The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Di Persinggahan


__ADS_3

Bagi temen author yang punya cerita baru dimohon untuk tidak promo di kolom komentar karena sangat mengganggu, apalagi kalau promonya tanpa izin dan nggak baca karya dulu. Tahu dong gimana adab bertamu?


Kalau mau bisa hubungi author Fit untuk dipromokan di akhir episode atau di akun medsos. Silahkan pc atau dm di instagram @tiyanapratama karena saya membuka lebar-lebar kerja sama untuk promo secara gratis.


Kalau tetep ngeyel, berarti anda nggak punya adab!


💖


💖


"Mmm, lepasin. Masih ngantuk akutuh!!" Nania merengek ketika merasakan Daryl terus menyentuhnya, meski dirinya tak merespon.


Matanya tak kunjung terbuka dan dia tak mau bangun dari tidurnya saking ngantuk karena baru istirahat pada hampir subuh.


Setelah benar-benar mengelilingi hampir dari setengah dari kota Jakarta pada malam harinya, akhirnya mereka singgah di suatu tempat.


"Come on! Ini sudah siang dan pemandangan disini sangat bagus. Apa kamu tidak mau keluar?" Daryl menarik selimut yang menutupi tubuh Nania.


Dia meringkuk seperti bayi dan hanya mengenakan kaus juga cel*na d*lam setelah celana panjangnya semalam dilepaskan.


"Masih ngantuk!!" jawab perempuan itu dengan suara serak khas bangun tidur.


Daryl terkekeh kemudian merangkak naik ke tempat tidur dan mengungkung perempuan itu di antara tubuh dan kedua tangannya.


"Aku mau makan." Dia berbisik. "Dari tadi aku menunggumu bangun, tapi lama sekali padahal perutku sudah lapar." katanya di dekat telinga Nania.


"Atau haruskah aku memakanmu dulu untuk mengalihkan perhatianku?" ucapannya membuatnya seketika membuka mata.


"Umm …."


"Oke." Sebelah tangan pria itu merayap kebawah dan hampir menarik cel*na dal*m milik Nania.


"Nggak!! Aku bangun, aku bangun." Perempuan itu segera bangkit.


"Tidak apa, tidurlah lagi. Waktu kita sangat banyak hari ini." ucap Daryl sambil tersenyum.


"Nggak, aku mau bangun aja biar bisa jalan lagi kan?" Lalu Nania mendorong pria itu hingga dia bisa turun dari tempat tidurnya dan menghambur ke dalam kamar mandi.


***


Dan setelah beberapa menit dia keluar dengan wajah basah dan tampak lebih segar. Rambutnya digulung ke atas sambil melewati pintu kamar mandi.


Dia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan yang terang di mana semua tirai dan jendela-jendelanya sudah terbuka. Dan Nania baru saja menyadari jika lantai yang dipijaknya tembus pandang sehingga dia dapat melihat air hijau kebiruan dengan ikan-ikan berukuran kecil yang berenang dibawahnya. 


"Astaga!!" Perempuan itu melompat karena terkejut dan mengira jika dirinya berada di atas air.


"Sayang? Kamu di mana?" Lalu Nania berteriak ketika tak menemukan keberadaan suaminya.


"Sayang?" tak ada sahutan dari Daryl, sedangkan dirinya berpegangan pada bingkai pintu.


"Daddy?" teriaknya lagi.


"I'm out here!!" Akhirnya pria itu menjawab.


"Di mana?"


"Di belakang."


Nania melirik pintu yang terbuka di ujung  dan mengira mungkin saja suamimu berada di sana.


"Lantainya …." Nania menjulurkan sebelah kakinya untuk menyentuh lantai tembus pandang itu.


"Kaca?" gumamnya ketika ujung jari kakinya menyentuh benda bening tersebut.


Kemudian dia memijakkan sebelah kakinya di sana dan terasa seperti lantai pada umumnya. Hanya saja ini memang transparan sehingga dia dapat melihat air dan biota laut yang ada di bawah.


"Tunggu! Ini laut?" gumamnya lagi dan dia melihat ke sekeliling ruangan yang seluruh lantainya memang tembus pandang.


