
π
π
"Mama sama siapa ke sini?" Dua perempuan itu duduk bersisian di kursi taman belakang klinik tempat Nania menghabiskan waktunya setiap hari.
"Sendiri, hanya diantar sopir." Sofia menjawab.
"Tumben Papi nggak ikut?"
"Ya β¦ sepertinya Papi mau memberi sedikit kelonggaran waktu untuk Mama."
Nania terkekeh. "Daryl juga ya?"
"Ya, sepertinya dia mau memberimu ruang juga."
"Hmm β¦." Nania menggumam. Entah mengapa dia merasa sedikit kecewa.
Padahal beberapa hari ini dia sudah merasa terbiasa dengan kehadiran pria itu di dekatnya, hanya saja dirinya bingung harus bagaimana mengungkapkannya.
"Kamu belum mau pulang?" Sofia langsung pada tujuannya datang ke tempat tersebut.
Nania menjawabnya dengan gelengan kepala.
"Baik, terserah padamu kalau soal itu. Mama tidak akan bisa melarang atau memaksamu melakukan apa yang tidak mau kamu lakukan. Kamu yang akan merasakan senang atau tidaknya, bagus atau jeleknya. Tapi satu hal yang Mama minta β¦." Sofia menggantung kata-katanya.
"Apa Ma?" Nania menoleh untuk menatap wajah mertuanya.
"Tetaplah pulang kapanpun itu." Dia tertawa, yang membuat menantunya juga tertawa.
"Mungkin kamu memang butuh banyak waktu. Entah untuk merenung atau berpikir. Atau mungkin menghukum Daryl."
Nania sedikit terperangah lalu menggelengkan kepala.
"Mama tahu, kalau dia itu memang sulit diajak kompromi. Ya, sama seperti papi kan, namanya juga ayah dan anak. Tapi Daryl memang cenderung lebih keras dari siapa pun. Lebih egois, lebih dominan, dan selalu ingin lebih berkuasa meski ada yang lebih berkuasa darinya. Tapi, itulah Daryl."
Dua perempuan itu sama-sama menatap taman yang memang menjadi tempat bagi para pasien dengan gejala kejiwaan yang sama seperti Nania untuk menghabiskan hari-harinya menjalani perawatan.
Sebagian dari mereka ada yang cepat pulih, namun sebagian lagi ada yang lambat. Mungkin tergantung tingkat depresinya masing-masing.
Dan sayangnya, kebanyakan dari mereka adalah anak muda dengan rentang usia dibawah 30 an.
Mungkin hidup di zaman ini begitu sulitnya sehingga membuat orang-orang muda mudah mengalami masalah sehingga akhirnya tidak bisa terhindar dari depresi.
"Orang bilang, anak kedua itu adalah yang paling berbeda dari saudara-saudaranya. Mereka anti mainstream, dan punya watak sekeras baja. Tapi terkadang serumit algoritma yang hanya orang-orang tertentu saja yang memahami. Dan Mama rasa Daryl ada di posisi itu. Kami bahkan terkadang tidak bisa memahaminya." Sofia berbicara lagi.
__ADS_1
"Aku cuma ngerasa belum waktunya aja, Ma." Nania buka suara.
"Lalu kapan waktunya?"
"Nggak tahu. Aku pikir, mungkin kita akan tahu kalau memang udah waktunya?"
"Apa kamu tidak kangen suamimu?"
Nania terkekeh lagi.
"Aku kangen teriak-teriaknya, tapi kadang masih takut kalau denger dia ngomong."
"Kamu tahu jika dia memang seperti itu."
"Iya, tapi tetap aja β¦."
"Dan apa kamu tahu jika pernikahan itu adalah pengenalan seumur hidup? Akan selalu ada hal baru yang sebelumnya tidak kamu ketahui dilakukan oleh pasanganmu. Meski kamu merasa bahwa kalian sudah saling mengenal selama bertahun-tahun. Pasti akan ada saja waktu di mana kamu menemukan hal baru, sifat baru, dan kebiasaan baru. Pertanyaannya adalah mampukah kamu berkompromi dengan hal itu?"
"Apa aku kurang berkompromi dengan sikapnya Daryl?" Nania kembali menatap mertuanya.
