The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Setelah Hujan


__ADS_3

💖


💖


"Kenapa makanannya dibawa lagi? Nania sudah masak?" Sofia menemukan Mima yang kembali ke rumah besar dengan wadah makanan yang masih terisi penuh.


"Pintunya dikunci, Bu. Saya gedor-gedor sama pencet bel tidak ada yang menjawab." Mima meletakkan nampan berisi wadah makanan di meja makan.


"Lho? Terus mereka pergi ke mana? Masa hujan-hujan begini pergi?"


"Nggak tahu, Bu. Mungkin tidur?" jawab sang asisten rumah tangga.


"Tidur?"


"Mungkin. Orang hujannya barusan deras banget kan?" Mimma menatap gerimis sisa hujan deras sebelumnya.


"Iya juga. Atau Nania masak sendiri ya, jadinya mereka sudah makan?"


"Rumahnya sepi banget, Bu."


"Ya sudah, kalau lapar mungkin nanti mereka ke sini. Dibereskan lagi ya?" titah sang majikan yang pergi setelah pegawainya tersebut menjawab.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Daddy, nanti ada yang datang lagi." Nania menghalangi pusat tubuhnya ketika Daryl hampir kembali membenamkan miliknya begitu mereka berhasil pindah ke kamar di samping ruang kerja.


"Tidak akan, Mimanya sudah kembali ke rumah besar." Namun pria itu berusaha menyingkirkannya, dan melepaskan pakaian yang tersisa sehingga kini mereka sama-sama telanjang.


"Yakin? Nanti kalau Mbak Mima balik lagi gimana?" Lalu Nania mundur untuk menghindar.


"Tidak, dia tahu majikannya sedang sibuk." Dan Daryl mengikutinya naik ke tempat tidur mereka hingga Nania terjebak di ujung tempat bantal bertumpuk.


"Mbak Mima tahu kita lagi anuan?"


"Ish, bukan itu lah!"


"Terus maksud kamu Mbak Mima tahu kita lagi sibuk itu apa?"


"Ya tidak mungkin Mima punya pikiran sekotor itu lah. Memangnya kamu?" Dan jarak mereka memang sudah cukup dekat.


"Pikiran aku kotor juga gara-gara kamu, kan?" Nania tampak mengerucutkan mulutnya sementara Daryl terkekeh sambil menundukkan wajahnya.


"Ya, dan aku suka dengan pikiran kotormu." katanya, yang kemudian mengecup telinga perempuan itu.


Tangannya kembali menyentuh dada Nania bersamaan dengan bibir mereka yang lagi-lagi saling memagut mesra. Dan dia merangsek di antara kedua kakinya yang terbuka lebar.


"Mmm … Daddy!" protes Nania ketika cumbuan suaminya turun dan berhenti di dada untuk mempermainkannya.


"Sekali lagi, Sayang. Aku janji." Pria itu menghentikan aksinya sejenak setelah memastikan istrinya sudah siap.


"Tapi babynya … ahhh!" Nania mengerjap ketika Daryl berhasil menerobos inti tubuhnya, yang akhirnya membuat dia pasrah dengan apa yang terjadi selanjutnya.


Pria itu menghentak perlahan pada awalnya dan kedua tangannya yang tetap menyentuh setiap jengkal bagian tubuh Nania sehingga istrinya itu tentu saja terpancing.


"Oh … you are soo good!" Daryl terus meracau dengan kening mereka yang menempel smentara bagian bawah tubuhnya terus bergerak.


Kedua tangan mereka saling bertautan dan Nania membiarkanya saja dia terus mengecupi wajah, leher dan dia berlama-lama di dadanya.


Erangan dan des*han terus mengudara, mengisi hening dan syahdunya suasana pada lewat tengah hari yang dingin itu.


"Daddy, aku udah nggak tahan!" Nania merengek saat dia merasa pelepasannya hampir tiba.


"Hum? Apa sakit? Aku melakukannya terlalu keras?" Daryl mengira apa yang dilakukannya menyakiti perempuan itu sehingga dia berhenti sejenak dan hampir menarik diri.

__ADS_1


"Bukan!!" Namun Nania melingkarkan kedua kakinya untuk menahan dan membuat suaminya menuntaskan pergumulan ini.


"What?" Napas pria itu sudah menderu-deru karena harus menahan hasrat yang sedang berkobar.


"Selesaikan, Dadd." katanya, dan dia mengeratkan lilitan kakinya sehingga alat tempur pria itu kembali terbenam seluruhnya.


"Ugh!" Daryl kemudian terkekeh setelah dia faham apa maksudnya.


"Selesaikan sekarang, hum?" Dia kembali menunduk untuk menikmati bibirnya yang sudah membengkak akibat ciumannya yang begitu bersemangat.


Nania menganggukkan kepala.


"As you wish, Ma'am." Pria itu berbisik kemudian dia melanjutkan hentakan.


Des*han dan erangan kembali mengudara begitu Daryl memacu tubuhnya. Dan rintihan kenikmatan tentu saja keluar dari mulut Nania, membuatnya menjadi semakin bersemangat. Apalagi ketika perempuan di bawahnya terus meracau tak karuan dan dia memohon agar percintaan itu untuk segera dituntaskan.


Tentu saja hal itu membuatnya senang dan dia semakin merasa bergairah karena mendengar rengekan dan permohonan istrinya.


"Daddy, aaahhhh!" Nania menggeliat lalu di detik berikutnya tubuh yang sudah basah oleh keringat itu bergetar hebat ketika dihantam pelepasan.


