The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Bekerja


__ADS_3

💖


💖


"Lho? Kamu kok ke sini?" Amara bereaksi ketika Nania masuk diikuti Daryl di belakang.


"Dia tidak sabar mau bekerja." Pria itu menjawab.


"Kok kerja? Kan baru aja nikah?"


"Entahlah."


Nania meletakkan tas selempang dan melepaskan hoodienya, lalu menggantinya dengan affron seperti biasa.


"Itu kamu seriusan mau kerja?" Amara bertanya kepada Nania.


"Serius."


"Duh? Emangnya kenapa? Aku pikir setelah nikah kamu nggak akan kerja lagi. Aku malah udah buka lowongan kerja untuk nambah orang."


"Udah buka lowongan?" Nania mengulang ucapannya.


"Iya, soalnya aku kira kamu nggak akan balik kerja lagi, kan?"


"Umm …."


"Sudah aku katakan begitu, tapi dia tetap saja mau pergi." Daryl menyela percakapan.


"Ya udah, kalau mau kerja ya kerja aja nggak apa-apa." Amara berujar.


"Terus lowongannya gimana?"


"Nggak apa-apa, kita memang butuh tenaga tambahan kan? Apalagi sebentar lagi aku lahiran." Perempuan itu mengusap perutnya yang sudah membesar.


"Kapan waktunya?" Daryl tiba-tiba saja antusias.


"Antara dua atau tiga mingguan lagi lah."


"Sebentar lagi dong?"


"Lumayan."


"Kok Kakak masih datang ke kedai?" Nania kembali bertanya.


"Ya, mungkin minggu depan mulai nggak."


"Hmm …."


"Baiklah, kalau begitu sebaiknya aku juga pergi kan? Sudah siang." Daryl kemudian melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 8.30.


"Hmm … oke." Nania menganggukkan kepala.


"Aku pergi." Pria itu merangkul tubuh Nania kemudian tanpa ragu mengecup puncak kepalanya.


"See you." Kemudian dia pun pergi.


Semua orang terdiam hingga Daryl benar-benar meninggalkan tempat itu. Mereka saling pandang untuk beberapa saat hingga akhirnya sama-sama bersuara.


"Cieeeeee … yang punya suami." Amara dan yang lainnya tertawa.


"Sekarang kalau mau kerja ada yang di sun." timpal yang lainnya.


"Terus nanti pulangnya ada yang jemput."


"Nggak nginep di sini lagi, ahahaha." Mereka semua tertawa, membuat wajah Nania memerah seketika.


***


"Lho? Bapak kok sudah masuk kerja?" Dinna baru saja akan memulai pekerjaannya ketika Daryl tiba.


"Jangan bicara, jangan banyak bertanya. Hanya kerjakan tugasmu, dan berikan pekerjaanku." Pria itu melenggang ke dalam ruangannya.


"Sebenarnya semua pekerjaan sudah saya ambil alih, Pak." Sekretarisnya itu mengikuti.


"Itu bagus, maka aku akan santai saja di sini." Daryl duduk bersandar di kursinya.


"Bapak yakin?"


"Hmm … dari pada aku melamun sendiri di rumah?"


"Kok melamun sendiri? Lalu Nania?"


Daryl menoleh dengan mata yang berkilat.


"Ee .. Bu Nania?"

__ADS_1


"Sudah aku katakan jangan banyak bicara apa lagi bertanya. Hanya selesaikan saja pekerjaanmu!" Pria itu sedikit menggeram.


"Mm … baik, Pak." Dinna pun mundur.


"Eh tapi … kalau misalnya Bapak mau menyelesaikan pekerjaan juga akan saya antar kok, Pak?" Lalu dia berhenti.


"Ya sudah, berikan saja pekerjaanku!!" Daryl mulai kesal.


"Baik Pak, baik segera saya antar!" Perempuan itu pun berlari keluar.


"Astaga! Kenapa semua orang sepertinya sengaja menguji kesabaranku ya? Hhmm …." Daryl bergumam kesal.


***


"Ini beneran nggak usah aku antar?" Nania berbicara di telfon.


"Tidak usah, sebentar lagi aku ke sana." jawab Daryl dari seberang.


"Emang nggak sibuk?"


"Tidak, hari ini pekerjaanku sedikit. Sebagian sudah diambil alih Dinna."


"Kok bisa?"


"Ya, kan seharusnya minggu ini aku libur. Jadi semua pekerjaan Dinna yang tangani." Pria itu terdengar tertawa.


"Hmm …." lalu Nania menatap bayangannya sendiri yang samar-samar terlihat di jendela. 


Dirinya yang tengah mengenakan seragam Amara's Love tentu saja akan sangat terlihat kontras dengan pria itu. Apalagi semua orang tahu kini statusnya sebagai istrinya.


"Kamu … malu ya kalau aku mengantar makanannya ke sana?" ucap Nania, dan ya pikiranya sedang menimbang-nimbang banyak hal hari ini.


"Apa yang kamu katakan? Kenapa aku harus malu?" Daryl menjawab dengan sedikit kekehan.


"Karena aku masih pegawai kedai?"


"Tidak ada hubungannya sama sekali. Aku hanya sedang santai makanya berniat untuk pergi ke sana."


Nania terdiam.


"Kenapa berpikiran begitu? Sebentar lagi aku ke sana, oke? Tunggu saja."


"Baiklah." jawab Nania, kemudian mengakhiri panggilan.


"Kenapa belum berangkat? Memangnya nggak antar makan siang untuk Kak Daryl?" Amara berbicara dari meja kasir.


