The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Keramaian Di Pagi Hari


__ADS_3

💖


💖


Mirna menatap layar besar di persimpangan kota. Di mana ditampilkan iklan dari sebuah produk parfum terkenal yang salah satu modelnya dia kenali sebagai putrinya, Nania yang telah menikah dengan seorang pria yang tak pernah dia sangka-sangka.


Malam itu gerimis kecil turun mendinginkan kota Jakarta yang tidak pernah tidur dan aktivitas warganya tidak berhenti hanya karena siang berganti malam.


"Lihat kan? Dia dinikahi pria kaya, dan sekarang menjadi model iklan. Pasti uangnya banyak. Sedangkan kau terlunta-lunta di jalan." Hendrik melakukan hal yang sama.


Mirna menemukan pria itu yang tengah tak sadarkan diri setelah menerima penyiksaan karena tak mampu membayar utang judinya yang terakhir. 


Dan Hendrik meminta maaf juga memohon kepadanya untuk menerimanya lagi. Pria itu mengucapkan janji bahwa kali ini dirinya akan berubah.


"Seharusnya kau bisa memanfaatkan situasi. Kau tahu, anak perempuan seharusnya bisa menjamin kehidupan orang tuanya. Apalagi putrimu yang memiliki suami sekaya itu." lanjutnya yang wajahnya tampak babak belur.


Mirna menoleh ke arah suaminya.


"Sudah sepantasnya dia melakukan kebaikan untukmu. Kau ibu yang melahirkannya, dan kau berhak mendapatkan pertolongan darinya. Apalagi dia kelihatannya sangat mampu."


Mirna tak menyahut, namun dia memutuskan untuk melanjutkan langkah meski mereka tak punya tujuan.


Banner-banner dipajang di sepanjang jalan yang menuju ke sebuah tempat yang sepertinya baru saja dibuka. Dan lagi-lagi dia menemukan wajah Nania dengan penampilan berbeda pada sebuah layar di depan area gedung.


"Anakku cantik sekali." gumamnya, dan untuk beberapa saat dia berdiri di sana.


"Tentu saja cantik. Dia bukan anak miskin dari pinggiran kota lagi. Sekarang dia orang kaya." sahut Hendrik yang mendengar ucapannya.


"Hidupnya enak. Tidur ditempat yang nyaman, dan makan makanan yang enak. Tidak seperti kita."


"Ini semua salahmu! Kalau saja kau tidak judi terus kita tidak akan jadi gelandangan. Walaupun tidak punya uang, setidaknya masih ada rumah untuk bernaung!" Mirna mulai terpancing.


"Apa katamu? Bukankah kau yang selalu menuntut uang kepadaku? Kau tahu mengapa aku melakukannya? Itu untukmu!" Hendrik menjawab.


"Seharusnya kau bekerja, bukannya malah judi. Karena tidak akan ada yang kau dapatkan selain kekalahan."


"Omong kosong!" Hendrik menampar wajah Mirna.


"Berani-beraninya kau berkata begitu kepadaku!" Lalu dia menjambak rambut perempuan itu.


"Memangnya saat kita bertemu aku ini pengusaha?" Dia menyeretnya meninggalkan tempat itu.


"Aku sudah berjudi dari sejak remaja, tahu? Dan dulu aku menang terus. Hanya setelah bertemu denganmu saja aku mengalami kekalahan, dasar jal*ng!" Lalu dia menghempaskannya ketika menemukan halte bus.


"Kau yang mengacaukannya karena selalu menggangguku. Jadi memang sudah sepantasnya kau yang mencari uang untukku! Masih untung dulu aku tak menjualmu ke mucikari. Kalau tidak, sudah habis kau!" Hendrik mendorong kepalanya dengan keras hingga Mirna terhuyung ke samping.


"Sekarang harusnya kau bisa memikirkan bagaimana bisa mendapatkan uang. Terutama dari putrimu itu!"


"Tidak! Aku tidak mau mengganggunya lagi. Kita tidak boleh bergantung lagi kepadanya, aku tidak mau!" Mirna pun bangkit.


"Apa?"


