The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Pengantin


__ADS_3

💖


💖


Daryl mendekatkan kakinya pada kaki Nania yang terus bergetar-getar sejak mereka duduk di pelaminan setelah berganti pakaian dan kembali menerima ucapan selamat dari orang-orang yang datang pada malam harinya.


"Rileks, kenapa kamu begitu gugup?" Pria itu berujar.


"Terlalu banyak orang." Nania dengan suara bergetar.


Daryl malah terkekeh.


"Ini pesta, bukankah kamu pernah menghadapinya di pesta resepsinya Ara dulu?" 


"Waktu itu aku kerja, bukannya diam kayak gini. Jadi pikiran aku teralihkan." Nania menjawab.


"Kamu bekerja di kedai, dan bertemu dengan banyak orang."


"Aku juga lagi kerja. Lagian itu hanya belasan atau puluhan orang. Ini berapa? Seribu? Dua ribu?"


"Sampai selesai nanti sekitar tiga ribu." Pria itu menjawab.


"Ah, … pantesan."


"Kamu takut?"


"Nggak, cuma gugup."


"Tenanglah, sebentar lagi. Hanya beberapa jam."


"Hmm …."


"Do you want something?" Lalu pria itu bertanya.


"Nggak, cuma mau pestanya cepat selesai, terus pulang."


Daryl terkekeh lagi.


"Ketawa mulu?" Nania mengerucutkan mulutnya.


"Pestanya memang akan selesai tapi kita tidak akan langsung pulang." ucap Daryl yang menumpangkan kakinya.


"Kenapa? Memangnya kita mau ke mana dulu?" Gadis yang telah menjadi Nyonya Daryl itu menoleh.


"Spent time."


"Di mana?"


"Kamu maunya di mana?" Pria itu memiringkan kepalanya.


"Umm …."


"Bisa di mana saja." Katanya, kemudian tertawa.


"Mm … mau ngapain?" Nania bertanya lagi.


"Apa saja yang kamu mau."


"Aku … maunya pulang, terus tidur." Gadis itu dengan lugunya.


"Dihotel juga bisa."


"Di sini?"


"Ya."


"Sekarang bisa nggak?" Nania bangkit seraya meraih tangan pria itu.


"No!! Easy! Belum waktunya." Namun Daryl segera menariknya kembali.


"Aku udah capek, mana ngantuk lagi soalnya semalaman susah tidur." adu Nania kepadanya.


"Kenapa susah tidur? Karena memikirkan aku ya? Sama aku juga susah tidur karena memikirkanmu." Daryl tertawa lagi.


"Bukan."


"Terus kenapa?"


"Chattan sama Ardi." Jawaban yang tak Daryl harapkan sebenarnya.


"Apa?! Malam sebelum pernikahan kamu chat an dengan pria lain? Keterlaluan!" Pria itu tampak kesal, kemudian dia mengedarkan pandangan mencari sosok yang membuatnya selalu merasa cemburu jika namanya Nania sebutkan.


"Iya, soalnya dia nanyain terus menunya. Kan awalnya masak itu tugas aku sama Ardi. Tapi karena akunya mendadak nikah jadinya dia masak sendiri."


"Astaga!"


"Kami kan berbagi tugas tadinya, tapi karena …."


"Diamlah!"


"Mmm …."


"Setelah ini kita tidak langsung pulang, tapi menginap dulu di hotel ini." ucap Daryl setelah terdiam beberapa saat.


"Kenapa nginap dulu? Kan masih di Jakarta? Kenapa nggak langsung pulang aja?" Nania kembali bertanya.


"Rata-rata pengantin begitu."


"Kenapa?"


"Ya … sayang. Kan kita sudah bayar tempat, masa tidak menikmati fasilitasnya?" jelas Daryl.


"Oh …."


"Lagi pula kalau kita pulang bisa kacau malam pertama. Nanti banyak yang mengganggu." Pria itu terkekeh lagi.


"Malam … pertama?"


"Hmm …." Daryl menyeringai.


