
💖
💖
Regan dan dua orang rekannya saling pandang setiap kali mendengar teriakan dari dalam ruangan yang mereka jaga. Hati mereka ketar-ketir mengetahui Daryl masih belum merasa puas menyiksa pria muda di dalam meski permohonan ampun berkali-kali diucapkan.
Tapi tak ada yang mampu mereka lakukan selain membiarkannya saja karena memang tak ada siapa pun yang bisa menghentikan Daryl. Energinya masih cukup banyak meski sudah lebih dari satu jam dia menyiksa Zayn.
"Buka pintunya." Tiba-tiba saja Satria muncul bersama Arfan.
"Pak?"
"Buka pintunya kataku!" ulang pria itu dengan suara rendahnya.
Mereka melirik kepada Arfan yang sedikit menyentakkan kepala memberi isyarat. Dan tak ada lagi yang dapat mereka lakukan karena petinggi Nikolai sendiri yang turun tangan kali ini.
Pintu dibuka dan seketika bau anyir menguar dari dalam, menandakan adanya pertumpahan darah dan mungkin akan jatuh korban jika tak segera dihentikan.
Daryl menenggak minuman dari botol dengan pakaiannya yang tampak basah karena keringat bercampur cipratan darah yang kemungkinan berasal dari korbannya.
Sementara Zayn meringkuk di sudut ruangan dengan keadaan yang sangat mengenaskan.
Wajahnya tentu saja babak-belur dan darah mengalir perlahan. Tangan dan kakinya tak bergerak namun suara rintihan pelan masih terdengar.
Satria dan Arfan menatap ke sekeliling. Nampak patahan kursi dan meja berserakan dan entah ada apa lagi di ruangan itu dan mereka tak ingin membayangkannya. Karena dipastikan Daryl benar-benar sudah menghajarnya kali ini.
Pria itu meletakkan botol minumannya di meja yang masih tersisa lalu kembali menatap Zayn yang sudah tak bergerak.
Namun tiba-tiba saja dia memecahkan botol tersebut dan membawanya ke dekat Zayn dengan bagian yang tajam terarah kepadanya.
"Daryl!!" Yang tentu saja membuat Satria dan Arfan segera menghampirinya.
"Daryl stopp!!" Satria menghentikannya.
Daryl berhenti ketika jaraknya hanya tinggal dua langkah lagi dari Zayn.
"Hentikan, Nak! Tidak boleh seperti ini." ucap sang ayah.
Daryl masih menatap pria yang hampir seumuran Nania itu dan kemarahan masih belum mereda di dadanya. Napasnya masih menderu-deru dan pandangannya tetap fokus pada Zayn.
"Berhenti, Der. Cukup!" ucap Satria lagi yang menyentuh pundak putranya. Dan seketika botol yang sudah pecah di tangan Daryl pun terjatuh ke lantai.
Arfan segera menariknya keluar, menjauhkan adik iparnya dari Zayn atau dia akan menghajarnya lagi jika itu tak mereka lakukan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Nania terperanjat ketika mengetahui kepulangan pria-pria itu ke rumah besar, begitu juga Sofia yang sejak tengah hari menunggu suami dan anak-anaknya pulang.
Setelah segala cerita tentang peristiwa yang menimpa menantunya di sekolah dan dia tahu apa yang akan terjadi setelahnya, perempuan itu tentu saja merasa khawatir.
__ADS_1
Bukan khawatir akan terjadi hal buruk kepada putranya, namun dia takut Daryl melakukan sesuatu yang buruk kepada orang lain.
Dia tahu bagaimana putranya yang tidak akan bisa dihentikan meski sesuatu sedang mengancam jiwa sebelum tujuannya tercapai.
"Oh, apa yang terjadi denganmu, Nak?" Sofia bereaksi demi melihat keadaan putranya.
Di pakaiannya terdapat noda darah dan keadaannya benar-benar tidak baik.
Tidak ada yang menjawab apalagi ketika Nania segera menghambur ke dekatnya.
"Ini apa? Kamu kenapa?" Nania hampir saja menangis seraya memeriksa tubuh suaminya.
Dia menyentuh kemeja putih yang bernoda merah itu dan memastikan kalau-kalau ada luka di tubuhnya.
"I'm okay." Daryl buka suara.
"Terus ini kenapa?" tanya Nania lagi yang menyeka air mata di pipinya.
"Aku … menghajarnya tadi … mungkin sekarang dia sudah … mati?" Pria itu berbicara.
"Aaaa nggak mungkin! Kamu nggak akan melakukan itu! Nggak akan mungkin!" Nania segera memeluknya dan dia kembali terisak.
"Ini sebabnya aku nggak mau bilang karena aku takut kalau kamu akan semarah ini. Huhuhu … jangan begini!!" Perempuan itu memeluknya erat-erat.
"Belum tentu juga dia mati, tenanglah!" Arfan menyela percakapan tersebut.
"Yeah, kalau tidak dihentikan mungkin juga kan?" Darren menjadi orang yang paling terakhir masuk. Dia menyusul ayah dan kakak iparnya bersama Dimitri setelah mendengar kabar dari Galang.
"Tidak ada yang mati! Anak itu sudah ditangani pihak rumah sakit." ucap Arfan lagi yang telah mendapatkan kabar dari Regan.
"Tuh kan, tidak mati?" Daryl menepuk-nepuk punggung istrinya yang terus terisak.
"Tapi … tetep aja … kamu udah bikin orang … hampir …."
"No!!"
