The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Menginap


__ADS_3

💖


💖


"Nanti, tetap makan dirumah besar ya walaupun kalian sudah pindah ke sini?" Sofia menyudahi acara makan malam dan kumpul keluarga di rumah baru putranya.


Tepatnya  di bagian belakang yang ditata sedemikian rupa hingga menjadi tempat makan yang nyaman. Dengan lampu-lampu yang menerangi setiap sudut tempat itu hingga menjadi terang seperti tengah merayakan pesta.


"Kalau tetap makan di sana lalu apa fungsinya dapur kami? Bukankah punya rumah agar kami bisa mandiri?" Daryl menjawab.


"Rumah boleh pindah tapi tetaplah makan bersama kami, jangan sampai Mama dan Papi merasa kesepian, Der." tukas sang ibu yang membuat semua orang terdiam.


"Mama ini ada-ada saja, seperti kami yang pergi jauh. Kan masih di sini?" Daryl tertawa.


"Tetap saja, nanti kalau kalian tidak makan di sana, rumah pasti akan sangar sepi." jawab Sofia lagi.


Daryl hampir kembali menjawab ketika Nania meremat lengannya pelan-pelan.


"Iya, memangnya mau ke mana sih? Ya ke rumah besar lagi lah, kan deketan ini?" katanya kemudian yang membuat sang mertua akhirnya tersenyum.


"Oma takut ya ditinggal Om Der? Masa takut sih, kan Oma udah besar?" celetuk Anya yang baru saja selesai dengan makanannya.


"Bukan takut, nanti Oma kesepian." Rania menjawab.


"Kan ada Opa?"


"Iya, itu beda. Kan kalau Om Der sudah pindah jadinya cuma berdua di rumah."


"Kan ada Mbak Mima, Mak Santi, Mbak Nur …." Anak itu menghitung dengan jarinya sambil mengingat-ingat.


"Pak Jono, Pak Maman, Pak Budi ….." sambung Zenya yang melakukan hal sama.


"Itu beda, Zen." Dimitri tertawa.


"Ih, kan sama aja banyak orang? Belum lagi ada Pak Satpam di depan? Kalau Oma kesepian, panggil aja mereka ajak ngobrol." Bocah dengan rambut panjangnya yang dikuncir dua itu kembali berujar, membuat semua orang tertawa.


"Hadeh … Anya, Anya? Dipikirnya mereka nggak ada kerjaan kali?" Arkhan menyahut.


"Ih, Kakak! Kan aku bener."


"Iya deh iya, terserah Anya asal bahagia." ucap Arkhan lagi yang juga tertawa karena ulah sepupunya itu.


"Nah, karena udah malam sekarang kita bersih-bersih terus bobok ya? Kan besok mulai sekolah lagi?" Rania membujuk anak-anaknya.


"No, nggak mau pulang, maunya bobok di sini." tolak Anya.


"Iya nggak pulang, tapi nginep di rumah Oma."


"Aku mau nginep di rumah Tante Nna." Anya dengan keinginannya seperti semula.


"Me too!!"


"Heh, heh! Apa-apaan itu?" Daryl bereaksi.


"Kalau Anya tidurnya di rumah Om Der, aku juga mau." Anandita menyahut, dan anak-anak itu segera berhamburan masuk ke dalam rumah yang baru saja akan ditinggali.


"Wait for me!!" Anya dan Zenya pun tak ingin ketinggalan.


"Anak-anak?" Arfan berteriak namun terlambat, ke empat anaknya sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah Daryl dan memilih tempat untuk tidur.


"Ck!" Si empunya rumah berdecak kesal, namun tak ada yang mampu dia lakukan selain diam, karena Nania lagi-lagi menghentikannya.


"Bagaimana? Apa bayi kalian juga akan dibiarkan menginap di rumahku? Ayo sana, agar semakin ramai?" Namun tetap saja dia berbicara, kali ini kepada Amara dan Galang.


"Apaan? Masa mau biarin bayi gini nginep? Nanti berisik karena sering nangis." Amara menjawab.


