
💖
💖
Pria itu menunjukkan beberapa tempat dimana dia menghabiskan masa-masa remaja hingga dewasanya selama menempuh pendidikan hingga lulus dengan gelar S2nya.
Sebuah sekolah dengan sistem pendidikan semi militer tempat hampir seluruh anggota keluarga juga bersekolah di sana, terutama anak laki-lakinya.
"Di sana asrama, dan itu sekolahnya." Dia menunjuk gedung-gedung yang berdiri megah di sisi kanan dengan pagar tinggi berarsitektur khas Uni Soviet yang tak lekang dimakan zaman.
"Aku tidak akan mengajakmu kesana karena itu dilarang untuk rakyat sipil." Daryl terkekeh.
Dan Andrei terus mengemudikan mobil hingga mereka memasuki pusat perkotaan. Di mana tempat-tempat bersejarah berada.
Menara Jam Spasskaya menyambut dengan kemegahannya. Menjadi simbol ikonik bagi rakyat Rusia dan sebagai penanda di mana kini mereka berada.
Lalu mereka melewati Katedral Sang Juru Selamat yang paling terkenal di seluruh Rusia, dan melanjutkan perjalanan ke Moskwa City.
Sungai Moskwa menjadi tujuan berikutnya, lalu dilanjutkan ke sekitar Universitas Negri Moskwa, mengunjungi Universitas Lomonosov di mana Daryl menempuh pendidikan lanjutan, Teater Bolshoi, dan terakhir ke Lapangan Merah yang juga disebut Red Square pada sore harinya.
Komplek istana Kremlin yang megah menjadi hal paling mencolok di tempat itu. Di mana terdapat menara-menara yang dahulunya merupakan benteng pertahanan kota.
Berdiri sepanjang lebih dari dua kilo meter melindungi kompleks istana yang salah satu di dalamnya merupakan kediaman presiden.
"Whoaaaa …." Nania menatap bangunan dengan mata berbinar.
"Isn't that good?"
"Ya. Bayangin orang-orang di dalamnya gimana ya?" Nania mengambil beberapa gambar dengan kamera ponselnya.
"Tidak bagaimana-bagaimana, mereka kan bekerja untuk pemerintahan." Daryl terkekeh.
"Bagaimana? Kamu sudah puas aku ajak keliling Moscow? Ini belum seberapa karena kita hanya mengunjungi pusatnya saja. Belum tempat-tempat lainnya yang akan membuatmu lebih terpukau lagi." Pria itu merangkul pundak Nania dan membawanya berjalan melewati sisi lain lapangan yang mulai ramai.
Salju yang mulai berkurang membuat suasana menjadi sedikit lebih bersahabat bagi siapa pun.
"Ayo kita lihat Presiden Lenin di musieum sebelum pulang?" Daryl yang menariknya setelah puas berfoto di beberapa tempat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Nania naik ke tempat tidur di mana suaminya berada. Pria itu masih fokus pada laptopnya sekembalinya mereka dari acara jalan-jalan keliling kota.
"Kita masih di sini?" Nania memulai percakapan.
"Tergantung." Daryl menjawab tanpa memalingkan pandangan.
"Terus kapan kita pulang?"
"Kapan saja kamu mau."
"Kamu maunya kapan?" Nania terus bertanya, membuat pria itu menjeda kegiatannya sejenak lalu menoleh.
"Maunya nanti-nanti, aku masih betah di sini. Karena tidak ada yang mengganggu." jawabnya sambil tertawa.
"Terus aku mulai sekolahnya kapan?"
"Kalau tidak salah minggu depan."
"Jadinya nggak bisa lebih lama lagi dong, di sininya?"
"Ya, kamu benar."
"Jadi, kapan kita pulang?" tanya Nania lagi.
"Hmm … kamu maunya kapan?" Daryl malah balik bertanya.
"Nggak tahu, terserah kamu aja."
Pria itu berpikir sebentar.
"Besok saja kalau begitu." katanya, lalu kembali pada laptopnya.
"Besok?"
"Ya. Aku rasa sepertinya kamu tidak betah berlama-lama di luar rumah, jadi lebih baik kita pulang besok?"
__ADS_1
"Nggak apa-apa kok kalau misalnya kamu masih mau disini satu atau dua hari lagi. Kita bisa …."
"Besok saja. Lagi pula ada yang harus kamu siapkan untuk sekolah kan?"
"Umm …."
Pria itu tampak menutup laptop setelah mematikannya terlebih dahulu, lalu meletakkannya di atas nakas. Kemudian dia mengetikkan sesuatu di ponsel sebelum akhirnya mematikannya juga.
"Well, sebaiknya kita istirahat kalau mau pulang besok. Aku sudah mengirim pesan kepada Andrei dan pilot." katanya, yang merebahkan kepalanya pada bantal.
Nania tertegun setelah beberapa saat.
"Hey?" panggil Daryl yang membuat Nania tersadar dari lamunannya.
"Come!" katanya, yang menggerakkan jari-jarinya sebagai isyarat kepada Nania untuk mendekat.
Perempuan itu bergeser kemudian dia juga merebahkan tubuhnya di samping Daryl yang segera memeluknya.
"Kamu udah mau tidur?" Nania masih berbicara.
"I'm trying."
"Emangnya udah ngantuk?"
"Sedikit."
"Aku belum."
