WITH YOU

WITH YOU
Meminta Penjelasan


__ADS_3

Geraldyn masuk kedalam ruang kantor manajemen dan melihat Evan serta Carissa yang sedang menunggunya. Mata Carissa tampak menatap gadis itu dengan tatapan yang menyiratkan sejuta pertanyaan.


"Sayang, bicaralah dulu dengan Nona Geraldyn, aku akan kembali ke apartemenmu untuk mengambil barang-barang kita." Evan beranjak dari duduknya.


Carissa mengangguk mengiyakan sambil mengulas senyumannya pada suaminya itu.


Setelah Evan tak terlihat lagi, mata Carissa kembali melihat Geraldyn dengan tatapan tak biasa.


"Duduklah, Ge. Kakimu tidak pegal apa berdiri disitu?" Tanya Carissa pada Geraldyn yang mematung sambil mengisyaratkan gadis itu untuk duduk di dekatnya.


Mau tidak mau Geraldyn menuruti keinginan Carissa dan duduk di sebelah perempuan hamil itu sembari menghela nafasnya.


"Hari ini aku akan pulang ke Singapura bersama suamiku. Mr. Edd sudah memberitahumu, kan?" Tanya Carissa membuka pembicaraan.


Geraldyn mengangguk mengiyakan.


"Bu Zenith bilang, untuk sementara kamu bisa berlatih mandiri, jadi aku tidak harus mendampingimu kesana. Setelah kamu melahirkan, baru aku akan mendampingimu sepenuhnya untuk persiapan konsermu nanti." Ujar Geraldyn menanggapi.


Carissa mengangguk.


Keduanya lalu hening selama beberapa saat. Dapat Carissa lihat Geraldyn menghela nafas berulangkali, seakan sedang menghadapi sesuatu yang sangat berat dan begitu membebaninya.


"Kenapa kamu terlihat sangat diam hari ini, Ge?" Tanya Carissa.


Geraldyn menoleh kearah Carissa dengan agak salah tingkah.


"Aku akan pulang hari ini, kita tidak akan bertemu dalam kurun waktu cukup lama. Apa tidak ada yang ingin kamu katakan padaku?" Tanya Carissa lagi. Entah kenapa, Geraldyn merasa kata-kata Carissa mengisyaratkan jika perempuan hamil itu sedang agak menekannya. Terlihat jelas jika saat ini dia sedang meminta penjelasan dari Geraldyn mengenai kehadirannya sebagai pasangan Jonathan di rumah keluarga Brylee malam itu.


Sekali lagi Geraldyn menghela nafasnya.


"Baiklah..." Gumam Geraldyn akhirnya. Gadis itu lalu mengeluarkan dompetnya dan mengambil sesuatu dari sana.


"Tuan Jonathan Hansen yang terhormat itu datang padaku untuk memintaku bekerjasama dengannya. Dia ingin aku memata-mataimu dan menyogokku dengan ini." Ujar Geraldyn sambil meletakkan blackcard yang diberikan Jonathan padanya.


Carissa tampak menautkan kedua alisnya.


"Karena aku tidak ingin dia mengganggumu, aku pura-pura terima saja tawarannya supaya aku bisa tahu apa yang dia rencanakan. Dan malam itu, sebagai bentuk dari kerjasama, dia memintaku untuk menemaninya menghadiri jamuan makan malam. Aku benar-benar tidak menyangka akan bertemu denganmu disana."

__ADS_1


Sekali lagi Geraldyn menghela nafasnya. Sedangkan Carissa terdiam dan terlihat sedang mencerna kata-kata manajernya itu.


"Tapi sekarang aku bisa sedikit lega karena kamu akan pulang bersama suamimu selama beberapa bulan ini. Setidaknya sementara ini aku tidak perlu menghadapi lelaki gila itu." Ujar Geraldyn lagi dengan nada marah bercampur kesal.


Carissa tampak semakin menautkan kedua alisnya. Tampaknya ada yang terjadi antara Geraldyn dan Jonathan, tapi Carissa tak bisa menebak itu apa.


"Apa yang terjadi diantara kalian?" Tanya Carissa penasaran.


"Apa yang terjadi? Tidak ada!" Jawab Geraldyn dengan cepat.


"Benarkah?" Tanya Carissa sambil mengamati ekspresi Geraldyn. Gadis itu jelas terlihat sedang menyembunyikan sesuatu.


"Memangnya apa yang bisa terjadi diantara kami? Aku hanya pura-pura mau bekerja sama dengannya agar bisa melindungimu. Jika kamu sudah aman bersama suamimu, tentu saja tidak ada alasan lagi buatku untuk terus berpura-pura." Ujar Geraldyn dengan agak lantang.


"Setelah ini aku akan mengakhiri kerja sama palsu kami. Tapi tentu saja setelah aku menguras uangnya. Dia benar-benar dalam masalah karena telah mencoba bermain-main denganku." Gumam Geraldyn lagi sambil memasukkan kembali blackcard pemberian Jonathan ke dalam dompetnya.


