The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Percakapan Di Sore Hari


__ADS_3

💖


💖


Nania menoleh ketika seseorang mendorong pintu kamar dari luar. Daryl diikuti dua orang pegawai perempuan yang membawa makanan dari bawah.


"Kamu lapar?" katanya saat kedua perempuan itu meletakkan makanan di atas tempat tidur.


"Thank you." Kemudian dua pegawai itu pergi meninggalkan mereka.


"Apa suhu ruangan perlu ditingkatkan lagi? Kamu masih sangat kedinginan?" Daryl duduk di pinggir tempat tidur.


"Nggak usah, ini udah cukup. Aku nggak menggigil kayak tadi." Nania tertawa seraya bergeser ke dekat nampan.


"Apa setiap hari selalu sesepi ini?" Dia meneguk susu hangat yang mengepulkan uap tipis.


"Yeah. Ded tidak suka keributan walau para pegawai sedang bekerja. Jadi mereka akan mengerjakan semuanya dalam kesunyian. Dan itu sudah menjadi kebiasaan meski Ded sudah tidak ada." Daryl memberikan sendok kepada Nania lalu dia membuka penutup mangkuk keramik berisi semacam sup yang menguarkan aroma khas.


Nania menatap makanan berkuah bening kecoklatan tersebut untuk beberapa saat.


"Aku rasa ukha sangat cocok untukmu. Ini rasanya hampir sama dengan sayur yang sering kamu buat." Daryl menggeser mangkuk ke dekat istrinya.


"Biasanya kami tidak menyertakan nasi. Tapi karena ini untukmu, maka aku minta mereka memasak nasi juga." Pria itu tertawa. 


"Apa ini daging ikan?" Nania meraup potongan yang dia kenali.


"Ya. Kamu juga bisa menyebutnya sup ikan."


Nania melahapnya pelan-pelan. Dan ya, rasanya tidak jauh berbeda dengan makanan yang biasa dia makan. Rasanya gurih dan nikmat dengan Isian potongan ikan salmon, wortel, kentang dan bawang bombai.  Jangan lupakan juga daun peterseli yang menambah wangi dan rasa pada kuahnya. 


"Ah, … enaknya!!!" Nania menyeruput kuah dan mengunyah isinya.


"You like it?"


"Hmm … ini memang kayak sop ya?"


"Ya, cocok untuk musim dingin seperti ini, dan akan membuatmu merasa hangat." 


"Iya, kamu benar."


Daryl kemudian menggeser satu piring berisi beef stroganof. Makanan khas yang teridiri dari daging sapi, jamur dan paprika itu juga tak kalah menggugah selera seperti makanan sebelumnya. Sehingga Nania pun tergoda untuk memakannya.


"Rasanya cocok untukmu?" Pria itu memperhatikannya melahap hampir semua makanan itu dengan semangat.


Dan Nania menjawabnya dengan anggukkan karena saat ini mulutnya penuh sehingga pipinya tampak menggembung.


"Well, sepertinya tidak akan susah memberimu makan di sini ya?"


"Ya, kayaknya aku cocok-cocok aja sama selera orang Rusia." ucap Nania, yang membuat Daryl tertawa.


"Apa masih ada ruang di perutmu?" Pria itu kembali menggeser makanan terakhir di nampan.


"Apa ini kue?"


"Hmm … medovik."


"Medovik?"


"Kue madu."


"Ya?"


"Hmm …."


Nania menatap kue berlapis-lapis dengan taburan kacang bubuk di atasnya itu.


"Pasti manis." Dia meraup ujungnya dengan garpu kemudian menyuapkan ke dalam mulutnya sendiri.


"Memang."


"Mmm …." Nania memejamkan mata.


Lidahnya mengecap rasa manis, gurih, lembut sekaligus renyah dari makanan tersebut. Perpaduan antara adonan kue, madu, krim dan taburan bubuk kacang. Dan itu rasanya enak. Membuatnya kembali mengambil potongan lainnya.


