The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Percakapan Tak Biasa


__ADS_3

💖


💖


Beberapa hari kemudian …


Nania mengintip dari balik pintu kamar mandi. Terlihat Daryl yang asyik menatap tayangan di televisi di tempat tidur.


Dia menatap pembalut yang bersih tak bernoda yang sore tadi sepulang bekerja diganti setelah mandi.


"Baru tiga hari, kok udah selesai?" gumamnya, lalu dia kembali merapatkan pintu.


"Kenapa aku deg-degan ya?" Dia meraba dadanya sendiri.


"Kalau udah begini jadinya nggak bisa menghindar kan? Nggak ada alasan juga. Huhu!!! Aku nggak bisa nih!!" Kemudian dia berjongkok di belakang pintu. 


"Alasan apa lagi ini ya? Belum siap kalau harus sekarang! Ugh!! Mengerikan!" Dia memijat kepalanya sendiri saat mengingat peristiwa di malam setelah pernikahan.


"Aku tahu, memang sudah seharusnya melayani suami, tapi kenapa aku malah merasa takut? Astaga Tuhan!" Lalu dia mengusak rambutnya sendiri.


"Tapi …" Nania tertegun sebentar untuk berpikir.


"Masih ada waktu tiga hari lagi, siapa tahu setelah itu aku siap." katanya, yang kembali mengenakan pembalutnya.


"Ehm …." Gadis itu keluar dari kamar mandi dengan perasaan sedikit takut tapi dia mencoba untuk bersikap biasa.


Daryl melirik dan menatapnya hingga istri belianya itu naik ke tempat tidur.


"Are you oke?" Dia lantas bertanya.


"Hah? Oke, aku oke." Nania sedikit tergagap.


Lalu fokus Daryl kembali ke layar televisi, sementara Nania menenggelamkan dirinya ke dalam selimut.


"Kamu sakit?" Pria itu merasa aneh dengan kelakuannya yang tak biasa.


"Nggak, biasa aja. Aku nggak apa-apa." jawab Nania yang sekali lagi sedikit tergagap.


"Ac nya terlalu dingin ya sampai-sampai kamu masuk selimut? Mau aku kurangi?"


"Nggak usah, udah cukup kok. Aku cuma … capek." Gadis itu menjawab lagi.


"Hari ini kedai sangat ramai?" Daryl terus mengajaknya bicara.


"Uh'um." Nania mengangguk dari balik selimut.


"Pantas saja. Bukankah sudah ada pegawai baru?"


"Tetap aja, dia kan belum semahir pegawai lama."


"Benar juga."


"Pak, eh … Yang?" Nania sedikit menyesali ucapannya.


"Hum? Apa kamu bilang?" Daryl merubah posisi duduknya.


"Katanya nggak boleh panggil Bapak lagi?"


Pria itu tergelak.


"Coba sekali lagi ucapkan?" pintanya, dan dia bergeser mendekat.


"Yang?"


Pria itu tersenyum.


"Thats cool!" katanya, kemudian menunduk untuk mengecup bibir Nania. Dan tangannya yang merayap ke pangkal paha gadis itu untuk memeriksa. Dan menemukan masih ada yang mengganjal di sana.


"Heh, datang bulannya masih ya? Lama sekali. Biasanya berapa hari?" gumamnya, yang kemudian bangkit dan duduk seperti semula. Setelah membenahi apa yang mengeras dibalik celananya.


"Umm … tujuh sampai sepuluh hari …." jawab Nania ragu-ragu.


"Lamanya!!!"


"Hmm …."


"Mau aku ajari cara lain takut kamu terkejut. Hahaha." Pria itu tertawa.


"Cara lain?"


"Ya. Tapi sepertinya itu nanti sajalah." Dia menurunkan tubuhnya sehingga menjadi sejajar dengan Nania.


"Emangnya ada cara lain?" Dengan polosnya gadis itu bertanya.


"Banyak."


"Apa aja?"


"Hum?" Daryl mengerutkan dahi.


"Eh, nggak deh. Nanti aja." Nania meralat ucapannya.


"Kamu kenapa semakin lama membuatku merasa semakin gemas saja? Jadinya aku semakin tidak tahan kan?"


"Umm … tahan dulu, akunya belum siap. Eh … maksudnya, belum selesai."


"Iya, aku mencoba."