"Emangnya …."


"Sstt! Jangan bicarakan soal itu! Pestanya belum selesai, kan?"


Lalu tamu berikutnya kembali berdatangan. Kali ini beberapa model dari agensi yang menaungi para model Fia's Secret, juga beberapa stafnya. Termasuk Bella yang malam itu memberanikan diri untuk hadir.


Mereka mengantri untuk memberikan ucapan selamat kepada dua pasang pengantin yang tidak terduga, juga beberapa kali berfoto bersama.


Bella berhenti ketika berhadapan dengan Nania dan dia menatapnya dari atas ke bawah.


Rupanya rumor yang beredar di kalangan staff itu benar adanya, soal anak pemilik kantor majalah fashion itu yang dikabarkan menjalin hubungan dengan seorang pelayan kedai. Tapi dia tak menyangka jika hal itu akan sampai ke pelaminan.


"Ehm!!" Daryl berdeham menangkap gelagat perempuan itu yang menatap istrinya dengan raut tak biasa.


"Ee … selamat menempuh hidup baru, Pak? Dan semoga bahagia." katanya, yang segera maju dan beralih kepada pengantin lain di sisi lainnya tanpa menyalami pria itu.


Dia tidak akan lupa apa yang telah Daryl lakukan padanya, dan bahkan hingga sekarang hal itu masih membuatnya merinding.


"Kenapa dia itu? Aneh!" Nania mengikuti dengan pandangan.


"Sudah, tidak usah dipedulikan!" Daryl menghalangi pandangannya.


Musik dari stage terus mengalun merdu dengan suara penyanyinya yang enak di dengar. Melantunkan beberapa lagu dari penyanyi terkenal yang membuat khalayak yang hadir ikut berdendang.


Baby i


Dancing in the dark


With you between my arms


Barefoot on the grass


Listening to our favourite song


When i saw in that dress


Looking so beautiful


I don't deserve this


Darling you look perfect tonight


Perfect by Ed Sheran


Semakin malam  terasa semakin syahdu dan semua orang terbawa suasana. Ditambah dekorasi dan lampunya yang ditata sedemikian rupa sehingga menciptakan atmosfir yang terasa penuh cinta.


"Kamu mau turun?" Daryl menatap kerumunan di tengah pesta. 


Darren dan Kirana bahkan ikut bernyanyi dengan wedding singer dan mereka tampak begitu mesra.


"Nggak."


"Lihat, Darren juga turun."


"Ya biarin. Kalau Bapak mau turun ya turun aja." gadis itu berujar.


"Haih, … kamu ini nggak romantis." Daryl memutar bola matanya.


"Ya emang nggak. Aku kan biasanya terjun ke pasar. Belanja sayuran, daging, ikan … mainnya sama bumbu dapur sama beras. Mana bisa aku romantis-romantisan?"


Daryl kembali terkekeh.


"Bapak ih ketawa terus?" Nania mendelik.


"Habisnya kamu lucu." Pria itu mencubit dagunya sedikit.


"Ish!!" Lalu Nania menepisnya dengan sedikit perasaan kesal.


"Tante Nna!!" Anya dan Zenya datang menghampiri.


"Hadeh, biang rusuh." Daryl bergumam.


"Eh, kalian kemana aja? Dari pagi baru nongol?" Nania menyambut dua anak kecil itu.


"Hu'um, dari tadi nggak boleh ke mana-mana sama mommy. Habis difoto harus langsung ke luar, padahal mau ke sini." Anya mengadu.


"Terus kalian di mana?"


"Di play ground sama suster."


"Kok bisa betah?" Daryl menyela.


"Habisnya di sana ada om-om jualan es krim."


"Pantas."


"Seharian kalian makan es krim?"


"Ya nggak juga. Makan, main. Terus bobo sebentar di atas. Habis itu main lagi."


"Tumben kamu nggak bikin kekacauan, Anya?" ucap Daryl kepada keponakannya.


"Apaan?"


Pria itu hanya tertawa.


