
💖
💖
"Astaga, Zai! kamu ini kenapa sih? Dari tadi bolak-balik, bolak-balik. Aku mau tidur!" protes Dimitri ketika Rania tak bisa diam.
Perempuan itu tak bisa memejamkan matanya sama-sekali padahal malam sudah sangat larut.
"Aku masih kepikiran Nania, Papih." Dan akhirnya dia memiringkan tubuh ke arah suaminya.
"Kenapa lagi?"
"Kamu nggak ingat apa yang Mima tadi?" Dan dia kembali mengingat aduan ART mertuanya soal amukan Daryl ketika mereka mendatangi rumah tersebut sepulangnya dari pembukaan klinik.
"Ingat. Terus?"
"Aku kepikiran banget ini. Gimana kalau terjadi sesuatu sama Nania? Apa nggak sebaiknya kita bawa dia ke rumah sakit aja? Pendarahan kan bahaya?"
"Tadi dia terlihat baik-baik saja kan?" Dimitri mengingatkan kunjungannya tadi sore ke rumah adiknya, dan mendapati Nania yang tak se lemah sebelumnya.Â
"Kelihatannya sih begitu."
"Kita pantau saja lewat Mima, kalau ada apa-apa dia pasti akan menghubungi kita, kan?"
"Mereka kan nggak tinggal serumah. Gimana mau mantau? Terus, nggak lihat gimana adik kamu? Sikapnya yang begitu yang bisa bikin keadaan Nania tambah parah. Bukannya nguatin malah kabur setelah ngamuk. Cowok apaan kayak gitu?"
"Hey, kita jangan melihat satu permasalahan dari satu sisi saja. Rumah tangga itu dibangun dan dijalani oleh dua orang, jadi tidak boleh menyalahkan satu pihak jika mengalami masalah."
"Tapi Daryl keterlaluan. Istri abis keguguran malah minggat. Mana marah-marah lagi sampai hancurin barang. Kan kasihan Nania, udah kehilangan anak, eh suaminya nyalahin dia terus."
"Daryl itu hanya melampiaskan kemarahannya. Kita tahu wataknya sekeras apa dan tidak bisa mendiktenya seperti yang bisa kita lakukan kepada orang lain. Apalagi dia punya masalah sendiri yang sulit untuk diatasi. Jadi masalahnya bertambah-tambah kan?"
"Ya tapi nggak terus-terusan nyalahin Nania juga. Mana ada ibu yang tega mau ngorbanin anaknya? Emangnya dia sinting apa?"
Dimitri terkekeh lalu dia menyentuh wajah istrinya. "Kamu kalau bicara suka sembarangan, tapi benar."
__ADS_1
"Lah, emang iya. Kecuali orang sinting yang tega bunuh anaknya. Kesalahan Nania cuma satu, dia terlalu mikirin orang lain dari pada dirinya sendiri. Biarpun sebenarnya itu bagus, tapi orang yang dipikirinnya aja yang nggak tahu diri. Nyusahin melulu!"
Dimitri tertawa. Perempuan ini selalu memiliki sudut pandang lain saat melihat suatu permasalahan dan punya caranya sendiri untuk mengungkapkan opini. Yang meski selalu berbeda dari orang lain, tapi ucapannya selalu benar.
"Dan Daryl terlalu fokus sama kesalahan sehingga dia nggak bisa lagi lihat kebaikan apa yang udah Nania lakukan selama ini. Dia lupa siapa yang lebih paham sama sikapnya yang keras dan nggak ada toleransi itu. Dia juga lupa gimana Nania setiap hari menghadapi kesulitannya dan mendampingi dia dengan segala kekurangannya. Dan lagi kayaknya cuma Nania yang tahan sama dia yang begitu. Perempuan lain mana ada. Kalau bukan karena duit, ya karena keuntungan."
"Kok kamu bicara begitu?"
"Ya iyalah. Orang dia egoisnya kebangetan. Kalau perempuan biasa bakalan kabur kali, nggak akan tahan lama-lama hidup sama dia. Kayak yang aku bilang tadi, kalau bukan karena duit ya karena keuntungan sebagai anggota keluarga Nikolai. Tapi berhubung itu Nania, makanya bisa tahan. Udah galak, temperamental, nggak mau ngerti orang lain lagi. Untung aja ketemu Nania yang udah terbiasa disakitin jadinya tahan. Coba kalau ketemunya sama aku, udah babak belur dia aku pukulin." Rania dengan gemasnya.