"Kau tidak tahu orang macam apa yang Nania nikahi. Dia bisa saja mencelakaiku jika tahu aku memerasnya lagi. Kau tidak ingat Sandi?"


"Itu karena putramu dungu! Bodoh! Harusnya dia bisa memanfaatkannya."


Mirna menggeleng-gelengkan kepala.


"Itu tugasmu untuk memikirkan bagaimana caranya agar bisa mendekat lagi, dan membuat Nania memberimu uang. Bukankah dia sangat menurut kepadamu? Apalagi jika melihat keadaanmu yang menyedihkan seperti ini. Memangnya dia akan tega?"


Mirna terdiam.


Hendrik benar. Selama ini Nania memang selalu menuruti perkataannya. Tapi karena sekarang dia tak bisa menghubunginya, menyebabkan putrinya tersebut tak lagi bisa dia kendalikan. Padahal seharusnya sekarang hidupnya sudah enak.

__ADS_1


Tapi ….


"Ti-tidak!! Aku tidak akan melakukannya. Kau tidak tahu sebahaya apa hidup kita jika aku melakukannya. Nania ada dalam keluarga Nikolai sekarang."


"Hah!! Dasar dungu!" Hendrik kembali menghempaskan kepala Mirna sehingga perempuan itu lagi-lagi terhuyung. Kemudian dia beranjak dari tempat tersebut.


"Hendrik, kau mau ke mana?" Namun Mirna segera mengikutinya.


"Terserah aku!"


"Kita akan ke mana? Malam ini kita tidur di mana?"


"Terserah kau! Pergi sana! Aku malas hidup dengan perempuan bodoh sepertimu!"


"Tapi kau bilang akan berubah, itu sebabnya aku rela memberikan uang terakhirku dari Nania kepada mereka. Aku lakukan itu untukmu."


Hendrik berhenti sebentar.


"Hendrik!!" Mirna menyentuh tangan suaminya.


"Maka lakukan lagi, bodoh!!" Pria itu menyentakkan tangannya lalu melanjutkan langkahnya. Dan Mirna pun kembali mengikuti di belakang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kediaman Nikolai sudah sangat ramai padahal hari masih pagi. Meski memang hal itu selalu terjadi setiap akhir pekan, karena anak menantu dan cucu yang tak tinggal di sana pasti menginap. Apalagi setelah acara besar semalam membuat mereka semua tetap berkumpul di rumah besar sepanjang minggu.


Terutama hari ini, setelah mendapat kejutan istimewa atas kabar kehamilan Nania, semua orang tampak lebih bersemangat.


"Selamat ulang tahun, Daryl dan Darren. Semoga panjang umur. Usaha lancar, selalu sehat dan semakin bahagia. Apalagi sekarang kalian akan menjadi ayah." Sofia memeluk putra kembarnya bergantian. 


Dua tart berbeda dengan lilin berbentuk angka 28 tersemat di tengahnya. Yang masing-masing bertuliskan nama Darren dan Daryl.


"Duh, seperti anak kecil saja merayakan ulang tahun. Hahaha." ucap Daryl sambil tertawa.


"Ya ya ya, thanks Mom." Daryl kembali memeluk sang ibu, begitu juga Darren.


"Mama rasa kami tidak perlu memberikan kado ya? Karena kalian sudah memilikinya masing-masing?" Perempuan itu melirik pada dua menantunya yang tengah mengandung.


"Yeah …." Darren mengangguk


"No, tidak usah. Kami sudah punya banyak." Daryl menjawab sambil tertawa. Dia lupa dengan kekesalannya yang semalaman tak berhasil mendekati istrinya yang tengah mengandung.


"Dih, sombong!" Rania yang baru turun bersama dua anaknya menyahut.


"Ehh … sini." Nania menyambut dua keponakan yang segera mendekat kepadanya.


Lalu keriuhan itu terjeda ketika Galang dan Amara yang tak ikut menginap tiba bersama bayi kembar mereka. Yang tentu saja mendapat sambutan hangat pula dari seluruh anggota keluarga.


"Aaaa … Dedek Azura lucu banget!!!" Nania segera merebut bayi perempuan dalam dekapan Amara.