"Oh iya, tadi juga aku nabur-naburim bunga di kamarnya Tante Nna lho sama Mommy. Terus pasangin lilin-lilin gitu."


"Masa? Bunga untuk apa?" Nania bertanya.


"Nggak tahu, katanya buat bobok."


"Hum? Masa bobok di bunga?"


"Di tempat boboknya."


"Oh … kenapa pakai bunga?"


"Kata Mommy biar romantis."


"Apa? Hahaha. Mommy mu ada-ada saja!" Daryl tertawa.


"Romantis itu apa sih? Dari tadi Mommy bilangnya romantis-romantis melulu. Naburin bunga, biar romantis. Naruh lilin wangi, biar romantis."


"Itu urusan orang dewasa, kamu nggak akan ngerti." Daryl menjawab.

__ADS_1


"Mommy juga tadi jawab gitu. Makanya aku nanya."


"Ee …."


"Anya?" Dimitri memanggil putrinya.


"Ayo, Nak? Sini?" ajak pria itu.


"No, Papi. Aku mau di sini." Namun anak itu menolak.


"Zen?" Lalu Dimitri beralih kepada putranya.


"No. Aku juga mau di sini."


"Tante Nna nya sedang sibuk, kan lagi nikahan?" ujar pria itu.


"Nggak, ini lagi duduk." sang anak menjawab.


"Maksud Papi, ayo kita keluar lagi?"


"Nggak mau. Maunya di sini."


"Iya, tapi nanti."


"Nggak ah, besok kan nggak ketemu lagi. Tante Nna nya kerja."


"Siapa bilang? Besok bisa ketemu kalau pulang sekolah. Tante Nna ka tinggal di rumah Opa."


"Masa?"


"Iya, kan sudah menikah dengan Om Der."


Anya menatap kepada Nania dan Daryl secara bergantian.


"Beneran?"


"Iya, masa bohongan?" Daryl menjawab.


"Aku boleh nginep sama Tante Nna dong nanti?"


"Boleh." Nania menjawab.


"Tidak boleh!" Lalu Daryl segera meralat.


"Kenapa?"


"Ya tidak boleh, masa mau menginap? Kamu kan punya rumah?"


Anya kembali menatap Nania.


"Boleh kok, nanti kita tidurnya barengan ya?" Namun Nania menjawabnya lagi.


"Benaran?" Anya dengan riang.


"Iya."


"Asiikk!!"


"So, come on! Kita cari Mommy!" ajak Dimitri lagi, dan kali ini dua anaknya itu menurut.


"Kenapa perasaanku nggak enak ya?" Daryl bergumam.


"Nggak enak kenapa?"


"Tidak tahu. Yang pasti setelah ini mereka akan terus menempel kepadamu."


"Masa begitu?" Nania tergelak.


"Aku curiga, nanti mereka semakin betah di rumah besar."


"Memangnya kenapa? Ya biarin lah, kan rumah kakek sama neneknya sendiri?"


"Masalahnya mereka berisik. Awas saja kalau nanti mengganggu kita?"


"Nggak akan lah, mengganggu apanya?"


"Ya bisa saja, kan?"


Orang-orang mulai meninggalkan tempat pesta. Sebagian yang jauh kembali ke hotel masing-masing, sementara yang masih berada di dalam kota kambali ke rumah. Hingga akhirnya tinggal pihak keluarga saja yang ada setelah acara selesai.


"Nah, kami pulang dulu ya? Atau kalian juga mau ikut pulang?" Satria berpamitan kepada kedua anaknya yang kini telah memiliki pendamping masing-masing.


"No way!" Daryl segera menjawab.


"Tentu saja tidak! Otakmu sudah ke mana-mana, aku tahu!" Dimitri menepuk kepala adiknya yang satu itu.


"Kak! Kenapa selalu melakukan itu kepadaku? Kepada Darren tidak?" protes Daryl sambil mengusap-usap kepalanya.


"Karena kau yang paling menyebalkan!" Dimitri tertawa, diikuti yang lainnya.