"Kamu juga suka?" Daryl juga ikut melahapnya.


"Ya, aku suka makanan enak." 


"Maka habiskanlah. It's good for you." pria itu menyesap kopi miliknya.


Lalu tanpa ragu Nania pun menghabiskan semua makanan di nampan, termasuk rasberry dan potongan buah lain yang juga dihidangkan pegawai untuk mereka.


***


"Berapa lama kita di sini?" Mereka pindah ke ruang tengah saat sore sudah menjelang.


Perapian sudah menyala dan beberap macam camilan juga minuman terhidang di meja, sehingga memudahkan keduanya jika sewaktu-waktu merasa lapar.


"Entah. Berapa lama pun tidak apa-apa."


"Nggak pulang-pulang maksudnya?"


Daryl menganggukkan kepala.


"Mana bisa?"


"Kalau pindah saja ke sini bagaimana? Aku rasa kita akan betah?" Daryl dengan idenya.


"Nggak mau. Biarpun hidup di sini kayaknya enak, tapi aku mending pulang ke Indonesia."


"Kenapa?"


"Karena di sana aku lahir sampai dewasa. Lagian kamu juga kan kerja di sana?"


"Pekerjaan bisa ditangani dari sini."

__ADS_1


"Untuk sekarang kayaknya belum mau deh, nggak tahu kalau nanti."


"Begitu?"


"Ya."


Lalu Nania menoleh ke arah luar ketika mendengar suara beberapa orang perempuan berbicara.


"Pegawai pulang." Daryl melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul lima waktu Moscow.


"Mereka nggak nginep?"


"Tidak. Ded tidak pernah mengizinkan pegawai perempuan menginap di sini."


"Memangnya rumah mereka dekat?"


"Tidak juga. Sebagian ada yang tinggal di kontrakan, atau mereka menyewa sebuah rumah dan tinggal bersama-sama di sana."


"Jadi mereka datang pagi-pagi, kerja seharian terus pulang?"


"Ya."


"Kenapa nggak tinggal di sini aja sih? Ribet amat."


"Ded tidak suka terlalu banyak orang."


"Kalau misalnya ada apa-apa pas malam gimana?"


"Ada penjaga."


"Kalau mau makan pas malam-malam?"


"Ya masak sendiri."


"Kamu juga begitu?"


"Ya."


"Emangnya bisa masak?"


"Kalau hanya stroganov aku bisa."


"Masa?"


"Lagipula, memangnya ini zaman apa? Kita bisa pesan online kan? Kenapa harus repot?"


"Ah, iya aku lupa. Soalnya kalau di rumah besar belum pernah order online. Apa-apa udah ada."


"Papi tidak mengizinkan."


"Apa?"


"Papi tidak pernah mengizinkan makanan yang dipesan online masuk ke rumah besar."


"Kenapa?"


"Iyakah?"


"Ya, coba saja kamu pesan ayam geprek atau pizza, dalam waktu setengah jam akan ada pegawai yang sibuk membuat makanan itu di dapur."


"Duh? Sampai segitunya?"


"Selama di rumah ada papi, apa pun akan selalu tersedia termasuk makanan atau minuman yang kita lihat iklannya di tivi."


"Definisi nyediain semuanya di rumah ya? Biar anak-anaknya nggak jajan di luar?"


Daryl menganggukkan kepala.


"Eh, kan udah nggak ada anak-anak sekarang?"


"Siapa bilang? Itu dua cucu yang sering dititip kamu pikir apa? Hewan peliharaan?"


Nania tertawa.


"Tapi mereka nggak pernah minta yang aneh-aneh. Makan apa aja yang ada di rumah, kecuali es krim harus pesan dari kedai."


"Iyalah, mereka sibuk cari ulat dan kaki seribu."


Perempuan itu tertawa lagi.


