
Rambut mereka masih meneteskan titik-titik air ketika mencapai tempat tidur, namun Daryl tidak memberinya kesempatan sama sekali untuk mengeringkan diri.
Segalanya segera terjadi begitu dia membenamkan miliknya pada Nania, dan sepertinya sore itu menjadi saat-saat yang paling menegangkan.
Erangan dan des*han mulai mengudara setelah dua tubuh yang dikuasai hasrat itu bertautan.
Daryl berpacu dan menghentak sementara Nania menggeliat dibawahnya. Napas mereka beradu seiring gairah yang kian membara, dan suasana ruangan itu semakin memanas.
Pria itu menyentuh dadanya, mengusap perutnya, dan meremat pinggul yang bergerak-gerak seiring hentakan yang semakin intens. Sementara bibirnya tak berhenti mencium dan menyesap apa pun yang dia temukan.
"Mmm … Daddy!!" Nania meremat rambut di kepala pria itu yang sudah berantakan. Air bercampur keringat yang membuatnya menjadi semakin basah namun suhu tubuhnya kian memanas.
Keduanya semakin tenggelam dalam gelombang gairah yang terus meluap-luap tak tertahankan dan mereka tak ingin berhenti.
"Daddy!!" Nania merasakan sengatan di sekujur tubuhnya semakin menggila saja, dan disaat yang bersamaan dia menginginkan lebih.
Sesuatu di dalam dirinya menginginkan hal yang lain tapi dia tak bisa menjabarkannya dengan kata-kata, dan hanya des*hanlah yang keluar dari mulutnya ketika setiap jengkal pada tubuhnya merespon sentuhan Daryl.
"There you go." bisik pria itu ketika merasakan kedutan di pusat tubuhnya, seraya menambah tempo hentakannya.
Dia pun mengalami hal yang sama sehingga tak mampu lagi mengendalikan diri. Apalagi ketika mendengar suara Nania yang terus mengerang dan mende*ahkan namanya, semakin membuatnya kehilangan akal.
"Aaahh, Daddyyy!!" Perempuan itu hampir menjerit dengan tubuhnya yang mengejang ketika pelepasan menghantamnya, dan disaat yang bersamaan Darylpun menekan pinggulnya dengan keras kala mencapai klim*ksnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Tante Nna!!!!" Gedoran keras di pintu membangunkan mereka.
Matahari sudah bersinar menghangatkan dunia, namun keduanya masih bergelung di tempat tidur yang berantakan.
Beberapa bantal tergeletak di lantai sementara mereka masih saling berpelukan seolah waktu tidak pernah berputar.
Nania bangkit dalam keadaan linglung sementara Daryl menggeliat dengan santai. Dia bahkan menariknya kembali agar tetap berada di peraduan bersamanya.
"Tante Nna!!" Teriakan kembali terdengar dari luar, dan itu sudah bisa dipastikan adalah dua keponakan kecilnya yang entah mengapa sudah berada di sana.
"Oh, astaga!! Kenapa dua pengacau itu sudah mengganggu pagiku?" Daryl memijit pangkal hidungnya.
Nania bergeser kemudian bermaksud turun dari tempat tidur.
"Eh, mau ke mana?" Namun Daryl segera menahannya.
"Lihat mereka." Nania menjawab dengan suaranya yang parau.
"Biarkan saja!"
"Tapi mereka nggak akan berhenti kalau udah begitu." ucap Nania yang melepaskan tangan suaminya, kemudian memungut pakaian yang berada dibawah tempat tidur dan segera mengenakannya.
"Ya Zen?" Dia membuka pintu sedikit.
"Tante lepasin Heimlich? Tadi pas aku lihat di rumah bermain dia nggak ada. Toplesnya kosong!" Zenya segera menodongnya dengan pertanyaan.
"Umm … Heimlich?" Nania mengingat-ingat.
"Iya. Apa dia kabur ya? Tapi masa kabur? Kan opa tutupin toplesnya?"
"Oh … iya, kemarin Tante lepasin." Lalu dia menjawab.
"Yah … kok dilepasin?"
"Kasihan, Zen. Heimlich kan harusnya terbang bebas. Masa lupa apa yang Tante bilang?"
"Umm …."
"Zen? Astaga! Kenapa sudah mengganggu Tante? Masih pagi kan?" Dimitri muncul beberapa saat kemudian.
Dia sedikit terkejut mendapati adik iparnya yang pagi itu masih dalam keadaan berantakan.
"Ee …." Nania pun sama terkejutnya. Dia bahkan mendorong pintu hingga hampir tertutup untuk menyembunyikan diri dari sang kakak ipar.
"Nanti Tante ke bawah ya? Sekarang mau mandi dulu, oke?" ucap Nania kemudian.
"Come, Zen. Dengar kan yang Tante Nna bilang?" Dimitri mencoba menarik putranya.
__ADS_1
"Cepetan ya, Tante? Aku mau cari Heimlich! Kasihan. Gimana kalau dia belum makan?" Zenya dengan raut sendu.
"Iya." Kemudian perempuan itu benar-benar menutup pintu.
"Mau apa lagi dia?" Daryl duduk di pinggir tempat tidur sambil mengusak rambutnya yang berantakan.
"Tanya soal Heimlich." Nania masih berusaha menstabilkan kesadarannya.
"Astaga, anak itu?"
"Umm … katanya kasihan kalau Heimlich belum makan. Padahal kan hewan liar bisa cari makan sendiri, hahaha." Lalu Nania melenggang ke arah kamar mandi.