"Ah, bukan bayi juga tetap berisik?" Daryl bersedekap


"Namanya juga anak-anak, ya berisik." Nania menyela.

__ADS_1


"Bisa tidak sih kapan-kapan kita menginap di rumah Darren. Sekali-kai gitu bikin rumahnya juga berisik? Kan adil?" ucap Daryl yang sesekali melirik ke dalam rumahnya di mana anak-anak itu sudah menggelar alas tidur yang dibawakan asisten rumah tangga dari rumah besar.


Kasur udara ditempatkan di tengah ruangan dan selimut-selimut diberikan. Namun anak-anak itu malah bermain-main.


"Iya besok kan kalian akan ke rumahku juga?" Orang yang dimaksud pun menjawab.


"Sure, sudah pasti akan lebih ramai dari ini kan? Keluargamu juga banyak kan, Kirana?" tanya Daryl kepada adik iparnya.


"Ya lumayan. Aku takut rumahnya tidak akan muat." Perempuan itu berkelakar.


"Kalau tidak muat, beli lagi saja yang baru. Yang lebih besar?"


"Hmm … ide yang bagus, boleh aku minta uangnya? Rumah yang lebih besar itu butuh biaya lebih banyak." Darren menanggapi ucapan saudara kembarnya.


"Kalau itu tidak bisa. Pengeluaranku sudah banyak sekali beberapa bulan ini." Daryl menjawab kemudian dia tertawa.


***


"Mereka sudah tidur?" Daryl sudah berada di tempat tidur ketika Nania naik ke kamar mereka. 


"Tinggal Arkhan yang masih nonton tivi, yang lainnya udah tumbang." Perempuan itu menutup tirai jendelanya.


"Yakin?"


"Barusan sih gitu."


"Huh, awas saja kalau tengah malam nanti mereka ribut, akan aku suruh tidur di luar!" Pria itu menggerutu.


"Jangan gitu kenapa? Rumah itu kalau sering ada yang berkunjung atau malah nginep, itu artinya rumahnya nyaman, enak ditinggali. Apalagi kalau anak-anak sampai betah. Itu berarti rumah kita tempat yang bagus untuk hidup." Nania masuk ke dalam kamar mandi, membasuh wajah dan menyikat giginya seperti biasa.


"Jangan apa-apa dibikin kesel, marah-marah. Nggak baik buat kitanya." Lalu dia keluar sambil mengeringkan wajah dengan handuk dan beralih ke ruang ganti.


"Aku seneng kalau rumah kita ramai, rasanya jadi hangat." Kemudian dia keluar setelah berganti pakaian.


Gaun tidur berbahan satin menjadi pilihannya yang membuat dia tampak menggoda.


"Mama kemarin ngasih ini. Bagus nggak?" katanya, sebelum dia naik ke tempat tidur.


"Modus!" Lalu perempuan itu naik dan merangkak ke dekatnya.


"Tapi kayaknya berat badan aku bertambah deh. Baju-baju yang kemarin udah nggak selonggar dulu?"


"Itu bagus, berarti kamu sehat. Bukankah aku memberimu makan dengan baik?" Daryl menyambutnya saat Nania duduk di pangkuan.


"Hu'um. Kamu mengurus aku dengan baik!" Perempuan itu memeluk pundaknya.


"Thank you." bisiknya, lalu dia mengecup telinga Daryl dengan lembut. Membuat pria itu tersenyum kegirangan.


Semakin hari Nania semakin pandai menyenangkannya, dan dia semakin tak bisa berkutik dibuatnya setiap kali istri belianya itu melakukan sesuatu.


Ujung hidungnya menyusuri kulit Nania dan menghirup aroma tubuhnya yang terasa memabukkan. Sementara tanganya sudah menyelinap di balik kain lembut yang perempuan itu kenakan.


Seperti biasa, dia tak mengenakan apa-apa di dalamnya selain gaun tidur sehingga memudahkannya untuk menjelajah lebih jauh.


