The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Satpam


__ADS_3

πŸ’–


πŸ’–


"Duh, ada satpam." Regan bergumam ketika dia melihat Arfan dari kejauhan.


Pria itu berdiri di teras rumahnya seperti petugas keamanan yang sedang menjaga posnya.


"Mana? Nggak ada ah, masa jam segini udah ada?" Anandita melihat ke sekeliling jalan yang mereka lewati.


"Umm … tadi di belakang." Regan berdeham. Kemudian dia menghentikan laju mobilnya setelah memasuki pekarangan rumah di pinggir pantai tersebut.


"Papa?" Anandita turun setelah Regan membukakan pintu untuknya.


"Selamat sore, Pak?" sapanya dari jarak dua meter di mana Arfan berdiri sambil melipat kedua tangannya di dada.


"Sore." Pria itu menjawab singkat.


"Aku pikir Papa ke Bogor?" Sang anak menghampiri ayahnya.


"Bagaimana bisa pergi ke Bogor sedangkan kamu ada di luar rumah sendirian?" jawab Arfan.


"Nggak sendirian. Kan ada Tante Nna sama Om Regan."Β 


"Bagaimana bisa dia yang mengantarmu pulang?" Lalu dia bertanya.


"Ya sekalian ikut pulang habis nganter Tante Nna dulu."


"Kenapa tidak antarkan kamu ke sini dulu baru pulang ke rumah besar?" Arfan melirik ke arah ReganΒ 


"Ya muter-muter lah jadinya."


"Hmm …." Pria itu memicingkan mata.


"Saya pamit?" Regan menginterupsi sambil melirik ayah dan anak itu bergantian.


"Nggak mau masuk dulu?" tawar Anandita yang membuat Arfan mendelik.


"Eee … tidak, terima kasih." tolaknya, dan dia berharap bisa segera pergi.


"Kalau gitu oke Om, makasih ya?" Anandita melambaikan tangan ke arah pria itu, membuat Arfan memutar bola matanya.


Regan mengangguk lagi sebelum akhirnya dia cepat-cepat meninggalkan tempat tersebut bersamaan dengan Arfan dan Anandita yang masuk ke dalam rumah mereka.


"Sepertinya bukan hanya Pak Daryl yang akan aku hadapi. Tapi ditambah Pak Arfan dan putrinya sesekali, apalagi Ann ikut mengajar di rumah baca. Hufftthh …." Gumamnya dalam hati.


"Papa kenapa sih mukanya nggak enak gitu? Lagi ada masalah ya di resort? Bete amat?" Gadis itu mengekori sang ayah.


"Huh, sampai juga akhirnya?" Dygta menyambut mereka di ruang tengah.


"Lah, pada nunggu?" Anandita meletakkan tasnya di sofa.

__ADS_1


"Mama sih tidak, tapi Papa yang dari tadi berdiri di teras sejak kamu memberi tahu akan pulang diantar Regan." jelas sang ibu.


"Aduh? Kenapa pake nungguin segala? Kan udah aku bilang tadi?"


"Bagaimana tidak? Anak perempuan pulang diantar laki-laki ya Papa tunggu." Arfan menjawab.


"Masalahnya di mana? Kan cuma Om Regan kepercayaannya Om Daryl?"


Arfan tampak mendengus.


"Bukan Regannya yang bermasalah, tapi Papamu."


"Dih? Kan tadi udah aku tanya ada masalah apa? Papanya nggak jawab."


"Masalahnya karena satu lagi anak perempuan Papa pulang diantar laki-laki." Dygta tertawa.


Anandita mengerutkan dahi.


"Ah, sudahalh. Kamu tidak akan mengerti. Ini urusan bapak-bapak."


"Heuh, urusan orang tua emang bikin pusing. Makanya kalau bisa aku mau jadi anak-anak terus biar nggak kebagian pusingnya." Gadis itu bangkit lalu melenggang ke arah tangga menuju ke lantai dua di mana kamarnya berada.


"Mana bisa? Mimpi kamu!" Dygta menyahut ucapan putrinya.


"Ya kan kalau bisa. Dan nyatanya nggak akan bisa."Β 


"Huh, rugi kamu kalau jadi anak-anak terus." ucapan sang ibu menghentikan langkah Anandita.


"Ya … rugi pokoknya." Dygta tersenyum, lalu dia duduk di samping Arfa sambil mengusap-usap pelan dada suaminya.


Dia tahu pria itu sudah mulai merasa gundah karena melihat perubahan pada putri keduanya.


