
💖
💖
Regan menyipitkan matanya, seolah dia tak mempercayai Nania saat perempuan itu berbicara.
"Telfon aja suami aku kalau kamu nggak percaya." katanya, yang melipat kedua tangannya di dada.
Kemudian Regan merogoh ponselnya sendiri lalu melakukan panggilan ke nomor Daryl.
"Ya?" terdengar jawaban dari seberang.
"Maaf Pak?"
"Ada apa?"
"Apa benar Bapak sudah mengizinkan Nania untuk mampir ke rumah ayahnya?" Pria itu bertanya.
"Soal itu …."
"Nania meminta mampir dulu untuk melihat keadaan rumah dan berkunjung ke tetangganya yang di sana. Apa benar Bapak izinkan?" Regan bertanya lagi.
Terdengar helaan napas yang cukup dalam dari atasannya itu.
"Yeah, sudah aku izinkan. Antar saja dia lah, dari pada berisik. Sampai pengang telingaku ini rasanya mendengar dia mengirim pesan terus." Daryl dengan nada kesal.
"Saya hanya memastikan saja, Pak." Regan menyela.
"Hmm … tolong kau antar saja ke mana dia mau pergi. Yang penting marahnya reda dan dia tak lagi menggangguku dengan omelannya." jawab Daryl sebelum akhirnya panggilan pun berakhir.
"Bener kan? Huh, nggak percaya sih. Orang sebelum bilang sama kamu aku izin dulu sama suami aku kok." ucap Nania ketika Regan memasukkan ponelnya ke dalam saku jas.
"Baiklah. Hanya mampir ke rumah lama kan? Saya rasa itu tidak masalah." Pria itu membuka pintu mobil untuk Nania.
"Tunggu." Namun gerakannya sejenak tehenti.
"Apa lagi?"
"Kamu nggak pakai minyak telon?" Nania sedikit mencondongkan kepalanya ke depan.
"Itu … ee … ketinggalan. Ya, ketinggalan. Hehe." katanya untuk menghindari keharusan menggunakan benda berbau bayi itu.
"Oh, … pantesan." Lalu Nania merogoh ke dalam tasnya. Dan beberapa saat kemudian dia menarik satu botol persediaan minyak telonnya. Sengaja, untuk berjaga-jaga jika dirinya membutuhkan.
Perempuan itu lantas menyiprat-nyipratkan cairan tersebut kepada Regan, sehingga bawahan suaminya itu kini berbau minyak telon yang cukup kuat.
"Udah …. Ayo?" katanya, yang dengan lugunya dia segera masuk ke dalam mobil. Sedangkan Regan sedikit terkejut namun dia tak mampu bertindak karena apa yang Nania lakukan sangatlah cepat dan tak ia duga.
"Tapi ke mini market dulu ya?" ucap Nania setelah pria itu berada dibalik kemudi dan menyalakan mesin beroda empatnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Daaahhh … besok lagi ya? Nanti aku kasih tahu kalau rumah bacanya udah selesai. Kalian belajar di sana, dan jangan berkeliaran lagi di jalan, oke?" Nania melambaikan tangan saat mobilnya mulai melaju perlahan.
__ADS_1
Seperti biasa, dia mampir ke beberapa tempat untuk membagikan makanan ringan yang dibelinya di mini market kepada anak-anak yang sebagian merupakan pengamen jalanan.
Dan tak menghabiskan waktu terlalu lama, mereka sudah tiba di depan pagar sebuah rumah sederhana yang dulu ditinggali Nania dan ayahnya.
"Kamu dulu tinggal di sini?" Regan keluar dan kembali membukakan pintu mobil.
"Ya. Aneh kan? Kok bisa-bisanya sampai ketemu sama bos kamu?" Nania pun turun dan dia bergegas membuka pintu pagar yang memang terunci rapat, kemudian segera memasuki pekarangan.
"Tidak aneh. Kalau memang jalannya harusnya begitu, apa yang bisa menghalangi?" Regan mengikutinya masuk ke tempat itu.
Di menatap bangunan yang hampir lapuk dimakan usia itu dengan benar-benar. Meski catnya terlihat masih baru, tapi noda air dan kelembaban tidak dapat disembunyikan.
"Dan kamu akan menjadikan tempat ini sebagai taman bacaan?" Regan bertanya.
"Iya. Ide aku bagus kan?"
Lalu pria itu menatap ke luar pagar di mana keadaan pemukiman itu yang cukup ramai. Anak-anak dengan usia berbeda-beda berada di sepanjang jalan dengan bermacam-macam kegiatan.