"Kamu mau mandi?" Daryl bertanya.
"Iya, masa mau tidur lagi?" Nania melepaskan pakaiannya di depan pintu.
Daryl menyeringai, lalu beberapa detik kemudian dia segera melesat ke tempat yang sama.
"Hey, mau apa?" Nania menahan pintu yang hampir saja dia tutup.
"Mau mandi lah." Pria itu mendorongnya.
"Aku dulu!" Nania hampir berhasil merapatkannya.
"Sama-sama saja."
"Nggak mau, nanti malah lama!"
"Tidak akan."
"Nggak! Nanti kamu macam-macam."
"Tidak …." Namun Daryl berhasil mendorong dan membuat Nania mundur ke belakang.
"Paling hanya satu macam." Dia menyeringai lagi.
"Tuh kan?"
Lalu pria itu tergelak sambil menutup pintu kamar mandi rapat-rapat.
***
"Kan udah terbang ke Swiss. Tadi subuh aku, Zen sama Papi antar Mommy ke bandara lho." jawab Anya yang meminum su*u kotaknya.
"Nanti balapannya di Swiss?" Nania tampak antusias.
"Ya."
"Wow. Lusa Coldplay konser di Swiss. Mmm … Kak Rania udah keliling dunia karena balapan ya Kak?" Perempuan itu tiba-tiba saja berbicara kepada Dimitri yang biasanya agak dia hindari.
"Ya, begitulah."
"Sejak kapan?"
"Sejak sebelum menikah." Dimitri menjawab.
"Itu berarti …." Nania menggerak-gerakan jari tangannya untuk menghitung.
"Lebih dari lima tahun ya?"
"Benar."
"Kok boleh?"
"Ya boleh, masa tidak boleh? Itu kan sudah pekerjaannya jauh sebelum kami bertemu."
"Maksudnya, kok bisa? Kak Rania kan sering pergi ke luar negri?"
"Memangnya kenapa? Dia bekerja dan menjalankan tugas negara. Dan itu hal baik."
"Ninggalin keluarga juga?" Nania sedikit takut untuk menanyakannya.
"Itu sudah resiko. Nanti juga kalau saatnya pensiun dia akan berhenti juga."
__ADS_1
"Pernah Kakak larang?"
Orang-orang di sekitarnya saling pandang.
"Umm … pernah ada niat, tapi tidak aku lakukan." Dimitri mengingat.
"Yeah, karena dia akan menghajarmu jika itu kau lakukan. Hahaha." Daryl menyela percakapan yang terasa semakin jauh ini.
Nania menoleh dengan kening menjengit.
"Shut up! Membiarkan istrimu melakukan apa yang dia inginkan, itu namanya saling menghargai. Dan untuknya, kebahagiaan adalah pergi balapan. Bukankah itu yang kita usahakan? Jadi, kenapa harus membatasi?" Dimitri menjawab ucapan adiknya.
"Ya, dan membiarkannya keluar dari rumah dalam waktu yang lama. Are you kidding? Kalau aku tidak mungkin membiarkannya seperti itu. Enak saja!"
"Tahu apa kau soal saling menghargai? Semuanya kan memang akan kau lakukan agar sesuai dengan keinginanmu. Jadi otakmu tidak akan paham dengan konsep yang kami jalani." Dimitri dengan santainya.
"Yeah, but …."
"Udah siang. Bukannya kamu hari ini banyak kerjaan ya?" Nania memotong percakapan. Dia merasa jika situasi seperti ini akan menjadi perdebatan.
"Umm …."
"Ayo, aku antar ke depan?" Perempuan itu menyelesaikan sarapannya.
***
"Nanti pulang malam?" Dia merapikan pakaian suaminya sebelum pergi.
"Mungkin. Harus bertemu orang dari beberapa agensi."
"Oke."
"Tapi akan aku usahakan untuk cepat menyelesaikannya, jadi …."
"Nggak usah cepat-cepat, nanti ada yang salah. Santai aja."
"No, aku akan membawamu pergi setelah ini, jadi …."
"Beresin aja dulu kerjaannya, baru mikirin yang lain."
"I know, so …."
"Tante Nna!! Ayo dong kita cari Heimlich! Di mana sih Tante lepasinnya?" Zenya muncul menginterupsi.
"Astaga! Masih soal kupu-kupu itu!!" Daryl bereaksi.
"Udah, cepet pergi. Aku ada tugas ngasuh keponakan kamu hari ini." Nania tertawa.
"Huh, kalau ada mereka pasti kamu lupa waktu."
"Sedikit. Cuma mereka hiburan waktu kamu lagi nggak ada, jadi ya begitulah."
"Tante!!" Zenya menarik tangan nania.
"Hmm …." Membuat Daryl mendengus keras.
"Cepet pergi, Daddy! Biar bisa menyelesaikan pekerjaannya." Perempuan itu segera mundur untuk mengikuti keponakan mereka.
"Wait!! Aku belum menciummu?" protes Daryl saat Nania menjauh.
"Nggak usah, aku malu kalau mereka lihat. Nanti jadi bahan banyak pertanyaan." Dia segera menjauh mengikuti dua anak tersebut sambil tertawa.
💖
💖
💖
Bersambung ...
Selamat tahun batu 2023. Semoga tahun ini kan lebih baik dari tahun kemarin.
Terus dukung novel ini ya, dan kita sama-sama memulai tahun ini dengan semangat!!
__ADS_1
Alopyu sekebon😘😘