The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Morning Sickness Dan Gejala Ibu Hamil


__ADS_3

💖


💖


"Banyak sekali minyak telon yang kamu beli?" Daryl menatap kantong kresek di sofa yang dipenuhi dengan perlengkapan bayi, terutama minyak telon dengan ukuran botol berbeda.


"Iya, kan buat stok. Masa mau pakai punya Anya, nanti Kak Rania heran."


Daryl tertawa.


"Mau aku beli pabriknya saja sekalian agar kita punya banyak barang seperti ini?" Dia duduk di sofa sementara Nania melepaskan sepatu dan kaus kakinya.


"Nggak usah." Perempuan itu juga tertawa. "Kenapa semuanya harus beli sama pabrik-pabriknya? Kamu berlebihan deh?"


"Hanya agar kita punya stok lebih banyak." Daryl melepaskan jasnya.


"Di mini market juga banyak, tinggal beli. Mana bisa jalan atau nangkring dulu sambil ngemil lagi. Kalau punya pabriknya dan kita minta dikirim ke rumah kan nggak bisa gitu?"


"Jadi agar ada alasan keluar rumah?"


"Iya. Bayangin aja kalau apa-apa kita punya pabriknya. Kemeja, coklat, atau baby care kayak gini. Bisa nggak ke mana-mana selamanya kita."


Daryl tersenyum sambil menatap wajah istri belianya.


"Apa anakku tidak menyusahkanmu hari ini?" Lalu dia menyentuh perutnya.


"Nggak terlalu, cuma hari ini aku kebanyakan makan buah sama minum jus."


"Kenapa?"


"Lihat makanan aku agak mual."


"Jangan katakan kamu tidak bisa makan?"


"Sedikit, cuma makanan tertentu aja."


"Misalnya?"


"Kayaknya daging sama ikan bikin aku mual deh?"


"Terus, masa kamu cuma makan sayuran? Seperti kambing saja."


"Sembarangan!"


Daryl tertawa lagi.


"Kata Mama kalau soal makanan kebanyakan cuma sebentar, nanti juga normal lagi."


"Masa?"


"Iya. Kan kalau trimester pertama itu semuanya lagi penyesuaian. Sebelumnya nggak ada apa-apa, terus tiba-tiba aja ada yang hidup di sini." Nania menyentuh perutnya sendiri.


"Isn't that amazing? Bagaimana hidup dimulai dan semuanya berproses menjadi seperti sekarang ini?"


Perempuan itu menganggukkan kepala.


"Terus soal minyak telon ini apakah sama hanya di trimester saja? Ataukah sampai bayinya lahir?"


"Aku nggak tahu. Soal itu belum tanya sama Mama. Emangnya kenapa?"


"Tidak, hanya bertanya."

__ADS_1


"Kenapa ih, kan bagus kamunya jadi wangi begini?" Nania menyurukkan wajah di ceruk leher suaminya.


"Wangi bayi itu kayak wangi yang paling menyenangkan, tahu?"


"Ya ya ya, apa pun menyenangkan bagimu." Mereka berdua tertawa dan saling berpelukan.


***


"Hey, cepat bekerja! Jangan melamun saja! Suamimu mengirimmu kemari untuk bekerja, bukan leha-leha!" Seorang perempuan dengan make up tebal kembali menegurnya.


Sedangkan Mirna menghela napas sambil memejamkan mata. Padahal dirinya baru beberapa menit berhenti setelah menyelesaikan seluruh cucian yang diantarkan beberapa pegawai di losmen tersebut.


"Heh! Cepat bekerja!! Cucian-cucian ini tidak bisa menunggu hanya karena kau malas! Malam nanti harus sudah bisa digunakan lagi karena akan ada banyak yang menginap." ujar perempuan itu sambil menepuk pundaknya ketika dua pegawai lagi-lagi mengantarkan keranjang berisi sprei dan sarung bantal dari kamar yang mereka bersihkan.


Perempuan itu meniupkan napasnya di udara, lalu kembali menggerakkan tangannya memilah kain-kain kotor tersebut.


Sesekali dia hampir muntah ketika aroma tak sedap tercium dari kain-kain tersebut. Entah aroma alkohol, bekas muntahan dan entah apa lagi yang terjadi di kamar-kamar itu sepanjang hari dan malam.


Tiba-tiba saja air matanya menyeruak seiring dengan tenggorokkannya yang terasa tercekat. Sesulit-sulitnya hidup, baru kali ini dia mengalami hal tersebut. Apalagi setelah dirinya terpaksa harus meninggalkan rumah karena ulah Hendrik. Dan ini adalah yang paling parah.


Mirna menghempaskan kain-kain yang telah direndamnya ke dalam mesin cuci. Kemudian mengangkat cucian yang sudah selesai untuk dia jemur di belakang losmen. Dan begitu seterusnya dia menjalani aktivitasnya sejak beberapa hari yang lalu. Yang terpaksa dilakukan demi bertahan hidup dan menghindarkan dirinya dari kekerasan yang akhir-akhir ini diterimanya.