Tadi subuh Daryl memang mengajaknya singgah di suatu tempat untuk menginap, dan dirinya memutuskan untuk menurut saja. Rasa kantuknya sudah tidak tertahankan ketika mereka tiba di sebuah resort yang suaminya sebutkan.


Dan Nania segera saja tenggelam di dalam mimpi begitu dia menemukan tempat tidur.

__ADS_1


"Daddy?" Dia berteriak lagi.


"Kita di laut?" Nania kembali menarik kakinya dan tetap berada di ambang pintu kamar mandi.


"No, kita di resort." Daryl menjawab.


"Tapi dibawah kita ada air?"


"Hmm …."


"Jadi kita di laut?"


"I told you!" Pria itu muncul di ambang pintu sudah mengenakan celana pendek dan bertelanjang dada. 


Entah dari mana Daryl mendapatkan celana pendeknya, yang pasti banyak hal yang tentu dia lakukan yang dirinya tak tahu.


"Ada air!" Nania hampir menangis. 


Rasa takutnya sama saja seperti dia tengah berada di dalam air. Dan Nania merasa bahwa dirinya akan tenggelam saat itu juga.


"It's oke, itukan lantai kaca. Kamu tidak akan masuk ke dalam air." ucap Daryl yang mengerti keadaan istrinya.


"Nggak akan pecah kalau aku injak?" tanya Nania dengan konyolnya, yang tentu saja membuat Daryl tertawa.


"Kamu pikir itu kaca cermin sehingga akan pecah jika diijak?"


"Umm … Tapi di bawah ada air." ucap Nania lagi.


"I know. But it's oke." Pria itu masuk untuk menuntunnya.


.


"Daddy, kenapa kita ada di sini? Kamu ka tahu kalau aku …." Dan Nania tertegun ketika mereka sudah berada di bagian belakang villa yang mereka tempati.


Sebuah kolam berukuran sedang yang berbatasan langsung dengan lautan hijau kebiruan sejauh mata memandang menjadi hal pertama yang dia temukan.


"Kamu setuju untuk menginap waktu kita sampai di sini?"


Pria itu tertawa lagi.


"Kita ada di mana sih? Ke PIK lagi?" Daryl menariknya ke sisi lain di mana teras yang lantainya berlapis batu alam itu berada.


"Bukan." Lalu keduanya duduk di kursi yang mejanya sudah penuh dengan makanan.


"Terus?"


"Kepulauan Seribu."


"Hah? Jauh amat kita jalan?"


"Kan kamu yang mau? Semalam aku tanya jawabnya terus-terus melulu?"


"Hmm …." Nania mengingat-ingat.l, sementara Pria itu meneguk jus jeruk miliknya.


"Aku curiga kalau tempat ini juga milik Papi?" Nania menatap sekeliling di mana hanya ada satu bangunan saja yang mereka tempati.


Setidaknya dia melihat bangunan lainnya yang berjarak cukup jauh dari tempat mereka saat ini.


"Begitulah, hahaha. Aku tidak akan mau mampir kalau ke tempat orang. Rasanya tidak senyaman tempat sendiri."


"Dih … heran deh, kenapa usaha Papi ada di mana-mana?"


"Itulah pentingnya kemampuan dan kemauan. Apa pun bisa kamu lakukan jika kamu mampu dan mau. Dan setelahnya apa pun bisa kamu miliki." Pria itu bangkit lalu berjalan ke arah kolam.


Daryl melakukan gerakan pemanasan sebelum akhirnya dia menceburkan dirinya ke dalam air.


"Tadi katanya kamu lapar, kok malah renang?" Nania bereaksi.


"Makan setelah renang rasanya lebih nikmat." Pria itu muncul ke permukaan sambil mengibaskan rambutnya yang basah.


"Masa?"

__ADS_1


"Coba saja."


"Nggak mau kalau harus renang dulu."


"Come on! Walaupun dekat ke laut tapi di sini tidak ada hiu. Hanya ada ikan kecil."


Nania menggendikkan bahu.


