
Untuk yang mau promo karya silahkan chat Author.
π
π
"Aku kira kamu sudah tidur?" Daryl memeriksa pintu balkon yang terbuka sehingga angin malam masuk ke dalam kamar mereka, dan dia menemukan Nania yang duduk diluar menatap langit yang kelam.
"Tiba-tiba aja aku ingat ayah sama nenek." Perempuan itu buka suara.
"Ayah dan nenek?" Daryl kemudian duduk di sampingnya.
"Iya. Ingat janji kalau aku udah bisa sewa kamar kost aku mau bawa nenek tinggal sama aku. Ingat juga pas ayah lagi sakit banyak hal yang nggak bisa kami lakukan. Dan sekarang setelah aku punya dan mampu karena ada kamu, mereka nggak ada."
"Jangan sedih!" Pria itu meraih tangannya.
"Aku nggak sedih, cuma ingat aja. Coba kalau waktu itu nenek sekalian aku bawa, mungkin masih ada."
"Tidak bisa seperti itu, Malyshka. Karena kematian adalah sesuatu yang pasti. Dia akan mengambil siapa pun yang sudah tiba pada masanya, di waktu yang paling rahasia dan kamu tidak akan pernah menyangkanya sama sekali."
"Iya sih."
"Jadi jangan pernah menyesali apa pun yang sudah terjadi karena semuanya memang harus terjadi."
"Nggak. Aku cuma mikir aja kalau nenek masih ada mungkin aku akan bawa nenek tinggal sama kita."
"Iya, aku tahu. Tapi Tuhan lebih sayang nenekmu, sehingga Dia mengambilnya lebih cepat walau dengan cara yang mungkin sedikit menyakitkan. Tapi semoga sekarang dia ada di tempat yang paling baik, bukankah nenekmu orang baik?"
Nania mengangguk. "Nenek yang selalu belain aku kalau ibu lagi marah-marah. Nenek juga sering nyembunyiin makanan kalau aku nggak kebagian gara-gara ibu yang lebih mentingin Bang Sandi."
"Haih, ibu macam apa itu? Kamu kan masih anaknya juga?"
"Nggak tahu, mungkin menurut ibu anak laki-laki lebih berharga dari pada anak perempuan."
"Sama saja. Mau laki-laki, mau perempuan tergantung orangnya. Tapi buktinya ibumu selalu mencarimu ketika dia sedang dalam kesulitan?"
"Bang Sandinya dipenjara."
"Memangnya kalau tidak dipenjara dia berguna?"
"Mm β¦ nggak juga sih." Nania terkekeh.
"Makanya. Kan seseorang itu seharusnya tidak boleh dipandang karena siapa dia tapi apa andil juga kontribusinya terhadap hidup kita. Dan bagaimana mereka memperlakukan kita. Jadi kalau yang tidak berguna lebih baik di skip saja apalagi kalau menyusahkan."
"Iya. Eh, kamu udah beres?" Lalu Nania mengalihkan topik pembicaraan.
"Malam ini sudah dulu, mungkin bisa dilanjutkan lagi besok."Β
"Masih untuk proyek iklan itu ya?"
"Iya."
"Kenapa mau kamu ganti? Kan udah ada yang siap diluncurkan? Jadi ngulur waktu kan?"
"Aku tidak mau menggunakan iklannya karena sebelumnya sudah pernah digunakan produk lain."
"Tapi kan mereka nyuri dari kamu? Seharusnya nggak ada masalah dong?"
"Tetap saja rasanya jadi berbeda. Aku malihatnya sebagai produk gagal."
"Tapi kan kerjaan kamu jadinya sia-sia? Waktu kamu jadi percuma dan malah keluar uang lebih banyak juga kalau mau bikin iklan sama konsep baru kan?"
"Tidak apa, tapi hatiku puas. Belum lagi kita akan menggunakan uang ganti rugi untuk membuat ulang iklan dan segala promosinya, jadi tidak sia-sia juga."
"Semuanya mau kamu ganti?"
"Ya. Termasuk desain botolnya."
"Itu juga?"
Daryl menganggukkan kepala.
"Bener-bener kerja dua kali ya?"
__ADS_1
"Tidak boleh tanggung-tanggung, karena yang mencuri pun tidak tanggung-tanggung."
"Hmm β¦."
"Belum mau tidur? Apa kamu tidak lelah setelah jalan-jalan sejak semalam?"
"Sedikit."
"Soalnya kakiku sedikit sakit." keluh Daryl.
"Oh ya?"
"Ya. Sudah lama sekali tidak mengendarai motor, tiba-tiba saja kita berkendara jauh."
Nania tertawa pelan seraya merangkul pundak suaminya.
"Memangnya kapan kamu mengendarai motor?"
"Dulu waktu Kak Dim awal menikah. Kalau pulang ke sini aku sering pinjam motor itu, atau kadang pinjam motornya Rania untuk jalan-jalan."
"Ini paling manis. Melihat kamu melakukan banyak hal cuma biar aku bahagia." Nania merangkul lengan pria itu dengan kedua tangannya.
"Aku juga bahagia kan?"
"Hu'um. Tapi aku kira kamu nggak bisa bawa motor?"
"Bisa. Bawa helikopter saja bisa apalagi motor? Gampang." Daryl dengan bangganya.