"Kamu yang tahu, apakah kalian sudah bisa berkompromi dengan sikap masing-masing? Jika tidak, maka harus ada salah satu yang mengalah dan memilih berkompromi, agar masa depan rumah tangga kalian lebih baik dari orang-orang sebelumnya. Sukur-sukur dengan melihat itu, pasanganmu juga akhirnya mau berkompromi. Maka semuanya akan berjalan selaras dan membuat kita menjadi semakin saling mencintai, saling mengasihi, dan saling menjaga satu sama lainnya."
Nania mendengarkan baik-baik semua kalimat yang keluar dari mulut mertuanya.
"Masa?" Nania menyela.
"Serius. Jangan kamu kira pernikahan kami yang sedamai ini tidak pernah mengalami riak kehidupan. Apalagi dengan tiga anak laki-laki yang perhatiannya harus serba ekstra. Dan jangan bahas soal Dygta karena dia sudah punya pengawasnya sendiri sejak kecil, jadi ya β¦ mengaturnya cukup mudah bagi kami karena ada Arfan yang lebih dipusingkan soal itu." Sofia tertawa mengingat hal tersebut.
"Dan pada akhirnya, hanya dengan pasanganmu lah kamu akan menikmati masa tua setelah berhasil membesarkan anak-anak. Dan disinilah hasil dari kompromi itu baru akan terlihat."
Nania terdiam lagi.
"Jadi, pulanglah Nak, kapanpun itu. Jangan membiarkan rumahmu kosong terlalu lama dan kehilangan jantung hatinya. Karena itu akan menyebabkannya seperti tak bernyawa." Sofia akhirnya mengeluarkan jurus pamungkasnya.
Meski dia tidak tahu hal ini akan berhasil atau tidak, minimal dia sudah mencoba untuk menyelamatkan rumah tangga putranya.
"Baik, setelah ini Mama tidak akan mengganggumu lagi." Lalu Sofia meraih tasnya yang dia letakkan di samping.
"Sebaiknya Mama pulang karena rasanya ini sudah terlalu lama diluar rumah. Mama tidak terbiasa." Perempuan itu bangkit dari tempat duduknya.
"Mama pamit." katanya setelah merangkul Nania sejenak.
"Baik-baik di sini ya? Ingat untuk menghubungi kami jika suatu saat kamu sudah ingin pulang."
Nania menganggukkan kepala.
__ADS_1
Sofia sengaja terdiam sejenak untuk menunggu apakah menantunya itu akan berubah pikiran setelah mendengarkannya atau tidak?
Namun tak ada reaksi selain Nania yang juga seperti menunggunya untuk pergi.
"Baik, Nania. Sampai nanti." katanya lagi yang memutuskan untuk menyerah saja. Dan dia memilih untuk segera pergi ketika sopirnya muncul tak lama setelah dirinya mengirimkan pesan.
"Mama?" Namun panggilan Nania membuat langkahnya terhenti pada saat dia hampir saja mencapai pintu gerbang pertama.
"Ya?" Sofia memutar tubuh, dan dia mendapati menantunya yang berusia 20 tahun itu berjalan menghampirinya.
"Ada yang mau kamu sampaikan kepada Daryl?" Dia lantas bertanya.
"Nggak." Namun Nania menggelengkan kepala.
"Lalu ada apa?"
Perempuan itu berhenti tepat di depannya.
"Mama mau nggak kalau nunggu aku sebentar?" Nania melontarkan pertanyaan kepada mertuanya.
"Menunggu kamu?"
Dia mengangguk.
"Untuk apa?"
"Aku mau beresin baju sama barang-barang sebentar. Nggak lama kok karena cuma sedikit." lanjut Nania yang seketika membulat kedua bola mata Sofia membulat setelah mendengar apa yang dirinya katakan.
"Kamu serius? Mama tidak salah dengar?"
Nania pun menganggukkan kepala.
"Eee β¦ baiklah. Pak sopir, cepat bantu Nania, Pak. Dia akan ikut pulang. Urus semuanya, Pak. Temui Dokter, suster, atau siapa pun Pak! Cepat!!" saking terkejutnya perempuan itu sampai merasa panik sendiri. Jika saja tak ada sopir yang menemaninya, sudah bisa dipastikan dia tak akan bisa melakukan apa-apa.
π
π
π
Bersambung ...
Hai gaess, maaf telat banget upnya. Maklum mak lagi ada kegiatan jadi ya, sedikit menyita perhatian. Semoga kalian nggak bosen ya.π
Alopyu sekebonππ
__ADS_1