Dimitri kali ini terdiam.
"Nania terbiasa digebukin sama kakaknya. Disakitin ayah tirinya, jimuga dimanfaatin ibunya. Jadi perlakuan Daryl sama dia kayaknya bukan apa-apa. Selain mentalnya yang kena. Huh, sesek dada aku kalau ingat itu. Bayangin kalau Anya digituin sama suaminya, udah pasti nggak akan tinggal diam deh akunya."
"Mana ada? Kamu pikir aku juga akan membiarkan hal itu? Sebelum kamu, aku pasti sudah lebih dulu menghajar laki-lakinya jika dia berani menyakiti putriku."
"Nah, nggak enak kan kalau misal anak kita yang digituin? Sama, ayahnya Nania juga kayaknya bakal gitu kalau misal dia masih hidup. Untung aja udah nggak ada. Bisa abis Daryl kalau masih ada."
"Ya, aku pikir juga begitu."
Dimitri kembali tertawa. "Kalau dapatnya kamu, terus aku dapat siapa?" Pria itu mengulurkan tangannya untuk memeluk Rania.
"Mungkin perempuan lembut kayak Nania. Kalian kan sama-sama baik, bagus juga kalau berjodoh."
"Hey, jangan bicara sembarangan!" Dimitri merapatkan tubuh mereka berdua.
"Asli. Kan dia baik. Sementara aku galak."
"Setiap orang sudah punya takdirnya masing-masing. Cukup! Nania dapat Daryl yang begitu karena Tuhan tahu harus memasangkannya agar mereka bisa saling melengkapi. Begitu juga kita."
"Iya juga sih."
"Ya sudah, jangan pikirkan itu terus. Nanti kita malah ikut pusing. Cukup memantau saja perkembangannya lewat Mima." Pria itu menyurukkan wajahnya di ceruk leher Rania.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Daryl berlari keluar dari kamar saat dia tak mendapati Nania di sisinya ketika bangun tidur di pagi hari. Pikirannya langsung tertuju pada hal buruk yang mungkin terjadi karena masalah di antara mereka masih belum terselesaikan.
Namun dia tertegun ketika menemukan perempuan itu yang tengah sibuk di dapur dengan suara musik menggema dari ponselnya. Dan hal itu membuat Daryl merasa lega.
Dia lantas mundur ke arah tangga dan memutuskam kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri.
Daryl kembali dalam keadaan yang sudah rapi. Katun tanpa kancing dan jas juga celana panjang berwarna hitam menjadi pilihannya untuk memulai lagi pekerjaan hari itu, setelah satu minggu lamanya menghabiskan waktu dalam kedukaan.
Lagi-lagi dia tertegun saat Nania tampak muntah-muntah di kamar mandi yang terletak di sisi lain dapur, namun tak ada yang keluar dari mulutnya meski perempuan itu tampak sangat tersiksa.
Dan kehadirannya membuat Nania sempat terkejut saat dia berbalik. Menjadikan suasana di antara keduanya terasa sedikit canggung.
"Aku … nggak sarapan di rumah besar." Nania melirik meja makannya yang sudah diisi apa yang dimasaknya barusan. Lalu dia kembali ke counter untuk memindahkan sayuran yang masih ada di wajan.
Daryl tak menyahut, namun dia juga mendekati counter dengan maksud untuk mengambil cangkir dan kopi. Tapi yang terjadi adalah Nania segera menghindar sambil melindungi kepalanya dengan tangan. Dan dia tampak ketakutan.
Pria itu menjengit, apalagi ketika Nania buru-buru menjauh.
Mereka duduk berseberangan tak seperti biasanya. Dan ini menciptakan perasaan aneh yang kentara. Ditambah suasana hening di antara mereka, dan Nania seperti sedang menciptakan ruangannya sendiri.
"Kamu …." Baru saja Daryl mulai berbicara tapi Nania sudah menutup telinganya sambil memejamkan mata.Â
Dia merasa akan mendengar teriakan lagi atau mungkin mengira pria itu akan kembali mengamuk. Sehingga setelahnya, Nania buru-buru menyelesaikan kegiatan sarapannya.
"Aku … umm … udah waktunya sekolah. Aku duluan." katanya, yang segea beranjak dari meja makan lalu pindah ke meja kerja di ujung ruangan.
Sementara Daryl masih duduk di tempatnya dengan perasaan tak menentu.
💖
💖
💖
Bersambung ....
__ADS_1
Nah lu🤔