"Iya, kecuali pasang kancing sama iket tali sepatu yang kamu nggak bisa." Nania menyahut.
"Ah, iya. Itu saja yang aku tidak bisa padahal seharusnya paling mudah kan?"
Nania tertawa.
"Nggak apa-apa, kan ada aku."
"Manurutmu aku harus terapi?"
"Terap untuk apa?"
"Memangnya harus? Apa itu mengganggu?"
"Sejauh ini tidakΒ kalau untuk sehari-hari selain jika aku sedang berpakaian, hanya saja β¦."
"Terserah kamu aja, kalau kamu mau kita bisa terapi. Kita cari dokter atau orang yang mengerti masalah ini. Atau mau terapi mandiri juga bisa kan, kita tinggal cari di internet."
Daryl mengangguk-anggukkan kepala.
"Apa tidak terlambat? Sudah sedewasa ini baru terpikirkan untuk terapi?" Daryl berpikir.
"Aku pikir nggak. Mungkin kalau ketahuan dari kecil Mama sama Papi akan melakukan sesuatu?"
"Mungkin β¦."
"Kok bisa sampai nggak ada yang tahu kecuali Darren sih? Yang aku baca di internrt hal kayak gitu bisa dideteksi dari kecil lho."
"Aku juga tidak sadar sampai Bu Lilly mengambil cuti yang cukup lama karena ada urusan keluarga. Dari kecil dia tidak pernah membiarkanku melakukan apa pun sendirian, lain dengan Darren. Perlakuannya kepadaku memang agak berbeda. Makanya setelah kami memutuskan untuk pergi ke Moscow dia sempat tidak setuju. Dia bahkan sering menghubungi pengurus mansion hanya untuk menanyakan keadaanku."
"Pengasuh rasa nenek ya?"
"Dia selalu datang paling awal sebelum Mama untuk mengurus kami."
"Bu Lillynya masih ada? Waktu kita nikah kok dia nggak ada?"
"Sudah meninggal karena sakit. Regan yang menggantikan."
"Regan?"
"Regan kan cucunya."
"Oh ya?"
"Aku juga baru tahu setelah beberapa bulan dia ikut kita."
__ADS_1
"Memangnya kamu belum pernah ketemu keluarganya Bu Lilly selama ini?"
"Bu Lilly tidak pernah membawa-bawa anggota keluarganya dalam urusan pekerjaan. Regan masuk Nikolai Grup juga karena Papi yang menyuruh orang mencari keluarganya. Dan dia baru saja lulus kuliah watu ditemukan."
"Hmm β¦."
"Dan dia kehilangan banyak momen dengan keluarga karena mengurus kami."
"Begitu ya?"
"Ya."
"Baiklah, soal ke dokter mungkin kamu mau besok setelah aku sekolah? Kamu sibuk nggak?"
"Mmm β¦ mungkin sore saja setelah aku selesai bekerja."
"Oh iya."
"Tapi mungkin setelah terapi tidak bisa normal sepenuhnya. Karena ini bukan penyakit, tapi kelainan. Aku akan tetap lambat dalam hal ini dan tidak bisa secepat orang normal, juga tetap butuh bantuanmu."
"Ya nggak apa-apa, se nggaknya kita udah mencoba. Aku juga nggak sepenuhnya pulih dari ketakutan. Tetap merasa kalau aku akan tenggelam setiap kali masuk ke dalam air, padahal cuma masuk baththub. Kecuali kalau ada kamu aja didalamnya baru aku yakin nggak akan ada apa-apa, kan?"
Daryl tertawa.
"Jadi kayaknya kita sama aja deh."
"Yeah β¦." Pria itu merentangkan kakinya, namun dia sedikit mendesis.
"Kenapa?"
"Kakiku sakit. Berkendara jauh untuk pertama kalinya setelah beberapa lama ternyata tidak baik juga." Dia mengusap-usap pahanya dan merasakan sakit yang cukup menyiksa.
Kini Nania yang tertawa. "Mau aku pijitin?" Lalu dia menawarkan diri.
"Memangnya bisa?"
"Bisa sedikit."
"Baiklah, ayo." Mereka bangkit. "Aduh, pinggangku juga!!" Dia berhenti sebentar.
"Alah, baru bawa motor segitu kamu udah sakit. Gimana Kak Rania yang setiap minggu ada balapan di sirkuit ditambah latihan yang lama sebelumnya?"
"Itu beda tahu? Dia kan sudah biasa." Mereka masuk ke dalam kamar.
"Kayaknya sama deh?"
"Sama sebelah mananya?"
"Kamu juga sering balapan sebelum nikah sama aku?"
"Balapan apa?"
"Balapan di tempat tidur?" Nania tertawa lagi.
"Ish!! Itu dibahas?"
Perempuan itu lalu membiarkannya berbaring tertelungkup di tempat tidur.
"Tapi ada syaratnya!" Kemudian dia memperingatkan.
"Syarat apa?"
"Cuma pijit aja, jangan ngapa-ngapain." Nania duduk di bagian belakangnya.
"Kan aku yang dipijit? Jadi kamu yang ngapa-ngapain aku?" jawab Daryl.
"Eee β¦ iya juga ya? Hahaha."
π
π
π
__ADS_1
Bersambung ....
Kok nggak anu? πππ