"Sudah, sekarang bersihkan dulu dirimu. Nanti kita bicara lagi setelah semuanya tenang." Satria menghentikan pembicaraan, dan semua orang menuruti ucapannya.
***
"Dilaporin ke polisi aja cukup kan?" Nania mengusak kepala Daryl hingga busa dari shampo yang dia bubuhkan menjadi cukup banyak.
Sementara tubuh pria itu terbenam di bawah air hangat di dalam bak mandinya.
"It's not enough. Hukuman seperti itu bakan masih lebih ringan dari apa yang telah dia lakukan. Bayangkan apa yang akan dialami korban pelecehan seumur hidup mereka? Dan aku membayangkan itu juga yang akan terjadi kepadamu seandainya Regan tidak menemukanmu." Daryl menjawab, dan dia membiarkan saja perempuan itu melakukan apa pun kepadanya.
"Tapi nggak boleh main hakim sendiri, nanti malah kamu yang jadi salah. Gimana kalau Zayn meninggal?"
"Ya aku dipenjara lah, apa lagi?" Pria itu mendongak kemudian terkekeh.
__ADS_1
"Tega ya gitu sama aku?"
"Tapi aku sudah membela kehormatan istriku."
Nania terdiam.
"Kamu tahu, di luar sana banyak perempuan yang tidak mendapat keadilan atas apa yang mereka alami. Bahkan mungkin untuk bicara saja mereka tidak bisa karena banyak faktor. Entah karena takut atau karena ketidakmampuan untuk mengungkap hal buruk. Dan sering kali kelemahan itu yang dimanfaatkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab untuk mendapat keuntungan. Contohnya pada kasus Zayn. Dia bisa bebas dari hukuman yang seharusnya dijalani hanya karena korbannya tidak mampu menuntut lebih. Mereka tidak bisa." Daryl bangkit dan menegakkan posisi duduknya.
"But not for you, and not for me. Siapa pun yang berbuat salah harus mendapatkan hukuman yang setimpal. Kamu tahu apa yang akan papi lakukan jika aku berbuat keji seperti Zayn?"
Nania menggelengkan kepala.
"Papi akan membiarkan hukum berjalan semestinya dan tidak akan membelaku hanya karena aku anak seorang Nikolai. No, Malyshka. Bahkan mungkin papi akan membunuhku terlebih dahulu sebelum aku tiba di pengadilan jika aku memang bersalah. Tidak ada pengecualian. Itu sebabnya kami sangat keras untuk hal-ha seperti ini. No excuse."
"Kami bisa melakukan apa pun sesuka hati, tapi papi akan bertindak keras jika aku ataupun saudara-saudaraku berbuat jahat kepada orang lain. Bukan hanya kebebasanku yang akan diambil, tapi segala yang aku miliki."
"Sekarang kamu mengerti mengapa aku membatasi kebebasanmu? It's for you. Karena dunia tidak sebaik yang kamu kira. Dan kamu sudah pernah mengalaminya, bukan?"
"Tidak ingat kakakmu yang menjualmu kepada bandar judi? Atau kamu juga tidak ingat bahwa ibumu selalu memanfaatkanmu? Padahal kamu lahir dari rahimnya dan kamu selalu memberikan apa pun yang kamu punya. Tidak ingat?"
Nania mengatupkan mulutnya rapat-rapat.
"Aku bahkan membenci keluargamu karena hal itu, dan berharap mereka tidak akan pernah menampakkan wajahnya di hadapanku. Karena aku bersumpah bahwa aku tidak akan perna bisa bersikap baik kepada siapa pun yang telah menyakitimu."
"Understand now?" Daryl mencondongkan tubuhnya ke arah Nania, dan perempuan itu menganggukkan kepala.
Karena tak ada yang mampu dia lakukan selain mengamini setiap perkataan suaminya. Selain untuk menghindari perdebatan, juga semua yang dikatakannya memang benar.
"Aku hanya bertanya-tanya, apa yang membuatmu masih percaya bahwa dunia luar masih aman? Karena beberapa peristiwa seharusnya mengajarkan bahwa perkiraanmu tidaklah benar." Daryl mengulurkan tangannya dan menarik Nania agar lebih dekat.
"Dunia itu luas. Dan ada miliaran manusia di dalamnya termasuk aku dan kamu. Memang nggak mungkin semuanya orang baik, tapi nggak mungkin juga semuanya orang jahat. Dan aku udah menemukan banyak macam orang dengan karakter yang berbeda-beda. Dan apa kamu tahu? Meski aku bertemu banyak orang jahat yang berkali-kali menyakiti aku, tapi Tuhan juga mempertemukan aku dengan orang-orang baik. Salah satunya keluargamu. Jadi apa yang menjadi alasanku untuk nggak percaya bahwa dunia masih aman? Masalahnya hanya soal di mana kita tinggal dan dengan siapa kita hidup."
Kini Daryl yang terdiam.
"Dan aku tahu, kalau hidup denganmu maka aku akan selalu aman." Nania melepaskan pakaiannya kemudian masuk ke dalam baththub.
Dia meraih shower lalu membilas kepala pria itu dari sisa sabun dan memastikan semuanya bersih tak bersisa. Dan setelah yakin, Nania mengusap wajahnya yang basah kemudian mengecup bibir suaminya dengan lembut.
"Terima kasih Daddy, karena sudah menjagaku dengan baik." katanya, dan kedua tangannya melingkar di leher pria itu, hingga dada telanjang mereka saling menempel satu sama lain.
💖
💖
💖
Bersambung ....
Hadeh, tetep ya? 😁😁😁
__ADS_1