***


Daryl mempercepat langkahnya begitu dia tiba di dalam rumah setelah menyelesaikan sarapan bersama orang tuanya di rumah besar ketika dia mendengar suara Nania muntah-muntah di lantai atas.


Dan perempuan itu memang tengah berada di kamar mandi, mengeluarkan isi perutnya di depan closet setelah tadi dia menolak untuk sarapan dan memilih meneruskan tidurnya karena merasa tidak baik-baik saja. Morning sickness kali ini benar-benar terasa menyiksa.


"Aaarrgghhh!" Dia mendongak kemudian mengusap kedua matanya yang basah. Lalu berpindah ke wastafel untuk membasuh wajah setelah memastikan closet tersiram dengan benar.


Sementara Daryl mengusap-usap punggungnya setelah jarak mereka cukup dekat.


"Sabar, Mommy! Nanti tidak akan begini." katanya.


"Begitu?" Daryl memijat tengkuk dan pundaknya. Berharap dengan begitu akan membuat istrinya merasa lebih baik.


"Hu'um." Nania menganggukkan kepala.


"Ya sudah, kalau tidak sanggup jangan memaksakan." Daryl membantunya bangkit.


"Mau aku gendong?" Dia terkekeh.


Lalu Nania mengulurkan tangannya dan pria itu segera mengangkatnya dengan mudah.


"Kan sudah aku bilang harus memaksakan makan. Jadinya begini kan? Terlalu banyak makan buah juga tidak baik karena kamu butuh yang lainnya." Dia membawanya duduk di tempat tidur.


"Berarti sekarang sudah berapa minggu?" Daryl menyentuh perutnya yang masih rata.


"Nggak tahu, mungkin sebulan?"


"Lalu kapan periksa lagi?"


"Harusnya minggu ini, bantengan sama terapi kamu."


"Hah, terapi lagi? Minggu ini ketemu dokter Citra ya?"


Nania menganggukkan kepala.


"Bagian dokter Citranya kamu ingat. Tapi terapinya sering lupa?"


"Apa itu maksudnya?"

__ADS_1


"Terapinya kamu nggak ingat, tapi dokter Citranya …."


"Ssstt, jangan mulai!"


"Daddy?"


"Hum?"


"Bisa nggak kalau hari ini nggak kerja?" Nania mendongak.


"Kenapa?"


"Mau aja ada kamu di rumah."


"Sabtu Minggu aku ada di rumah."


"Tapi aku maunya sekarang."


"Hmm …." Daryl menghela napas lalu mengerucutkan mulutnya.


"Eh, nggak usah deh kalau nggak bisa." Nania turun dari pangkuannya.


"Hari ini pekerjaan ku banyak, Nna." Pria itu berujar. 


"Iya, aku tahu." Nania turun juga dari tempat tidur lalu dia melenggang ke kamar mandi.


"Lho, aku kira kamu tidak akan pergi sekolah hari ini?" Daryl bereaksi ketika perempuan itu turun dari kamar sementara dirinya sudah siap untuk pergi.


"Setelah dipikir-pikir kayaknya aku mendingan pergi sekolah deh." Nania mengenakan sepatunya.


"Bukankah tadi kamu bilang tidak sanggup?"


"Sekarang sudah agak mendingan." Nania mengambil jus kemasan dari lemari pendingin kemudian menuangkannya ke dalam gelas.


"Mau aku suruh Mima membuatkan sarapan?" tawar Daryl seraya melihat jam tangannya.


"Nggak usah. Aku maka ini aja." Nania mengambil bungkusan roti tawar dari tempat penyimpanannya, lalu mengeluarkan satu lembar untuk dia makan.


"Baik, sepertinya aku bisa terlambat sedikit karena …."


"Mm …." Nania mengibaskan tangannya. "Nggak usah, kalau mau berangkat ya berangkat aja. Aku bisa minta Rega untuk jemput." katanya yang sedang mengunyah makanan itu.


"Regan?"


"Ya tolong telfonin Regan aja, biar dia yang jemput aku."


"No. Aku bisa terlambat sedikit dan …."


"Nggak apa-apa. Kerjaan kamu banyak kan? Aku cuma sekolah. Atau mungkin minta diantar sopirnya papi aja juga bisa kayaknya. Nanti deh sekalian sambil pergi." Perempuan itu kembali ke ruang tengah.


"Kamu marah ya karena aku tetap bekerja hari ini?" Daryl bertanya-tanya.


"Nggak, ngapain aku marah? Nggak penting banget deh?" Nania menjejalkan sisa roti ditangan ke dalam mulutnya, kemudian dia mengunyahnya cepat-cepat.


"Udah sana pergi. Nanti kamu telat." Lalu dia mengenakan sepatunya.


💖


💖


💖

__ADS_1


Bersambung ....


Hati-hati Pak🤭🤭


__ADS_2