"Serius, kalau usilnya sih mirip Kak Dim, tapi nakalnya pasti mirip Rania." Daryl berujar.


"Masa?"


"Iya. Makanya kamu jangan terlalu dekat dengan Anya dan Zen, nanti anak kita akan mirip mereka."


"Mana bisa begitu?"


"Bisa saja kalau terlalu dekat kan?"


"Kamu ngaco!" Nania menekuk kakinya sambil merapatkan selimut ketika dia merasa udara menjadi semakin dingin.


"Serius. Seram sekali nanti anak gadis kita seperti Anya."


"Memangnya kita akan punya anak sekarang ya?"


"Siapa tahu kan? Apalagi aku nggak pakai pengaman setiap kali kita berhubungan?"


"Memangnya bakalan langsung jadi?"


"Aku nggak tahu, apa kamu merasakan sesuatu?" Daryl merangkul pundaknya dan menariknya ke pelukan.


"Nggak."


"Masa?"

__ADS_1


"Iya, biasa aja. Memangnya kenapa?"


"Tidak." Pria itu terkekeh.


"Kalau kita punya anak sekarang gimana?" Nania berbicara lagi.


"Tidak bagaimana-bagaimana, biarkan saja."


"Iya?"


"Ya, bagus juga kan?"


"Terus sekolah aku gimana?"


"Sekolah ya sekolah saja, kan online."


"Hmm …."


"Memangnya sudah ada ya?" Pria itu menyentuh perut Nania lalu mengusap-usapnya perlahan.


"Nggak! Aku cuma nanya."


"Aku kira sudah."


"Nggak mungkin, baru berapa minggu kan?"


"Ya ya ya, tapi kita tidak tahu kan?"


"Apa kita buru-buru?" Nania lalu bertanya.


"Soal apa?"


"Punya anak sekarang."


"Tidak juga, aku santai."


"Kalau ditunda dulu gimana?"


"Maksud kamu?"


"Kita jangan dulu punya anak, kan aku mau sekolah?"


"Kalau sekolahnya online kan tidak apa-apa."


"Katanya kamu santai soal punya anak?"


"Ya memang, terus kenapa?"


"Kenapa nggak kita tunda dulu?"


Daryl terdiam.


"Daddy?"


Pria itu tergelak.


"Panggilanmu itu membuatku merasa ingin ke kamar lagi? Hahaha."


"Nggak mau, seharian kita di kamar terus kayak pengantin."


"Bukankah kita memang baru menikah?" Pria itu terkekeh.


"Mau tiga minggu."


"Hmm … dan kamu ingin menunda punya anak padahal kita baru tiga minggu menikah?"


"Tapi kan barusan kamu bilang santai."


"Santai kalau memang belum diberi kepercayaan. Tapi kalau misal diberinya sekarang juga tidak apa-apa. Jangan ditunda juga, tidak baik."


"Begitu?"


"Ya. Jadi, ayo kita berusaha lagi?" Pria itu mencondongkan tubuhnya sehingga dia menindih Nania yang sudah berada di bawahnya.


"Berusaha apa?"


"Untuk menghasilkan anak?" Lalu dia tertawa.


"Berusaha terus? Tadi pagi kan udah?" Nania mengingatkan.


"Usaha itu harus terus dilakukan sampai berhasil."


"Istirahat dulu lah, capek tahu!"


"Aku tidak."


"Tapi aku capek."


"Masa? Kalau begitu ayo aku gendong?" Daryl hampir bangkit dan menarik Nania.


"Nggak mau!!! Masih mau di sini dulu!" Namun perempuan itu balik menariknya hingga Daryl kembali jatuh menindihnya.


"Baiklah, mau di sini? Sepertinya akan bagus juga mencoba hal baru?" 


"Nggak!! Diem dulu di sini nggak mau ngapa-ngapain!!!" Nania merengek sehingga membuat pria itu tertawa.


💖


💖


💖


Bersambung ...


hajar teruuusss!!🤣🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2