"Hehe." Nania tertawa canggung.


"Apakah hubungan badan itu sangat penting untuk laki-laki?" Nania mengalihkan topik pembicaraan.


"Aku rasa cukup penting. Mungkin untuk perempuan juga, itulah kenapa ada pernikahan. Tapi sepertinya kalau untuk laki-laki mudah-mudah saja." Daryl menjawab.


"Mudahnya di mana?"


"Laki-laki bisa dengan mudah mendapatkannya."

__ADS_1


"Misalnya?"


"Masa kamu tidak tahu?"


"Jajan sembarangan ya?" Nania sedikit terkekeh.


"Begitulah." Tiba-tiba saja dia ingat Bella, dan beberapa perempuan yang pernah bersamanya ketika masih di Moscow.


"Kamu juga begitu?" Nania lantas bertanya.


"Eee …." Tiba-tiba saja wajah Daryl memucat.


"Pernah ya?" Gadis itu bangkit sambil menurunkan selimutnya sedikit.


"Umm … zaman sekarang mana ada laki-laki lajang yang belum pernah melakukannya? Setidaknya satu atau dua kali sebelum menikah pasti pernah lah." Dia pun menjawab.


"Masa?"


"Coba tanyakan saja kepada yang lain. Rata-raya dari mereka pasti akan jawab pernah."


"Itu berarti kamu pernah?"


Daryl menghela napas dalam.


Mengapa juga harus ada percakapan seperti ini? Kalau dijawab, aku takut dia bertanya lebih jauh. Kalau tidak dijawab, dia akan mencari tahu. Dan kalau aku jawab tidak pernah, berarti aku bohong. Sangat memusingkan! Batinnya.


"Udah pernah kan?"


"Hh … ya."


Nania membuka mulutnya untuk berbicara.


"Seperti yang aku katakan, kalau laki-laki zaman sekarang rata-rata pernah melakukanya. Baik dengan pacar atau siapa saja."


"Siapa aja?"


"Ya."


"Emang bisa ngelakuinnya sama siapa aja?" Nania antusias.


"Bisa."


Gadis itu menjengit.


"Gimana rasanya?"


"Ya … begitulah."


"Maksud aku … aku tahunya kalau mau ciuman aja harus ada perasaan dulu baru mau. Kalau misalnya melakukan hubungan badan aja bisa tanpa perasaan, itu pasti …." Lalu dia ingat ketika memergoki suaminya yang tengah bercumbu dengan Bella di kantor Fia's Secret beberapa minggu sebelum pernikahan.


Nania menatap suaminya lekat-lekat.


"Sama Bella pernah?" Pertanyaan yang tidak diduga sebenarnya, tapi dia lontarkan juga.


"What?"


"Hah?"


"Kalau di kantor aja bisa gitu, apalagi di tempat lain. Pasti lebih dari itu?"


"Kamu ngawur!!" Daryl sedang mencari cara untuk menghindari pembahasan ini.


"Beneran nggak sih?" Nania bertanya lagi.


Pria itu tiba-tiba saja merasa bingung. Entah dia harus menjawabnya atau tidak, tapi yang pasti akan ada masalah setelah percakapan ini.


"Ayo jawab? Perkiraan aku bener nggak?"


"Umm …."


"Pasti bener kalau kamu pernah sama Bella?" Nania dengan nada kecewa.


"Baiklah, iya. Tapi itu kan sebelum kita berhubungan?" Akhirnya Daryl menjawab juga.


"Apa?"


"Lagi pula waktu itu aku hanya bermain-main saja. Tidak berpikir tentang hal lain."


"Gila ya? Main-mainnya sampai segitunya?"


"I'm just … have funn!!"


"Astaga!" Nania menutup telinga dengan kedua tangannya, lalu dia kembali membenamkan diri ke dalam selimut.


"Nna?"


"Udahan ah, nggak mau bahas itu lagi."


"Kan kamu yang tanya, ya aku jawab." ucap Daryl yang menyentuh pundaknya.


"Iya, tapi udahan. Jangan dibahas lagi." Gadis itu berbalik ke arah lain.


"Hey, itu nggak berarti apa-apa untukku, lihat? Kita malah menikah kan, sekarang?"


"Iya, iya udah!" Nania menarik selimut hingga menutupi kepalanya.


"Are you mad at me?"


