
💖
💖
Udara menjadi semakin dingin, namun mereka belum mau beranjak dari dalam air. Keduanya masih betah berendam sambil membicarakan banyak hal.
"Aku pasti menggigil nih kalau keluar sekarang." Nania mengusap-usapkan air hangat pada wajahnya.
"Kenapa khawatir dengan udara dingin? Kan ada aku sebagai pemanas pribadimu?" Daryl meneguk minuman yang dituangkan dari botol.
Nania menepuk pahanya yang berada di bawah air, dan membuat pria itu tergelak.
"Makin lama omongan kamu makin mes*m." katanya, dan dia pun tertawa.
"Hmm … kamu yang membuatku seperti itu, Malyshka!" Daryl menempelkan bibirnya pada telinga perempuan itu yang duduk bersandar pada dadanya.
"Mitos. Padahal udah bawaan kamunya yang begitu." Nania menjawab.
Pria itu meremat apa pun yang dilewati tangannya di bawah sana, dan bibirnya tidak berhenti menyusuri leher, pundak hingga tengkuk Nania. Dan mereka benar-benar menikmati saat-saat seperti itu.
"Ish, udah aku bilangin jangan macem-macem!" Nania menyingkirkan tanganya yang menyelinap ke bagian bawah perutnya.
"What? I'm just touching you!!" Daryl terkekeh.
"Ya megangnya jangan gitu!" protes perempuan itu, yang kembali membuat suaminya tertawa.
"Kayaknya kamu kebanyakan minum deh, jadinya oon!" Nania melirik botol kedua yang sudah Daryl buka beberapa saat yang lalu.
"No! Wine tidak akan membuatku mabuk, Malyshka. Hanya membuatku tetap hangat."
"Jadi, itu yang bikin kamu nggak kedinginan kayak aku?" Nania mendongak sehingga bisa melihat wajah suaminya yang sudah memerah seperti udang rebus. Entah efek dari minuman yang dia tenggak ataukah karena sudah terlalu lama mereka berendam di dalam air panas.
"Probably yes, ditambah vodka dan semacamnya, so …."
"Aku belum pernah minum kayak gituan."
"Jangan, atau nanti kamu akan mabuk."Â
"Ya, soda aja udah bikin aku sakit perut." Nania tertawa lagi.
"Kamu minum milk tea saja, lebih aman. Atau mungkin jus yang lebih sehat?" Pria itu kembali meneguk minuman bening agak keemasan tersebut.
"Tapi aku mau coba!" Lalu Nania hampir merebut gelas dari tangan Daryl.
"Nooo!!" Namun pria itu segera menjauhkannya.
"Apa rasanya enak sehingga kamu hampir menghabiskan dua botol?" Dia bertanya.
"For me, yeah. But it's bad for you." jawab pria itu.
"Masa?"
"Hmm …."
"Ah, kamu pasti bohong! Kamu kan sukanya modus?" Nania bangkit kemudian menuangkan minuman dari botol ke gelas yang lainnya.
__ADS_1
"No, honey!!" Namun Daryl terlambat, perempuan itu sudah menenggaknya sebanyak setengah gelas.
"Arrrggghh! Kenapa rasanya gini?" Nania bereaksi.
Tubuhnya bergidik dengan keningnya yang berjengit ketika rasa pahit bercampur sedikit manis tertinggal di lidahnya setelah cairan bening itu dia telan.
"I told you! Hahaha." Dan Daryl hanya bisa tertawa setelahnya.
"Apa enaknya ini, ahh!!" Namun perempuan itu malah kembali meneguk sisanya untuk meyakinkan apa yang lidahnya rasakan.
Beberapa saat kemudian tenggorokannya seperti memanas. Dan rasanya itu menjalar ke seluruh tubuh. Wajahnya bahkan mulai memerah dan dia merasa seperti melayang.
"Umm … apa kita …." Nania mengerjap-ngerjapkan matanya, dan dia perlahan terhuyung ke samping.
"Astaga! Baru minum segitu kamu sudah mabuk? Benar kan apa yang aku katakan?" Daryl tertawa dan di menarik perempuan itu kembali duduk di pangkuannya.
"Aku kira … itu tadi rasanya kayak … ada pahit-pahitnya gitu tapi juga manis. Mm … badan aku jadinya panas!" cara bicaranya mulai tak karuan.
"Sudah aku bilang, kan?"
"Tapi aku mau lagi, aku jadinya nggak kedinginan!" Nania kembali berusaha meraih gelas di tangan Dary.
"No, Baby!!"
Lalu dia bangkit dan hampir menuangkan minuman itu lagi.
"Tidak boleh, yang barusan itu cukup. Kamu akan menyesalinya nanti." Dan Daryl menjauhkan benda tersebut.