Lalu tawa Amara pun pecah.


"Gitu amat ketawanya?" Nania bergumam.


"Ya habisnya kamu lucu. Masa sama suami manggilnya Pak? Hubungan macam apa itu?"


"Kenapa sih semua orang pada protes? Perkara panggilan aja dibesar-besarin?"


"Ya aneh, Nna. Masa ke suami manggilnya Bapak? Nggak tuan aja sekalian biar orang-orang nyangkanya dia majikan kamu?"


"Emangnya masalah ya?"


"Sebenarnya nggak, cuma ya … agak lain ya? Hahaha." Perempuan itu tertawa.


"Terus aku harus manggil dia apa? Kayaknya semua panggilan nggak Pas. Mas, abang, aa? Hah! Malah rasanya lebih aneh!!" Gadis itu mengusak kepalanya sendiri.


"Ya panggil sayang aja juga bagus. Selain mesra, juga kedengarannya romantis. Kayak Mama Fia sama Papi, atau Mommy sama Papa aku kan?"


"Ish!! Geli dengernya juga."


"Kalau awal-awal iya, tapi kayaknya kalau udah terbiasa nggak deh?"


"Masa sayang? Ahh, nggak kebayang. Sayang, makan dulu! Sayang bangun! Sayang, kerja! Aaaaa … menggelikan!"


Amara tertawa lagi.


"Perkara panggilan aja bikin pusing!"


"Apanya yang pusing?" Suara daryl menginterupsi percakapan itu.


"Eh … ada Kak Daryl?" Amara yang tersenyum lebar.


"Kalian sedang bergosip ya?" Pria itu lantas duduk di samping Nania.


"Nggak, cuma lagi …."


"Kok udah sampai lagi, cepet amat? Nggak macet?" Nania memotong perkataan Amara untuk mengalihkan percakapan sebelumnya.


"Tidak terlalu."

__ADS_1


"Tumben?"


"Bagus kan? Jadinya aku cepat menemuimu?" Pria itu tersenyum.


"Mm … mau makan sekarang?" tawar Nania kemudian.


"Boleh. Kamu temani ya?"


"Nggak janji, kan akunya lagi kerja? Sebentar lagi ramai."


"Hmm …." Daryl mencebikkan mulutnya.


Tak berapa lama Nania membawa makanannya. Daryl memilih tempat duduk paling ujung di dekat jendela, jadi dia bisa melihat bangunan megah milik keluarganya.


"Wow, makan siangnya spesial ya?" Daryl menatap kotak makan berisi nasi kepal dengan lauk tambahan yang dibentuk sedemikian rupa sehingga terlihat lucu.


"Kan tadinya aku mau antar itu ke Fia's Secret. Tapi karena nggak boleh ya jadinya makan di sini aja kan?"


"Bukan nggak boleh, Nna. Kan akunya yang ke sini." tukas Daryl yang mulai menyuapkan makanannya.


"Iya, aku tahu. Hehe." Nania sedikit tertawa.


"Besok sudah boleh, aku benar-benar bekerja."


"Oh ya?"


"Hmm …." Pria itu mengangguk. "Mm … ini enak, aku suka."


"Beneran?"


"Iya. Tapi sayangnya kalau di rumah aku tidak bisa memakan masakanmu ya?"


Nania memutuskan untuk duduk sebentar menemani suaminya.


"Kan ada yang ngerjain. Di sana apa-apa terima beres."


"Memang." Daryl terkekeh. "Sepertinya kita harus benar-benar pindah agar bisa melakukan semuanya sendiri."


"Pindah?"


"Ya. Bagaimana menurutmu?"


"Umm … terserah kamu aja, aku ikut." 


Daryl menatap wajah gadis itu. Senyuman perlahan terbit di sudut bibirnya ketika dia tak mendengar kata Bapak saat itu.


"Baik, nanti aku cari rumah yang cocok untuk kita." katanya kemudian.


"Kenapa nggak renovasi rumah lama aja sih? Kan nggak usah susah-susah nyari lagi. Itu kalau di renovasi jadi bagus. Kecil sih, tapi kayaknya cocok untuk kita berdua. Bisa masuk mobil juga kan?"


"Terlalu jauh, Nna."


"Terus gunanya apa dibeli lagi? Kata orang kalau mahar itu harus dipakai, nggak boleh di anggurin gitu aja. Kan mubadzir?"


Daryl menghentikan kegiatan makannya.


"Kamu mau renovasi rumahnya?"


"Ya kalau mau ditinggali. Kalau nggak ya ngapain direnovasi? Buang-buang duit?"


"Bisa disewakan, bukankah disana cukup ramai?"


"Mmm … "


"Renovasi saja, perbaiki semuanya jadi lebih nyaman. Nanti bisa disewakan dengan harga tinggi. Kamu tetap dapat uang, tapi rumah tetap milikmu."


Nania berpikir.


Bagus juga idenya, dasar keturunan Nikolai! Otaknya ke bisnis melulu? Batinnya.


"Bagaimana? Bagus kan ideku?" Pria itu kembali menyuapkan makanannya.


"Iya, bagus."


Daryl tergelak.


"Aku kerja dulu, ya? Nanti balik lagi." Nania kemudian bangkit saat melihat kedatangan beberapa pengunjung.


"Oke tenang saja. Aku menunggu di sini sampai kamu pulang."


💖


💖


💖

__ADS_1


Bersambung ....


Ayooo kirim vote nya dulu, habis itu kita crazy up.


__ADS_2