"Ya sudah, kami pulang dulu ya?" Sofia memeluk anak dan menantunya. Kemudian mereka semua pergi berurutan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Bapak nggak mau mandi dulu apa?" Nania menemukan Daryl yang merebahkan tubuh tingginya di tempat tidur yang bertabur bunga mawar merah itu saat dia keluar dari kamar mandi.


Gadis itu tersenyum mengingat ucapan Anya.


"Kenapa? Kamu mau langsung tidur?" Pria itu bangkit.


"Nggak, mau …."


"Oke, ayolah kalau mau sekarang." Daryl melepaskan sepatu dan kaus kakinya.


"Apaan?" Nania bereaksi.


"Tapi aku kesulitan membuka rompi dan kemeja ini, jadi kamu harus membantu aku dulu."


"Hah?"


"Come!"


"Umm …."


"Ee … iya." Nania pun mendekati pria itu, lalu dia melepaskan kancing rompi dan kemejanya.


"Baru berapa jam nikah Bapak udah nyuruh-nyuruh." Nania menggerutu.


"Kalau tidak menyuruhmu, lalu aku menyuruh siapa? Pegawai hotel? Masa aku minta mereka membukakan bajuku?" jawab Daryl.


"Ya buka sendiri, masa beginian aja nggak bisa? Pakainya bisa masa bukanya nggak bisa? Atau nggak mau? Dasar pemalas!"


Pria itu mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Dia lupa jika gadis yang statusnya kini telah menjadi istrinya itu tidak tahu mengenai kekurangan yang dimilikinya selama ini.


"Udah, sana mandi!" ucap Nania yang telah selesai melepaskan semua kancing kemeja Daryl.


Lalu pria itu bergegas membersihkan diri.


Daryl keluar setelah beberapa saat, dan dia hanya mengenakan handuknya yang dililitkan di pinggang. Sementara Nania tengah mondar-mandir di dekat tempat tidur.


"Sedang apa kamu?" Pria itu bertanya.


"Cari itu … sertifikat rumah yang tadi … aku lupa." Nania tanpa menoleh.


"Mungkin tertumpuk." Daryl mendekat.


"Eh, iya. Ini ada." Dia pun menemukannya di bawah tumpukan pakaian pengantin bekas pakai mereka. Lalu mengalihkan perhatian ketika merasa pria itu berada di dekatnya.


Nania terhenyak, dan tanpa sadar dia menjatuhkan kertas yang baru saja ditemukannya. Pandangannya tertuju pada tubuh tinggi berbalut sehelai handuk di depannya.


"Umm …." Dada yang bidang, perut kotak-kotak dan …


"Aku butuh …."


"Baju? Ya, sebentar. Kayaknya tadi aku lihat ada di sini deh?" Nania segera tersadar dan dia buru-buru mencari pakaian untuk Daryl.


"Nih?" Dan dengan cepat dia menemukan sehelai kaus, cel*na d*lam dan celana panjangnya.


"Ini cepat pakai? Nanti Bapak masuk angin." Gadis itu segera bergeser.


Dia kemudian duduk di sofa yang terletak di ujung ranjang dan membaca sertifikat di tangannya. Jelas sekali itu milik ayahnya yang telah Mirna jual dan sempat menjadi biang pertengkaran di antara mereka.


"Ah, ayah! Akhirnya rumah kembali lagi ke tangan aku!" Nania mendekap benda tersebut dengan perasaan haru.


"Eh …." Kemudian dia menoleh ke belakang di mana Daryl sudah selesai berpakaian.


"Makasih, Pak untuk mas kawinnya. Aku nggak nyangka Bapak ngasih ini." katanya.


"Gimana bisa? Kan udah sama pemilik yang baru?" Gadis itu bertanya.


"Ya aku beli lagi lah." Daryl nak ke tempat tidur, lalu duduk bersandar pada bantal.


"Aku tahu itu, tapi gimana bisa yang punya nya ngasih?"


"Ya aku beli dengan harga lebih tinggi dari yang dia dapat."