"Sini!!!"
"Nggak, kan biar badan aku hangat kayak kamu. Jadinya nggak kedinginan terus!" Nania mulai meracau.
"Ya ya, tapi itu sudah cukup."
"Aku mau lagi!"
"Jangan, Sayang!"
"Aku mau lagii!!" Nania mulai berulah.
"Jangan, sudah cukup!"
"Mau lagi!!"
"Tidak kamu …."
"Diam!!" Lalu perempuan itu membentak.
"Berhenti mengatakan apa yang boleh dan yang tidak boleh aku lakukan, termasuk minum apa yang kamu minum. Aku ini sudah dewasa, dan sudah menikah!" Dia berbicara dengan nada tinggi.
"Mungkin kamu suamiku tapi kamu nggak punya hak untuk ngatur aku!!" Dia menunjuk ke arah Daryl.
"Aku … bisa melakukan apa pun yang aku mau tanpa mendengar aturan kamu!" katanya lagi.
"Benarkah?" Pria itu tahu jika Nania sedang mabuk, jadi dia membiarkannya saja seperti itu. Sepertinya ini akan menjadi hal yang lucu.
__ADS_1
"Iya dong, memangnya kamu ini siapa? Kamu nggak kenal siapa aku. Hanya karena kamu menikahi aku, lantas membuatmu merasa berhak mengendalikan hidup aku, begitu?"
"What?" Daryl melipat kedua tangannya di dada.
"Mau begini, mau begitu ya terserah aku lah, kenapa jadi kamu yang repot?"
"You drunk, Malyshka!" ulang Daryl.
"Nggak, siapa bilang?"
"Ohh … astaga!"
"Kamu ini selalu mau menang sendiri. Semua kemauannya harus diikuti tanpa mempedulikan keinginan orang lain. Dasar tukang ngatur!"
"Hah?"
"Dengar ya, Pak!" Nania menduduki pahanya lagi, lalu merebut gelas berisi wine di tangan suaminya yang kemudian dia tenggak hingga habis.
"Orang lain juga punya keinginan, bukan cuma kamu. Dan jangan selalu mengatur orang agar sesuai dengan apa yang kamu inginkan, apalagi memaksa. Itu nggak baik! Bikin orang tertekan! Kamu dengar?" Dia mencengkeram dagu Daryl dengan keras.
"Kenapa kamu bicara begitu kepadaku? Apa kamu benar-benar mabuk? Where is my wife?"
"Ehm …." Perempuan itu terkekeh-kekeh seperti dia baru saja mendengar hal lucu.
"Dengar ya, Bapak tukang maksa! Jangan selalu memaksaku melakukan apa yang kamu mau! Apalagi selalu harus ikut kemauanmu, itu nggak adil! Kamu pikir aku ini tahanan apa? Yang harus selalu terkurung di penjara dan mengikuti semua aturan kamu? Kamu pikir kamu ini siapa, hum?"
Daryl terdiam. Perempuan ini memang sedang mabuk tapi dia mengutarakan isi hatinya. Apakah selama ini dirinya memang begitu? Apakah dia memang selalu memaksakan kehendak seperti yang diucapkannya? Apa itu membuat Nania merasa tertekan?
Daryl mengingat-ingat lagi apa saja yang telah dia lakukan kepadanya sejak mereka menikah. Apakah ada yang salah?
Dia terus menatap perempuan itu yang masih meracau tak karuan. Segala hal dia ucapkan hingga ke hal-hal yang dianggapnya remeh dan tak berarti.
"Jangan paksa aku terus! Aku juga manusia, aku ingin bebas!!" Terakhir, Nania menepuk pundak Daryl dengan kepalan tangannya, dan itu cukup keras. Lalu dia terdiam.
"Are you finished?" Daryl bertanya, dan mereka saling tatap untuk beberapa saat.
"Sebaiknya kita masuk, udara menjadi semakin dingin di luar sini." katanya, seraya mendorong tubuh Nania agar turun dari pangkuannya.
Dia keluar dari jaquzzi terlebih dahulu kemudian menunggu perempuan itu di pinggir.
"Come, Malyshka." Daryl memelankan suaranya namun hal tersebut membuat Nania menurut. Dia pun keluar dan menghampiri pria itu.
"Jika memang tidak mau ya katakan saja. Kenapa malah memendamnya seperti itu?" ucap Daryl yang mengenakan bathrobenya, lalu dia memakaikannya pula kepada Nania.
Lalu dia menuntun perempuan itu masuk ke dalam rumah setelah memastikannya mengenakan jubah mandi itu dengan benar.
💖
💖
💖
Bersambung ....
Hayoooo Nanianya mabuk.🙈🙈
__ADS_1