
💖
💖
Daryl tampak menarik kemejanya dengan penuh kekesalan, dan dia hampir merobeknya seperti biasa, namun muncul Nania yang menahannya, lalu seperti berbicara.
Pria itu terdiam menatap wajah istrinya yang kemudian membantu menautkan kancing-kancing pada kemejanya.Â
Nania tampak berbicara dan tersenyum sambil mengusap-usap dada Daryl. Sementara yang diajaknya bicara tetap diam.
Kemudian dia mengambil sesuatu dari belakang yang ternyata sebuah sepatu yang membuat pria itu mendengus keras.
"Sudah aku katakan untuk membawa sepatu yang lain!" Sayup-sayup terdengar dia berbicara.
"Ini kan sambil terapi?" Nania menjawab.
"Bagaimana kalau nanti siang lepas?"
"Nggak akan. Kalau kamu nolak terus kapan bisanya? Ingat kata dokter, semuanya harus dibiasakan agar bisa, kan?" Perempuan itu mengingatkan.
"Hah, tahu apa dokter itu? Yang dia lakukan hanya mendikte saja. Tidak tahu apa kalau memasangkan hal seperti ini sangat sulit?"
"Ya karena semuanya memang butuh proses. Tapi nanti akan mudah kalau kamu udah terbiasa kan?"
"Yeah, right!"
"Ayo?" Lalu Nania menariknya hingga Daryl duduk di sofa.
Dia meletakkan sepatu tersebut di kakinya, dan membiarkan pria itu untuk melakukan apa yang biasa dilakukannya.
Daryl membungkuk, lalu memegangi kedua sisi tali pada sepatu dan dia berusaha untuk menautkannya. Tapi seperti biasa, dia berhenti ketika kedua sisi tali tersebut didekatkan.
Pria itu menjauhkannya sebentar, lalu dia mendekatkannya lagi. Begitu terus sampai lebih dari tiga kali, dan dia tetap saja tidak bisa.
"Aarrgghhh!" Daryl melepaskan tali tersebut dari tangannya, kemudian dia menghempaskan punggung pada sandaran sofa.
"Malyshkaaa!!!" Dia memijit kepalanya sendiri.
"Nggak apa-apa, besok dicoba lagi." Lalu Nania datang menghampiri dan dia segera melanjutkan bagiannya.
"Selesai!" ucap perenpuan itu setelah mengikat tali sepatunya.
"Bagaimana kalau nanti terlepas? Siapa yang akan mengikatnya untukku?" Daryl masih bersandar pada kepala sofa. Kali ini dia merasa benar-benar frustasi.
"Minta Dinna ambilkan sepatu slip on."
"Ah, aku merasa sangat bodoh!" Pria itu menegakkan tubuhnya, lalu menarik Nania agar mereka menjadi lebih dekat. Kemudian dia merangkul pinggangnya sehingga wajahnya menempel pada perut perempuan itu.
"Mungkin selamanya aku tidak akan bisa mengancingkan kemeja dan mengikat tali sepatu. Jadi sudahi saja terapi ini, aku mohon!" katanya.
"Baru dua minggu, Dadd. Kita masih punya banyak waktu kan? Kenapa mau menyerah sekarang?"
"Aku sudah tidak tahan, Malyshka!"
"Tapi ini belum apa-apa kan?"
__ADS_1
Daryl terdiam.
"Udah, ayo kita sarapan? Pasti Mama sama Papi udah nunggu?" Lalu Nania menepuk pundaknya.
Dan mereka tampak beranjak dari kamar tersebut.
***
"Hari ini kamu pulang sore, Nna?" Seperti biasa, acara sarapan pagi itu diisi dengan percakapan hangat.
Sofia mengisi piring suaminya dengan makanan, dan Nania pun melakukan hal yang sama untuk dirinya dan Daryl.
"Nggak terlalu sore juga sih Ma, paling sebentar mampir ke rumah baca terus pulang." Sang menantu menjawab.
"Ah, iya. Mama baru saja akan berkata seperti itu." ucap Sofia yang kemudian memulai kegiatan makannya.
"Bilang apa?"
"Jangan terlalu banyak kegiatan. Ingat kandunganmu baru manu dua bulan, dan masih rentan. Takutnya ada apa-apa."
"Ohh …."
"Jangan terlalu capek, apalagi kamu sedang sulit makan."
"Iya, Ma."
"Yeah, katakan saja sekalian Mom. Karena kalau aku yang melarang pasti dia selalu membantah." Daryl menyesap kopinya yang masih mengepulkan uap panas.
"Ya tidak usah dilarang juga, setiap orang butuh kegiatan untuk tetap sehat. Tapi tidak boleh terlalu banyak. Harus ingat kondisi." Sofia menjawab.
"Begitu seharusnya keluarga, bukan?" Lalu dia sedikit tertawa.