Dan Daryl memacu tubuhnya lebih cepat saat dia juga merasakan hal sama. Hingga akhirnya semua yang dia inginkan tiba menggulung tubuhnya yang dia tekan kuat pada Nania.


"Aaaarrrgggghhhh!" Dan geraman itu sengaja dia redam di belahan dada istrinya.


***


"Dada aku kok sakit ya, Dadd?" Nania berdiri di depan cermin saat sedang berpakaian.


Menatap pantulan dirinya yang baru mengenakan pak*ian dal*m dan kausnya saja.


"Benarkah? Kenapa?" Daryl yang baru saja keluar dari kamar mandi pun mendekat.


"Nggak tahu, mungkin kamu tadi meganginnya terlalu keras?" Lalu dia menyentuh dadanya sendiri yang memang terasa sakit.


"Serius, Dadd. Ini sakit." keluh Nania lagi.


"Tadi tidak mengeluh sakit. Kamu bahkan menarik-narik tanganku untuk terus menyentuhnya, kan?" Daryl mengingatkan interaksi mereka sebelumnya.


"Kalau itu … umm …." 


Daryl pun menyentuh dadanya dari belakang.


"Jangan ah, kan sakit. Kamu suka kebablasan kalau megang!" protes Nania dan dia berusaha untuk menyingkirkan tangan suaminya.


"Mungkin karena kamu hamil?" Namun Daryl malah pindah menyentuh dan mengusap-usap perutnya.


"Nggak tahu, mungkin?" Lalu Nania menyandarkan kepalanya pada dada pria itu.


"Kenapa tidak bertanya saja kepada dokter? Aku rasa tubuh perempuan berubah sangat drastis ketika mengandung."


"Iya, nanti aku chat dokternya."


"Ya, sebaiknya begitu kan? Atau tanya Mama juga sepertinya tahu?"


"Hu'um." Nania mengangguk.


"Lalu, apa kita akan begini terus? Hujan sudah reda dan aku lapar dan ingin makan." Pria itu lantas melepaskannya.


"Sebentar …." Nania membalikkan tubuhnya sehingga kini mereka berhadapan.


"What?"


"Ini maksud kamu makan yang mana? Makan beneran atau makan aku lagi?" Dengan polosnya dia bertanya.

__ADS_1


"Makan beneran, tapi kalau kamu bersedia aku makan lagi aku tidak keberatan." Pria itu tertawa seraya mendekatkan wajahnya.


"Nggak mau, yang tadi itu udah cukup." Namun Nania segera mundur untuk menghindar dan segera mengenakan celana panjangnya.


***


"Mama pikir kalian ke mana?" Mereka mendatangi rumah besar untuk makan, seperti biasa.


"Memangnya ke mana? Hujan-hujan begini kan?" Dan Daryl hampir saja melenggang ke ruang makan begitu dia meminta asisten rumah tangga untuk menyiapkan makanannya.


"Hmm …." Semetara sang ibu menatap anak dan menantunya yang tampak segar dengan rambut setengah basah mereka.


"Mama sudah makan?" Daryl dan Nania hampir saja memulai kegiatan makan ketika Sofia bergabung dengan secangkir teh panasnya.


"Sudah lah, tadi."


"Papi ke mana?"


"Di atas."


"Ada pekerjaan?"


"Hanya membaca buku."


"Hmm …." Sang anak menggumam sebelum akhirnya mengunyah makanannya.


"Mama, dada aku kok sakit ya, apa karena hamil?" celetuk Nania setelah beberapa saat.


"Memangnya kandungan kamu sudah berapa minggu?" Sofia menyesap teh panasnya.


"Minggu ini delapan minggu kalau nggak salah."


"Oh, iya. Memang. Di usia tujuh atau delapan minggu kelenjar air s*su mulai berkembang dan itu menyebabkan pay***ra akan terasa sakit dan mengencang."


"Nah kan, aku bilang juga apa." Daryl menyambung ucapan ibunya.


"Lama nggak sih kayak gininya? Ini baru sehari aja udah sakit banget." Perempuan itu mengeluh.


"Setiap perempuan yang hamil itu berbeda-beda. Ada yang lama ada juga yang sebentar. Ada yang mengalaminya di masa awal tapi ada juga yang mengalaminya nanti. Itu tergantung kondisi tubuh masing-masing." jelas sang mertua.


"Masalahnya kalau lama aku tersiksa sendiri." keluh Nania lagi.


"Memangnya kenapa? Semua perempuan hamil mengalaminya, dan itu biasa."


"Ini kalau dipegang-pegang kan sakit banget. Apalagi anak Mama itu jahilnya keterlaluan, kalau megang dada aku kayak lagi megang squishi." Tanpa merasa canggung dia berbicara, membuat Daryl terbatuk dan hampir menyemburkan makanan yang sedang dikunyahnya.


"Apa?" Sofia pun hampir memuntahkan teh yang sedang diminumnya.


"Malyshka!!" Dan tentu saja Daryl bereaksi.


"Tadi aja begitu pas habis mandi, terus …." Dan segera saja pria itu membekap mulutnya agar dia berhenti berbicara.


"Stop it! Kamu konyol!" protesnya dengan raut kesal dan malu. "Jangan bicara terus dan cepatlah makan makananmu!" ujar Daryl sebelum melepaskan tangannya dari mulut perempuan itu.


Sementara Sofia menggumam dan mencebikkan mulutnya karena dia mengerti apa yang terjadi selanjutnya.


💖


💖


💖


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2