
π
π
Mereka turun ke ruang makan ketika orang-orang sudah memulai sarapan. Tentunya setelah memastikan tak ada jejak dari kemesraan yang memungkinkan siapa pum curiga.
"Lho, kami kira kamu pergi ke luar?" Sofia bereaksi ketika melihat Nania turun bersama putranya.
"Umm β¦."
"Tadi dia di kamar mandi dan tidak mendengar waktu Mama panggil." Lalu Daryl menjawab.
"Oh β¦."
Lalu pria itu menarik kursi untuk Nania dan membiarkannya duduk, kemudian dia pun menempati kursi di sampingnya.
"Nania, apa pakaiannya muat? Bisa kamu pakai?" Sofia menyapa gadis itu.
"Mu-muat, Bu. Bisa dipakai." Nania menjawab dengan sedikit terkejut.
"Syukurlah, jadi tidak perlu membeli yang baru? Itu bekasnya Dygta waktu remaja."
"Umm β¦ nggak usah Bu, ini juga bagus. Terus kan saya juga punya di kedai Kak Ara." Nania dengan perasaan canggung.
"Iya, siapa tahu kamu perlu yang baru?"
"Ng β¦ nggak Bu. Makasih, ini juga cukup." jawab Nania lagi.
"Baiklah kalau begitu."
Gadis itu tertegun memperhatikan orang-orang ini. Mereka yang membicarakan banyak hal ketika makan bersama dan tampak begitu hangat meski dia tahu semuanya merupakan orang sibuk. Tapi tidak menghilangkan keakraban di antara mereka.
"Makan, Nania. Jangan diam saja." Sofia meletakkan dua potong sandwich berisi daging asap dan sayuran di piring Nania, lalu meraih gelas kosong.
"Kamu biasanya minum apa kalau pagi-pagi? Kopi? Atau coklat?" tanya perempuan itu.
Namun Nania malah tertegun.
"Milktea, Mom." Lalu Daryl yang menyahut.
"Apa?" Sofia beralih kepada putranya.
"Malysh β¦ umm β¦ Nania minumnya milktea panas kalau pagi-pagi. Milktea dingin kalau siang. Sorenya milktea hangat."
"Wahh β¦ sudah hafal ya? Hebat-hebat!!" Darren menepuk pundak kakaknya sambil tertawa.
Sementara pria itu hanya menggendikkan bahu.
"Milktea?" Sofia seolah bertanya.
"Teh su*u Mom." Daryl menjelaskan.
"Mama tahu apa itu milktea! Mama hanya bertanya-tanya apakah itu rasanya enak? Sehingga seharian Nania minumnya itu terus?"
Darren tertawa.
"Ya β¦ tidak seharian juga mungkin?"
"Umm β¦."
"Mima? Apa kita punya milktea di dapur?" Lalu perempuan itu bertanya kepada asisten rumah tangganya yang melintas.
"Milktea?"
"Iya."
"Teh su*u?"
"Iya."
"Kalau yang seperti itu tidak ada, tapi kalau teh dan su*unya kita punya banyak, Bu."
"Apa sama?" Sofia beralih kepada Nania.
"Umm β¦ nggak usah, Bu. Yang ada aja di sini nggak apa-apa. Nggak harus selalu minum itu juga kok, air hangat aja cukup." Nania menjawab.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu." Sofia menuangkan air hangat yang kemudian dia berikan kepada Nania.
"Mima, nanti kalau belanja tambah milktea di daftar ya?" ucap Sofia lagi kepada pegawainya.
"Baik Bu."
"Eee β¦ nggak usah, teh sama su*u biasa juga bisa." sahut Nania yang semakin merasa canggung atas keramahan tuan rumah kepadanya.
"Tidak apa-apa, siapa tahu kamu mau yang instan kan?"
"Umm β¦."
"Ayo makan yang banyak, agar cepat pulih?" ujar Sofia.
"Hahaha, bayimu sukanya teh su*u, Bro." Darren berbisik, membuat Daryl juga tertawa.
"Heh?" Namun Sofia menginterupsi, membuat kedua putranya tersebut mengurungkan niat mereka untuk membahas masalah tersebut.
***
"Pergi dulu ya, Malyshka. Jangan ke mana-mana oke?" Daryl bangkit setelah menyelesaikan sarapannya, dan dia menyesap habis kopinya yang sudah agak dingin.
Nania tak menjawab, namun mengikuti pria itu dengan pandangan.
"Tidak usah mengantarku ke depan, tetaplah di sini dan makan yang banyak." lanjutnya, dan sepertinya dia lupa dengan keberadaan orang-orang di sekitarnya.
"Pergi dulu Mom, Pih." pamitnya kepada kedua orang tua, lalu dia menepuk bahu saudaranya.
"Aku juga Mom, Pih." ucap Darren yang mengikuti langkahnya.