Daryl memilih membiarkan Nania tetap mengenakan pakaian tidurnya, meski semua yang ada padanya dia sentuh. Namun hal itu tak menghentikan hasratnya sama sekali. Keduanya malah terus bercumbu hingga mereka terbawa suasana.


Nania menarik lepas pakaian bagian atas Daryl sehingga dia bisa menyentuhnya juga, dan apa yang selanjutnya tentu saja sudah bisa ditebak.


Namun keduanya terdiam ketika terdengar ketukan di pintu dan suara panggilan benar-benar menghentikan mereka.


"Om?"


Mereka saling pandang untuk beberapa saat.


"Om Der? Tante Nna? Maaf …."


"Kayak suara Arkhan?" ucap Nania.


"Om?" Pintu di ketuk lagi yang membuat Nania turun dari pangkuan Daryl dan bergegas meraih bathrobe yang tergantung di pintu lemari.

__ADS_1


"Ya?" Dia membuka pintu, dan benar saja keponakannya berdiri di depan dengan wajah canggung. Sambil menggendong Anya dan sebelah tangannya menggandeng Zenya yang sesenggukkan.


"Kenapa?" Nania melebarkan celah pintu dan segera saja Anya berbalik lalu merentangkan tangannya.


"Tante Nna!!!" katanya, dan segera saja dia berpindah ke dekapan Nania.


"I had a bad dreams." Zenya pun maju dan dia hampir menangis.


"Mau boboknya di sini aja." ucap Anya yang memeluk leher perempuan itu dengan erat.


"Apa-apaan ini?" protes Daryl yang turun dari tempat tidurnya.


"Mereka nggak mau berhenti menangis, Om." Arkhan menjawab dengan takut-takut, lalu dia mundur dan berlari turun kembali ke lantai bawah.


"Mau bobok sama Tante Nna!" Zenya memeluk pinggang Nania.


"Yang benar saja!!" Pria itu bereaksi.


"Umm …." 


"Mau bobok sama Tante Nna." ulang Zenya dan hal tersebut tentu tak bisa Nania tolak, dan seketika saja dia lupa dengan apa yang terjadi sebelumnya.


"Ya udah, ayo …." Dia membawa kedua anak itu masuk lalu menutup pintu.


"What? Are you kidding?"


"Eee … kasihan kan?"


"Berikan saja mereka kepada Kak Dim!" ucap Daryl dengan nada kesal.


"Udah mau tengah malam." Nania menjawab setelah dia melirik jam digital di atas nakas.


"Biarkan saja, mereka kan orang tuanya!!" Daryl meraup tubuh Zenya dan bermaksud membawanya keluar dari kamar mereka.


"Nggak mau!! Aku maunya bobok di sini!! Huaaaa …." Namun tiba-tiba saja anak itu menangis dengan kencang.


"Udah-udah! Jadi berisik kan?" Lalu Nania malah merebut Zenya dari suaminya.


"Boleh, tapi udahan nangisnya ya? Kalau nggak, nanti Tante anterin ke rumah Opa?"


Dan seketika dua anak itu berhenti menangis.


"Stop. Sekarang Anya sama Zen tidur, nggak boleh berisik." katanya lagi seraya membawa keduanya ke tempat tidur.


"And what about me?" Dan Daryl kembali menatap peraduannya di mana ketiga orang berbeda usia itu sudah berbaring.


"Masih ada tempat, Om Der." Nania menunjuk sisi kosong di dekat Anya.


"No way!!"


"Terus mau gimana?"


Daryl tak menjawab namun raut wajahnya terlihat sangat kesal.


"Ngalah dulu lah, sama anak-anak ini?"


"Mengalah kepalamu!!"


"Ya terus?"


"Ck!!" Pria itu berdecak sambil memutar bola matanya. Lalu dia meraih kaus yang sempat dilepaskan kemudian mengenakannya sambil berjalan keluar dari kamar mereka.


💖


💖


💖


Bersambung ....

__ADS_1


hehe, ngalah dulu Om Der! 🤣🤣


Like komen hadiah masih ditinggu gaess😁


__ADS_2