Ada yang baru pulang sekolah, ada juga yang hanya bermain.
"Nania?" Seorang perempuan paruh baya datang menghampirinya.
"Bibi? Apa kabar?" Kemudian mereka berpelukan.
"Baik. Kamu sehat?" Perempuan itu memeriksa keadaannya yang kini tampak lebih baik.
"Sehat, Bi."
"Syukurlah."
"Waahhh, benarkah?" Dia menatap wajah dan perut Nania secara bergantian.
"Iya, Bi." Perempuan itu mengangguk.
"Selamat!!" Lalu dia menyentuh perutnya pelan-pelan.
"Maaf, Bu?" Namun Regan segera bereaksi, dan dia hampir saja menarik sang tetangga menjauh.
"Nggak apa-apa …." Dan Nania menghalangi.
"Apa taman bacaannya jadi dibuat? Anak-anak sudah tahu dan mereka tidak sabar menunggu. Mereka senang sekali tahu tempat ini akan dijadikan lahan kegiatan positif. Dan semua warga juga mendukung." Dia berbicara.
"Masa?"
"Iya. Kami sudah menunggu, dan berharap cepat-cepat terwujud. Setidaknya anak-anak ada tempat mencari ilmu walaupun nantinya mereka tidak bisa melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi."
"Ya, doa' in aja ya Bi? Aku juga maunya cepet-cepet, tapi kan …." Nania menoleh ke arah Regan.
"Iya, kami pasti mendoakan."
"Hmm …."
Lalu Regan memilih untuk masuk ke dalam dan melihat-lihat. Sesekali dia mengambil gambar dengan ponselnya, lalu tampak mengirimkan beberapa pesan.
__ADS_1
"Jadi apa yang kamu butuhka sebenarnya?" Pria itu bertanya ketika Nania juga masuk mengikutinya.
"Ya rak buku sama isinya. Mungkin beberapa meja sama kursi gitu, siapa tahu ada yang mau duduk. Atau gelar karpet di lantai juga boleh."
"Hmm … tapi sepertinya harus kita benahi dulu tempatnya ya?" Pria itu melihat-lihat ke sekeliling.
"Menurut kamu gimana?" Nania mengikutnya.
"Ya, sepertinya memang harus sedikit dibenahi. Karena ini akan menjadi sarana publik nantinya." Dia kembali mengambil gambar.
"Iya juga." Perempuan itu mengangguk-anggukkan kepala. "Kamu mau bantuin aku?" katanya dengan mata berbinar penuh harap.
"Tentu saja." Regan menjawab.
"Yeee … asiikkk!!"
"Ya, karena itu sudah tugasku untuk menjalankan perintah Pak Daryl." lanjut Regan yang membuat binar di mata Nania sedikit berkurang.
"Memangnya apa yang kamu harapkan? Saya kan bawahannya Pak Daryl, sudah tentu perintahnya lah yang saya laksanakan." Pria itu tertawa.
"Dia bilang, lakukan saja apa yang membuatmu senang dan meredakan kemarahanmu, agar semuaya aman." katanya lagi.
"Apa?"
"Ups! Saya salah bicara, maksudnya tidak begitu … tapi, umm …."
"Baiklah, Regan!" Nania melipat kedua tagan di dada sambil menyipitkan matanya.
Duh, perasaanku kok tidak enak ya? Batin Regan saat melihat raut wajah istri dari atasannya tersebut.
"Kalau gitu, aku mintanya sekarang aja." ucap Nania.
"Ap-apa?"
"Aku mau … kamu benerin rumahnya kayak yang kamu bilang, kita bikin tempat ini jadi senyaman mungkin untuk anak-anak biar mereka betah membaca. Habis itu kita beli semua yang diperlukan. Sekarang!" ucap Nania. Dan sepertinya kali ini dia tidak ingin dibantah.
"Tapi … apakah tidak sebaiknya kita bicarakan terlebih dahulu dengan Pak Daryl?" Pria itu memberi pendapat.
"Nggak! Bukannya dia bilang lakukan saja apa yang aku mau?" Perempuan itu mengingatkan.
"Ya, tapi saya rasa maksudnya bukan ini."
"Tadi yang kamu bilang itu jelas banget lho dan aku nggak tuli."
"Mmm … iya sih, tapi … apakah …."Â
"Udah, pokoknya aku maunya gitu!" ucap Nania lagi, dan sepertinya kali ini dia tidak ingin dibantah.
💖
💖
💖
__ADS_1
Bersambung ....
Habis ini ngapain?🤣🤣