
💖
💖
"Kasihan sekali kamu ini. Kerja keras banting tulang hanya untuk memberi makan kakak dan ayah tirimu." Nania ingat perkataan sang nenek ketika dia pulang di akhir minggu saat masih bekerja sebagai baby sitter.
Waktu itu usianya lima belas tahun lebih dan dia baru beberapa bulan lulus sekolah. Tapi Nania terpaksa mengambil pekerjaan pertamanya sebagai pengasuh anak di sebuah keluarga keturunan.
Selain karena ayahnya yang jatuh sakit, juga karena ibunya membebankan tanggung jawab yang berat kepadanya. Padahal gajinya kala itu tidaklah seberapa.
Tapi ucapan Mirna yang terus terngiang-ngiang di telinganya soal bakti anak kepada orang tua memang benar-benar memiliki pengaruh yang besar kepadanya.
Membuat Nania merasa jika beban seluruh keluarga ada di pundaknya, dan dia punya tanggung jawab untuk menghidupi mereka.
Setiap bulan dia mengirimkan sebagian besar uang gajinya kepada Mirna, sementara sisanya yang sedikit dia simpan sendiri. Yang setelah terkumpul kemudian dia gunakan untuk membawa sang ayah berobat ke rumah sakit.
Meski berkali-kali pria itu menolak, namun Nania bersikukuh membawanya untuk mendapatkan penanganan dari dokter walau tak serutin yang seharusnya. Tapi setidaknya sang ayah mendapatkan pengobatan.
"Percayalah, Nduk. Tuhan tidak tuli dan tidak buta. Dia tahu apa yang kamu lakukan, dan tidak akan membiarkanmu seperti ini selamanya. Tuhan Maha Tahu bagaimana hambaNya berjuang dan mengusahakan yang terbaik. Maka, teruslah berbuat baik sehingga rahmatNya segera turun dan menyelamatkanmu dari hal buruk yang mungkin sedang menimpamu."
Lalu ucapan sang nenek lainnya Nania ingat, juga usapannya di punggung kala melepas lelah setelah seharian berjualan snack di jalan pada saat macet. Saat itu usianya tujuh belas tahun dan dia memutuskan untuk mencari peruntunganya sendiri di tempat lain setelah lebih dari setahun bekerja mengasuh anak yang gajinya tak manusiawi, enam bulan berjibaku di pabrik garmen yang jam kerjanya tidak terbatas. Dan di beberapa tempat lainnya yang jika diingat maka akan membuat siapa pun tidak akan percaya gadis semuda itu mengalami masa-masa yang berat.
Hingga setelah beberapa lama dan tetap berjuang sendirian dia menemukan pengumuman di media sosial dari sebuah kedai yang baru saja akan buka. Yang akhirnya membawanya pada titik di mana dia menemukan orang-orang yang sangat jauh dari bayangan. Bahkan memikirkannya pun tidak sama sekali.
"Nenek benar, dan aku bersyukur tetap dengerin Nenek." Dia bergumam dalam hati.
"Oke, let see … siapa yang harus kita temui di sini?" Mobil yang Daryl kendarai memasuki area rumah sakit Nikolai Medical Center pada sore hari.
"Dokter Spesialis Neurologi …." Pria itu menatap layar ponselnya setelah mendapatkan jawaban dari staf rumah sakit mengenai siapa yang harus dia temui untuk menangani permasalahannya.
"Dokter Citra? Hmm …." Pria itu bergumam saat membaca chat yang masuk diikuti foto seorang dokter.
"Duh, curiga dokter cewek nih?" Nania merebut ponsel itu dari tangan suaminya.
"Ya masa ada dokter laki-laki namanya Citra? Kejamnya orang tua yang memberikan nama itu?"
Nania tertawa mendengar ucapan Daryl.
"Dokternya cantik, Dadd." Lalu dia menyerahkan benda pipih tersebut kepada pria itu.
Daryl memutar bola matanya.
"Ayo, kita ketemu dokter Citra?" Nania kemudian turun tanpa menunggu sang suami membukakan pintu untuknya.
"Selamat sore, selamat datang di Nikolai Medical Center?" Seorang dokter yang kira-kira seumuran Kirana menyambut begitu mereka masuk.
"Silahkan duduk?" katanya yang bersiap dengan alat-alat pemeriksaannya.