"Cobalah untuk tidur. Besok pagi-pagi sekali kita berangkat." ucap Daryl yang tak seperti biasanya.
"Daddy?"
"Hum?"
"Kamu marah sama aku?" Nania belum mau berhenti berbicara.
"No, kenapa aku harus marah kepadamu?" Daryl terkekeh.
"Kok aku ngerasanya kamu beda ya?"
"Nggak tahu. Apa aku ada salah?"
"Tidak ada, kenapa kamu bertanya begitu?"
"Cuma ngerasa gitu aja."
"Hmm … overthinking kambuh ya?"
"Mungkin."
"That's why we need to go home, maybe."
"Hu'um, mungkin."
"Sudah, tidur saja oke?"
Nania menganggukkan kepala seraya melingkarkan tangannya di tubuh pria itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mereka tiba di Jakarta pada sore hari setelah menempuh berjam-jam perjalanan dari Sherementyevo. Langsung menuju rumah dimana semua orang sudah menunggu.
Kebetulah sudah tiba di akhir pekan sehingga seluruh anggota keluarga berkumpul termasuk Darren dan Kirana.
"Aaaa senang sekali kalian sudah pulang?" Sofia memeluk anak dan menantunya, begitu pun dengan yang lain.
"Hampir aku menyusulmu ke Swiss, Der!" Darren merangkul saudara kembarnya.
"Ah, tidak mungkin aku izinkan! Memangnya kau tidak puas dua minggu di Maldives?" Sang kakak menjawab.
"Hanya ingin ada di sana waktu musim liburan."
"No way!!"
Percakapan itu membuat semua orang tertawa.
__ADS_1
"Tante Nna?" Zenya seperti biasa merebut perhatian Nania sejak mereka tiba.
"Ya Zen?"
"Ulat yang kemarin udah aku buang lho."
"Astaga! Masih soal ulat?" Daryl bereaksi atas ucapan keponakannya.
"Emang harus dibuang. Kan bahaya." Nania menjawab.
"Bukan gitu."
"Terus apa?"
"Ulatnya mati jadi Opa bilang harus dibuang."
Nania tertawa.
"Ya memang tidak seharusnya kamu memelihara hewan seperti itu, Zen. Kenapa sih bukan kelinci atau kambing saja, mungkin? Kan bagus kalau besar bisa disembelih dan dimakan dagingnya." Daryl berujar.
"Ih, Om Der kejam. Masa hewan peliharaan disembelih terus dimakan? Jahat tahu!" sahut Anya yang menghampiri mereka setelah menghabiskan es krim favoritnya.
"Ah, itu kan memang sudah takdir mereka. Kamu juga makan daging, memangnya dari mana asalnya daging yang kamu makan itu? Ya awalnya dari hewan yang dipelihara lah."
"Kalau untuk dimakan, ya beli aja di pasar. Kan banyak? Kenapa harus sembelih peliharaan?" Anya menjawab.
"Opa, nanti beli kelinci sama anak kambing ya? Biar aku punya pet. Om Der protes terus kalau pet nya kaki seribu atau ulat. Kan nyebelin." Lalu anak itu mendekati kakeknya.
"Apa? Bercanda ya? Kamu mau membuat halaman rumah jadi bau kambing ya? Ngaco!"
"Tadi Om bilangnya gitu, nyuruh aku pelihara kelinci atau kambing?"
"Ya, tapi maksudnya …." Daryl menggantung kata-katanya saat Nania meremat tangannya.
"Udah ih, kenapa kalau ketemu anak-anak kamu sukanya berdebat?" ucap perempuan itu.
"Tapi mereka suka bicara sembarangan. Masa iya mau pelihara kambing di sini? Yang benar saja." Daryl menjawab.
"Ya kan kamu tadi yang bilang gitu?" Rania menyahut dari ambang pintu.
"Itu kan cuma perumpamaan."
"Sama aja kayak nyuruh mereka."
"Ah, kalian curang. Bisanya main keroyokan!" Pria itu memutar bola matanya.
"Ya habis kamu ngaco duluan." Sang Kakak ipar menjawab lagi.
"Sudah, kenapa kalian jadi berdebat juga?" Lalu Sofia menengahi percakapan.
"Umm … boleh nggak kalau aku ke kamar sekarang?" Nania pun ikut berbicara. "Kayaknya aku capek, agak nggak enak badan juga."
"Oohh, pastinya. 14 jam naik pesawat itu nggak main-main." Rania duduk di sofa di mana suaminya berada.
"Iya, jet lagg nya kayaknya parah ini, duh." Nania memijit kepalanya yang terasa pusing.
"Ya sudah, istirahat saja dulu nanti kita makan bersama." jawab Sofia kepada menantunya yang segera bangkit.
"Hey, mau ke mana?" Daryl bereaksi ketika kedua keponakannya juga mengikuti.
"Mau ikut Tante Nna." Zenya menjawab.
"Tidak boleh! Tante Nna mau istirahat, dan Om juga. Tidak boleh ada yang mengganggu!" ucap Daryl yang menarik Nania ke lantai atas.
"Sini anak-anak, jangan ganggu ya? Mungkin oleh-oleh dari Moscow udah ada." Rania memanggil kedua anaknya, membuat orang-orang yang berada di sana tertawa.
💖
💖
💖
Bersambung ...
Kira-kira apa oleh-olehnya ya? 😁😁
__ADS_1