"Berapa?"


"Tiga ratus."


"Tiga ratus apa?"


"Tiga ratus juta lah, masa tiga ratus ribu?"


"Mm … dulu dia beinya dari ibu berapa emang?"


"Katanya seratus lima puluh."


"Apa? Seratus lima puluh juta?"


"Iya."


Nania bangkit.


"Bapak beli lagi dua kali lipat dari yang dia keluarin?" Dia mendekat ke siai di mana pria itu sudah berbaring.


"Yes."


"Nggak salah? Itu nggak kemahalan? Rumahnya kecil. Bahkan lebih gede rumah bermain dari pada rumahnya ayah!"


"Kan biar bisa aku beli. Kalau nggak begitu, pemiliknya tidak akan mau menjualnya lagi. Dia sudah betah tinggal di sana."


"Tapi kan …."


"Tidak apa-apa, itu tanda cintaku padamu." Pria itu tersenyum.


"Umm …."


"Mama bilang, mas kawin itu kalau bisa harus sesuai dengan keinginan calon istri. Jadinya akan sangat bermanfaat. Dan setelah mendengar ceritamu,  aku pikir yang kamu inginkan adalah memiliki rumah itu lagi."


"Iya sih tapi … kan mahal?"


"Rumah yang Darren berikan kepada Kirana lebih mahal. Dia memilih rumah di komplek elit dekat rumahnya Om Arfan. Dan mas kawinnya Kak Dim untuk Rania bahkan lebih mahal lagi sampai-sampai menggemparkan selurh Noveltoon waktu itu."


"Masa? Apa? Rumah juga?"


"Bukan."


"Terus apa?"


"Buggati Chiron yang harganya selangit. Dan hanya ada beberapa saja di dunia."


"Duh?"


"Dan yang aku berikan kepadamu bukan apa-apa."


Nania terdiam.


"Jadi … apa kita masih akan beradu argumen soal itu?" Daryl berujar.


"Kayaknya nggak deh." Nania menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"So? What are we gonna do?"


"Umm … 

__ADS_1


Pria itu bergeser.


"Come, we start tonight." katanya, sambil menepuk permukaan tempat tidur di dekatnya.


"Umm … ini beneran kita mau bobok bareng?" celetuk Nania dengan polosnya.


"Kamu pikir akad yang aku ucapkan di depan penghulu, semua orang dan bahkan Tuhan itu tidak sungguh-sungguh?"


"Aku pikir …."


"Apa lagi? Perasaanku kepadamu tidak nyata? Bercanda ya? Untuk itulah semua orang menikah. Agar bisa melakukan apa pun dengan cara yang benar."


"Apa pun?"


"Yeah."


"Termasuk bobok bareng?"


"Tentu saja." Daryl menyeringai.


"Itu berarti boboknya sambil ngapa-ngapain?"


"Kamu sudah mengerti ternyata?" Pria itu terkekeh.


"Eee … harus sekarang ya?" Nania terus bertanya. Dan rasanya saat ini dirinya mulai merasa gugup.


"Ya kalau bisa sekarang kenapa harus tunggu nanti? Atau besok, atau lain kali?"


"Umm … kalau aku nolek, boleh nggak?"


"Naniaaa!!!" Daryl sedikit mengeraskan suaranya.


"Iya Pak, iya! Nggak boleh ya? Kan aku cuma nanya, jangan bentak-bentak gitu!" Dan dia segera naik ke tempat tidur.


Daryl pun bangkit dari posisinya yang semula berbaring.


"Buka bajumu!" Pria itu berujar.


"Bu-buka baju?"


"Ya."


"Memangnya kalau mau ngapa-ngapain harus buka baju? Kan malu, Pak?"


"Astaga! Tidak mungkin kamu sepolos itu. Tahun berapa ini?" Daryl sudah merasa gemas sendiri.


"Ayo, cepat buka bajumu?"


"Bapak bilang nggak suka kalau pakaian aku terbuka? Nanti marah-marah?"