"Ish, Mommy nggak jelas deh!" Lalu Anandita bergegas naik ke kamarnya.


"Sabar Papa, anak kita sudah besar." ucap Dygta kepada Arfan yang merebahkan kepalanya pada sandaran sofa.


"Kita tidak bisa mencegah atau menghindar karena semuanya akan terjadi cepat atau lambat." lanjutnya, dan dia merangkul pundak pria itu.


"Tapi tidak di usianya yang semuda ini. Dia bahkan baru kelas dua SMA. Kamu dulu begitu waktu hampir lulus? Kenapa anak sekarang cepat sekali besarnya?" Arfan menatap tangga yang dilewati oleh putrinya.


"Bukan umur yang bisa menentukan, tapi memang prosesnya yang seperti itu."


Pria itu tampak menarik dan menghembuskan napasnya pelan-pelan.


"Tenang, ada Asha yang masih manja kepadamu. Dunianya masih hanya dipenuhi makanan dan hobby. Jadi kamu tidak akan terlalu patah hati." Dygta menahan tawa.


"Hah! Jangan bicarakan itu terus, aku kesal jadinya." Arfan bangkit lalu dia juga menuju tangga.


"Eh, jangan dulu ganggu Ann ya? Kan kita belum tahu kebenarannya. Regan juga tidak berbuat macam-macam kan?" Perempuan itu mengekorinya dari belakang.


"Siapa juga yang mau bicara kepada Ann?" Arfan menjawab.

__ADS_1


"Terus?"


"Aku mau mandi. Rasa kesal ini membuatku gerah saja." Mereka sudah tiba di lantai dua.


"Baiklah, kalau begitu aku juga mau ikut." ucap Dygta yang mendorong suaminya memasuki kamar mereka.


***


"Makan!" Sebuah bungkusan setengah dilemparkan hendrik ke arah meja yang sedang di bersihkan oleh Mirna.


Kantong kresek berwarna hitam berisi bungkusan nasi yang sudah dicampur dengan lauknya menjadi menu makan malam perempuan itu setelah seharian ini Hendrik mengurungnya di rumah susun.


Mirna tertegun menatap benda tersebut.


"Cepat makan! Jangan sampai kau sakit karena kekurangan makan ya? Apalagi besok sudah mulai bekerja lagi. Awas jika kau menyalahkan aku!" ancam Hendrik kepadanya.


Mirna lantas duduk dan meraih bungkusan tersebut, kemudian mulai melahapnya meski lidahnya tak mampu merasai makanan tersebut.


Bukan karena tidak enak, tapi keadaannya yang tidak terlalu baik. Tubuhnya masih kuat tapi batinnya yang tidak baik-baik saja.


"Setelah ini kau tidur agar pagi-pagi bisa berangkat kerja. Besok gajian kan?" Handrik duduk di kursi kosong di depannya, dan apa yang dia katakan membuat Mirna menghentikan kegiatan makannya.


"Aku sudah ikut taruhan. Dan jika menang kita akan jadi orang kaya. Maka aku membutuhkan uang itu untuk menambah taruhannya."


Mirna semakin tertegun.


"Gajiannya tidak seberapa, lagipula aku membutuhkan uang itu untuk …."


"Nanti aku ganti! Kenapa kau ini?" Hendrik menggebrak meja.


"Dan ingat untuk menghubungi putrimu nanti." lanjut pria itu yang kemudian bangkit dan mengambil jaketnya.


"Setidaknya jangan libatkan lagi Nania dalam urusan ini. Aku tidak mau mengusiknya. Apakah aku saja tidak cukup untukmu?" Mirna menjawab dengan suara bergetar.


"Mau tidak mau di harus terlibat, dia kan putrimu. Tidak lihat sekarang hidupnya sudah senang? Apa kau tak ingin ikut menikmati apa yang dia punya sementara keadaanmu seperti ini?"


"Aku tidak bisa, dan tidak berani melakukannya. Kau tidak tahu apa yang akan dilakukan suaminya kepadaku jika aku mendekat."


"Maka lakukan diam-diam agar pria itu tidak mengetahuinya!" Hendrik kembali mendekat dan dia mencengkram wajah Mirna.


"Ba-bagaimana caranya?"


"Itu urusanmu!" Kemudian dia menghempaskannya dengan keras sebelum akhirnya pergi.


Sementara Mirna menelungkupkan wajah di atas meja lalu dia menangis sesenggukkan.


πŸ’–


πŸ’–


πŸ’–

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2