Azura yang mengenakan gaun berwarna pink dengan bando berpita di kepalanya. Membuatnya terlihat seperti boneka.


"Uuhh, hati-hati Nenda. Azuranya berat." Amara menyerahkan putrinya dengan takut-takut.


"Tapi nggak seberat Kenda nya. Mana manja lagi?" Nania menjawab.


"Hah? Maksudnya?" Amara sedikit menjengit.


"Umm … berat kelakuannya. Marah-marah melulu!" Nania melirik kepada suaminya.


"Oh …." Lalu semua orang tertawa.


"Bagaimana tidak marah-marah? Kelakuanmu sangat aneh!" Daryl pun menjawab.

__ADS_1


"Nggak, aku biasa aja."


"Biasa sebelah mananya? Masa aku sudah mandi masih dibilang bau? Kan aneh."


"Ya emang kamu bau. Kan aku cuma jujur."


"Ish, menyebalkan!" Pria itu mendelik.


"Ini kenapa yang diributkan soal bau melulu?" Sofia bereaksi dengan perdebatan anak dan menantunya.


"Kan udah aku bilangin mandinya jangan pakai sabun sama shampo itu. Jangan juga pakai parfum itu, udah tahu aku mual kalau nyium baunya. Eh, masih aja dipake." 


"Semalam kan aku menggunakan sabun dan shampomu, tapi tetap saja kamu bilang bau. Tidak menyebalkan sebelah mananya?"


"Hadeh …."


"Semua orang kamu sebut bau, kecuali Anya dan Zenya. Dan sekarang bayi itu lagi?"


"Ini Azura … bukan bayi itu." Amara memprotes ucapan Daryl.


"Iya, Azura tidak bau. Sampai dipeluk dan dicium seperti itu?" Pria itu berujar.


"Dih? Dia sirik? Hahaha. Dengar Zura? Kendanya iri sama kamu." Amara berbisik kepada putrinya.


"Ya karena Azura nggak bau kayak kamu. Anya sama Zenya juga. Mereka kan wangi." Dan perdebatan itu pun berlanjut.


"Apa bedanya? Apa karena mereka anak-anak?" Daryl mulai kesal.


"Mungkin. Ya mereka wangi aja. Nggak kayak kamu …."


"Eh, ssstttt! Apa sih malah terus berdebat? Yang ini wangi yang ini bau. Perkara sabun dan shampo aja jadi ribut!" Rania bereaksi.


"Dokter ngejelasin nggak sih kalau perempuan hamil itu beberapa indra nya jadi lebih sensitif? Kayak penciuman. Jadi apa yang kita anggap nggak bau menurut dia bau. Apa yang menurut kita nggak bau malah keciumnya wangi sama dia. Itukan normal, jangan jadi lebay deh?" katanya.


"Sudah tahu." Daryl menjawab.


"Ya terus kenapa ngomel-ngomel melulu?"


"Ya karena dia jadi menyebalkan."


"Nggak nyebelin kalau kamunya faham dan bisa menerima. Jangan apa-apa jadi marah, apa-apa bikin kamu ngomel. Yang ada pengang telinga orang denger omelan kamu!" ucapan Rania tentu saja membuat adik iparnya itu bungkam.


"Biar keciumnya wangi, kenapa nggak ganti aja semua yang kamu pakai ke produk perawatan bayi? Kan bagus." katanya lagi.


"What? No way! Mana mungkin aku begitu?"


"Ya itu sih sekedar saran dari netizen." Rania mengedipkan mata ke arah samping di mana para pembaca sedang menyimak kegiatan mereka. 


"Saran kepalamu!" Lalu mereka semua tertawa lagi.


"Ah, ini kan acara ulang tahun. Kenapa malah berubah jadi perdebatan? Kan sayang makanannya malah kita biarkan." Sofia mengalihkan topik pembicaraan.


"Karena semua sudah berkumpul, jadi ayo kita makan sekarang?" Dia menggiring seluruh anggota keluarga ke ruang makan di mana hidangan sudah tersedia.


💖


💖


💖


Bersambung ....


Like komen sama kirim hadiah dulu genks ...

__ADS_1


__ADS_2