementara Nania tertawa menyimak percakapan dua bocah ini.
Lalu perhatiannya beralih ke arah bangunan di depan. Di mana kaca-kaca besar menjadi dinding penghalang bagi alat-alat olah raga di dalamnya. Dan sosok Daryl yang bertelanlanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek saja terlihat melakukan kegiatannya di sana.
Pria itu tampak menggerakan tangan dan kakinya. Dia memukul dan menendang sebuah samsak yang menggantung di depannya. Dan melakukannya secara berulang.
Kemudian Daryl berhenti saat menyadari keberadaan Nania diluar ruang olah raganya. Dia tersenyum dan sempat melambaikan tangan kepada gadis itu.
"Hadeh …." Lalu Nania memalingkan pandangan ketika anak-anak mulai berpindah tempat.
"Disini juga nggak ada, Anya!" Zenya menyingkap dedaunan yang merambat di sekitar pepohonan.
"Iya, emang nggak ada. Beneran harus nyari di resortnya Papa Arfan."
"Hu'um. Nanti kalau Opa pulang joging kita bilang ya?" ucap Anya yang duduk di kursi malas dekat kolam renang.
"Hey, anak kecil? Kenapa kalian nggak ikut Oma dan Opa joging? Biasanya juga pergi?" Daryl muncul kemudian.
"Oma nyuruh nungguin Tante Nna." Anya menjawab.
Daryl melirik ke arah Nania yang berdiri jauh dari mereka.
Nania tertegun dan sesekali melirik kolam besar dengan air sebening kaca di depannya. Tiba-tiba saja dia merasa gugup dan jantungnya berdetak kencang.
"Naniaaa?"
"Ya pak?"
"Come!" Daryl menepuk kursi kosong di sampingnya.
Lalu Nania setengah berlari menghampiri pria tersebut, kemudian duduk di tempat yang dia tunjuk.
"Om olah raganya udah?" Anya pun mendekat.
"Sudah, makanya ke sini." Daryl mengusap keringat di wajah dan tubuhnya, lalu meminum air yang dia bawa.
"Ah, bohong! Pasti berhentinya karena ada Tante Nna, kan?" Anak itu tertawa.
"Heh, sembarangan kamu!"
"Orang dari pagi di gym terus?" Anya tertawa lagi.
"Tahu apa kamu soal urusan orang dewasa?"
"Nggak tahu, tapi lihat Om."
"Ssst! Diamlah!!" ucap pria itu kemudian beralih kepada Nania.
"Hey, ada apa denganmu?" tanyanya yang mendapati gadis itu yang tampak gelisah.
Wajahnya sedikit pucat dan keringat membasahi dahinya.
"Nggak kenapa-kenapa." jawab Nania yang kakinya seketika bergetar setiap kali menatap ke arah kolam renang.
"Are you oke?" Lalu Daryl mendekatkan kakinya pada kaki gadis itu yang seketika membuatnya diam.
"Um … ya, oke. Saya oke." jawa Nania lagi.
"Hanya … sedikit takut dengan air sebanyak itu." Gadis itu tergagap.
"What?"
"Saya takut air."
Daryl kemudian tertawa.
"Kenapa Bapak ketawa?"
"Ada orang takut air? Lalu bagamana kamu mandi atau yang lainnya? Pakai debu? Memangnya kamu kucing?" ujar pria itu, sedikit berkelakar.
"Serius, Pak."
"Aku juga serius."
"Maksud saya bukan air dalam artian kayak gitu, tapi dalam skala besar. Kayak kolam renang, sungai, danau sama laut."
"And you can't swim?"
"Ya."
"How ridiculous!"
"Beneran."
"Kamu terbiasanya lihat air se ember ya?" ejeknya. "Atau se ember juga takut?" Pria itu kemudian tertawa.
__ADS_1
"Hah, konyol sekali kamu ini?" katanya lagi, kemudian bangkit. Sementara Nania hanya mencebik.
"Apa hal ini juga membuatmu tidak bisa berenang?" katanya, dan dia mendekat ke arah kolam seraya merenggangkan tubunya melakukan pemanasan.
"Emang nggak bisa karena takut."
Daryl memutar bola matanya, kemudian meceburkan diri ke air. Dia menenggelamkan tubuhnya ke dasar kolam kemudian muncul ke permukaan.Â
"Hey, airnya segar. Apa kamu tidak mau bergabung?" ucapnya setelah bolak-balik dari ujung ke ujung.
"Saya nggak bisa renang, Pak. Kan takut air."
"Come on, belajarlah dan jangan takut." bujuk pria itu.
"Nggak mau."
"Ini aman, apa sih yang kamu takutkan. Hanya ada aku, bukannya buaya atau ikan hiu yang akan menggigitmu."