Daryl dan Nania pun duduk di kursi yang tersedia.
"Apa yang bisa saya bantu?" tanya perempuan itu kemudian.
"Saya … punya masalah." Daryl buka suara.
"Untuk Bapak? Baik, masalah apa?"
"Masalah saraf, Dokter."
"Saraf?"
"Ya. Dyspraxia?"
Dokter itu menatapnya sebentar, lalu dia beralih kepada Nania.
"Bagaimana Anda tahu bahwa Anda mengidap dyspraxia?" Dia bertanya.
"Saya tidak bisa mengancingkan kemeja dan mengikat tali sepatu."
"Lalu?"
"Yang lainnya masih bisa dilakukan, tapi yang dua ini sangat sulit."
"Sejak kapan Anda menyadari mengidap hal ini?"
"Sejak kelas tiga SD. Tapi sepertinya dari sebelum itu. Hanya saja … tidak ada yang tahu."
"Bagaimana bisa? Karena hal seperti ini muncul di usia balita, dan seharusnya orang dewasa tahu, Pak …."
"Daryl. Saya Daryl Nikolai." Pria itu baru memperkenalkan diri.
"Oh … baik, Pak Daryl." Dokter Citra menuliskan sesuatu di catatannya setelah dia melihat data yang diberikan oleh asistennya. Yang kemudian disadarinya sebagai anggota keluarga pemilik rumah sakit tempatnya bekerja.
"Lalu bagaimana selama ini Anda menjalani kehidupan sehari-hari jika memang Anda mengidap masalah dyspraxia ini?"
"Sejak kecil pengasuh selalu membantu saya melakukan apa pun, juga saudara kembar saya."
"Anda punya saudara kembar?"
"Ya, Darren. Dia suaminya Dokter Kirana yang bekerja di sini juga. Anda kenal?"
"Dokter Kirana?" Dokter Citra memgingat.
"Dokter bedah plastik?"
"Ohh … mungkin belum kenal karena saya baru dua minggu bertugas di sini."
"Hmm … baiklah."
"Jadi selama dari kecil hingga dewasa Anda dibantu pengasuh dan saudara kembar untuk melakukan apa yang tidak bisa Anda lakukan?" Dokter Citra bertanya lagi.
"Benar, Dokter."
"Dan anda yakin selain tidak bisa memasangkan kancing dan mengikat tali, tidak ada lagi?" Dia meyakinkan.
"Ya."
"Sudah pernah menemui dokter ahli sebelumnya?" Dia menulis lagi.
"Belum pernah, dan ini pertama kalinya."
"Baik … apa yang Anda ingin saya lakukan? Karena terus terang saja Anda tampak sangat normal bagi saya. Sebagian besar pengidap CDC atau ADHD seperti anda akan mengidap hal lainnya. Seperti pertumbuhan terhambat, kemampuan berbicara yang kurang, dan koordinasi gerak juga pengelolaan emosi pada diri sendiri akan terganggu."
"Dia gampang marah, Dokter." Nania menyahut sambil tertawa. Membuat percakapan kedua orang itu terjeda.
"Dokter bilang pengelolaan emosi juga terganggu?" tanya Nania kemudian.
"Ya." Dokter Citra pun mengangguk.
"Nah itu, gampang marah, emosian juga suka maki-maki orang." lanjut perempuan itu.
"Benarkah?" Dokter bertanya.
"Ya kalau sedang ada masalah pasti marah kan? Siapa pun begitu." Dan Daryl pun menjawab.
"Serius, Dokter. Selain nggak bisa pasang kancing sama iket sepatu juga gampang marah ya nggak ada lagi. Yang lainnya dia jago." Nania berbicara lagi.
"Umm …."
"Kerja, olah raga, bela diri juga bisa apalagi kalau lagi marah. Bisa mati orang dia hajar. Bawa mobil sama motor, bahkan bawa heli kopter juga bisa." Dia menerangkan.
__ADS_1
"Wow, ini kasus yang unik ya?" Dokter Citra sedikit santai menangani pasien yang ini. Menurutnya apa yang disampaikan oleh perempuan di samping Daryl cukup menarik.
"Ya, bener."
"Lalu apa yang Anda inginkan dengan menemui saya jika yang lainnya mampu Anda lakukan, Pak?" Perempuan itu bertanya lagi.