"Umm … memangnya kita sedang ada masalah apa?" Daryl kembali melahap makanannya.
"Entahlah, Mama rasa tidak ada masalah. Tapi seandainya ada, ingat untuk selalu bicara. Karena menyimpannya sendirian tidak akan menemukan solusi." ujar perempuan itu.
"Ah, Mama membuatku merasa khawatir saja." Sang anak pun tertawa.
"Bukan Mama yang harus kamu khawatirkan, tapi dirimu sendiri."Â
"Kenapa? Aku baik-baik saja."
"Benarkah?"
"Yeah, memangnya kenapa? Aku sehat, pekerjaanku lancar bahkan sangat baik. Sebentar lagi kami punya anak, lalu apa lagi? Aku rasa tidak ada hal yang lebih baik dari itu untuk saat ini?" Pria itu melahap makanannya dengan semangat. Sementara sang ibu beralih menatapnya.
"Aku selesai. Dan sarapan pagi ini sangat enak, thanks Mom." Daryl meneguk air minumnya hingga tandas.
"Apa kamu sudah selesai, Nna?" Daryl beralih kepada Nania.
"Udah."
"Kalau begitu kita berangkat?" ajaknya setelah memeriksa jam tangannya.
"Ayo." Nania mengangguk.
__ADS_1
Kemudian mereka beranjak dan berpamitan seperti biasanya. Sedangkan Sofia tertegun menatap kepergian anak dan menantunya hingga mobil yang mereka tumpangi terdengar keluar dari pekarangan rumah.
"Sayang, sudah." Sentuhan tangan Satria pada lengannya membuyarkan lamunan Sofia.
Perempuan iti mengerjap, dan seketika buliran bening meluncur dari sudut matanya. Betapa hatinya terasa seperti diiris-iris jika mengingat percakapan yang beberapa hari ini didengarnya tanpa sengaja. Dan yang terakhir pagi ini dia sudah bisa menyimpulkan.
Ketika memperhatikan putranya yang mengalami kesulitan saat berpakaian, lalu bagaimana dia berusaha keras untuk melakukannya, meski akhirnya tetap saja gagal.Â
"Sayang, anak kita tidak bisa mengancingkan baju dan mengikat tali sepatu!" Akhirnya dia buka suara.
Satria menghela napas pelan.
"Kenapa selama ini kita tidak tahu?"
Pria itu tak menyahut.
"Dia pasti mengalami hari-hari yang berat." Sofia menyeka matanya yang basah.
"Sayang, aku sudah jadi ibu yang buruk! Bahkan hal seperti ini pun aku tidak tahu!" Lalu tangisan pecah dari mulut Sofia.
Ah, akhirnya dia tahu juga. Batin Satria.
Kemudian pria itu bangkit dan merangkul pundak istrinya.
"Tidak apa-apa, Sayang. Bukan salahmu." Dia menepuk-nepuk punggung Sofia.
"Ini bukan hal besar, dan sepertinya dia bisa menangani masalah ini sendiri. Buktinya kita tidak tahu sampai hari ini." ucap pria itu.
"Tapi pasti tidaklah mudah, dan dia menjalaninya sendiri kan? Oh, putraku! Mengapa dia begini? Apa yang telah aku lakukan?" Sofia dengan suara sendu.
"Eh, tidak ada hubunganya denganmu. Ini hanya satu hal yang harus dia hadapi sebagai manusia. Tidak harus disikapi secara berlebihan." Satria berusaha membesarkan hatinya.
"Bagaimana aku tidak berlebihan? Selama ini aku mengira putra kita baik-baik saja. Selain pergaulan dan gaya hidupnya, tidak ada hal lain yang harus aku khawatirkan. Tapi ini?" Sementara Sofia memegangi kepalanya dengan kedua sikut yang bertumpu pada meja.
"Aku bahkan tidak menyadari kelemahan anakku. Ibu macam apa aku ini?"
"Sudah …."
"Kalau saja kamu melihat apa yang aku lihat beberapa hari ini, pasti perasaanmu sama denganku. Bagaimana hancurnya kamu ketika melihat putramu yang sempurna mengalami kesulitan saat memakai kemeja, lalu dia tak bisa mengikat tali sepatu? Dan kini dia bahkan sudah dewasa dan berumah tangga."
"Hal seperti itu pasti tidak terjadi begitu saja, setidaknya dia mengalaminya sejak kecil. Mungkin saja …." Sofia menggantung kata-katanya ketika dia mengingat sesuatu.
"Hah, kenapa hal seperti ini bisa luput dari pengawasanku?!" Dan dia kembali menangis, sementara tak ada yang Satria lakukan selain merangkul pundak istrinya.
💖
💖
💖
Bersambung ....
Udah waktunya vote lho gaess 😂
Alopyu sekebo 😘😘
__ADS_1