"Bapak sama bahayanya kayak buaya sama ikan hiu kok."
"What did you say?"
"Om bahaya kayak buaya." Anya dan Zenya tertawa.
"Sembarangan kalian!"
"Emang Om Der juga suka gigit kayak ikan hiu ya?" celetuk Anya, membuat Nania juga tertawa.
"Heh! Bicara apa kalian?"
"Nania, come on! Ini tidak apa-apa."
"Nggak ah, Bapak aja."
"Ayo, aku akan mengajarimu sehingga kamu tidak takut lagi?"
"Bapak bercanda ya? Nggak semudah itu untuk hilangin takutnya."
"Masa? Aku rasa kamu takut karena nggak bisa renang, dan itu akan hilang kalau kamu bisa."
"Nggak gitu konsepnya, Pak."
"Bagiku sama saja."
"Beda."
"Sama, Nna!"
"Bapak nggak tahu rasanya."
"Maka cari tahu agar kamu bisa menghadapinya."
Nania menggelengkan kepala.
"Ayolah!"
"Nggak."
"Hmm …." Lalu sebuah ide muncul di otaknya.
"Hey, Malyshka?"
"Apa lagi?"
"Tolong ambilkan minumku!" katanya, dan dia menunjuk botol minuman miliknya.
"Bapak kan ada di dalam air, masa haus sih?" Gadis itu terkekeh.
"Aku ini renang, bukan sedang minum-minum." jawab Daryl.
"Hmm …."
"Cepatlah, bawakan aku botolnya?" ucapnya lagi, lalu Nania pun menurut.
"Lebih dekat, aku nggak bisa mengambilnya!" Dia mengulurkan tangan.
"Bapak majulah, saya takut jatuh!" Sementara Nania menyodorkan benda tersebut.
"Kamu mendekatlah!"
"Ini terlalu dekat, Pak. Saya takut."Â
Dan pria itu hampir meraih botol di tangan Nania ketika dengan tiba-tiba malah pergelangan tangannya yang dia pegang. Lalu Daryl menariknya dengan keras sehingga gadis itu pun jatuh ke dalam air.
Nania menjerit dengan tubuhnya yang timbul tenggelam. Dia meronta-ronta dan mengalami kepanikan luar biasa.
Pikirannya diliputi ketakutan seolah-olah sesuatu tengah menariknya masuk ke dimensi lain dan dia tak dapat melaukan apa pun selain menjerit.
"Hey, hey! Tenanglah!" Lalu Daryl meraih tubuhnya.
Nania terus menjerit dan dia mulai menangis. Meski sadar ada orang lain di dekatnya namun hal itu tak dapat meredam ketakutan.
"Nania, stop!" Pria itu menariknya ke pelukan dan sontak saja Nania melingkarkan tangan dan kakinya pada tubuh kekarnya dengan erat.
"Ngga mau! Nggak mau! Aku nggak bisa!!" Nania terus menjerit.
Kedua tangannya memeluk erat pundak Daryl, dan kakinya melingkar dengan kencang di pinggang pria itu.
"Nggak bisa! Aku nggak mau!!!" Dia menangis dengan kencang.
"It's oke, it's oke." Daryl mencoba menenangkannya.
"Nggak mauuuu!!!" Gadis itu semakin histeris hingga membuat gaduh seisi rumah, dan orang-orang mulai berdatangan.
"Nggak mau, Pak! Nggak bisa!!!" Dia semakin erat memeluk tubuh Daryl.
"Ada apa?" Bahkan Sofia yang baru saja menyelesaikan jalan paginya bersama Satria pun segera menghampiri area kolam ketika mendengar keributan. Dan dia mendapati Nania bersama putranya yang tengah berpelukan di kolam renang.
"Daryl! Kenapa kalian ini?" Perempuan itu setengah berteriak.
"Om Dernya narik Tante Nna!" adu Zenya kepada sang nenek.
"Apa?"
"Om Der narik Tante Nna ke air, udah tahu Tante Nna nya nggak bisa renang." ulang anak itu.
"Keterlaluan, Daryl! Cepat bawa Nania naik!!" Sofia berteriak lagi, sementara dua sejoli di kolam renang sibuk dengan diri mereka sendiri.
Nania yang histeris dan terus menjerit-jerit, sedangkan Daryl yang berusaha menenangkannya. Dia tak menyangka jika gadis ini akan benar-benar ketakutan.
"Daryl, cepat naik!!" teriak Sofia lagi. Yang akhirnya membuat sang putra keluar dari air sambil menggendong Nania yang menempel erat padanya.
💖
💖
💖
Bersambung ....
Ayooo like komen sama hadiahnya kirim lagi.
__ADS_1