"Ayolah, bukankah waktu itu kamu sudah mencobanya PIK? Kolamnya di atas gedung kan?" Daryl mengingatkan kencan mereka sebelumnya yang membuat Nania terkekeh saat yang melintas di otaknya adalah hal lain.


"Come, Malyshka! This is good." bujuk pria itu yang mengusap wajahnya.


"Kan aku nggak bawa baju renang?" Nania beralasan.


"Tidak apa-apa pakai itu juga." Daryl yang menatapnya hanya mengenakan kaus dan cel*na dal*mnya saja.


"Come. Tidak ada siapa-siapa karena ini privat villa. Pegawai akan datang hanya jika kita panggil." ucapnya lagi, dan akhirnya membuat Nania mendatanginya.


Daryl mendekat ke pinggiran kolam kemudian mengulurkan tangannya untuk menyambut Nania.


"Ini air laut?" Nania menahan napas ketika sebagian tubuhnya terbenam di dalam air yang terasa asin itu. Dia merasa akan tenggelam begitu rasa dingin menyerangnya.


"Tentu saja." Lalu Daryl memeluk pinggangnya seperti biasa.


"Haaaa … ada ikan!!" Nania menatap ke dalam air ketika beberapa ekor ikan dengan warna mencolok berenang di sekitarnya.


"Ya, di depan sana ada terumbu karang sebagai habitatnya. Dan mereka biasa berenang sampai ke bawah villa. Bagus kan?"


"Hmm …."


Daryl menarik lepas kaus putih yang menempel di tubuh Nania.


"Eehh …."


"Kausmu mengganggu tahu?" Pria itu berbisik.


"Bukan ganggu, tapi mungkin menghalangi tangan kamu." Nania merasakan kedua tangan pria itu yang sudah menyentuh dadanya yang tak berpenghalang karena dia memang melepaskannya sebelum tidur tadi subuh.


Daryl terkekeh lalu dia mengecupi tengkuknya, sementara kedua tangannya di bawah air meremat gundukkan kenyal nan lembut yang ujungnya sudah mengeras itu.


"Kan, kamu mah modus!" Nania bergumam sambil menahan gejolak di dalam tubuhnya yang mulai menggila.


"But you like it." Pria itu berbisik kemudian menggigit lembut telinganya dengan perasaan gemas tak terkira.


Nania memejamkan mata sambil menggigit bibirnya keras-keras, karena sekejap saja dia sudah terbawa suasana.


Daryl menarik wajahnya sehingga bibir mereka bertemu, dan sudah bisa dipastikan keduanya segera saling memagut.


Pria itu menyentuh leher dan menahan posisinya agar tetap seperti itu, sementara sebelah tangannya dibawah tidak tinggal diam.


Dia meremat dada Nania dan mempermainkan puncaknya secara bergantian. Sehingga menghadirkan perasaan tak karuan bagi perempuan itu.


Lalu Daryl membalikkannya sehingga kini mereka berhadapan dan tanpa menunggu lama mereka melanjutkan cumbuan.


Nania mengalungkan kedua tangannya di leher Daryl, ketika di saat yang bersamaan pria itu mengangkatnya seperti biasa. Dia seolah tidak merasa puas jika tidak melakukannya.


Nania mengeratkan pelukan sehingga dada mereka menempel dengan erat, merasakan debarannya yang keras dengan matanya yang menatap lautan yang terhampar di belakang. 


Perlahan pria itu bergerak ke arah tangga membawa tubuh basah mereka keluar dari air, dan dengan cepat melesat ke dalam peraduan.


"Kalau udah gini, pasti deh kejadian." ucap Nania ketika pria itu membaringkannya di tempat tidur.


"Ya memangnya apa lagi? Salah satunya untuk inilah kita menikah." jawab Daryl yang tersenyum seraya membenamkan wajahnya di belahan dada Nania, lalu beberapa saat kemudian membenamkan bagian tubuhnya yang lain kepada perempuan itu.


💖


💖


💖


Bersambung ...

__ADS_1


Untuk yang belum, Votenya kirim ya. Udah di posisi 4 nih. Antar Om Der ke ranking 1 dong, Plisss😁😁


__ADS_2