Carissa yang melihat sikap tak biasa Geraldyn semakin merasa aneh saja. Sepanjang Carissa mengenal gadis ini, Geraldyn bukanlah sosok materialistis yang suka memanfaatkan lelaki untuk dikuras uangnya. Geraldyn adalah tipe gadis yang bangga dengan uang yang dia hasilkan sendiri. Kenapa tiba-tiba dia ingin menguras uang Jonathan? Dan apa pula yang dia maksud dengan bermain-main tadi?


Belum sempat Carissa bertanya-tanya lebih jauh lagi, Geraldyn kembali mengeluarkan sebuah kartu dari dompetnya. Kali ini sebuah kartu kredit biasa.


"Apa ini?" Tanya Carissa sambil menerima kartu kredit itu.


"Itu milik suamimu." Jawab Geraldyn.


Carissa kembali bingung dibuatnya.


"Sebenarnya, sebelum suamimu datang padamu, dia menemuiku lebih dulu." Ujar Geraldyn.


"Dia tidak bisa mentrasfer uang padamu karena kamu menutup semua rekening lamamu. Jadi dia memberikan kartu kreditnya padaku supaya aku bisa memenuhi kebutuhanmu sehari-hari menggunakan kartu kreditnya. Dia tidak ingin kamu merasa kesulitan. Sangat terlihat jika dia benar-benar sangat mencintaimu." Tambah Geraldyn lagi.


Carissa tertegun sambil memandangi kartu kredit yang ada di tangannya. Entah bagaimana menjabarkan perasaanya mendengar penuturan Geraldyn. Hatinya seketika terasa penuh. Dia tidak menyangka jika Evan sampai melakukan hal itu untuknya.


"Jadi itu alasannya kamu membelikan aku ini itu, dan selalu meneraktir makanan yang aku makan setiap hari?" Tanya Carissa kemudian.


"Tentu saja. Aku bukan badan amal yang bisa melakukan itu dengan uang pribadiku. Meskipun aku mau meneraktirmu, tentu saja tidak mungkin setiap hari. Memangnya aku tidak punya kebutuhan juga?"


Carissa tertawa kecil dengan mata yang sedikit mengembun. Dia sangat terharu dengan apa yang dilakukan Evan untuknya, tapi dia lebih terharu dengan kejujuran dan keterbukaan Geraldyn padanya. Gadis itu tidak berubah meski mereka sempat tak saling berhubungan dalam kurun waktu yang cukup lama.

__ADS_1


"Terima kasih..." Ujar Carissa akhirnya pada Geraldyn. Dia sungguh-sungguh berterima kasih dari sudut hatinya yang paling dalam.


"Kenapa kamu berterima kasih padaku? Berterima kasihlah pada suamimu sana. Jaman sekarang sangat jarang ada suami yang mencintai istrinya sampai sebesar itu. Aku saja sampai iri rasanya." Gumam Geraldyn.


Carissa kembali tertawa.


"Maksudku, terima kasih karena tidak menguras uang suamiku." Ralat Carissa.


Kali ini Geraldyn ikut tertawa.


"Siapa bilang, waktu aku membayar makanan untukmu, aku juga membayar makanan untukku juga menggunakan kartu kredit suamimu itu. Mungkin tagihan bulan ini akan sedikit membengkak dari biasanya. Katakan pada suamimu aku sedikit khilaf." Ujar Geraldyn lagi.


Keduanya kembali tertawa.


"Tentu saja tidak masalah. Lagipula kita tidak pernah makan di restoran bintang lima, jadi tidak akan terlalu mahal."


Carissa memeluk Geraldyn dengan hangat.


"Terima kasih untuk semuanya, Ge. Selama aku disini kamu benar-benar telah menjagaku. Terima kasih." Ujar Carissa.


"Itu sudah menjadi tugasku sebagai manajermu, dan juga sebagai sahabatmu. Semoga kehamilanmu lancar sampai persalinan nanti. Saat anakmu lahir, segera beri aku kabar, ya. Aku akan datang membesuk kesana." Pinta Geraldyn.


Carissa mengurai pelukannya dan tersenyum pada Geraldyn.


"Tentu saja. Kamu adalah orang pertama yang akan aku beritahu setelah Mamaku." Jawab Carissa.


Keduanya terus mengobrol sampai akhirnya Evan datang menjemput Carissa untuk segera berangkat ke bandara.


Bersama Geraldyn, Mr. Edd secara khusus mengantarkan Carissa dan Evan ke bandara. Mereka akan bertemu lagi setelah Carissa melahirkan nanti.


Carissa akan kembali dulu pada kehidupan rumah tangganya, dan dia berharap suaminya benar-benar tidak akan merasakan rasa sakit lagi sekembalinya dia kerumah mereka nanti.


Bersambung...


Tetap like, komen dan vote


Happy reading❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2