"Hanya … untuk mengetahui apakah saya bisa pulih?" Daryl menjawab.
"Dyspraxia itu adalah kelaian saraf yang terjadi akibat gangguan pada otak yang mungkin terjadi saat kehamilan atau saat bayi lahir dan tumbuh kembang. Jadi tidak akan bisa dipulihkan. Dyspraxianya sudah terbentuk seperti itu."
Daryl sudah mengetahui hal tersebut tapi tetap saja dirinya merasa kecewa.
"Tapi, jika Anda mau menjalani terapi hal itu bisa saja diperingan. Apalagi dengan rutin dan seumur hidup ada kemungkinan juga Anda mampu menanganinya seperti orang lain, hanya saja mungkin tidak senormal mereka."
"Tidak apa-apa, Dokter. Saya akan memilih terapi kalau itu bisa dilakukan." ujar Daryl dengan semangat. Kali ini dia ingin mencoba sesuatu sebagai upayanya menangani masalahnya sendiri.
"Baik, tapi sebelumnya ada beberapa prosedur pemeriksaan yang harus dilakukan agar kita tahu penanganan yang tepat untuk Anda." Dokter bangkit dan memintanya pindah ke bangsal pemeriksaan.
"Kondisi Anda sedang sangat baik saat ini." katanya setelah dia memeriksa kesehatan Daryl.
"Adik Anda tadi mengatakan jika Anda mampu melakukan hal lain dengan baik?" Dokter Citra berbicara lagi.
"Adik?" Daryl masih dalam posisi berbaring.
"Ya, adik?" Perempuan itu menoleh ke arah Nania yang masih duduk di tempatnya.
"Dia bukan adik saya, Dokter." jawab Daryl.
"Lalu? Keponakan?"
Pria itu memutar bola mata, sementara Nania tertawa sambil menutup mulut dengan tangannya.
"Dia istri saya."
"Duh?" Dokter kembali melirik Nania yang masih tertawa.
"Memangnya perbedaan kami se mencolok itu ya?" Daryl mulai kesal setelah mendengar ucapan dokter.
"Umm … tidak, Pak. Saya tidak bermaksud begitu, maaf." Perempuan itu juga sedikit tertawa karena ucapannya sendiri.
Sementara Daryl hanya mendengus pelan.
"Baik, kita cek yang lainnya ya Pak?" Perempuan itu kembali ke mejanya.
"Silahkan Anda membuat tulisan di kertas ini." Dia menyodorkan selembar kertas dengan pensilnya.
"Kalau menulis saya bisa."
"Ini hanya prosedur, Pak."
Meski enggan, namun Daryl tetap melakukannya. Dia menuliskan apa saja yang melintas di pikirannya setelah itu menyerahkannya kepada dokter.
"Bagus, Pak."
"Ya memang bagus."
Lalu dokter meminta Daryl untuk melakukan hal lainnya. Seperti menggambar, menyusun benda dan melakukan beberapa gerakan sederhana.
"Semuanya bagus." Perempuan itu menulis beberapa hal pada catatannya.
"Jadi intinya?" Mereka kembali ke tempat duduk.
"Sepertinya apa yang Anda derita ini cukup ringan."
"Ringan apanya?" Namun Daryl bereaksi. "Dokter tahu setiap hari saya susah payah jika tidak ada yang membantu berpakaian, dan memasangkan sepatu? Mungkin bagi Anda itu mudah dan ringan, tapi bagi saya itu berat, Dokter. Makanya saya datang ke sini untuk mencari pertolongan. Dan Anda sebut itu ringan? Yang benar saja!!" Pria itu meracau.
"Eee … bukan begitu maksud saya, Pak. Tapi …."
"Iya, maaf. Itu kan prosedurnya, Pak. Saya hanya menjalankan tugas."
"Tugasmu ya menangani pasien, bukannya berbasa-basi. Dokter membuat kesabaran saya habis saja? See? Ini sebabnya aku tidak mau pergi ke dokter meski sudah tahu apa yang seharusnya aku lakukan untuk menangani masalah ini. Dia banyak bicara!" Daryl beralih kepada istrinya.
Dan pria itu hampir kembali membuka mulutnya untuk berbicara ketika Nania menepuk tangannya sebanyak dua kali.
"Sssttt! Berisik!" katanya yang seketika membuat Daryl terdiam.