"Itu kalau diluar, kelihatan orang-orang. Kalau dikamar sebaiknya tidak usah pakai apa-apa."


"Apa? Nggak usah pakai apa-apa?"


"Ya, … tidak usah pakai apa-apa, aku suka itu."


"Tapi … aku … memang …."


"Nania, cepat buka bajumu!"


Lalu gadis itupun melepaskan pakaiannya hingga hanya tersisa  pak*ian dal*mnya saja.


Daryl menatap tubuh belianya lekat-lekat. Dada ranum yang tidak terlalu besar, perutnya yang rata dan kulitnya yang terlihat mulus. Bibirnya melengkung membentuk senyuman. Dia sangat menikmati hal ini. Hasratnya bahkan susdah meronta-ronta sejak tadi.


"Bapak lihatinnya bikin aku malu." Nania menutupi dada dengan kedua tangannya.


Daryl terkekeh kemudian bergeser maju sehingga kedua kakinya melingkari tempat gadis itu duduk. Lalu dia menarik kedua tangan Nania sehingga terlepas.


"Kenapa malu? Kita suami istri sekarang." Dia setengah berbisik, kemudian meraih bibir Nania untuk dia kecup.


"Dan ini yang dilakukan suami istri di malam pertama." Dia melepaskan kausnya, kemudian mendorong Nania sehingga istrinya itu terjengkang ke belakang.


Daryl segera melepaskan celananya sehingga terpampanglah semuanya dengan jelas. Dan apa yang telah tegak di antara kedua pahanya membuat Nania menahan napas.


Pria itu kemudian menarik lepas kain segitiga yang masih menutupi ar*ea pribadi Nania. Dan apa yang dia lihat membuatnya begitu berdebar.


"Ready for me?" Katanya, seraya mengungkung tubuh kecil Nania.


Dia mulai mencumbu, dan tangannya segera menjelajah. Dan hal pertama yang dia sentuh adalah dada yang masih berbalut bra, yang kemudian dia tarik juga ke atas hingga benda itu terlepas.


"Oh, so cute!" gumamnya setelah menemukan dua benda ranum yang sangat pas di genggamannya, lalu dia merematnya dengan lembut sambil mempermainkan puncaknya yang telah mencuat.


Nania menahan napas ketika merasakan sengatan hebat di sekujur tubuh, dan ini hal baru baginya.


"You like it? Because i like it." Bisik Daryl yang kemudian menyesap benda itu secara bergantian.


"Ahhh!" Nania mendes*ah pelan, dan dia masih menahan diri. Namun tubuhnya cepat bereaksi.


"Mmm …." Dia menggumam saat Daryl menjelajahi setiap inchi dada dan perutnya. Dan gelenyar indah semakin merayapi seluruh tubuhnya.


"Can i do it now?" Daryl menarik diri dan menegakkan tubuhnya.


Dia menatap wajah Nania yang sudah memerah dan danya bergerak naik turun dengan cepat, seiring napas yang menderu-deru. Tampaknya gadis itu sudah siap.


"So, this is your first?" Katanya, yang mengarahkan senjatanya pada pusat tubuh Nania.


Dan Daryl menggigit bibir bawahnya ketika mereka bersentuhan secara intim. Napasnya pun sudah menderu deru dan dia hampir saja mendorong pinggulnya ketika Nania mundur sambil menutupi miliknya.


"Tunggu!"


"What?"


"Emang beneran gitu caranya?" ucap Nania sambil merapatkan pahanya.


"Apa yang kamu katakan?"


"Emangnya beneran gitu?"


"Memangnya bagaimana?" Daryl mulai kesal.


"Mm … emangnya … bakal muat?"


"Apa?"


"Itu … dimasukin ke sini?"


"Nania, apa yang …."


"Kayaknya nggak akan muat deh?"


"Pasti muat."


"Nggak yakin muat!"


"Tahu dari mana kalau eragon nggak akan muat?"


"Kayaknya, Pak. Orang segede gitu?"