"Setelah melihatmu begitu, kenapa aku jadi merasa nggak sabar ya?" Darren berbicara sepanjang perjalanan keluar.
"Nggak sabar soal apa?"
"Nggak sabar nunggu hari pernikahan." Darren tertawa.
"Ck! Kurang dari dua minggu." Sang kakak menjawab.
"Tapi kelakuanmu membuatku merasa tidak sabar." ucap Darren lagi, dan mereka menuju mobil masing-masing.
"Apa maksudmu?" tanya nya dengan kening berkerut.
"Kau berpamitan kepada Nania seolah dia adalah istrimu, dan itu membuatku rindu Kirana." Darren menekan dadanya sendiri.
"Kau konyol! Dasar calon pengantin!" ucap Daryl yang kemudian berbalik lagi dan membuka pintu mobilnya.
Namun perhatian mereka beralih ketika seorang penjaga keamanan berlari dari depan.
"Ada apa?" Darren bertanya.
"Maaf Pak, ada polisi di depan." jawab pria dengan seragam hitam itu.
"Polisi?"
"Iya. Mereka meminta izin masuk Pak?"
"Mau apa?"
"Mau bertemu Pak Daryl, Pak."
"Aku?" Daryl menunjuk wajahnya sendiri.
"Iya Pak."
"Ada apa?" Satria muncul dari dalam rumah.
"Ada polisi, Pih." Darren menjawab.
"Polisi?"
"Mau bertemu Daryl."
Pria itu tertegun sebentar.
"Suruh masuk." katanya kemudian.
__ADS_1
Lalu penjaga di depan membuka pintu gerbang setelah mendapat isyarat dari rekannya. Dan tak lama kemudian tiga mobil berwarna hitam yang salah satu di antaranya merupakan mobil polisi masuk ke dalam pekarangan.
"Selamat pagi, Pak Satria?" Pria dengan seragam coklat turun, begitu juga yang lainnya.
"Pagi." Satria menjawab sapaannya.
"Maaf, sudah mengganggu pagi-pagi begini, Pak?" katanya setelah jaraknya sudah dekat.
"Ya, ada yang bisa kami bantu Pak?" jawab Satria kepada pria itu.
"Kami membawa surat penangkapan dari kepolisian untuk saudara Daryl." Dia menyerahkan selembar kertas.
"Penangkapan?"
"Betul Pak. Atas laporan seseorang yang sudah mengalami penganiayaan pada Sabtu malam."
Satria membaca isi surat, lalu menoleh kepada salah satu putranya.
"Jadi, untuk kepentingan penyelidikan kami berharap saudara Daryl ikut ke kantor polisi untuk menjalani pemeriksaan."
Daryl terkekeh.
"Dia pikir siapa aku ini?" katanya saat mengetahui kemungkinan siapa orang dibalik pelaporan ini.
"Kami harap saudara Daryl cukup kooperatif untuk melancarkan proses hukumnya."
"Proses hukum apa Pak?"
"Semuanya kita bicarakan di kantor, mari?"
"Astaga!!"
"Silahkan, Pak?"
"Papi?" Daryl meminta pendapat kepada sang ayah.
"Pergilah dulu, Nak. Jalani yang seharusnya."
"Tapi aku nggak salah, Papi tahu sendiri. Aku sudah mengatakan semuanya kemarin kan? Mama juga tahu dari Nania." katanya, dan dia melirik ketika Sofia dan Nania juga muncul.
"Ya, tapi pergilah dulu." jawab Satria.
"Tapi Pih?"
"Tidak apa, pergilah. Akan kami tangani dari sini." ucap Satria lagi, yang membuat Daryl akhirnya menurut meski dia merasa gusar.
"Mari?" Pria berseragam polisi itu membukakan pintu mobil, dan Daryl segera masuk seperti yang diperintahkan oleh sang ayah. Lalu mereka segera pergi setelahnya.
"Kenapa Pak Daryl ikut polisi?" Nania maju mendekati Satria.
"Seseorang bernama Mirna melaporkannya atas tuduhan penganiayaan dan membawa kabur anak perempuannya." Pria itu menyerahkan kertas di tangannya kepada Nania.
"Apa dia ibumu?" Lalu dia Satria bertanya.
Nania tertegun sambil meremat kertas yang dia baca.
Rupanya kekerasan kepadanya tak cukup sehingga perempuan itu menarik Daryl juga pada permasalahan ini, padahal jelas-jelas Sandi yang salah.
"Darren, ikuti saudaramu dan hubungi Wira. Kalau perlu panggil juga Galang." ucap Satria kepada putra bungsunya yang masih tertegun menunggu perintah.
"Iya Pih."Β
"Saya ikut!" Nania segera berlari kemudian masuk ke dalam mobil yang dikendarai oleh Darren.
π
π
π
Bersambung ...
Duh, kenapa begini?
Ayo, Tembus seribu like kita up lagiπ
__ADS_1