"Nah, sekarang Dokter udah tahu kan? Begitulah dia sehari-hari apalagi kalau pegawainya atau siapa pun berulah." ucap perempuan itu.
"Baik." Dokter Citra tertawa canggung. "Pasien CDC memang rata-rata kurang bisa mengontrol emosi, Bu. Dan saya sudah terbiasa."
"Syukurlah kalau begitu, saya lega." Nania mengusap dadanya sendiri.
"Tidak usah khawatir. Kelainan ini masih bisa ditangani. Mungkin beberapa bulan terapi dan menerapkan kebiasaan itu, lalu semuanya akan lebih ringan untuk Anda." ujar dokter kemudian yang memberikan selembar kertas kepada Nania.
"Ini daftar terapi apa saja yang harus dilakukan. Anda bisa memulainya besok, lusa atau kapan saja, tapi usahakan di hari kerja. Misal pagi atau sore hari seperti ini. Dan saya akan ada di sini ketika Anda datang." katanya.
"Baik Dokter. Apa nggak harus makan obat?"
"Sejauh pemahaman saya, untuk kasus suami Anda belum memerlukan obat. Nanti bisa kita lihat di pertemuan selanjutnya ya?"
"Baik, kalau begitu."
Kemudian kedua orang itu pun pergi.
***
"Dengar kan tadi? Kamu bisa mulai terapinya besok. Mau pagi atau sore boleh terserah kamu ada waktunya kapan. Mungkin bagusnya pagi sebelum kerja biar masih seger gitu?" Mereka dalam perjalanan pulang ketika malam sudah merangkak naik.
"Tidak mau." Daryl fokus pada lalu lintas jalan raya yang ramai di sekitarnya begitu mereka keluar dari area rumah sakit.
"Kenapa nggak mau?"
"Aku sendirian."
"Nggak apa-apa, kan aku harus sekolah?"
"Sore saja agar kamu bisa mengantarku seperti ini."
"Ish! Sendiri juga bisa lah?"
"Tidak, aku mau kamu menemaniku terapi."
"Om Der kan udah gede? Masa nggak mau sendiri?"
"Ck! Kamu terdengar seperti Anya." Dia melirik sekilas.
"Nggak apa-apa, Anya kan lucu."
Pria itu mencebikkan mulutnya.
"Pokoknya kamu harus terus menemaniku terapi mulai besok."
"Baiklah, Pak. Apa sih yang nggak?" Nania tertawa.
"Nggak usah takut, itu kan cuma terapi. Tadi aku lihat macam-macam namanya. Banyak deh?"
"Makanya kamu harus menemaniku, agar aku tidak bosan."
"Hmm …."
__ADS_1
"Serius. Atau nanti aku akan mengomel terus di depan dokter Citra."
Nania tergelak.
"Itu dokternya cantik kasihan kamu galakin? Nanti sawan lho?" Dia ingat pada saat suaminya mengomel tak karuan di depan perempuan berjas putih itu.
"Alah, salah dia sendiri bertele-tele!" Daryl membela diri.
"Bukan bertele-tele, itu kan emang udah tugasnya?"
"Hmm … ya, benar."
"Eh, belok dulu!!" Nania meminta suaminya mampir ke suatu tempat.
"What?"
"Ke mini market." Dia menunjuk ke sebelah kirinya di mana sebuah mini market terkenal berada.
"Mau jajan?"
"Iya."
Lalu Daryl segera menurutinya.
"Yeayy!!! Jajan!!" Perempuan itu bertepuk kegirangan, kemudian dia turun dari mobil dengan riang.
"Huh, dasar anak SD! Mampir ke tempat begini saja senangnya bukan main." gumamnya, dan dia pun keluar mengikuti istrinya.
"Hey, Malyshka! Tunggu dulu kenapa? Nanti kamu tersesat!" Daryl meraih tangannya untuk dia genggam.
"Dih, cuma mini market masa aku tersesat?Lagian aku kan bukan balita yang bakalan hilang di dekat rak?" Nania menjawab.
"Siapa tahu ada yang menculik kamu? Kan harus tetap waspada. Kejahatan itu bisa terjadi di mana saja termasuk di mini market." Mereka masuk ke dalam bangunan itu.
"Aku kan bisa teriak."
"Kalau mereka membekap mulutmu?"
"Aku gigit tangannya, aku tendang kaki sama anunya. Terus lari deh."