"Astaga, Tuhan!"


"Iya kan?" Nania menatap wajah pria itu dengan takut-takut.


"Kita coba dulu, oke?"


"Ummm … yakin balak muat?"


"Kita coba."


"Kalau nggak muat nggak jadi ya?"


"Ha? Mana bisa?"


"Mm … kan akunya …."


"Hanya … coba saja dulu oke?" Daryl maju, kemudian menyingkirkan tangan Nania dan kembali mendekatkan milik mereka. 


Dan dia hampir kembali mendorong ketika gadis itu lagi-lagi mundur sambil menutupi pusat tubuhnya dengan tangan.


"Sebentar-sebentar!!" Dan Nania kembali merapatkan pahanya.


"Naniaaaa!!!" Daryl hampir berteriak.


"Iya Pak, iya." Nania pun maju sehingga milik mereka kembali bersentuhan, dan Daryl hampir membenakan ujungnya.


"Tunggu!!"


"Astaga! Apa lagi?" Daryl benar-benar kesal kali ini.


"Yakin bakalan muat?" Nania mengulang pertanyaan sekedar untuk mengulur waktu.


"Makanya kita coba dulu, baru akan tahu." Daryl dengan nada frustasi. Hasratnya sudah sangat menanjak dan ingin segera dipuaskan.


"Tapi … sakit nggak?" Nania mencoba terus saja berbicara.


"Mungkin sedikit."


"Ah, nggak mau!"


"Naniaaa!!" Daryl menarik pahanya sehingga milik mereka benar-benar merapat dan ujung senjata Daryl hampir terbenam.


"Di novel yang aku baca kalau pertama itu sakit!"


"Kamu membaca novel seperti itu? Dasar nakal!" Daryl berhenti sebentar lalu menepuk pahanya.


"Cuma novel online, Pak." Percakapan itu mengalihkan fokus Nania, dan Daryl merasa jika hal tersebut merupakan sebuah keuntungan baginya.


"Kamu baca genre dewasa huh?"


"Kayaknya. Baru-baru ini aja, kan mau tahu."


"Begitu ya?" Daryl terus menekan pinggulnya perlahan-lahan.


"Hu'um." Namun gadis itu mengerjap ketika merasakan sesuatu menyeruak ke dalam dirinya.


"Ah, sakit!"


"Belum apa-apa." Daryl menatap eragonnya yang baru masuk setengah. Rasanya ini sulit sekali untuk menembus pertahanan Nania.


"Kayaknya Bapak salah deh, masa sakit begini?" Nania mulai merintih.


"Nggak mau, ah … sakit!!" Dia menahan perut Daryl yang tengah berusaha menembus bagian terdalam dirinya.


"Just wait! Sedikt lagi!" Daryl setengah menggeram.


"Nggak mau! Ini sakit!!" Nania mulai merengek.


"Not yet, Malyshka!!" Dan pada saat dia tengah berusaha, terdengarlah gedoran keras di pintu.


Keduanya tertegun.


"What the hell?"


"Siapa itu?" Mereka menoleh bersamaan, dan perhatian Daryl tentu saja terbagi sehingga Nania dengan mudah mendorongnya. Dan membuat pertautan yang hampir berhasil itu terlepas seluruhnya.


"Nania?"


"Kayak suara anak-anak, Pak?" Nania pun turun seraya memunguti pakaiannya, dan dengan cepat kembali mengenakannya.


Lalu dia berlari ke arah pintu depan ketika mendengar suara anak-anak memanggil.


"Tante Nnaaaaaaaa!!!! Mau bobok di sini!!" Anya dan Zenya sudah berdiri di depan pintu.


💖


💖


💖


Bersambung ...


Astojiiimmm, apa lagi ini?🙉🙉🙉


Episode ini panjangnya 3.115 kata loh gaess. Cuss like komen sama kirim hadiah yang banyak. Buat amunisi belah duren berikutnya 🤣🤣🤣


Alopyu sekebon 😘😘

__ADS_1


__ADS_2