"Nggak, aku cuma shock aja tahu hubungan kamu udah sejauh itu sama Bella."


"It's nothing!"


Nania tak lagi bersuara.


"Nania!!" 


"Tidur, aku ngantuk!" Kali ini dia benar-benar menghindar.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Hari ini ada seleksi model baru, Mom." Mereka memulai pagi dengan sarapan bersama, seperti biasa.


"Sudah ada?" Sofia menanggapi putranya.


"Yeah, apa Mama mau hadir? Kalau mau kita bisa pergi sama-sama."


"Rasanya tidak usah. Kamu urus sendiri saja lah. Bisa kan?"


"Bisa sih, tapi siapa tau Mama mau ikut?"


"Hmm … sudah waktunya kamu yang mengurus semua, Der. Maka uruslah, Mama serahkan semuanya kepadamu. Kelola dengan baik dan lakukan apa pun yang diperlukan agar Fia's Secret terus berkembang." Sang ibu berujar.


"Kenapa begitu? Fia's Secret kan punya Mama? Ya aku harus melibatkan Mama."


"Sekarang tidak usah. Mama serahkan semua keputusan kepadamu."


"Really?"


"Apa kamu benar-benar cocok bekerja di sana? Apa nyaman?"


"Ya, aku rasa. Di sana menyenangkan."


Nania melirik sekilas dari balik cangkir milk teanya.


"Kalau begitu, uruslah Fia's Secret sesuai yang kamu bisa."


Daryl terdiam sebentar, lalu melirik kepada sang ayah.


"Menurut Papi bagaimana?" Dia kemudian bertanya.


"Lakukan saja jika memang kamu nyaman di sana."


"Tidak apa-apa kalau aku tidak membantu di Nikolai Grup?"


"Tidak apa, memangnya kenapa? Susah ada Darren dan kakakmu di sana. Kita punya Clarra dan Galang juga. Jadi Papi rasa aman-aman saja."


"Baiklah kalau begitu. Maka aku akan fokus di Fia's Secret."


"It's oke. Fia's Secret juga masih dibawah Nikolai Grup kan? Jadi sama saja."


"Memang sih." Daryl sedikit terkekeh.


"Lalu soal Bella bagaimana? Dia benar-bemar tidak kembali?" tanya Sofia lagi.


"Tidak. Kabarnya dia masuk agensi lain."


"Benarkah?"


"Ya. Kemarin dari agensi ada yang bertanya."


"Tanya apa?"


"Soal penyebab dia keluar dari Fia's Secret."


"Oh iya, memang penyebabnya apa? Mama juga belum tahu?"


"Hanya ketidak cocokan."


"Tidak cocok? Perasaan dari dulu baik-baik saja? Tidak pernah ada masalah?"


"Mungkin dia yang sudah tidak cocok?"


"Apa dia meminta naik honor? Dan tidak sepakat soal itu?"


"Tidak. Tapi aku rasa dia punya alasan sendiri untuk mundur. Mungkin sudan tidak nyama atau entah apa. Jadi mengapa harus aku tahan kan?"


"Iya juga sih. Agak sulit memang kalau sudah tidak nyaman."


"Itu Mama tahu?"


"Terus kamu bagaimana?" Sofia beralih kepada Nania.


"Hum? Apanya?" Gadis itu tersadar dari lamunannya.


"Masih mau bekerja di kedainya Ara?"


"Mm … untuk sementara iya, sambil ngajarin pegawai baru."


"Setelah pegawai batunya mahir, kamu berhenti?"


"Belum tahu juga sih, tapi …."


"Kalau bisa berhenti saja. Bukan apa-apa, tapi sepertinya berhenti kerja lebih baik. Mama tahu kamu mungkin belum terbiasa, tapi alangkah baiknya kalau dimulai dari sekarang. Tapi terserah kamu. Senyamannya kamu saja." ucap Sofia dengan hati-hati.


"Iya Ma." jawab Nania.


"Baiklah, aku sudah selesai. Apa kamu sudah?" Daryl menyesap habis kopinya.


"Udah juga." Nania pun sama.


"Oke, kita berangkat?"


Gadis itu mengangguk.


"Kami pergi dulu, Mom? Pih?" Mereka pun berpamitan.


💖


💖


💖


Bersambung ....


Ayo like vote nya dulu!!😁😁

__ADS_1


__ADS_2