Daryl kemudian tersenyum.
"Kenapa senyum?"
"Ternyata kamu pintar." Pria itu mengacak puncak kepalanya.
"Dih, nggak jelas?"
"Haha. Cepatlah kamu mau beli apa? Harus makanan ya jangan minuman terus?"
"Iya ih, bawel." Nania mengambil sebuah keranjang di tempatnya, kemudian menyusuri beberapa lorong diikuti Daryl di belakang.
Dia mengambil beberapa bungkus makanan ringan, roti dan jenis camilan lainnya. Permen dan coklat pun menjadi hal wajib yang harus selalu ada dalam keranjang belanjaannya. Juga ditambah beberapa botol minuman yang sempat mendapat protes dari suaminya. Namun perempuan itu tidak menghiraukannya sama sekali.
"Udah." katanya setelah keranjangnya penuh.
"Yakin? Itu sabun-sabun belum masuk? Sekalian saja mumpung aku sedang baik hati." Daryl berujar.
"Ahaha, nggak ah. Sabun masih komplit." Lalu dia membiarkan pria itu membawa belanjaannya ke kasir.
"Yang aku tahu orang jajan itu hanya satu kresek kecil isi makanan ringan. Ini …." Daryl menatap dua kantong besar yang diisi jajanan istrinya.
"Eh, kan aku butuh makanan lebih banyak. Biar sehat."
"Yeah, right."
"Ada lagi?" Kasir bertanya setelah dia selesai menghitung jumlah belanjaan mereka.
"Sepertinya sudah." Daryl menjawab.
"Tunggu." Namun Nania menyela ketika pria itu mengeluarkan kartunya untuk membayar.
"Apa lagi?"
"Umm … ada alat tes kehamilan?" tanya nya kepada kasir.
"Ada." jawab perempuan dibalik meja itu.
"Beli ya, dua." ucap Nania yang segera dituruti oleh si kasir.
"Untuk apa kamu membeli itu?" Daryl bertanya.
"Ya untuk ngecek lah, aku hamil atau nggak."
"Hmm … memangnya sudah ya?"
"Nggak tahu, ka baru mau di cek?"
"Oo, baiklah." Pria itu kemudian menyerahkan kartunya setelah semuanya selesai.
"Milk tea!!" Nania menunjuk pedagang minuman di area parkir mini market.
"Kan di sini sudah banyak minumannya?" Daryl mengangkat salah satu kresek yang dia bawa, namun Nania malah terus saja menghampiri pedagang minuman tersebut.
"Astaga! Memang benar-benar anak SD dia itu!" Lalu dia mengikutinya setelah memasukkan barang belanjaan itu ke dalam mobil.
"Kamu mau?" Nania menawarkan saat pria itu sudah berada di dekatnya.
"Tidak, kamu saja. Aku butuh kopi panas sekarang ini." Daryl menjawab.
"Baik, Pak baik. Cuma sebentar kok." Dia menerima satu cup besar minuman favoritnya itu.
"Bayarnya dua puluh ribu aja, Dadd." ujar Nania kemudian sambil menyesap milk tea tersebut.
Tanpa banyak bicara Daryl menyerahkan selembar uang dua puluh ribu yang kebetulan ada di dompetnya.
"Oke, sekarang kita pulang!!" Nania masih bersemangat.
"Benar pulang? Tidak mau nongkrong dulu di teras mini market, hum?" Daryl memberi penawaran terlebih dahulu.
"Nggak ah, kasihan kamu capek kan?" Nania memeluk tangannya sambil menarik pria itu ke arah mobil mereka.
"Yakin?"
"Hu'um. Nongkrongnya di rumah aja sambil istirahat."
"Benar ya? Jangan sampai rumah kamu malah merajuk karena kita tidak nongkrong dulu di sini?"
"Nggak akan, hahaha."
"Baik kalau begitu aku akan segera membawamu pulang." Dia membukakan pintu untuknya.
"Awas saja, sampai di rumah aku tidak akan membiarkanmu diam walau hanya sebentar!" gumamnya setelah dia menutup pintu dan berjalan memutar ke bagian kemudi. Kemudian segera tancap gas dari tempat tersebut.
💖
💖
💖
__ADS_1
Bersambung ....
2500 kata nih gaess, kalian nggak mau nambahin hadiahnya gitu? 😁😁